Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
25 (Cek)


__ADS_3

Yudi tersenyum mendengar pengakuan Emir. “Untung kau tampan ya.”


Asir dan Dewi merasa lega, karena Yudi tak mengeluh soal perkataan Emir.


“Ayo Mir, Andri, salam pak Yudi, ini teman baru papa.” Asir berusaha sebisa mungkin, agar terlihat seperti ayah yang baik hati di hadapan Yudi.


“Nama ku Emir pak.” Emir mencium punggung tangan Yudi.


“Dli pa.” Andri yang tak dapat mengucap bunyi mati memanggil Yudi pa.


Sontak Yudi merasa senang, sebab ia sangat menginginkan seorang anak, namun sang istri tercinta belum siap dengan hal itu.


“Eh, bukan pa nak, tapi pak.” Asir menegur putranya yang salah ucap.


“Papa?” Andri yang salah sebut, malah kini memanggil Yudi papa. Yudi sendiri tak dapat menahan bahagianya, ia akan berlapang dada jika Andri ingin memanggilnya papa.


“Bukan nak.”


“Sudah pak, tak masalah kalau Andri memanggil ku papa.”


”Maaf pak, anak saya masih kecil, belum lancar bicara, mohon jangan ambil hati, apabila mereka salah berucap nantinya.” Asir teramat senang, ia merasa, anak-anaknya akan membawa keberuntungan untuknya.


Kemudian, Yudi menatap aneh pada Fi. “Lalu, ini siapa?” Yudi bertanya karena penasaran, sebab wanita yang ada di hadapannya menunduk sedari tadi.


“Ini...”


“Dia pengasuh anak-anak ku,” Asir memotong perkataan Emir yang ingin berkata mama.


“Oh... pasti dekat dengan mereka, terlihat dari cara Andri memeluk lutut si ibu.” Suasana hati Yudi yang sedang baik, mendorongnya untuk memberi uang pada Fi, yang menurutnya telah berhasil menjaga anak-anak Asir.


“Bu, kenalkan, nama ku Yudi.” Yudi mengulurkan tangannya.


Namun Asir mencegah Yudi untuk bersentuhan dengan Fi, sebab ia dengar dari orang-orang yang mengenal Yudi, bahwasanya CEO muda itu sangat suka kebersihan.


“Jangan pak, pengasuh anak-anak saya sedang sakit.” ucap Asir, ia sangat berharap Yudi mengurungkan niatnya untuk berkenalan dengan Fi, sebab Asir juga takut, wajah Fi yang buruk membuat Yudi jijik.


“Sudah tahu sakit, kenapa kau masih membiarkan anak-anak mu menempel padanya? Kau ingin anak mu sakit juga ya?”


Duar!


Asir seketika ciut, komentar pedas Yudi membuat ia takut, kerja sama mereka akan batal.


“Saya sudah mengobatinya, saya juga sudah larang dia untuk mendekati anak-anak, tapi anak-anak saya tak dapat jauh darinya, sebab dia telah mengasuh mereka, sejak istri saya meninggalkan saya pak.” Asir mencoba memperbaiki keadaan.


Sementara Fi, tertawa getir dalam hatinya, ia yang telah di anggap pengasug, mendapat fitnahan baru.

__ADS_1


“Baiklah, aku mengerti. Walau begitu, aku ingin melihat wajah ibu, mana tahu, jika aku punya anak nanti, ibu akan ku jadikan pengasuh, itu pun kalau ibu mau.” Yudi selalu penasaran dengan apapun yang berbau dengan anak.


Lalu Fi mengangkat wajahnya, “Nama saya Fi Saeadat pak.” melihat wajah buruk Fi, Yudi menjadi iba.


Fi yang telah selesai mengenalkan dirinya, menundukkan kepalanya kembali.


Apa karena itu, dia tak mau mengangkat kepalanya? batin Yudi.


Diamnya Yudi di salah artikan oleh Dewi dan Asir.


Sontak Asir naik pitam, Awas kau buruk rupa! batin Asir.


“Dewi, tolong mandikan anak-anak.” Asir menyuruh kekasihnya untuk mengambil alih tugas Fi.


Sontak Dewi berontak dalam hatinya. Dasar sialan, aku terus, apa-apa, aku saja!


namun apa boleh buat, ia tak bisa menolak saat itu.


