
Dewi yang licik, memulai trik kotornya kembali. Sedang Asir yang tak ingin repot hanya bisa menyetujui apa yang di katakan kekasihnya.
“Kau benar juga, baiklah, atur saja, tapi satu pinta ku.”
“Apa sayang?” tanya Dewi seraya memeluk tubuh Asir yang bertelanjang dada.
“Suruh dia tidur di kamar Art, karena aku tak bisa melihat wajahnya yang buruk itu, takutnya, aku mual, dari pada aku berdosa karena menghinanya, lebih baik aku tak bertemu dia.” Asir yang tak membutuhkan Fi lagi, tak ingin melihat wajah istrinya meski hanya sekali.
“Siap mas, akan ku urus segalanya.” Dewi tersenyum, karena keinginannya terpenuhi.
Karena suasana yang mendukung, Joni Asir tiba-tiba bangun. Asir yang ingin menyalurkan hasratnya menuntun kedua tangan Dewi untuk berpegangan ke pinggir kolam.
“Mau apa mas?” tanya Dewi.
“Mengotori kolam,” ucap Asir.
Lalu Asir melucuti celana renangnya, selanjutnya ia membuka tali pengikat bikini yang Dewi pakai.
Setelah itu, Asir membuang sembarang kain yang menghalangi matanya untuk melihat keindahan tubuh kekasihnya.
“Aku bisa gila karena mu sayang!” Asir yang melihat kacang buncis Dewi sedikit hitam karena rambut, memberi komentar.
“Yang ini.” Asir memegang kacang gurih milik Dewi. “Bersihkan, lebih indah jika tak ada yang tumbuh di atasnya.”
Kurang ajar! Bikin kesal, batin Dewi.
“Baik mas,” shut Dewi dengan tertawa palsu.
“Cepat nyanyikan 10 lagu untuk ku.” pinta Asir yang mulai merinding.
“Aku tak kuat kalau menyelam selama itu mas.” Dewi menolak keinginan Asir.
“Kalau aku mau, kau harus bersedia!” karena Asir memaksa, terpaksa Dewi melakukannya.
Ada saatnya, kau akan ku tendang, batin Dewi.
Ia yang ingin mencapai tujuannya, terpaksa pura-pura lemah pada Asir.
Meski tak sanggup, ia terus melakukan penyelaman dalam kolam, ketika ia hampir pingsan, Asir menarik tubuhnya.
“Pegang lantainya!” titah Asir.
Dewi yang belum bisa bernafas normal, malah langsung dapat terjangan brutal dari belakang oleh Asir.
Kegiatan yang mereka lakukan ternyata di saksikan oleh sang Art Wina.
Ia yang mengerti jika Asir mabuk gadis cantik bertubuh gemulai, merasa tertarik untuk menggoda majikannya.
“Siapa tahu, jika aku berhasil, aku bisa menjadi nyonya rumah kalau aku hamil, hahaha.” Wina yang tak tahu jika Asir tak menginginkan anak, malah berencana untuk mengandung benih dari pria jahat tersebut.
__ADS_1
_______________________________________
Keesokan harinya, Fi yang sedang mencuci piring di dapur di panggil oleh mertuanya.
“Fi.”
“Ya ma?” sahut Fi.
“Cepat kemari.”
Lalu dengan kakinya yang masih pincang, Fi berjalan menuju mertuanya.
“Ada apa ma?”
“Tolong, beli obat pereda nyeri dan demam untuk ku.” ternyata Alisyah masih merasa sakit atas tamparan Asir padanya.
“Baik ma.”
Lalu Alisyah membuka dompetnya yang terisi penuh dengan uang 100.000-an, kemudian ia mengeluarkan uang cash sebanyak 500.000 dan memberikannya pada Fi.
“Ini, beli di apotik terdekat.” Alisyah memberi secarik kertas yang berisi nama obat yang harus di beli oleh Fi.
“Ma, apa aku boleh meminjam uang mama? Aku juga ingin membeli obat untuk kaki dan wajah ku yang belum sembuh.” Fi sungguh berharap mertuanya bermurah hati padanya.
“Enak saja kau! Mau pinjam uang kata mu? Terus bayar kapan? Memangnya kau punya uang buat bayar? Kerja saja tidak!” Alisyah enggan memberi menantunya pinjaman.
