Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
111 (Mulai menyesal)


__ADS_3

Fi yang menerima pernyataan cinta di depan banyak saksi tak tahu harus menjawab apa. Karena itu terlalu mendadak untuknya.


Al yang menjadi salah satu saksi tersenyum penuh makna.


“Bagaimana Fi...”


“Diam.” Yudi memotong perkataan adiknya.


Sadar sang majikan butuh jawaban, akhirnya Fi pun menanggapi pernyataan cinta tuannya.


“Kalau kasus kita menangkan, maka aku akan menerima cinta tuan.” Fi merasa tak ada alasan untuk menolak Yudi, karena pengorbanan Yudi begitu besar padanya.


Yudi yang mendengar kabar baik itu merasa panas dingin. Andai ia hanya sendiri di tempat itu, ia pasti sudah berjoget ria.


“Akan kita menangkan!” ucap Yudi dengan antusias.


“Tapi jika tuan hanya ingin menjadi pacar ku. Maaf, aku tak bersedia!” Fi tak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti di masa lalu, dan ia juga tak mau jika di cap sebagai janda gatal yang tak bisa menjada harkat dan martabatnya.


“Yes!!! Itulah yang ku mau!” Yudi yang hilang kontrol bangkit dari duduknya saking senangnya.


Namun saat ia melihat orang-orang yang mengerumuni mereka, seketika Yudi kena mental.


Wajahnya cerianya berubah jadi tegang, ia yang malu bukan main menutup rapat mulutnya. Dan duduk kembali ke sofa dengan gaya dinginnya.


“Aku pulang dulu, sampai jumpa besok pagi, akan ku dampingi kau ke pengadilan.” ucap Yudi dengan wajah datar.


“Terimakasih banyak tuan.” jawab Fi dengan menggigit sudut bawah bibirnya karena menahan tawa.


“Permisi.” Yudi yang malu setengah mati memilih meninggalkan rumah Fi tanpa menyapa Yuri.


Namun saat ia masih setengah jalan keluar dari rumah Fi, Yudi tiba-tiba memutar badannya.


“Ayo pulang Al!” Yudi tak rela jika adiknya masih tinggalkan disana.


“Oke!” sahut Al.


Kemudian Al mengangkat kedua jempolnya pada Fi.


“Kalau tak jadi dengannya, ada aku yang siap menampung mu.” ucap Al dengan suara pelan.


“Tidak akan.” Fi menolak Al mentah-mentah.


“Al!!!!” suara menggelegar Yudi senter terdengar di seluruh rumah.


“Siap calon suaminya Fi!” setelah itu Al berdiri dari duduknya seraya melambaikan tangannya pada Fi.


Setelah ada di luar rumah Fi, Yudi menaiki sepedanya seraya bersenandung.


“Nananana..... sungguh senang sangat senang, aku bahagia!!!”

__ADS_1


Al yang ada di belakang Yudi memanggil abangnya.


“Bang, ikut dong.” Al berniat ingin menumpang di sepeda abangnya.


Namun Yudi yang kelewat senang tak mendengar apa yang di katakan adiknya.


Yudi pun terus mengayun pedal sepedanya dengan menembangkan banyak lagu punuh cinta.


Fi yang ada dalam rumah bangkit dari duduknya. Dirinya yang juga merasa malu menutup rapat mulutnya dan berjalan ke arah kamar.


Andri yang tak dapat sapaan dari ibunya merasa sedih.


“Nek, mama kenapa?” tanya Andri pada Yuri.


“Mama lagi ada masalah hati, tenang saja, semua baik-baik saja kok nak.” Yuri pun menggendong cucunya menuju kamarnya.


Saat yang tersisa di ruang tamu hanya Art Yudi. Mereka pun mulai mengatakan ketakutan mereka masing-masing.


“Ya Tuhan, apa Fi akan membenci ku kalau dia jadi menikah dengan tuan?” tubuh Reni menjadi gemetaran.


“Sama, aku setuju dengan mu, tapi melihat dia yang baik hati rasanya enggak mungkin.” ucap Lia dengan yakin.


“Siapa yang bisa menjamin dia akan baik terus pada kita? Bisa saja, pas dia resmi jadi nyonya Hirarki, dia akan jadi orang yang sombong. Bukan hal sulit baginya untuk menendang kita.” Selia mengatakan kemungkinan yang akan terjadi.


