Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
96 (Al Mujahidin)


__ADS_3

“A-aku semanis ini kau bilang racun?” Al menunjuk ke arah dirinya sendiri.


“Iya, tuan benar, sebaiknya tuan menjauhi saya, karena jujur saya tidak akan pernah suka pada tuan.”


Karena terus mendapat penolakan dari Fi, Al akhirnya istirahat menggoda wanita cantik itu.


“Ya sudah, aku mau makan dulu, kalau mau sesuatu telepon aku.” Al pun menulis nomor kontaknya di sampul novel yang berjudul Pernikahan Berdarah. Setelah itu ia pun pergi.


Fi yang tidak suka dengan Al, tak melirik nomor yang pria tampan itu tuliskan.


Ia yang memikirkan anaknya memilih fokus bekerja dari pada mencari laki-laki.


“Pria nakal memang begitu, tahu status orang janda, langsung menggoda!” gumam Fi.


🏵️


Dewi yang telah berhasil menjual semua perhiasannya langsung memesan tiket pesawat untuk pergi keluar negeri.


“Untuk sementara aku tinggal disana dulu, sampai kondisi benar-benar aman, baru aku kembali lagi.” Dewi yang telah merencanakan segalanya dengan matang bersiap terbang ke negara tujuannya.


Ia yang hanya membawa baju sekoper melenggang santai menuju bandara.


“Nanti uangnya akan masuk, hahaha... biar saja si Asir menangis darah di dalam penjara.” Dewi yang tega berharap mantan kekasihnya membusuk di buih.


🏵️


Wina yang bicara sendiri membuat kedua teman tahanannya marah.


Pasalnya Wina mengoceh tanpa henti. Sera yang kesal melempar gelasnya ke kepala Wina.


Plok!


Sontak Wina menoleh kearah Sri dan Sera. “Kenapa kalian selalu cari masalah pada ku?” pekik Wina.


“Berisik! Diam kenapa sih? Mulut mu dari tadi nyampah terus, hargai orang lain Wina! Kau pikir penghuni sel ini hanya kau seorang? Mentang-mentang aku tak menghajar mu, kau malah keterlaluan!” pekik Sera.


Wina yang stres berat melempar kembali cangkir itu pada Sera.


Plok!


Lemparan balas dendam Wina tepat mengenai hidung Sera. Alhasil mereka berdua pun adu otot.


“Kau berani pada ku?!” pekik Sera.


“Berani! Masih sama-sama makan nasi dan air, kenapa aku harus takut pada mu?” ucap Wina dengan tangkas.

__ADS_1


“Kurang ajar! Tak ada sopan santun pada tahanan lama!” kemudian Sera menjambak rambut Wina.


Wina yang tinggi badannya sama dengan Sera, dengan cepat membalas perbuatan Sera.


“Memangnya kau saja yang kuat? Hum?!!!” Akhirnya Wina dan Sera berkelahi hebat. Sri yang menyaksikan hanya tertawa, karena ia merasa terhibur dengan aksi konyol keduanya.


🏵


Yudi yang telah selesai mengerjakan pekerjaannya memutuskan untuk pulang.


Ceklek!


Saat ia membuka pintu ruangannya, ia pun melihat Denise dengan hidung memerah.


"Kau flu?" tanya Yudi dengan perasaan khawatir.


"Akh, iya aku lagi flu, kau sudah siap?" Denise menjinjing tas kerjanya.


“Iya, ayo ku antar.” Yudi mengajak Denise pulang bersama.


“Tidak usah, hari ini aku ada janji ketemu dengan teman, jadi kita pulang bersama besok saja.” Denise menolak karena ia butuh waktu untuk sendiri.


“Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan ya.” kemudian Yudi beranjak pergi. Karena ia sudah tak sabar ingin bertemu Fi.


Denise yang di tinggal, menatap nanar ke arah orang yang ia cintai itu.


🏵️


“Tadi sih ada disini pak, tapi sekarang dia lagi pergi,” terang Alisyah.


“Ibu tahu, kira-kira bu Dewi pergi kemana?” tanya Himan penuh selidik.


“Saya kurang tahu pak, karena saya hanya melihat sekilas.” pengakuan dari Alisyah membuat Hitman menaruh curiga, kalau Dewi telah melarikan diri.


Saat mereka masih dalam kebingungan, 2 orang polisi mendatangi kediaman Asir.


“Permisi nyonya, ada tamu yag datang.” Teri menunjuk ke arah polisi.


