Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
85 (Menangis)


__ADS_3

“Dasar jahanam, kurang ajar sekali kau! Beraninya sama orang lemah!” Fi mencubit setiap inci perut Wina.


Yudi yang di belang Fi tak hentinya mengedip-ngedipkan matanya. Ia tak bisa membayangkan, jika yang di cubit adalah dirinya sendiri.


“Pergi! Pergi kau!” pekik Wina seraya menepis tangan Fi yang tajam.


“Dulu aku tak bisa membalas karena semua orang memanfaatkan kelemahan ku, tapi sekarang itu tak terjadi lagi.” Fi memukul habis-habisan Wina.


Keributan yang mereka timbulkan memancing orang-orang yang ada dalam rumah untuk mengerumuni mereka.


Teri yang sudah lama mengenal Fi terkejut, pasalnya sang nyonya datang dengan wajah lama.


“Nyonya.” gumamnya. Ia pun mendekat. Dan memisahkan Fi yang terus memukuli Wina.


“Sudah nyonya, tak baik berkelahi di depan anak kecil,” ucap Teri.


“Biarkan saja, toh dia tadi mau menampar Andri.” ucap Yudi dengan santai.


“Tidak, tante Wina udah nampal (nampar) aku pa.” Andri mengatakan apa yang telah di lakukan Wina padanya.


Teri yang ikut tak terima langsung melepas sang mantan nyonya.


Fi yang dendam, apa lagi ia ingat kelakuan Wina padanya dulu, membuat Fi tak pikir dua kali untuk memberi pelajaran lanjutan.


Orang-orang yang melihat kegarangan Fi hanya diam, pasalnya mereka juga kesal dengan tingkah sombong Wina.


“Fi, kaukah itu?” suara Alisyah yang bergetar menghentikan tindakan brutal ibu dua anak itu.


“Tante...” Fi mengernyitkan dahinya, karena Alisyah yang dulu memiliki tubuh padat berisi, kini kurus kering dan juga beruban.


Kemudian Alisyah mendekat “Kau cantik sekali, sama seperti dulu, aku yakin, Asir pasti mau pada mu lagi, Fi kembalilah padanya.”


Alisyah yang telah kapok di buat Dewi dan Wina berharap, jika Fi akan menjadi menantunya lagi.


“Maaf saja tan, aku tak ada niat untuk kembali dengan anak mu!” Fi yang emosional melempar tubuh Wina ke kerumunan para Art.


Wina tak bisa menahan air mata sakit, kesedihan dan malunya.


Ia juga tak dapat menegakkan kepalanya dengan benar, karena semua orang memberi tatapan mata benci padanya.


“Tapi Fi, kaukan punya anak dengan Asir, kau yang sekarang pasti akan membuat Asir jatuh hati, pikirkan nak, ini demi masa depan anak mu Andri,” Alisyah membujuk Fi


“Aku tak perlu Asir untuk membesarkan Emir dan Andri karena aku sangat mampu tante!” Fi marah, karena ia merasa sangat di rendahkan oleh Alisyah.


“Lagi pula Fi sudah punya calon, jadi jangan minta dia untuk bersama anak mu bu,” ucap Yudi.


Sontak Fi menoleh ke arah Yudi. Calon dari mana maksudnya, batin Fi.


“Fi hanya untuk Asir, karena mereka sudah terikat dengan anak.” Alisyah tak setuju bila Fi menikah dengan orang lain.


“Saya tak sudi tante!” Fi merasa jijik bila harus bersama Asir lagi.


“Jangan jual mahal nak karena kau takkan bisa apa-apa nak? Kemarin Wina sudah membakar semua barang mu, termasuk ijazah dan KTP mu!” Alisyah yang tahu Wina sudah di buang, jadi berani mengatai Wina di hadapan orangnya sendiri.

__ADS_1


“Jangan khawatir tan, karena aku punya photocopyny,” ucap Fi.


Setelah selesai marah-marah Fi mengambil putranya yang ada di gendongan Yudi.


“Ayo bubar kalian.” Alisyah menyuruh semua orang untuk pergi. Kecuali Wina, dia tak tahu harus pergi kemana karena kakinya terasa kaku untuk melangkah.


Fi yang melihat bibir anaknya belum sembuh merasa sedih.


“Nanti kita berobat ya nak.” Fi mengelus bibir anaknya yang mencong ke kiri.


Yudi merasa kasihan pada ibu dan anak yang terpisah selama berbulan-bulan itu.


“Mama udah lepas maskel (masker) ya?” Andri masih berpikir kalau dulu ibunya benar-benar pakai topeng.


“Iya nak.” Fi hanya membenarkan apa yang anaknya katakan.


