Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
97 (Denise)


__ADS_3

“Bulan depan. Hei, ngomong-ngomong tadi kau bilang calon istri? Kau menyimpan calon mu di rumah ini?” Al tak percaya dengan apa yang abangnya katakan.


“Iya, benar!” sahut Yudi.


“Bukan sekamar jugakan dengan mu?” otomatis Al menjadi salah sangka.


“Enggaklah, mana mungkin aku begitu? Aku ini pria baik-baik!” terang Yudi.


Sesampainya mereka di depan pintu kamar Fi yang terbuka lebar, Yudi mengetuk pintu sebelum masuk.


Tok tok tok!


Suara ketukan pintu Yudi mengundang perhatian Fi dan Andri.


Kemudian Fi menemui orang yang ada di pintu.


“Tuan...” sapa Fi.


Al yang melihat Fi langusung menoleh ke arah Yudi.


“Dia calon istri mu?” suara kencang Al membuat Yudi panik. Sontak ia membekap mulut Al dengan kuat.


Fi yang mendengar pernyataan Al menjadi bingung sendiri.


“Apa?” ucap Fi ingin memperjelas perkataan Al. “Maksudnya, siapa yang calon istri tuan?” pertanyaan Fi membuat Yudi panas dingin.


“Tidak ada, Al hanya bercanda, hehehe...” Yudi tertawa kaku, ia yang malu memutuskan untuk pergi dari kamar Fi.


Rencana untuk makan bersama gagal total, karena mulut sang adik yang begitu lancar.


Setelah mereka jauh, Yudi melepas mulut Al. “Kau enggak bisa jaga rahasia ya!” pekik Yudi.


“Rahasia?” Al mengernyitkan dahinya. “Bukankah kalian memang akan menikah? Jadi kenapa tak boleh ku katakan tadi?” Al tak mengeri dengan maksud Yudi.


“Aku belum melamarnya.” ujar Yudi. Yang menganggap Fi sebagai calon istri tanpa wanitanya ketahui.


“Apa kalian pacaran?” tanya Al lebih lanjut.


“Tidak, aku belum berani menyatakannya,” ujar Yudi.


“Stop! Sebaiknya hentikan!” Al melarang Yudi untuk mendekati Fi.


“Kenapa?” tanya Yudi.


“Karena dia hanya art, tak selevel dengan mu! Lagi pula kau orang kaya dan dia orang miskin, wajahnya juga jelek! Tak sebanding dengan kak Suli, pokoknya jangan dia!” Al melarang keras karena ia sendiri ingin menjadikan Fi kekasihnya.


“Kau bicara apa sih? Hah?! Aku mau dia! Dan itu sudah lama! Enak saja kau mengatur-ngatur aku yang lebih tua darimu!” Yudi tak mau mendengar perkataan Al yang ada udah di balik bakwan.


“Hum! Pada hal kau sendiri yang bilang jangan pacaran dengan art.” ucap Al dengan memutar mata malas.

__ADS_1


“Itu khusus untuk mu! karena kau masih anak-anak, kalau akukan sudah matang dan juga pernah menikah!” Yudi sangat bangga dengan usianya yang telah menginjak kepala tiga.


“Sialan kau bang!” setelah itu keduanya menuju ruang makan.


Fi yang ada di kamarnya kembali memikirkan apa yang di katakan oleh Al.


“Dasar gila! Untuk apa dia bilang seperti tadi? Malu-maluin banget, yang benar saja kalau tuan mau menikahi ku,” gumam Fi.


“Mama mau nikah lagi?” pertanyaan Andri membuat Fi menoleh ke anaknya yang ada di sebelahnya.


“Tidak nak, mama enggak ada keinginan sama sekali, sekarang prioritas mama hanya Andri dan nenek.” Fi yang kapok dengan dunia pernikahan memutuskan untuk menjanda selamanya.


🏵️


Keesokan harinya, Hitman yang berkunjung ke penjara mendapat amukan dari Asir. Pasalnya penipuan yang Dewi lalukan berkat saran dari Hitman.


“Gimana sih pak? Kok bisa Dewi kabur? Pada hal bapak yakin banget kalau Dewi akan membantu ku! kalau begini yang ada aku akan di penjara beneran pak! Akh!”


Brak!


Asir menggebrak meja yang ada di hadapannya.