“Nanti aku akan cari kerja ma, makanya aku ingin mengobati kaki dan wajah ku terlebih dahulu,” terang Fi.
Karena tak mendapatkan apa yang Fi mau, ia pun memilih diam.
“Ini saja ma yang mau di beli?” tanya Fi, yang ingin segera berangkat ke apotik.
Tiba-tiba Alisyah merampas kasar uangnya dari tangan Fi.
“Tidak jadi, anak-anak mu tidak ada disini kan? Nanti yang ada kau malah bawa lari uang ku lagi, pergi kau! Lebih baik aku menyuruh Lela.”
“Ya sudah, terserah mama.” Fi tak terlalu memikirkan kata-kata mertuanya.
.
“Lela!” Alisyah memanggil pembantunya.
Kemudian Lela yang tak jauh dari dapur pun datang menemuinya.
“Ya nyonya?”
“Tolong belikan aku obat, Fi! Berikan kertas itu pada Lela.”
Fi pun memberikan kertas yang ada di tangannya pada Lela.
__ADS_1
Selanjutnya Alisyah mengeluarkan uang sebanyak 200.000 dari dompetnya.
“Ini untuk mu.” Alisyah memberi upah pada Lela yang bersedia membantunya di hadapan Fi.
Ya Allah, tabah kan hati ku, batin Fi.
“Terimakasih nyonya.” Lela yang bersemangat langsung pergi ke apotik.
Lalu Alisyah yang pelit pada menantunya memberi tatapan sombong.
“Andaikan kau tak mata duitan, pasti aku akan kasih!” setelah menghina menantunya, Alisyah meninggalkan dapur.
Fi menelan Salivanya, ia menegarkan hatinya yang begitu sakit karena ibu mertuanya.
Andaikan dulu aku lebih memilih sekolah dari pada menikah. Fi kembali menyesali keputusannya di masa lalu.
Fi yang akan kembali ke rumah orang tuanya berniat mengepel rumah terlebih dahulu sebelum pulang.
Bagaimana pun ia harus membayar nasi yang ia makan tadi pagi dengan mengerjakan sesuatu di rumah itu.
Saat ia membawa ember berisi air dan pelan ke ruang tamu, tiba-tiba ia melihat adiknya datang dengan menggendong Andri.
“Andri!” rasa rindu yang ia bendung selama beberapa hari membuat ia ingin segera memeluk putra bungsunya.
Namun Dewi menghentikan langkah kakaknya. “Kakak boleh memeluk dan bersama dengan kedua keponakan ku.”
“Benarkah? Alhamdulillah, tapi... Emir mana?” tanya Fi penasaran.
“Dia ada di rumah, kalau kakak ingin bertemu dia, boleh saja, tapi... syaratnya kakak tinggal kembali di rumah kami, dan jadi perawat bagi Andri dan Emir, dan juga jangan tampakkan wajah jelek mu di hadapan ku dan juga mas Asir, apa kakak sanggup?” Dewi merasa jika saat itu ia sudah sangat berbaik hati pada kakaknya.
“Apa tak sebaiknya kami pulang ke rumah ibu? Kau dan mas Asir lebih leluasa?”
Dewi memutar mata malas, sebab ia merasa kakaknya jual mahal.
“Jangan banyak lagak kak, lebih baik kau menuruti semua yang ku katakan, karena Emir dan Andri sedang sakit, anak-anak mu juga tak mau minum obat, tapi kalau kau mau keduanya mati konyol, ya silahkan, aku tak perduli!” pekik Dewi.
Alisyah yang baru keluar dari kamarnya melihat kehadiran Dewi.
“Pergi kau dari rumah ku jalangg! Iblis seperti mu, haram menginjakkan kaki disini!” Alisyah yang menyimpan dendam mengusir Dewi.
Lalu Dewi tersenyum getir seraya melihat ke seluruh penjuru ruangan.
“Ehm, lumayan juga nih kalau rumah ini di jual.” Dewi memiliki rencana untuk menghasut Asir agar menjual rumah mertua kakaknya.
“Dasar manusia pembawa sial! Tunggu saja kehancuran mu! Aku sudah melaporkan mu dan Asir ke kantor polisi!” Mendengar pengakuan Ibu kekasihnya, Dewi menjadi panas dingin.
...Bersambung......
__ADS_1