“Mama, Andli (Andri) lindu (rindu), mama lama banget jemput Andli (Andri).” Andri membenamkan wajahnya ke bahu Fi.


“Iya, maafkan mama sayang, tapi nanti mama akan membawa kau dan abang pergi.”


Alisyah yang mendengar perkataan Fi memainkan jemarinya, ia tak tahu harus berkata apa pada Fi, sebab Emir telah tiada.


“Abang udah ketemu mama?” pertanyaan Andri membuat Fi bingung.


Wina yang tahu akan ada serangan susulan memilih pergi ke kamarnya untuk menghindari amarah Fi.


“Belum, kan mama baru datang, abang mana? Mama mau ketemu?” ucap Fi.


Alisyah pun semakin takut, jika Fi tahu anaknya telah tiada.


“Enggak sayang, belum ketemu.” Fi menggelengkan kepalanya.


“Iya benar nak, mama belum ketemu sama abang mu.” Yudi mengelus rambut Andri.


“Apa tante Wina yang bohong?” Fi, Yudi dan Alisyah sama-sama menoleh ke arah Andri.


“Maksud mu apa nak?” tanya Alisyah pada Andri.


“Abang celita (cerita) kata tante Wina, kalau tangan kita di sayat pakai pisau maka akan ketemu mama, aku dan abang juga bisa telbang (terbang) seperti burung, dan bisa cari mama.” Andri menerangkan apa yang ia ingat.


Seketika Alisyah menjadi lemas, jantungnya berdetak dengan kencang seperti ingin meledak.


“Tante!” Fi memegang lengan Alisyah.


“Tidak, aku baik-baik saja.” Alisyah menelan salivanya.


“Ada apa sih tan sebenarnya?” tanya Fi untuk memperjelas keadaan.


“Fi, maaf karena tante sudah teledor dan ceroboh.” rasanya bibir Alisyah sangat sulit untuk mengatakan kenyataan tentang Emir.


Baik Fi mau pun Yudi tak mengerti akan situasi yang ada.


“Ada apa sih tan? Coba cerita pada ku.” pinta Fi dengan penasaran penuh.

__ADS_1


“Emir, Fi...”


“Emir kenapa tan?” Fi menjadi semakin penasaran.


“Dia sudah meninggal dunia.” pernyataan dari Alisyah membuat telinga Fi seketika berdengung.


Andri yang ada di pelukannya pun merosot dari tubuhnya, beruntung Yudi menangkap dan menggendongnya kembali.


Fi tanpa kata menitikkan air matanya,“Kok bisa?” gumamnya.


“Abang tayat (sayat) tangannya, tante Wina yang turuh(suruh) pas atu (aku) mau tayat (sayat) juga, abang enggak bolehin.” pernyataan Andri membuat Fi menangis histeris.


“Emir!!” Fi meneriki nama putranya.


“Fi...” Yudi memeluk Fi yang berderai air mata.


“Maafkan aku Fi, aku lengah, aku tak menyangka kalau Wina akan bertindak sejauh itu, hiks..” ucap Alisyah yang juga ikut menangis.


“Mana perempuan itu! Wina!! Mana kau!” suara Fi yang menggelegar dapat di dengar oleh semua orang.


Teri yang sadar semua sudah di luar kendali mendatangi Fi.


“Nyonya.” Teri memeluk tubuh Fi.


“Teri, tunjukkan pada ku, yang mana kamar Wina!” teriak Fi dengan mata membelalak.


“Baik, saya antar nyonya.” kemudian teri menunjukkan kamar Wina.


Fi yang marah langsung menggedor kamar yang di tempati Wina.


Bar bar bar!


“Hei, keluar kau Wina, dasar biadab! Pembunuh!” Fi memukul-mukul pintu kamar Wina.


Teri yang baru tahu Wina adalah dalang dari kamatian tuan kecilnya ikut naik pitam.


“Sebentar nyonya.” ia pun mencari kunci serap kamar Wina. Setelah dapat, ia memberikannya pada Fi. “Ini nyah.”


Fi dengan cepat mengambil kunci itu dari tangan Teri, kemudian membuka pintu kamar Wanita yagng telah memperdaya anaknya yang masih belia.


Wina yang telah menggigil ketakutan memilih bersembunyi di dalam selimut.


“Bangsat! Keluar kau! Keluar!” Fi memukul tubuh Wina yang ada di balik selimut.


“Berani sekali membunuh anak ku, kalian semua yang ada disini bangsat!”


Puk!


Puk!


Puk!


Fi memukul Wina dengan sapu. Yudi yang melihat hal itu tak tahu harus berbuat apa, satu sisi ia dapat merasakan apa yang Fi alami, di sisi lain, ia tak suka dengan tindakan Fi yang terlalu kasar.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2