Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
79 (Plak)


__ADS_3

Asir terperangah, hubungan mereka berdua yang menurutnya baik-baik saja malah berantakan.


“Tapi kenapa pak?” tanya Asir penasaran.


“Karena aku sudah merasa tak cocok lagi. Rapat hari ini selesai, silahkan keluar pak Asir, dan rekan-rekan sekalian.”'wajah Yudi yang biasa bersahabat, kini malah terlihat dingin.


Tak ada keramahan sedikit pun, Asir yang di buang begitu saja merasa sesak. Pasalnya keuntungan yang ia dapatkan dari kerja samanya bersama perusahaan Yudi begitu besar.


“Apa bapak tak mau memikirkannya lagi?”Asir berharap kalau Yudi akan berubah pikiran.


“Tidak, tapi... meskipun begitu, saya masih bolehkan datang ke rumah bapak besok?” tanya Yudi. Karena bagaimana pun, Yudi harus bisa mempertemukan Fi dengan kedua anak-anaknya.


“Tentu saja pak. Pintu rumah ku selalu terbuka lebar untuk bapak,” terang Asir.


Asir tahu kalau Yudi ingin bertemu anak-anaknya. Dan ia berharap, wajah Andri dapat meluluhkan hati Yudi.


Semoga Andri membawa keberuntungan pada ku, aku yakin pak Yudi akan merubah keputusannya setelah bertemu Andri, batin Asir.


“Terimakasih banyak pak. Aku pasti akan datang.” setelah minta izin, Yudi keluar terlebih dahulu dari ruang rapat.


Baiklah, aku akan mengajari Andri untuk bersikap manis pada pak Yudi, batin Asir.


Setelah itu Asir meninggalkan perusahaan Yudi. Ia yang merindukan Dewi ingin segera bertemu mantannya tersebut.


🏵️


Wina yang baru selesai di kuret menangis histeris.


“Sakit... hiks...” matanya tak hentinya berlinang air mata.


Rasa ngilu, nyeri dan juga perih ia rasakan setelah efek biusnya habis.


“Ini obatnya bu, minum sesuai anjuran yang tertera ya bu.” ucap sang perawat pada Wina.


“Baik suster.” setelah itu, Wina pulang dengan supirnya. Ia yang masih kurang sehat tiba-tiba merasa menggigil karena demam.


“Semoga saja aku tak mati.” saat itu Wina merasakan apa yang Dewi rasakan dulu.


“Semoga usaha ku tak sia-sia. Bagaimana pun, aku tak mau lagi jadi babu!” Wina berharap, Asir tetap terpikat padanya.


🏵️


Istirahat makan siang telah tiba. Para Art dan satpam berkumpul di ruang makan.

__ADS_1


Kenyataan kalau dirinya adalah Fi Saeadat telah senter terdengar oleh semua pekerja. Karena Rila telah menyebar luaskan kabar terbaru itu di group si hijau mereka.


Meski Fi sudah cantik, tapi ia masih saja mendapat cibiran dari orang lain.


Karena kecantikan wajahnya di bilang palsu dan mengubah takdir Tuhan.


Mereka juga mengecam Fi, yang di tuding menjadi pemecah hubungan tuan dan nyonya mereka.


Fi yang selesai mengambil nasi dan minum seperti biasa, duduk mengasingkan diri. Karena ia tahu, para Art dan satpam di sana tak suka padanya.


“Eh, eh... lihat pelakor itu, masih berani datang kemari, karena dia tuan dan nyonya berpisah. Berapa banyak uang tuan yang sudah ia habiskan? Mengubah fisiknya luar dan dalam pasti bukan biaya yang murah,” ucap Lia.


“Kau benar, pasti tuan dan dia memiliki perjanjian khusus, kalau sudah cantik, siap untuk di pakai.” Reni tertawa getir dengan melihat ke arah Fi.


Yeri yang iri dengan kecantikan Fi pun mendekat pada ke rekan kerjanya yang sedang makan.


“Apa kau sudah puas sekarang?” ucap Yeri dengan wajah menyeramkan.


“Apa maksud mu?” Fi yang tak mengerti, bertanya pada rekan kerjanya.


