
Wina geleng-geleng kepala. “Tidak pak. Itu semua bohong!” ia masih tetap tak mengaku akan kesalahan yang ia lakukan.
Kemudian Yudi mendatangi Fi yang sedang memberi keterangan pada polisi.
“Anak ini adalah korbannya,” ucap Yudi.
Kemudian sang polisi bertanya pada Andri. “Benar, ibu ini menampar mu?”
Kemudian Emir menundukkan kepalnya, sebab ia tak berani menatap wajah Wina.
“Iya pak, tapi itu karena aku nakal, tak mau mendengar apa kata tante.” Andri yang lugu mengakui perbuatan Wina.
Wina yang ada di sebelah Andri menjadi gemetaran. “Jangan bohong! Kecil-kecil sudah bisa fitnah!” pekik Wina.
“Diam dulu bu. Bukan waktunya ibu untuk bicara.” sang polisi membungkam mulut Wina.
“Apa kau sering di hukum oleh tante?” tanya lembut sang polisi.
“Sering pa, pakai sapu, tante memukul ku disini dan sini.” Andri menunjukkan tempat-tempat yang pernah Wina pukul.
“Tapi itu karena aku membuat tante marah, nenek juga kalau salah di pukul kok.” keterangan polos Andri lebih lanjut membuat Wina mau pingsan.
Kemudian sang polisi membuka baju Andri. Dan mereka semua pun melihat, banyak lebam biru di seluruh tubuh anak kecil itu.
Andri yang kurus membuat Fi menangis, ia tak bisa membayangkan penderitaan anaknya selama ini.
“Setelah polisi selesai menyimpan barang bukti, Andri kembali mengenakan bajunya.
Fi pun memeluk putranya, api amarah pun kembali membakar hatinya.
“Saya juga mau buat laporan, tentang Asir.” Fi menceritakan kronologi penyiksaan yang ia dapatkan.
Namun sang polisi yang akan menangani kasus Asir merasa berat, kalau harus menjerat ladang uangnya tersebut.
Namun karena Fi sudah memberi keterangan, terpaksa ia menulis pernyataan Fi.
Setelah selesai, Wina yang bersalah di proses lebih lanjut.
“Kami akan menindak lanjuti terkait laporan ibu, dan kami akan mengabari kapan jadwal sidang akan di lakukan,” terang sang polisi.
“Baik, terimakasih banyak pak.” Fi, Yudi dan Andri memutuskan untuk pulang.
Setelah mereka berada di luar kantor polisi, Yudi pun bertanya.
“Pulang ke rumah ku kan?”
“Tidak tuan, ke rumah orang tua ku saja.” Fi memilih untuk ke rumahnya sendiri.
“Jangan, ke tempat ku saja.” Yudi berpikir rumahnya lebih baik, karena tentunya Andri akan lebih nyaman, ia juga ingin merawat anak malang itu.
__ADS_1
“Tapi tuan, aku tak enak kalau membawa anak ku ke rumah tuan, lagi pula itu tempat kerja ku, bukan rumah pribadi ku.” alasan Fi sebenarnya adalah karena ia takut jika anaknya jad sasaran empuk para Art.
“Ke tempat ku saja.” namun Yudi tetap memaksa.
Andri yang tak pernah mendapat kasih sayang dari sosok seorang ayah menoleh ke arah Yudi, kemudian ia yang sedang di gendong Fi membuka lebar kedua tangannya pada Yudi.
“Gendong?” pinta Andri.
Kemudian Yudi tersenyum lebar dan mulai menggendong Andri. “Mau ke rumah bapak?” ucap Yudi.
“Iya pa. Ke rumah papa.” Andri memanggil Yudi dengan sebutan papa, sama seperti waktu pertama kali mereka bertemu.
“Eh... bukan papa, tapi tuan.” Fi menegur anaknya yang tak tahu tutur.
“Ssstt... papa juga boleh, apa salahnya? Yang bekerja pada ku kan kau, bukan Andri.” kemudian Yudi memeluk anaknya Fi.
Andri sangat senang, karena ia dapat kehangatan setelah sekian lama menderita.
🏵️
Asir yang lelah berkeliling kota mendial nomor Dewi.
Namun sayang, panggilannya tak di angkat. “Pada hal ini panggilan ke 50 ku, tapi... Dewi tak kunjung mengangkat, apa dia sedang jual mahal pada ku?” Asir yang merasa uang pemberiannya sedikit memutuskan untuk mentransfer lagi sebanyak 500 juta pada Dewi.