Baik, Lia, Selia dan Reni merasa tak tenang, mereka yang ada di kamar masing-masing terus membayangkan bagaimana nasib mereka ke depannya. Apa lagi kalau profesi art tak banyak yang mau memberikan gaji besar dengan pekerjaan ringan yang mereka lakukan.


Fi yang ada dalam kamarnya berpangku tangan di pinggir ranjang.


Tapi mengingat kembali kebaikan Yudi, membuat ia yang belum ada rasa cinta menerima begitu saja.


“Yang penting tuan sayang pada Emir.” semua kembali lagi pada anak.


Fi yang telah kenyang dengan dunia percintaan, kini hanya memikirkan kebahagiaan Andri.


“Kalau Andri suka, berarti aku harus mau, dulu aku sudah di beri kesempatan oleh Tuhan untuk menentukan siapa suami ku, namun aku malah salah pilih, mungkin kalau anak dan ibu ku yang memilih, akan bagus jalan kisahnya.” Fi semakin mantap menetapkan hatinya pada Yudi.


🏵️


Yudi yang ada dalam kamarnya melihat baju dan tas-tas mahal di aplikasi belanja online.


“Kalau kasus ini di menangkan, kami akan menikah, untuk itu, aku harus memberi pak Marteen dan rekan-rekannya nutrisi lebih, agar ekstra ganas buat debat di persidangan besok!” Yudi yang kaya melintir langsung membeli barang-barang bermerek dengan harga fantastis untuk pengacara calon istrinya.


🏵️


Asir yang ada dalam penjara menatap nanar ke cahaya lampu yang bersinar terang.


Pengacara yang ia sewa pun membuat ia bimbang akan kejelasan kasus yang sedang ia hadapi, akankah ia menang atau tidak, pertanyaan itu selalu muncul di benak Asir.


Saat ia masih larut dalam sedihnya, Asir tiba-tiba ingat Fi Saeadat, wanita pertama yang ia perlakukan dengan serius walau hanya sesaat.

__ADS_1


”Dapat uang dari mana kau Fi, sehingga kau mampu membungkam semua orang-orang mata duitan itu.” hati Asir terus mencari-cari siapa yang membantu istrinya.


“Kalau itu dari keluarganya rasanya tak mungkin, ia hanya punya Dewi dan Yuri.” Asir yang masih dalam kebingungan mendalam merasa sekujur tubuhnya dingin.


Kakinya juga terasa pegal, serta kepalanya pusing berat.


Penjara tanpa selimut itu membuatnya meringkuk dan memeluk tubuhnya sendiri.


Ia yang tidur di atas kasur lantai tipis tanpa tikar membuat ia makin kedinginan.


Tubuhnya pun gemetaran hebat, meski ia memiliki 3 rekan dalam selnya, namun tak satu pun yang perduli akan kondisinya.


Mereka malah membiarkan Asir menderita, tak ada yang bersedia mengatakan pada sipir penjara kalau dirinya sakit.


Asir pun tak mampu untuk membuka mulutnya, hanya sekedar mengatakan sendiri. Sebab Asir yang sedang demam di sertai maag dan masuk angin.


Mungkin aku akan mati, biar sajalah, batin Asir.


Ia sudah pasrah akan keadaan, karena menurutnya dirinya tak pantas lagi ada di dunia.


Kali itu, Asir benar-benar kehilangan jati dirinya yang keras dan juga berkuasa.


Ia yang dalam kesakitan nya kembali mengingat masa-masa ia menyakiti hati istrinya.


...Flash Back On!...


Fi yang pergi ke mall bersama buah hatinya Emir, meninggalkan Asir sang suami tercinta sendiri di rumah.


Asir yang tak ada kegiatan di hari Sabtu pagi itu memilih untuk berenang. Karena ia sudah lama tak melakukan olah raga air itu di karenakan sibuk.


Ia pun menuju kolam berenang dengan memakai handuk kimono.


Sesampainya ia, Asir membuka handuk pembalut tubuhnya, hingga menyisakan celana renang yang bertengger di tempatnya.


Zarrrss!!!


Asir melompat indah ke dalam kolam yang ada di rumahnya.


“Wah... segar...” ia pun bolak balik dari ujung ke ujung menyelam, serta melakukan gerakan renang indah lainnya.


Setelah 30 menit bermain dalam air, Asir berniat untuk keluar dari kolam.


Namun saat ia meletakkan tangannya di lantai pinggir kolam.


Ia pun melihat sepasang kaki indah di depan matanya.


Sontak ia pun mendongak, untuk melihat kira-kira kaki itu milik siapa.


“Dewi?”

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2