Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
62 (Runtuh)


__ADS_3

“Ayo! Lakukan lagi!” pekik Dewi.


Untung anaknya tak disini jadi bebas deh, batin Dewi.


“Cepat bodoh!” Di saat Dewi masih asik menganiaya Alisyah, tiba-tiba rambutnya di jambak oleh Asir.


“Apa yang kau lakukan pada ibu ku, Dewi?!” mata Asir membelalak sempurna, Dewi yang melihatnya pun tersentak.


“Mas? Kau sudah pulang?” ucapnya dengan tersenyum kaku.


“Hei, kau pikir karena aku diam, kau bisa bebas melakukan apapun padanya?! Hah!” Asir menggertakkan giginya.


“Mas, ini tidak seperti yang kau bayangkan, aku bisa menjelaskannya pada mu, ini semua karena ibu mu yang memancing amarah ku.” Dewi sungguh merasa takut pada Asir.


“Kau tak perlu menjelaskan apapun, percuma! Aku sudah tahu semuanya, Wina telah menceritakannya pada ku!” atas pengaruh kekasih barunya, Asir yang mudah oleng, kini mulai benci pada Dewi.


“Wina?” Dewi mengernyitkan dahinya.


“Iya, dia melaporkan semua kelakuan mu! Apa-apaan kau ini?! Memangnya kau siapa? Selain menganiaya ibu ku, kau juga mengambil cincin berlian yang ku berikan pada Wina, apa hak mu Dewi?!” Asir yang biasanya mendukung segala keputusan Dewi, kini malah berbalik melawan.


“Jadi kau mendengar apa yang di katakan wanita itu? Mas! Dia hanya pembantu! Untuk apa kau bersusah payah membelanya?!” harga diri Dewi sangat terluka atas perkataan kekasihnya.


Kemudian Wina datang dengan membawa kursi roda.


“Sungguh perbuatan di luar nalar, nyonya, bu Alisyah adalah orang tua mas Asir, harusnya kau menghormatinya, bukankan nyonya ingin di nikahi mas Asir?” ucap Wina seraya membantu Alisyah naik ke atas kursi roda.


“Mas? Kau panggil calon suami ku dengan itu?!” api amarah di hati Dewi mulai berkobar kembali.


“Apa kau bilang? Calon istri?” Asir tertawa getir.


“Mas, apa maksud mu?” meski Dewi sudah tahu, namun ia tak menduga, jika kejayaannya akan berakhir secepat itu.


“Dewi, kita putus! Baru 2 hari ku tinggal, kau sudah berhasil membuat kekacauan!”


Duar!!!


Seketika air mata Dewi menetes, orang yang ia harapkan merubah hidupnya, kini justru membuangnya.

__ADS_1


“Mas, kau bercandakan?” Dewi memegang tangan Asir.


“Tidak, kau boleh angkat kaki dari rumah ku, dan ingat jangan bawa apapun! Karena kau datang kesini dengan tangan kosong.” Asir memperlakukan Dewi sama dengan Fi di masa lalu.


“Mas, aku enggak mau pergi! Hiks...” Dewi yang selalu santai, berpikir dirinya akan jadi primadona, malah tak kepikiran untuk menyimpan berlian Fi ke tempat lain, semua yang ia miliki malah ia buat di kamar kekasihnya sendiri.


“Keluarlah dari rumah ku, selagi aku masih bersikap baik pada mu, jangan sampai kau mendapat neraka yang sama seperti kakak mu!” Asir yang telah jatuh cinta pada Wina, kini tak perduli lagi pada Dewi.


Wina yang berhasil menghancurkan Dewi pun tertawa puas dalam hatinya.


Mau lagi! Enakkan? Jadi gembel! batin Wina.


“Jangan mas, aku enggak mau pergi! Tolong mas, jangan usir aku, hiks...” Dewi memeluk kaki Asir.


“Akhh!! Sudah ku bilang! Angkat kaki mu Dewi, jangan tunggu aku mengotori tangan ku!” Asir yang tak ingin ada Dewi di rumahnya lagi, dengan sigap menarik tangan mantan kekasihnya menuju pintu utama.


“Mas! Jangan!! Hiks... jangan usir aku, tolong!!” Dewi menangis sesungukan.


Semua para pekerja di rumah itu menatap ke arah Dewi yang di seret oleh Asir, sebab Dewi tak mau berjalan dengan benar.


Wina yang kini pemenang berbisik pada Alisyah.


