
Yudi yang telah di dapur melihat Andri dan Yuri telah selesai makan.
Calon anak dan ibu mertua ku, batin Yudi.
Ia yang di tinggal sang ibu sejak kecil, berniat menjadikan Yuri sebagai ibunya.
Meski ibu sambungnya masih hidup, namun Yudi dan sang ibunda tak pernah akur dan juga jarang bertutur sapa.
“Bagaimana bu? Apa ibu suka rumah ini?” tanya Yudi seraya duduk di sebelah Yuri.
“Suka tuan, rumahnya bagus dan juga bersih.” Yuri tersenyum pada Yudi.
“Tinggal disini saja, masih banyak kamar kosong bu.” Yudi mengajak Yuri untuk menetap di rumahnya.
“Tidak tuan, kami punya rumah sendiri.” Yuri menolak, karena ia masih punya harga diri.
“Tidak apa-apa bu, lagi pula aku selalu takut melihat kamar kosong di rumah ini.” ucap Yudi.
”Harusnya jangan buat kamar banyak-banyak tuan, memang sih, ruang kosong akan mengundang banyak makhluk halus ” ujar Yudi.
“Benar juga ya bu, ehm, rencananyakan aku dan istri ku kelak akan banyak anak, makanya membuat kamar sebanyak ini bu.” Yudi yang tak punya saudara ataupun saudari sering merasa kesepian waktu ia kecil, tak ada tempat mengadu dan berbagi duka.
Karena itu dirinya ingin memiliki keturunan lebih dari yang di sarankan oleh pemerintah.
Yuri yang mendengar keinginan Yudi pun tersenyum.
“Semoga keinginan tuan terkabul, punya sepuluh anak, kalau punya banyak uang sih tidak masalah tuan.” Yuri mendukung keputusan Yudi.
“Tapi aku hanya butuh 9 lagi bu.” Yudi mencubit sayang pipi Andri.
Seketika Yuri dapat menebak, jika Yudi bermaksud akan mempersunting Fi.
“Berapapun keinginan tuan, semoga Tuhan mengabulkannya.” ucap Yuri dengan tersenyum lepas.
“Aamiin,” sahut Yudi.
🏵️
Keesokan harinya, Fi membuka koper baju milik Andri.
Rek...
Ia pun mengambil salah satu baju yang masih terbungkus plastik.
“Hiks... Emir...” Fi menangis kembali mengingat putranya.
“Mama, jangan nangis ma, nanti tante Wina marah loh.” Andri memeluk ibunya yang terlihat rapuh.
__ADS_1
“Fi, sudahlah nak, ikhlaskan saja ya nak. Hiks...” Yuri pun ikut memeluk Fi yang menangis sesungukan.
“Bu, harusnya Emir juga memakai baju ini, aku sengaja membeli baju kembar-kembar untuk mereka berdua. Emir... maafkan mama nak.” Fi memeluk baju yang akan Andri pakai.
“Iya nak, ibu mengerti, maafkan ibu juga ya, karena ibu tak bisa melindungi Emir.” Yuri menyesal karena tak berdaya, karena cucunya meninggal dunia dengan tragis.
“Mama jangan nangis dong.” Andri menyeka buliran air mata sang ibu dengan jemari yang mungil.
“Mama jangan nangis, Andri saja enggak nangis, bang Emir pasti lagi terbang bersama burung gereja yang sering datang ke jendela kamar kami.” kata-kata polos Andri semakin menyayat hati Fi.
“Terimaksish karena sudah menyemangati mama. Andri harus sehat ya, banyak makan ya nak.” Fi mengecup wajah anaknya berulang kali.
“Sudah Fi, cepat pakaikan baju Andri, nanti dia masuk angin lagi, lagi pula kau sebentar lagi akan bertemu dengan pak pengacara.” Yuri mengingatkan putrinya kalau ada hal lain yang harus di lakukan.
“Iya bu. Hiks...” Fi mulai membersihkan air mata yang membasahi pipinya.
Ia pun membantu Andri memakai baju dengan menahan air matanya.
Setelah selesai, Fi pun meminta izin pada ibu dan anaknya untuk pergi ke kamar Yudi.
“Bu, Ndri, mama mau ke kamar tuan, tak enak hanya makan tidur disini, mumpung pengacara belum datang.” Fi cukup tahu diri akan posisinya.
“Iya nak, pergilah, apa perlu ibu membantu mu?” tanya Yuri, ia takut jika putrinya belum sanggup bekerja dengan benar.
