Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
34 (Rendang)


__ADS_3

Dewi benar-benar tak habis pikir dengan nasibnya yang berjalan di tempat.


Ia pun membuang hasil tespeknya ke tong sampah.


Selanjutnya Dewi keluar kamar menuju dapur, namun langkahnya terhenti, saat art yang menjaga kedua keponakannya berdiri di hadapannya.


“Ada apa Surti?” tanya Dewi pada wanita tua yang sudah berkepala 5.


“Begini nyonya, anak saya yang di kampung sedang sakit, dan tidak ada yang merawat, karena itu, saya mohon izin untuk pulang, nanti setelah anak saya sembuh, saya akan kembali lagi kesini.” Surti sangat berharap Dewi memberi izin padanya.


“Enak saja kau! Baru kerja 28 hari sudah minta pulang, enggak bisa! Sebelum kau ku terima kerja, kau sudah menandatangani surat perjanjian kerja, selama kau di kontrak, yang mana lamanya itu 1 tahun. Kau tak boleh pulang atau mengundurkan diri di tengah jalan. Dan kau akan di denda kalau sampai ingkar! Waktu itu, aku sudah bertanya pada mu berulang kali, tapi kau bilang dapat menyanggupinya, nah! Sekarang kau minta izin pulang?! Hah? Apa kau waras Surti?” Dewi yang tak ingin mengasuh Emir dan Andri, enggan memberi izin.


“Saya tahu nyonya, dan saya mohon maaf, ini karena anak saya benar-benar krisis, saya juga tak punya saudara yang lain, tolonglah nyonya, saya berjanji akan kembali lagi.” Surti terus memohon kebaikan hati Dewi.


”Enggak! Anak mu mau mati juga aku tak perduli. Jangan paksa aku ya! Yang jelas, janji tetap janji, dan di surat kontrak kerja yang kau tangani juga ada matrainya, ku rasa meski kau nenek tak berpendidikan, pasti kau tahu fungsi materai itu apakan, Surti?!” Dewi benar-benar di buat tambah pusing kalau pengasuh keponakannya sampai pulang.


“Nyonya, anak saya benar-benar butuh saya, tolong nyonya!” ketika Surti ingin menyentuh tangan Dewi. Dewi dengan cepat menepisnya.


“Perhatikan kelakuan mu ya! Jangan coba-coba lagi menyentuh diri ku!” Dewi yang tak ingin di ganggu oleh Surti, memutuskan untuk pergi ke dapur dengan cepat.


Surti, wanita tua yang tak punya apa-apa selain anaknya menangis pilu.


________________________________________


Fi yang telah sampai di depan ruko konveksi ibunya bekerja. Duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu.


“5 menit lagi, ibu istirahat makan siang.” Fi begitu tak sabar untuk bertemu dengan Yuri.


Hingga, waktu yang di tunggu pun tiba, Yuri dan pekerja lainnya keluar dari dalam ruko untuk mengisi perut, agar memiliki tenaga melanjutkan kerja setelah istirahat selesai.


“Ibu!” Fi memanggil Yuri.


Yuri yang mendengar suara putrinya, menengok ke arah sumber suara.

__ADS_1


“Fi, untuk apa kau kesini?’ tanya Yuri, sebab setahunya, anaknya masih harus istirahat di rumah.


“Aku bawakan ibu makan siang.” senyum bahagia tak lepas dari bibir merah muda Fi.


“Kau masak? Dapat uang dari mana nak?” tanya Yuri kembali, sebab seingatnya, ia tak memberi uang pada Fi.


“Enggak bu, aku di kasih, hehehe!” Fi memperlihatkan bungkusan nasi dalam kresek putih.


“Oh, dapat di pinggir jalan ya? Eh, kenapa kau ambil satu? Harusnya minta 2. Orang yang bersedekah masih disana enggak? Ibu mau minta juga.” Yuri berpikir jika nasi yang putrinya dapatkan dari orang Dermawan yang biasa membagikan makanan untuk orang-orang jalanan.


“Enggak bu, ini di kasih oleh majikan ku.” Fi makin tersenyum lebar.


”Kau kerja?” Yuri sungguh tak mengerti jalan pikiran putrinya, sebab ia melihat Fi belum sembuh total.


“Iya bu, dan aku di terima!!” Fi begitu antusias menyampaikannya pada ibunya.


Bukannya memberi selamat, Yuri justru memarahi putrinya.