“Apa ibu senang sekarang? Berkat ku, wanita ular itu di tendang oleh anak mu bu. Akulah kekasihnya yang baru calon istri anak mu. Maka baik-baiklah pada ku, dukung aku jadi menantu mu, maka hidup mu akan sejahtera, aku tak ingin menyakiti siapapun, terutama dirimu.” Wina sang kekasih baru memperkenalkan dirinya pada Alisyah.


Kau sama saja dengan Dewi, aku tak suka, batin Alisyah.


Setelah itu, Wina membawa Alisyah ke kamar mandi untuk ia mandikan.


Aku yakin, kalau aku bisa mengambil hati perempuan tua ini, maka mas Asir akan ada dalam genggaman ku, hahahaha, batin Wina.


Bruk!!


Asir mendorong keras tubuh Dewi hingga terjatuh ke tanah.


“Pergilah! Semua tentang kita sudah berakhir!” pekik Asir.


“Mas Asir! Kenapa kau jadi setega ini? Pada hal apapun yang kau minta selalu ku penuhi mas, aku juga sudah memberi segalanya, tapi kenapa? Kau malah mencampakkan ku? Hiks...” Dewi memeluk dirinya sendiri karena merasa hancur dan sedih.

__ADS_1


“Jangan hitung-hitungan dengan ku ya, lagi pula dari awal kau yang menggoda ku, aku mana pernah tertarik pada mu kalau bukan kau yang genit duluan. Dewi, kau jadi kekasih ku selama ini juga untungkan? Aku selalu memberi mu gaji bulanan mingguan dan harian, jadi harusnya kau tahu diri, jangan menuntut ini itu, dan itu jugalah sebabnya, kau tak kunjung ku nikahi. Ck! Yang benar saja, aku masih waras Wi, untuk menjadi pendamping ku yang sah, kau belum masuk kualifikasi.” penurutan dari Asir membuat darah Dewi mendidih.


“Mas, aku janji, aku akan berubah, jangan buang aku ya mas, hiks...” Dewi yang tak ingin hidup susah terus memohon pada mantan kekasihnya.


“Tidak! Satpam!” Asir memanggil keamanan yang sedang berjaga di gerbang rumahnya.


“Iya tuan?” sahut sang satpam seraya berlari mendatangi Asir dan Dewi ke teras pintu utama.


”Siap, ada yang bisa di bantu tuan?” tanya sang satpam bertubuh tegap, tinggi dan juga kekar.


“Buang wanita ini ke jalanan, tandai wajahnya, jika ia berani mendekat, lapor polisi.”


Jeddar!!!


Bak tersambar petir di siang bolong, Air mata Dewi semakin pecah, kali itu ia tak dapat kembali ke rumah mantan kekasihnya lagi.


“Mas!!” teriak Dewi.


Namun Asir yang sudah membuangnya tak menggubris perkataan Dewi lagi. Asir malah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan rapat.


Brak!


”Ayo!” sang satpam menggenggam erat pergelangan tangan Dewi, dengan raut wajah yang kejam, sang satpam menarik tangan mantan nyonyanya.


“Lepaskan aku! Satpam rendahan seperti mu tak pantas menyentuh tangan ku, biadab!! Lepas! Aku jijik pada mu! Manusia jelek, hitam! Dekil!” Dewi menghina fisik satpam tersebut.


Bruk!!


Sang satpam mendorong tubuh Dewi hingga keluar gerbang rumah majikannya.


”Hei, perempuan minim moral, akan ku ingat wajah jelek mu! Baik disini mau pun di jalanan. Setelah sekian lama, akhirnya kau di tendang juga, semoga kau sadar dengan perbuatan mu selama ini. Ingat-ingat apa yang kau lakukan pada nyonya Fi. Ku yakin ini belum balasan yang setimpal dari Tuhan untuk mu! Pergilah! Atau ku lapor polisi!” Dewi yang dulu di takuti, kini malah di anggap kecil oleh orang lain.


“Awas saja kau, ada masanya, aku akan kembali, dan saat itu terjadi, kau!” Dewi menunjuk tajam wajah sang satpam. ”Akan ku pecat!” pekik Dewi.


“Ku tunggu, tapi ku rasa itu hanya angan-angan mu saja, hahahaha... carilah lelaki lain, agar kau bisa bertahan hidup, semoga Tuhan memberkati mu! Hahaha!” sang satpam meremehkan Dewi yang kini telah jatuh miskin.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2