
Malam harinya, Dewi yang berada di dapur kembali meminum vitamin kebugaran tubuhnya.
Ia yang masih merasa pusing meminum obat keras yang tak di sarankan untuk ibu hamil.
Bagaimana pun, janin ini harus mati! batin Dewi.
Ia yang tahu Asir akan pulang sebentar lagi, segera menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar. Dewi mengoles perona ke bibirnya, agar ia tampak lebih segar dan bercahaya.
Tak lama, sang kekasih yang tak kunjung menikahinya pun datang.
Ceklek!
Walau memendam rasa benci, namun Dewi menyambut kedatangan Asir dengan penuh senyuman.
“Kau baru pulang sayang?” Dewi memeluk Asir dengan manja.
“Iya, apa kau sudah sehat?” tanya Asir.
“Tentu saja, kau tidak lihat aku sudah ceria begini?” Dewi yang merasa lemas harus menegarkan dirinya.
“Baguslah kalau begitu, aku mandi dulu, setelah itu kau siap-siap ya, aku mau tempur dengan mu,” ucap Asir.
“Iya sayang.” sejujurnya Dewi tak sanggup bila meladeni Asir malam itu. Namun apa boleh buat, dirinya harus siap 24 jam melayani pria tersebut.
30 menit kemudian, Asir yang sudah selesai mandi melihat Dewi berbaring di atas ranjang, tubuh gemulai sang kekasih selalu membuat Asir lupa diri.
“Ayo kita mulai,” Asir dengan cepat melucuti handuk kimononya
Begitu pula dengan Dewi. Asir yang lelah seharian di kantor tak ingin ada basi-basi malam itu.
Ia yang telah berada di atas tubuh Dewi berniat melalukan langsung ke intinya.
“Mas, kita enggak pemanasan dulu?” Dewi yang takut lecet bertanya pada Asir.
“Tidak untuk malam ini.”
Jleb!
“Akh!!”
Hentakan yang di beri oleh Asir membuat Dewi hampir pingsan. Ia yang hamil muda tak dapat menerima serangan kasar yang di beri oleh Asir.
Sakit! Sialan! Apa karena aku mengandung? batin Dewi.
Perlahan air mata Dewi menetes, karena dinding terapisnya terasa perih dan nyeri.
Ingin berhenti, tapi tak berani meminta. Ia pun harus menahan rada sakit hingga 1 jam lamanya.
__ADS_1
Setelah selesai bercinta, Asir dan Dewi menyandarkan tubuh mereka ke pinggir ranjang.
“Mas.”
“Iya?” sahut Asir.
“Kapan kau akan menikahi ku?” pertanyaan Dewi yang selalu sama setiap kali mereka mengobrol membuat telinga Asir panas.
“Wi, akukan sudah sering bilang, sabar, sabar Dewi! Sekarang aku sedang menangani perusahaan yang tidak stabil, lagi pula untuk apa kita menikah, kalau kita bisa tinggal bersama?” pernyataan Asir menyalakan kobaran api di dalam hati Dewi.
“Tapi kau sudah janji pada ku mas, harusnya kau tak ingkar, aku juga butuh pengakuan mas!” Dewi yang sakit hati tak dapat mengontrol emosinya.
“Kalau begitu bersabar saja, tunggu waktu ku luang.” Asir yang tak ingin berdebat merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
“Mas! Kau yang benar saja! Aku sudah menunggu selama 4 tahun lebih! Aku ingin segera jadi istri mu mas!” suara teriakan Dewi membuat Asir kesal.
“Kalau tak bisa bersabar, menikah saja dengan orang lain, untuk saat ini aku belum kepikiran.” ucapan Asir membuat jantung Dewi hampir meledak.
Jadi benar, ada wanita lain di antara kita, batin Dewi.
Karena tak dapat mengatur Asir dalam bentuk pernikahan, Dewi meminta hal lain untuk mengobati hatinya yang terluka.
“Mas.”
“Apa lagi?” sahut Asir dengan perasaan malas.
“Aku mau uang, aku ingin coba klinik kecantikan yang ada di daerah selatan,” pinta Dewi.
“300 juta, aku ingin mempercantik diriku, sulam alis ku sudah mau luntur, bulu mata sambung ku juga rontok, aku ingin perawatan total pokoknya,” ucap Dewi.
Asir yang royal untuk masalah perawatan, dengan mudah memberi permintaan Dewi.
