
Clara tertawa getir lagi pada Dewi. “Jangan Lupa Wi, untuk kuret ke ke klinik atau rumah sakit, jangan pelit banget untuk kesehatan mu,” ucap Clara.
“Iya, aku tahu,” sahut Dewi.
“Apa kau bisa menyetir? Kalau tidak, tinggalkan saja mobil itu.” Clara takut jika Dewi tak fokus, karena bagaimana pun Dewi pasti merasakan sakit pada perutnya.
“Tidak perlu, oh ya... kalau aku kontraksi nanti, bisa gawat, apa lagi kalau si bajingan itu melihatnya, bisa mati konyol aku.” Dewi berencana untuk menginap di rumah Clara.
“Ke apartemen ku saja, om Toni tak pulang malam ini,” ujar Clara.
“Wah, tepat sekali! Memang aku ingin menginap di tempat mu.” Dewi tersenyum puas, karena selain dapat tumpangan gratis, dirinya juga ada teman untuk melewati derita yang akan ia alami nanti.
Setelah itu, keduanya pun beranjak pulang menuju apartemen Clara.
🏵️
Yudi yang baru selesai rapat dengan mantan suami Artnya, tak hentinya mencuri pandang pada Asir.
Tak ku sangka, orang berpendidikan seperti pak Asir, tega menganiaya istrinya sampai cacat, batin Yudi.
Asir yang tak sengaja menangkap pandangan aneh dari Yudi merasa risih.
“Ada apa pak Yudi, apa ada yang salah dengan ku?” Asir bertanya langsung agar tak menyimpan rasa penasarannya.
“Tak apa, minggu aku ingin ke rumah mu, apa bisa pak Asir?” Yudi menentukan hari untuk bertemu dengan Emir dan Andri.
“Bisa pak, datanglah jika bapak ingin berkunjung, pintu rumah ku selalu terbuka lebar untuk pak Yudi,” ujar Asir.
“Baiklah kalau begitu.” setelah selesai berbincang, Yudi meninggalkan ruang rapat menuju ruangannya.
Untung kontrak kerja sama kali ini hanya 3 bulan, setelah itu, akan putus segala hubungan apapun dengannya, batin Yudi.
🏵️
Setelah Fi selesai memijat seluruh kaki Suli, ia pun berniat melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
“Nyonya, apa tidak apa-apa nyonya tidur disini saat saya sedang bersih-bersih?” tanya Fi, karena ia takut kalau majikannya akan terganggu tidurnya.
”Oh iya, kau benar juga.” Suli yang ingin tidur tenang berniat pindah ke kamar tamu.
__ADS_1
Saat Suli akan keluar kamar, Rila datang untuk meninjau pekerjaan Fi.
“Selamat siang nyonya.” Rila menundukkan kepalanya untuk memberi hormat.
“Siang juga,” Suli tersenyum pada Rila.
Rila yang melihat Fi baru mulai kerja, seketika merasa naik pitam. Ia yang ingin cari muka agar terlihat tegas pun mulai berekting dengan menegur Fi yang malas.
”Hei, apa saja yang kau lakukan seharian? Kan aku sudah bilang, jam 13:00 pekerjaan mu harus sudah selesai semua, kau selalu saja begini, malas! Pada hal kau baru 2 hari bekerja, tolong kau hargai aku, dengarkan apa yang ku suruh, karena ini perintah langsung dari tuan besar.”
“Maafkan saya kak, ini saya mau mulai kerjakan,” ucap Fi.
“Astaga, jangan ulangi lagi ya, aku tak bisa mendengar jika kau di marahi oleh tuan karena kinerja mu yang kurang.” Rila merasa bangga karena dapat memarahi seseorang di hadapan nyonya besarnya yang baru datang.
Sedang Suli yang merasa bersalah karena membuat Fi dalam masalah pun memberi pembelaan.
“Maaf bu, tolong jangan marahi Fi, dia terlambat bekerja, karena saya, bukan karena malas.”
Rila tersentak saat nyonya besar yang baru saja tiba di rumah itu melindungi Fi.
Gila, ilmu pengasihnya manjur banget, apa perlu aku dekati Fi, untuk tahu dia pergi ke dukun yang mana? batin Rila.