Ia berharap Dewi terpancing dan mau bersamanya lagi.
”Lebih baik aku pulang ke rumah, mungkin Dewi lagi sibuk.” kemudian Asir bergegas menuju rumahnya.
🏵️
Ia merasa lega karena operasinya berjalan dengan lancar.
Ia pun di layani dengan baik oleh para dokter dan suster.
“Ini obat yang paling baguskan?” ucap Dewi.
“Iya bu, silahkan di minum.” sang suster membantu Dewi untuk minum obat.
“Semoga saja aku cepat sembuh.” setelah itu Dewi memakan semua obat yang di beri oleh suster padanya.
🏵️
Yudi, Fi, Andri yang telah tiba di rumah, turun dari mobil.
Semua orang yang melihat mereka menjadi bertanya-tanya mengenai siapa anak kecil yang si bawa oleh Yudi dan Fi.
Rila yang ada di ruang tamu menyambut ke datangan majikannya.
“Selamat datang tuan, oh ya, siapa anak ganteng yang bersama tuan ini?” tanya Rila seraya mengelus pipi Andri.
__ADS_1
“Anak ku.” jawab Yudi dengan tersenyum. Sontak Fi menoleh ke arah Yudi.
“Apa tuan? Sejak kapan tuan punya anak?” tanya Rila penasaran, sebab setahunya sang tuan dan nyonya tak pernah memiliki keturunan.
“Sekarang.” kemudian Yudi melanjutkan langkah kakinya.
“Tuan, jangan bilang begitu pada orang-orang, takutnya mereka akan salah faham.” Fi tak mau bila kehadiran anaknya membuat kekacauan baru.
“Tenang saja, aman! Oh ya, kalian berdua tidur di kamar tamu saja.” Yudi memindahkan Fi. Sebab ia tak mau jika Andri yang ia sayangi tidur tak nyaman di kamar Fi yang sempit.
“Di kamar ku juga luas kok tuan,” ujar Fi.
“Tak apa, karena ini demi Andri.” karena Yudi tetap memaksa, akhirnya Fi tidur di kamar tamu, yang 2 kali lebih besar dari kamarnya.
Yudi pun meminta Rila untuk memindahkan barang-barang Fi.
Apa Fi akan jadi nyonya Hirarki?! Waduh bisa gawat nih, apa dia akan mengingat semua kelakuan buruk ku? Rila merasa resah, sebab ia sendiri sadar akan perbuatan jahatnya pada Fi selama ini
“Aku harus mengambil hatinya.” Rila yang takut terlempar memutuskan untuk bersikap manis pada Fi.
Sesampainya ia di kamar baru Fi, Rila langsung melempar senyum yang membuat Fi jantungan, ia takut jika senyum lebar itu mengandung makna tersembunyi.
“Maaf kak, sudah buat kakak repot.” Fi menurunkan baju-bajunya yang ada di tangan Rila.
“Tak apa-apa, ini bukan masalah besar.” Rila mengambil kembali mengambil baju Fi dari lantai
“Tapi kak...” Fi takut jika Rila mengamuk padanya.
“Sudah, istirahatlah, ku lihat wajah mu pucat sekali, apa kau sakit?” Rila menaruh punggung tangannya ke kening Fi.
“Panas banget, apa kau demam?” tanya Rila dengan lembut
“Sepertinya begitu kak, tapi ini hanya demam ringan kok.” Fi tak mau memberatkan Rila. Apa lagi ia takut kalau Rila menyebar gosip tentangnya di group hijau yang tak di ikutinya.
“Tunggu aku selesai merapikan baju mu, baru aku kasih kau obat ya.” Rila yang dapat menebak kalau Fi akan jadi istri tuannya, sebisa mungkin membuat Fi nyaman dengan kehadirannya.
Sedang Fi yang mendapat layanan istimewa itu terperangah.
Apa ini tidak berlebihan? batin Fi.
Rila yang melayaninya dengan penuh senyuman membuat Fi menelan salivanya.
Setelah selesai Rila keluar kamar Fi untuk mengambil obat.
(Anggap suara bayi bagian Andri)
“Ma, orang-orang yang ada disini baik-baik ya, terutama tante yang tadi.” Andri langsung menyukai Rila yang sedang pencitraan.
“Iya kau benar nak, untuk itu bersikap sopan pada mereka ya.” Fi memeluk anaknya.
__ADS_1
...Bersambung......