“Oke, besok ku kirim ke Mbanking mu, sekarang aku sudah ngantuk,” ujar Asir.
“Dan satu lagi, kapan mas akan menjual rumah tante? Bukannya kemarin mas bilang sudah ada yang menawar?” Dewi yang tak bisa menyalurkan amarahnya pada Asir, berniat melampiaskan pada Alisyah.
“Oh itu, pembelinya akan datang lusa, tapi apa kau siap serumah dengan mama ku?” Asir yang tahu Dewi tak menyukai Alisyah bertanya demikian.
“Kirim saja ke panti jompo, atau titip ke tempat suluk, lagi pula orang setua itu, harus perbanyak amal ibadah, mendekatkan diri pada Tuhan.” Dewi yang dendam takkan membiarkan Alisyah hidup senang apa lagi tenang.
”Baiklah, kalau itu menurut mu benar.” Asir yang tak sayang lagi pada ibunya, menyetujui rencana Dewi.
_________________________________________
Keesokan harinya, tepat pukul 06:50, Fi telah tiba di rumah majikannya.
Sebelum memulai pekerjaan hari itu, sang kepala Art yang di pegang oleh Rila melakukan briefing terlebih dahulu.
“Perhatikan setiap apa yang kalian kerjakan, untuk yang bersih-bersih, jangan ada satu debu pun di setiap barang atau sudut rumah, karena nyonya besar Suli alergi pada debu, untuk yang mengerjakan taman bagian depan dan belakang, perhatikan dengan benar, jangan sampai ada rumput liar di antara rumput hijau! Nanti tepat jam 1 siang, saya akan mencek apa yang sudah kalian kerjakan, paham?!”
__ADS_1
“Paham bu!!” sahut para Art yang berjumlah 25 orang.
Dan sikap tegas dari Rila membuat para Art yang bekerja di rumah Yudi merasa segan.
Saat para pekerja masih ke dalam keadaan berbaris rapi.
Yudi yang tampan keluar dari dalam rumah seraya video call bersama Suli, sang istri yang berprofesi sebagai artis internasional.
Tak banyak orang yang tahu, jika Suli menikah dengan Yudi, sebab Suli tak mau wajah suaminya terekspos. Suli yang pengertian tak ingin lensa media mengikuti langkah suaminya.
“Beri hormat pada tuan besar!” titah Rila.
Semua Art langsung menundukkan kepala seraya mengucapkan “Selamat pagi tuan.”
“Pagi juga.” sahut Yudi.
Para Art yang mendengar suara maskulin Yudi merasa jatuh cinta, di tambah dengan pesona Yudi yamg begitu menawan membuat hati Art serasa meleleh.
Para Art juga sering diam-diam curi-curi pandang saat Yudi ada di hadapan mereka mereka.
Babe, aku mau lihat semua Art kita dong!📲 Suli.
Niat Suli melakukannya hanya untuk memilih Art yang akan membersihkan kamar suaminya.
Tunggu sebentar baby. 📲 Yudi.
Lalu Yudi menyorot satu persatu wajah Art yang ada di barisan.
Stop babe, aku mau wanita itu. 📲 Suli.
Ini? 📲 Yudi.
Yudi kembali menyorot wajah Fi yang ada di hadapannya.
Iya, aku mau dia bab, dia saja yang membersihkan kamar kita. 📲 Suli.
Suli memilih Fi, karena wajah Fi yang buruk, ia juga percaya, jika suaminya takkan selera pada wanita jelek seperti Fi.
Baiklah kalau itu mau mu, berarti dia juga yang akan menangani keperluan ku. 📲 Yudi.
Oke, sudah dulu ya bab, aku masih ada syuting 5 menit lagi, I love you, ummmuuacchh. 📲 Suli.
I love you to babe. 📲 Yudi.
Setelah sambungan telepon terputus, Yudi menyampaikan pilihan istrinya pad Rila sang kepala Art.
“Ibu itu.” Yudi menunjuk Fi yang berdiri di barisan paling belakang. “Dia yang akan mengurus kamar dan keperluan ku juga,” terang Yudi.
Rila mengangguk paham akan titah dari tuan besarnya.
__ADS_1
“Siap tuan.” meski ia sendiri ingin di posisi Fi, namun wajah cantiknya takkan lulus di mata seorang Suli yang mewanti-wanti suaminya melirik wanita lain, saat ia jauh dari suaminya.
...Bersambung......