Ia juga sangat marah akan kecerobohan pengacaranya.


“Dan ada satu hal lagi pak.” Hitman merasa cemas untuk mengatakannya.


“Ternyata bu Dewi juga di laporkan oleh bu Fi.” Mengetahui kenyataan yang ada Asir makin emosi.


“Jadi karena itu, dia meminta uang banyak pada ku?!” Asir mengendus kesal.


Ia tak menyangka kalau hal malang terus menerpa dirinya.


“Iya, benar pak. Apa tak ada orang lain yang bisa menjadi saksi bapak?” tanya Hitman.


“Paling cuma mama dan para art ku! Tapi... aku tak tahu apa mereka bersedia.” Asir tahu, kalau orang-orang yang ada di rumahnya takkan semudah itu membantunya.


“Coba saya bicara dengan mereka, masalahnya waktu kita semakin mendesak pak.” terang Hitman. Hitman yang selalu terdepan ingin kasus kali itu juga ia menangkan.


“Tolong panggil ibu ku kemari.” pinta Asir, ia sangat ingin meminta bantuan Alisyah.


“Baik pak. Nanti saya akan ke rumah bapak.” setelah itu, Hitman meninggalkan Asir untuk menemui Alisyah.


“Awas kau Dewi! Aku akan membuat mu menyesal! Tunggu saja aku keluar dari sini.” Asir berencana akan balas dendam pada Dewi.


🏵️


Denise yang ada di kamarnya melihat kembali photo-photo kebersamaannya bersama Yudi.


“Apa memang kau bukan jodoh ku? Kenapa aku masih berharap pada mu Yudis?” Denise yang terlanjur cinta tak sanggup bila melihat seorang Yudi menikah dengan orang lain lagi.

__ADS_1


“Setelah kau cerai dari Suli, sikap mu jauh lebih baik pada ku, sejenak ku pikir kau suka pada ku, tapi... kenapa malah wanita itu, hiks...” Denise merasa berduka dengan cinta bertepuk sebelah tangannya.


Ia yang menangis sedih tiba-tiba mendapat telepon dari Yudi.


Denise yang melihat nama orang yang cinta pada layar handphonenya dengan sigap mengangkat panggilan dari Yudi.


Halo. 📲 Denise.


Meski ia marah, namun ia tak bisa mengabaikan Yudi lebih lama.


Aku baru kirim email pada mu, tolong kerjakan sekarang, karena aku buru-buru mau meeting besok, ini dadakan. 📲 Yudi.


Oke, siap! 📲 Denise.


Setelah sambungan telepon terputus, Denise yang tadinya menangis menghapus air matanya dengan tisu.


Kemidian ia beranjak menuju laptopnya yang ada di atas meja kerja yang ada dalam kamarnya.


Meski Yudi telah menyakiti hatinya dengan tak sengaja, namun Denise masih ikhlas mengerjakan apa yang di suruh oleh Yudi.


Denise yang terlanjur sayang rela membuang waktunya demi mengagumi Yudi.


Asal bisa di sampingnya selamanya, aku rela melajang seumur hidup ku, batin Denise.


Cinta Denise yang terlalu tulus membutakan matanya, ia pun tak dapat melihat bahwa banyak lelaki lain yang juga mencintai dirinya.


🏵️


Fi yang baru selesai memaki cream malam dari dokter bedah plastiknya lupa untuk membuang sampah dari dalam kamarnya.


Ia yang tak ingin dapat teguran dari orang-orang yang cari masalah dengannya memutuskan untuk membuang sampahnya ke taman, sebab dari gerbang sanalah truk sampah kota mengambil sampah.


Karena Andri sudah tidur, ia pun lebih leluasa untuk pergi.


Fi pun keluar dengan perlahan agar anaknya tak bangun.


Sesampainya ia di taman, dia pun melihat Yudi yang sedang duduk di ayunan seraya merokok.


Cuaca malam yang dingin membuat Fi tak ingin beramah tamah pada sang majikan.


Ia yang ingin masuk ke dalam rumah malah di lihat oleh Yudi.


“Kenapa kau keluar malam-malam begini Fi?” tanya Yudi.


Suara Yudi yang begitu maskulin membuat jantung Fi deg degan.


Aduh! Kenapa tuan harus lihat ku sih! batin Fi.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2