“Untuk apa kau cari kerja?! Kau itu belum sembuh Fi! Bagaimana kalau kau terlalu cape, dan kaki mu infeksi? Atau di tempat kerja mu ada yang meledek mu? Pikir dong Fi, kesehatan itu yang paling utama, kalau kau sampai kenapa-napa, ibu tak punya uang nak untuk membawa mu ke rumah sakit, jadi sekarang jangan kerja dulu, tunggu sampai kau benar-benar pulih.”


Pada hal hanya ibu sambung, tapi ibu sudah seperti ibu kandung untuk ku, ya Allah, aku akan merasa berdosa seumur hidup, kalau tak bisa membahagiakannya, batin Fi.


“Bu, aku sudah sembuh, dan majikan ku juga orang baik, terbukti dengan dia menerima ku tanpa melihat fisik ku. Kalau aku tolak, belum tentu dapat pekerjaan yang lebih baik, aku dan ibu sama-sama tahu, takkan ada orang lain yang akan memberi ku kerja, karena wajah ku bisa merusak suasana, ibu mengerti kan?” terang Fi yang tahu diri, siapa dirinya.


“Tapi nak, ibu enggak tega, kalau kau di cibir rekan kerja mu disana, hiks...” Yuri tak dapat menahan air matanya, terlebih mengingat orang-orang sering berkata kasar pada putrinya yang buruk rupa dan berkaki pincang.


Anak-anak di sekitar rumah mereka juga sering meniru langkah kaki Fi. Sejak Fi cacat, semua orang tak lagi memanggil namanya dengan benar. Melainkan memberi nama baru, yaitu si pincang.


“Bu, aku lebih tak tega, kalau ibu banting tulang untuk ku. Aku tak bisa bersembunyi di rumah hanya untuk menghindari hinaan. Aku juga ingin sembuh bu, aku ingin membahagiakan ibu, dan... ingin mengambil hak asuh anak-anak ku. Tolong ibu restui pekerjaan ku ya bu, karena apa?” Fi berbisik ke telinga ibunya.


“Gajinya 10 juta perbulan.”


Mendengar nominal tak biasa, Yuri membekap mulutnya.

__ADS_1


“Kau serius?” tanya Yuri dengan suara yang redup, agar orang-orang tak mendengarnya.


“Ya. Bagaimana bu?”


“Sikat nak!” Yuri sangat bahagia, di balik kesusahan yang mereka alami, masih ada pelangi untuk mereka pandangi.


“Ayo bu makan.” ujar Fi.


Yuri yang membawa bekal dari rumah membuka kotak nasinya, yang berlauk garam halus, sebab mereka tak punya uang. Karena uang penghasilan Yuri, di buat untuk membeli obat pada Fi.


Ketika Yuri melihat potongan besar daging rendang yang ada di kotak nasi anti tiris yang di beri Yudi. Mata Yuri membelalak sempurna. Sebab sudah lama Yuri ingin makan gule enak itu.


“Makanlah bu!” seru Fi.


“Apa kau sudah memakannya juga?”


“Sudah bu, itu bagian ibu,” ucap Fi.


Yuri tanpa pikir dua kali mengambil daging rendang beserta semua bumbu yang menempel di kotak nasi milik Yudi.


“Um... Enak nak, ibu suka sekali.” Yuri yang jarang makan enak, mencubit kecil-kecil daging rendangnya, karena takut jika habis dengan cepat.


“Habiskan semua bu, tak usah hemat, karena majikan ku juga memberi ikan panggang, itu untuk makan malam kita nanti bu,” ujar Fi.


“Enggak nak, itu untuk mu saja, yang rendang untuk ibu.” setelah selesai makan, Yuri masih menyisakan 3/4 dagingnya.


Gluk gluk gluk!


Yuri yang selesai minum memberi kotak nasi berisi daging sisanya pada Fi.


“Tolong bawa pulang, panaskan dulu nak, ibu masih mau makan itu nanti malam,” ucap Yuri.


Fi tertawa geli melihat ibunya, “Baiklah, kalau aku gajian, akan ku masak 2 kilo daging sapi untuk ibu.”

__ADS_1


“Terimakasih banyak nak.” Yuri sangat bahagia atas lauk makan siang yang ia makan. Dan itu menambah semangatnya untuk bekerja kembali.


...Bersambung......


__ADS_2