“Tidak bu, aku bisa sendiri, setelah urusan pengacara selesai. Ibu sudah bisa pulang, aku tak enak bu, pada teman-teman kerja ku, melihat keluarga kita berkumpul disini pasti mereka akan marah.” selain alasan itu, Fi tak mau jika sang ibu mendengar dirinya di cibir orang lain.
“Iya nak, ibu mengerti.” Yuri cukup paham, kalau putrinya hanya pekerja kasar disana.
Sepanjang perjalanan Fi, ia banyak mendapat tatapan tak enak dari para art.
Matanya yang sembab dan dan merah membuat orang-orang yang tak tahu masalahnya berpikir, kalau Fi punya masalah dengan sang majikan.
Kehadiran Andri juga membuat gosip baru di antara para pekerja. Mereka mengatakan kalau Andri adalah anak hasil hubungan gelap Fi dengan Yudi.
“Pantas saja, suaminya menyiksa Fi, kenyataan karena selingkuh dengan tuan, hih! Ngeri...” Lia kembali membuat gara-gara.
Fi yang telah di depan pintu kamar Yudi mulai mengetuk pintu, namun belum sempat ia melakukannya, Yudi membuka pintu kamarnya.
“Sedang apa kau disini?” tanya Yudi, sebab ia merasa Fi bukan Artnya lagi.
“Kerja tuan,” sahut Fi.
“Kau mau membersihkan kamar ku?” tanya Yudi.
“Iya tuan, itukan tugas ku,” ujar Fi.
“Oh ya? Bukankah aku sudah memecat mu?” Yudi tak ingin calon istrinya bekerja berat lagi.
__ADS_1
“Hah? Memangnya aku salah apa tuan? Kenapa tuan memecat ku? Hiks... ” Fi yang masih berduka dengan cepat menitihkan air matanya.
“Loh, kenapa kau menangis.” Yudi menjadi bingung, sebab Fi terisak sesungukan.
“Apa aku berbuat salah tuan?” Fi menjadi salah faham pada majikannya.
“Tidak, kaukan sebentar lagi mau jadi sekretaris ku, makanya kau ku pecat, apa kau lebih nyaman mengurus kamar ku dari pada pekerjaan kantor ku?” pernyataan Yudi membuat Fi berhenti menangis.
“Oh, begitu ya tuan?” Fi yang terlanjur menangis menjadi malu sendiri.
“Iya, tapi kalau kau mau di kamar ku terus, tidak apa-apa, aku akan memberi kontrak permanen pada mu.” ucap Yudi penuh makna.
“Maksudnya bagaimana tuan?”
“Tidak boleh resign, tinggal disini, mengabdi pada ku,” terang Yudi.
“Enggak mau tuan, lebih baik aku jadi sekretaris tuan, saja.” Fi tak bersedia bila menghabiskan masa tuanya di rumah sang tuan.
“Bagus, kalau begitu kau kembalilah ke depan, tunggu pengacara ku datang, katakan semua yang kau alami. Maaf aku tak bisa menemani mu, karena aku masih ada kerjaan di kantor,” terang Yudi, ia yang telah sedia dengan tas kerjanya dari tadi, mulai bergegas.
“Hati-hati tuan.” Fi menundukkan kepalanya.
“Apa kau mau menemani aku makan?” Yudi yang semakin cinta ingin Fi selalu wanita cantik itu di sebelahnya.
”Tidak tuan.” kali itu Fi menolak mentah-mentah.
Jleb!
Penolakan Fi membuat Yudi malu total. Ia pun menelan salivanya.
Kejam banget kau Fi, batin Yudi.
“Baiklah kalau begitu. Kau jangan lupa makan ya.” Yudi yang grogi memutuskan untuk makan di luar, karena ia malu jika melihat wajah Fi lagi saat itu.
“Baik tuan.” jawab Fi singkat.
Saat Yudi melintas di hadapan Fi. Fi pun melihat kalau kain saku belakang majikannya keluar.
“Tunggu tuan!” Fi yang takut jika majikannya di tertawai orang lain berniat memberi tahu. Sedang Yudi berpikir kalau Fi berubah pikiran.
Dari tadi dong, batin Yudi.
Ia pun membalik tubuhnya, “Ada apa Fi?” ucap Yudi dengan mata berbinar.
“Itu, kain saku celana tuan keluar.” Fi menunjuk ke arah saku kanan Yudi.
Sontak Yudi menelan salivanya. Bangsat! Malu-maluin banget, batin Yudi.
__ADS_1
Yudi yang merasa sesak karena Fi memilih untuk segera pergi tanpa mengucap terimaksih pada artnya.
...Bersambung......