Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
114 (Persidangan)


__ADS_3

Keduanya sudah mirip anak baru gede yang dilanda demam asmara.


Baik Fi mau pun Yudi terus saja saling curi pandang saat masing-masing dari meraka tak melihat satu sama lain.


Para saksi yang ikut makan di meja makan menjadi risih. Karena perasaan keduanya begitu terlihat jelas.


Setelah selesai makan. Fi, Yudi, Yuri, Andri dan Rian berpamitan pada Artnya tinggal di rumah besar itu.


“Mohon Do'anya, agar sidang ini berjalan dengan lancar.” ucap Fi pada seluruh art majikannya.


Reni yang kini menyukai Fi, menggenggam tangan wanita cantik itu.


“Percaya diri Fi, semoga kau dan kedua anak mu mendapat keadilan.” Reni yang ingin dekat dengan Fi, dengan cepat memeluk tubuh wanita yang kerap kali ia sakiti hatinya, dan itu adalah sebuah bentuk dukungannya pada Fi.


Meski Fi tahu, Reni tak tulus, tapi ia menerima dengan lapang dada.


Yang penting baginya Reni baik, walau itu hanya di luar saja.


Urusan hati, ku serahkan pada yang kuasa, batin Fi.


Setelah itu mereka pun berangkat dengan mobil yang di kemudi oleh Rian.


Selama perjalanan Yudi terus memeluk Andri yang duduk di pangkuannya seraya melihat wajah Fi dari kaca spion.


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit mereka pun sampai di pengadilan.


Fi yang akan bertemu Asir merasa deg degan. Pasalnya ia masih trauma akan kekejaman mantan suaminy di masa lalu.


“Ayo Fi.” Yuri menggandeng lengan putri sambungnya.


Sedang Andri di gendong oleh Yudi masuk ke ruang sidang.


Sesampainya mereka ke dalam ruang persidangan. Fi telah melihat Wina dan Asir yang menundukkan Kepalanya duduk berdampingan di sebelah pengacara Hitman dan rekan kerjanya. Tepatnya di sisi kiri meja hakim.


Dan di sebelah kanan, sudah ada Marteen dan rekan-rekannya yang telah menunggu kedatangan Fi.


Asir yang menegakkan kepalanya tanpa sengaja melihat Fi, sang mantan istri yang ia cerai begitu saja, kembali cantik, seperti pertama kali mereka bertemu.


Apa aku sudah mati? batin Asir.


Pasalnya ia tak percaya jika itu adalah istrinya.

__ADS_1


Wajah cantik Fi begitu berbinar, tubuhnya yang tinggi semampai membuat semua mata tertuju pada Fi.


Tatapan mata Fi yang begitu beraura membuat Asir tak dapat memandang wajah mantan istrinya.


Ia takut dan dan juga malu bila melihat Fi, apa lagi wajahnya yang sekarang hampir sama dengan Fi di masa lalu, yaitu jelek.


“Yudi pun menyerahkan Andri pada Fi, karena mereka berdua adalah korban dari kejahatan Asir.


Asir yang kembali menegakkan kepalanya melihat Yudi yang mengusap puncak kepala istrinya.


“Biadab!!” Asir bangkit dari duduknya.


Pasalnya ia baru mengerti, kalau dalang dari kehancurannya adalah mantan rekan kerjanya, yaitu Yudistira Hirarki.


Asir yang ingin membuat kekacauan di cegah oleh tim polisi yang bertugas, hingga ia kembali duduk di bangkunya.


“Tenang pak Asir, jangan gegabah!” Hitman menenangkan Kliennya.


“Dia adalah pengacau!” Asir menunjuk ke arah Yudi. Kemudian Yudi kembali berdiri, hatinya sungguh ingin menghajar Yudi.


“Apa maksud mu?” ucap Yudi dengan suara yang dingin.


“Kau merebut istri ku, dasar penggoda! Aku tak akan memaafkan mu Yudi! Kau menjebak ku, kau rebut istri ku!” Asir menjadi gila, karena ia tak rela istrinya yang jelita menjadi milik Yudi.


Sedang Wina yang ada di sebelah Asir malah bicara sendiri dengan pulpen yang ia anggap Yahya, sang putra yang telah tiada.


“Baiklah saudara-saudara, karena waktu telah dapat, maka kita mulai sidang hari ini. atas laporan dari bu Fi Saeadat mengenali penganiayaan yang di lakukan oleh mantan suaminya. Baik, saudara pembela silahkan di mulai.” pak hakim memberi waktu pada Marteen membacakan pembelaan kepada korban Fi Saeadat.