“Ayo sayang...” Dewi mengusap puncak kepala kedua keponakannya dengan lembut.


Baik Emir maupun Andri tak ada yang menolak, sebab jika mereka nakal, Dewi pasti menghukum mereka.


Sedang Fi yang tak punya urusan lagi disana berniat untuk beranjak dari hadapan Asir dan Yudi.


“Permisi pak.” ucap Fi sebelum pergi.


Ada Apa lagi sih ini? batin Asir.


“Apa ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Fi dengan masih menundukkan kepalanya.


“Apa ibu punya atm?” tanya Yudi.


Apa? Pak Yudi mau apa sebenarnya? batin Asir di buat penasaran.


“Punya pak.” sahut Fi


“Tapi tak usahlah, aku bawa cek kosong kok di saku ku.” Yudi mengambil cek kosong dari dalam saku jaketnya.


Fi di buat terengah dan mulut menganga, Cek sepenting itu di taruh di dalam saku? Kalau ada yang jahat bagaimana? batin Fi.


Yudi yang telah selesai menulis nominal dalam cek-nya. Langsung memberikannya pada Fi.


“Tolong, jangan di tolak, obati wajah ibu, hingga pulih seperti semula.”


Fi yang memang butuh uang, tak menolak rezeki dadakan itu.

__ADS_1


Asir yang ada di sebelah Yudi mendadak panas dingin, ia tak suka, jika ada yang berbaik hati ada istrinya.


“Terimakasih banyak pak.” ketika Fi melihat jumlah uang yang di beri Yudi matanya membelalak.


“Ya ya ya Allah pak, a-apa bapak salah angka?” ucap Fi gelagapan, karena tak menurutnya tak mungkin ada orang yang memberi uang cuma-cuma sebanyak itu.


“Tidak, itu sudah pas.” ucap Yudi dengan yakin.


Asir semakin penasaran dengan jumlah uang yang di beri kliennya pada istrinya.


“Terimakasih banyak pak, saya memang butuh untuk mengobati wajah dan kaki saya yang pincang, hiks...” Fi menangis karena terharu.


“Baiklah, lakukan operasi pada wajah mu. Ayo pak Asir, banyak hal yang ingin ku bicarakan dengan mu.”


“Baik pak.” Asir menatap lekat pada cek yang membuat istrinya menangis bahagia.


Aku akan mengambilnya, batin Asir.


Pukul 14:00, setelah selesai berdiskusi mengenai bisnis yang akan mereka kerjakan bulan itu, Asir mengajak Yudi untuk makan siang ke ruang makan.


Sesampainya mereka, sudah ada Emir Andri dan juga Dewi di meja makan.


Yudi yang melihat ada hidangan tradisional di atas meja merasa senang.


“Tak ku sangka, ada yang berselera sama dengan ku. Pada hal sekarang, banyak masyarakat kita, yang seleranya kebarat-baratan atau negara lainnya.” terang Yudi, ia sangat bangga, ada orang lain selain dirinya yang menyukai makanan lokal.


“Syukurlah kalau bapak suka, karena saya sendiri pecinta jajanan zaman dulu.”


Yudi semakin cocok dengan Asir yang memiliki pandangan yang sama dengannya dalam hal bisnis dan kuliner.


Saat nasi dan lauk telah selesai di hidang oleh Wina di hadapan mereka masing-masing.


Yudi pun mencicipi rendang dan nasi masakan Kissky.


“Ehm... luar biasa.” gumam Yudi, ia begitu suka akan cita rasa rendang yang memanjakan lidahnya.


Selesai makan siang, Yudi pamit untuk pulang, sebelum itu, ia memberi cek untuk Emir dan Andri secara langsung.


“Maaf ya nak, bapak hanya bisa kasih uang untuk beli permen.” ucap Yudi seraya mengusap puncak kepala Emir dan Andri.


“Tolong bantu cairkan pak. Dan maaf sebelumnya karena harus membuat mu repot mencairkan uang tak seberapa itu ke bank.” ucap Yudi, ia yang tak pernah memegang uang tunai, berpikir untuk menyimpan di dompetnya lain waktu.


“Harusnya bapak tak perlu repot-repot.” ucap Asir dengan menampilkan wajah sungkan.


“Tidak masalah, aku senang bisa memberikan sesuatu pada dua jagoan mu.”

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2