“Hah! Masih pura-pura bodoh lagi, semua orang juga tahu jelek, kalau kau adalah penyebab cerainya tuan dan nyonya!” fitnah yang Yeri ucapkan membuat wanita cantik itu marah.


Fi pun berdiri dari duduknya, sebelum itu dia meletakkan nasinya terlebih dahulu.


Plak!


“Hah!!” semua orang tercengang, karena Fi kali itu melawan.


“Jangan asal ya kalau bicara! Aku bahkan tak tahu kalau tuan dan nyonya berpisah, kau pikir aku mengoperasi wajah ku dengan gratis?!” mata Fi membelalak sempurna.


“Kau berani menampar ku?!” Yeri meninggikan suaranya.


Plak!


Fi menampar kembali wajah Yeri. “Pelankan suara mu, asal kau tahu, aku menjual kisah hidup dan bakat ku demi ini semua, kau yang tak tahu apapun malah angkat bicara dan memfitnah ku? Kau pikir, kau siapa? Kalau kau penasaran pada ku, sebaiknya bertanya, jangan asal buat opini!” Fi yang lelah diam. Kali itu memberi orang yang menyakitinya pelajaran.


Yeri yang ternyata besar mulut, nol keahlian adu otot menjadi takut dan malu.


Ia pun menundukkan kepalanya, karena tak sanggup melihat wajah Fi dan juga orang lain.


“Lagi pula inilah wajah ku sebelum jadi burik karena manatan suami ku. Aku juga berteman baik dengan nyonya. Apa kau sudah puas mendengar rahasia ku?” Fi menatap kasar Yeri yang memegang bekas tamparannya.


Orang-orang yang mendengar pun bungkam, tak ada yang berani mencela apa yang di katakan Fi.

__ADS_1


Lalu Fi mencuci bersih tangannya di wastafel, kemudian ia mengambil tisu dari atas tikar tempat ia duduk.


Selanjutnya Fi mendatangi Yeri yang belum beranjak dari tempatnya berdiri.


“Apa wajah mu terasa sakit?” Fi menyingkirkan tangan Yeri yang sedang memegang wajahnya.


Kemudian Fi membersihkan wajah Yeri dengan tisu bersih yang ada di tangannya.


“Maafkan aku, kalau sudah kasar pada, tadi aku hanya khilaf.” setelah wajah Yeri bersih, Fi mengeluarkan uang dari saku rok kerjanya sebanyak 200 ribu.


“Ku rasa ini cukup untuk membeli obat pereda nyeri. Lain kali, kau jangan asal bicara ya, kalau pada orang lain, ku yakin mulut mu sudah di robek-robek.” tindakan Fi membuat Yeri tambah malu dan gemetaran.


Fi yang sudah selesai makan memilih untuk meninggalkan ruang tersebut.


Setelah ia pergi, Yeri di tertawaan banyak rekan kerjanya.


“Begitu saja kau takut, harusnya tadi kau cakar wajah operasi plasyiknya, pasti langsung jelek kembali!” ucap Reni.


“Betul, pada wanita monster begitu saja kau takut, astaga... mati saja kau, kalau tak bisa mengajar manusia jadi-jadian itu.” Lia meledek Yeri.


Yeri yang kesal memilih untuk pergi, karena suara seruan jahat yang ia dengar menggangu telinganya.


Benar-benar memalukan, aku kesal banget pada mu Fi, batin Yeri.


Fi yang ada di ruang office tuannya mulai membersihkan meja kerja majikannya.


Ia yang sedang merapikan file-file yang ada di atas meja tak sengaja melihat selembar photo zaman kuliah tuannya.


“Xixixi! Muka tuan lucu sekali.” Fi merasa terhibur setelah melihat wajah tuannya.


Kemudian ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ia yang membersihkan rak buku tanpa sengaja melihat sebuah photo jatuh dari antara selipan buku yang sedang ia bersihkan dari debu.


”Hum?” hatinya tersentak saat melihat ada photonya semasa kuliah di ruang kerja tuannya.


“Kenapa bisa?” Fi jadi bertanya-tanya pada hatinya.


Apa benar tuan menyukai ku, sama seperti yang ibu katakan? batin Fi.


Ia pun kembali ragu, dan memikirkan pendapat orang yang mengatakan kalau dialah penyebab tuan dan sang nyonya bercerai.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2