“Perkenalkan saya Marteen, pengacara pembela dari korban yang bernama bu Fi Saeadat, Andri, dan Emir Mahdi, putra pertama dari klien saya bu Fi Saeadat, yang biasa di panggil dengan bu Fi.”


Marteen menunjuk ke arah Fi. “Disini saya akan membacakan kasus terdakwa Asir, yang telah melakukan tidak kekerasan pada klien kami, yang mana saudari Fi, menerima pukulan hebat menggunakan raket nyamuk. Ini dia.” Marteen menunjukkan barang bukti.


Bukankah aku telah membuangnya? batin Asir.


Yang tak ia ketahui adalah, teri mengambil barang bukti itu setelah Asir buang.


Asir yang sadar ada yang tak beres, sontak menoleh ke kursi masyarakat yang menghadiri sidang itu.


“Mama... Teri. teganya kalian pada ku.” Asir merasa benci pada ibu dan art nya.


“Sabar sayang, karena kita akan bersatu dengan anak kita.” ucap Wina dengan tertawa menyeringai.

__ADS_1


“Diamlah!” pekik Asir.


“Tidak hanya itu, klien saya juga mendapat beberapa kali tendangan di bagian perut, serta organ vital. Bu Fi juga mengalami pincang akibat pak Asir menendang dan juga menginjaknya. Wajah bu Fi juga tak luput dari sasaran pukulan pak Asir, hingga wajah bu Fi membengkak setelah kejadian itu berlangsung.”


Perasaan Fi sangat tak nyaman mendengar semua pembacaan dari pengacaranya, karena otomatis ia mengingat kembali masa-masa pahit itu.


“Laporan berikutnya, bu Fi di jadikan pembantu oleh pak Asir dan bu Dewi. Setiap kali mereka tak suka, maka mereka akan menghajar bu Fi. Selanjutnya bu Fi yang ingin membawa putranya pergi dari rumah pak Asir, malah mendapat tindakan kejam dan tak manusiawi, yang mana kaki bu Fi di siram dengan bensin, sebelum di bakar, bu Fi di suruh buka celana, selanjutnya korek pak Asir yang sedang menyala di lempar ke kakinya bu Fi, hingga terbakar hangus. Beruntung saat itu kakinya tak habis di lahap si jago merah.”


Semua orang yang ada di ruang sidang geleng-geleng kepala, dan ikut merasa kesakitan.


Dan Marteen pun menunjukkan bukti kaki Fi yang terbakar dalam bentuk digital yang telah di cetak.


Marteen juga menunjukkan surat keterangan dokter dari rumah sakit kliennya di rawat, serta memeriksakan kakinya yang sempat pincang.


Melihat bukti-bukti kuat yang di tunjukkan oleh pengacara Fi, pihak Asir jadi tak berkutik untuk melakukan pembelaan.


Kemudian Marteen juga membeberkan mengenai kondisi Andri dan Emir yang mendapatkan kekerasan dari sang ayah, dan kedua kekasih ayahnya.


“Dan, di akhir pelaporan yang akan saya katakan, hufff...” sang pengacara menghela napas panjang, karena sulit baginya untuk mengatakan barisan kata yang akan dia ucapkan.


“Emir, meninggal bunuh diri, dengan menyayat urat nadi tangannya, itu semua karena ulah tersangka Wina, yang telah mencuci otak dari Emir, sekian laporan yang saya sampaikan, mohon untuk para hakim dan jajarannya, memberi hukuman setimpal pada para pelaku.”


Semua yang mendengar kabar kematian Emir merasa sedih, tak sedikit orang yang ada dalam persidangan ikut menangis.


Fi, selaku ibu kandung kedua anaknya yang menjadi korban berusaha menahan air mata kesedihannya, sebab ia tak ingin terlihat lemah di mata Asir dan Wina.


“Dari pihak terlapor, silahkan mengajukan pembelaan.” ucap bu hakim.


Saat Hitman akan berdiri, Asir mengayunkan tangannya. Seolah mengatakan menyerah.


“Apa yang pak Asir lakukan?” tanya Hitman, karena ia telah menyiapkan serangkaian drama untuk membela kliennya.


“Tidak usah pak,” ucap Asir.


Kemudian Asir bangkit dari duduknya. Dan mengambil mikropon yang ada di atas meja Hitman.


“Aku... adalah Asir, mantan suami dari wanita yang ada disana.” Asir menunjuk ke arah Fi.


Fi yang tak ingin terlihat lemah oleh Asir melihat ke arah mantan suaminya.


“Aku mengakui, semua yang terjadi murni karena kesalahan yang ku buat, untuk itu, aku hanya akan mengatakan kalau aku bersalah karena telah menyakiti anak, istri dan juga 2 orang kekasih ku.” tanpa di duga, Asir menyerah dengan begitu mudah.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2