Sontak Alisyah dan Hitman berdiri dari duduk mereka.


“Selamat malam pak, bu. Apa benar, bu Dewi tinggal disini?” mendengar pertanyaan dari salah seorang polisi membuat Hitman dan Alisyah melihat satu sama lain.


“Tidak pak, tapi tadi dia datang berkunjung kesini, dan sudah pergi lagi,” terang Alisyah. “Oh iya, silahkan duduk bapak-bapak.” ujar Alisyah.


“Memangnya ada apa pak?” tanya Hitman.

__ADS_1


“Kami menerima laporan dari bu Fi Saeadat, bahwasanya bu Dewi telah menganiaya bu Fi dan kedua anak-anaknya, yang tempat kejadian perkara berlangsung di rumah ini. Sejak laporan masuk, kami telah mencari keberadaan bu Dewi, tapi belum menemukan hasil, setelah kita bertanya pada bu Wina, katanya Dewi pernah menjadi Spg buah di mall Sency, setelah menyelidiki kesana ternyata bu Dewi sudah resign, dan atas saran bu Fi, kami mendatangi rumah ini,” terang polisi panjang lebar.


Sontak Hitman memejamkan matanya sejenak, ia merasa bodoh, sebab seorang Dewi bisa mengelabuinya dan Asir.


“Saya akan berikan nomor kontak bu Dewi, silahkan bapak-bapak melacak nomornya.” Hotman pun memberikan nomor telepon Dewi pada para polisi.


🏵️


Sedang Dewi yang berada di dalam pesawat tertawa geli, sebab ia yang kini telah mengganti handphone dan kontaknya merasa aman bepergian keluar negeri.


“Bodoh banget satu-satu, selamat tinggal Asir, semoga setelah ini kau jatuh miskin dan tak tersisa, semoga Tuhan juga menurunkan azabnya pada mu, hahaha.” Dewi yang senang memejamkan matanya untuk tidur.


Tak sabar melihat Asir jadi pengemis, batin Dewi.


🏵️


Yudi yang baru sampai ke rumah mendapati adik sepupunya Al sedang duduk di atas sofa.


Iya yang mendapat kunjungan tiba-tiba merasa senang, sebab ia sudah 2 tahun tak bertemu dengan adiknya.


“Hei! Kau datang?!” Yudi menyapa sang adik yang beda usia 7 tahun darinya.


“Iya bang, abang lama banget pulang kerjanya,” ucap Al.


“Maklumlah, banyak sekali pekerjaan ku yang menunpuk, pasti kau bosan ya menunggu ku sendirian?” Yudi merasa kasihan dengan adiknya.


“Tidak, karena aku melihat sesuatu yang bagus di rumah mu bang,” ujar Al.


“Oh ya? Kau tak bermaksud memacari para Art ku kan?” Yudi menaruh curiga pada adiknya yang nakal.


“Hahaha... tepat sekali! Aku suka salah satu art mu bang.” Al mengakui perasaannya pada abangnya.


“Kau gila ya! Mereka semua itu lebih tua darimu, harusnya kau cari daun muda dan yang sama gelarnya dengan mu, lagi pula kau ini belum dewasa betul, lanjutkan dulu S2 mu baru pacaran!” penuturan dari Yudi membuat Al jengkel.


“Hei! Aku masih ingat bang, kau mulai pacaran saat SMP, jadi untuk apa kau melarang ku yang sudah cukup usia menikah?” wajah tengil Al membuat Yudi tertawa lepas. Dan tawa cerianya itu di saksikan beberapa Artnya.


Wajah tampan Yudi membuat siapa saja berdebar, apa lagi momen tertawa yang jarang terekspos begitu langka untuk mereka.


“Hahaha... aku hanya bercanda, sudahlah Al, cari yang lain saja, masih banyak gadis-gadis yang lebih oke di luar sana,” ujar Yudi.


“Oke. Tapi bang, aku lapar, ayo makan,” ucap Al.


“Ayo, tapi aku panggil Fi dan Andri dulu ya.” kemudian Yudi melangkah ke kamar Fi dengan Al.


“Fi siapa bang? Apa dia pacar mu? Mengingat kau kan sudah cerai dari kak Suli.” Al pun ingin tahu siapa wanita yang berhasil menaklukkan hati abangnya.

__ADS_1


“Dia calon istri ku, orangnya cantik dan juga baik, oh ya... kapan kau wisuda?” tanya Yudi sebagai pengalih topik pembicaraan.


...Bersambung......


__ADS_2