“Bu Rila.” Suli memanggil nama kepala Artnya.
“Iya nyonya?” sahut Rila.
“Tolong, untuk hari ini, kau gantikan Fi mengerjakan tugasnya, ku rasa dia sangat lelah melayani ku mulai dari tadi pagi.” perintah dari Suli membuat Rila syok.
Kurang ajar! Sungguh bawahan pembawa sial! batin Rila. Ia pun menatap tajam ke arah Fi.
Fi yang melihat api amarah di mata Rila menelan salivanya.
Astaga, pasti aku kena marah lagi nanti, batin Fi.
“Tidak apa-apa nyonya, ini tugas saya, biar saya saja yang mengerjakan.” dari pada dapat masalah, Fi lebih memilih kecapean total.
“Jangan begitu, biarkan kepala Art menggantikan mu hari ini saja, tidak apa-apakan bu Rila?” tanya Lula dengan tersenyum manis.
”I-iya nyonya, itu bukan masalah besar, saya bisa kok melakukannya.” karena sang nyonya yang meminta langsung, Rila pun tak dapat menolak.
__ADS_1
“Kau lihat Fi, bu Rila hatinya sangat luhur, sebaiknya kau pergi makan, setelah itu tidur siang,” ujar Suli.
“Iya nyonya. Terimakasih banyak kak.” setelah itu, Fi meninggalkan kamar mewah milik majikannya.
“Tolong yang bersih ya bu.” pinta Suli.
“Siap nyonya.” Rila tersenyum manis.
Setelah sang nyonya dan Fi meninggalkannya, Rila pun mendengus.
“Awas kau Fi, aku akan cari celah untuk memecat mu! Kau baru 2 hari kerja, tapi sudah dapat menaklukkan tuan dan nyonya, aku tak mengerti, apa yang mereka lihat di dirimu.” Rila tak habis pikir dengan jalan pikiran majikannya.
Ia yang ingin mengerjakan seluruh tugas bawahannya sungguh ingin menangis, pasalnya ia merasa sangat di rendahkan.
Apa gunanya jabatan ku tinggi, kalau aku masih harus bekerja? batin Rila.
Meski pun ia tak ikhlas, namun dirinya tak punya punya pilihan lain.
🏵️
Di ruang makan, Fi yang telah mengambil nasinya, memilih duduk terpisah dari yang lain.
Kini Fi tak perduli, meski tak ada yang mau menjadi temannya. Karena baginya, tuan dan nyonyanya saja yang baik padamu itu sudah cukup untuknya.
“Kalian tahu masalah apa yang di timbulkan si pincang hari ini?” ucap Reni.
“Apa?” semua Art merasa penasaran dengan apa yang ingin Reni katakan.
“Tuan dan nyonya bertengkar karena dirinya,” ucap Reni.
“Jangan fitnah, untuk apa tuan dan nyonya berkelahi karenanya?” ujar Mirna.
“Ku dengar karena si pincang menangis di hadapan tuan, astaga baru 2 hari kerja, dia sudah berani membuat kekacauan, dan yang paling membuat aku tak mengerti, masa tuan mau main gila dengannya?” bisik Reni.
Para Art yang mendengar cerita Reni merasa tak percaya, jika sang tuan akan menyukai wanita seperti Fi.
“Ren, kau dengar cerita ini dari siapa? Kau jangan buat cerita bohong, nanti malah menyebar ke yang lain, dan mengundang kebencian pada Fi, kasihan dia, dia kesini tujuannya sama dengan kita, yaitu cari uang, kau juga jadi jongos untuk yang satu itukan?” Mirna membela Fi dari fitnah yang Reni katakan.
“Aku dapat cerita ini dari kak Rila, kalau kalian tak percaya tanya saja sendiri, tadi pagi kak Rila mau memberi tisu basah pada Fi, dan tak sengaja mendengar kekacauan itu. Apa setelah ini tuan dan nyonya akan bercerai?” cerita Reni yang telah keluar jalur membuat orang-orang makin murka pada Fi yang tak bersalah.
__ADS_1
...Bersambung......