Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
67 (Sakit)


__ADS_3

Yuri memegang wajahnya yang terasa panas, “Dia berbeda dengan mu Wi.”


“Apa bedanya? Kami sama-sama anak sambung mu, yang benar saja kalau kau bilang beda?” Dewi tertawa getir.


“Dia waras, sedangkan kau tidak.” setelah mengatakan isi hatinya, Yuri beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya.


“Dasar kurang ajar kau! Enggak tahu aturan, kalau bukan karena kakak ku, kau pasti jadi gembel! Gembel seumur hidup!” Dewi menghina ibu tirinya.


“Oh iya, coba aku telepon Clara lagi, mana tahu handphonenya aktif.” Dewi kembali mendial sahabatnya. Namun sayang, nomornya masih tak bisa di hubungi.


“Dia kenapa sih? Dari tadi malam loh, enggak biasanya dia begini?!” Dewi sungguh berharap pada sahabatnya.


“Pada hal dia satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan hidup ku, enggak apa-apa deh nikah sama kakek-kakek, asalkan bisa mandi uang.” Dewi pun mengirim pesan pada Clara.


Hubungi ke nomor ini, jika kau sudah baca pesan ku. ✉️ Dewi.


“Semoga saja perempuan ini segera aktif, ya Allah, tolong bantu hamba mu yang baik budi ini, hamba tak bisa hidup susah lebih lama lagi.” kali itu, Dewi meminta belas kasih Tuhannya.


🏵️


Wina yang baru selesai memijat punggung Alisyah meminta penilaian calon mertuanya tersebut.


“Bagaimana ma? Apa mama suka?” tanyanya dengan wajah ceria.


“Iya, terimakasih banyak atas kebaikan mu Wi.” Alisyah yang cari aman memilih pura-pura suka pada Artnya tersebut.


“Besok ku pijat lagi kalau mama mau.” Wina begitu berusaha mengambil hati Alisyah.


Ia berpikir kalau keputusan ibu suaminya begitu berpengaruh pada hubungan mereka.


“Kalau kau bersedia. apa salahnya, aku juga senang mendapat perhatian khusus darimu.” Alisyah tersenyum palsu pada Wina.


“Kalau begitu, aku permisi ya ma, mama silahkan tidur, biar badannya segar kalau sudah bangun.” Wina begitu memanjakan Alisyah sang calon mertua.


”Terimakasih banyak Wina,” ucap Alisyah.


“Sama-sama mama,” sahut Wina.


Setelah itu Wina keluar dari kamar ibu kekasihnya.


Selanjutnya ia menuju dapur, dan disana ia melihat Andri dan Emir sedang makan di bantu oleh 2 Art.


“Eh... kalian ngapain?” tanya Wina seraya mendekat ke meja makan.


“Tuan Andri dan Asir lapar Win.” ucap Rena rekan kerja Wina.


“Kasihan Win, kau tahu sendirikan selama Dewi disini mereka jarang di kasih makan,” ujar Teri.

__ADS_1


“Hum! Tapi lihat juga dong, ini jam berapa?!” Wina menunjukkan jam senilai 50 juta yang di berikan Asir padanya.


Ia pun begitu bangga saat rekan kerjanya melihat jam mahalnya tersebut.


“Lalu? Masa orang lapar harus lihat jam makan dulu baru boleh makan?” ucap Teri.


“Heh! Kau ini enggak ada sopan-sopannya ya! Sudah makannya, bawa pergi mereka.” Dewi merebut piring yang ada di tangan Teri dan Rena.


”Bawa mereka masuk ke kamar, iss! Menggangu pemasangan banget!”Wina tak suka pada anak-anak Fi. Sebab ia yang nantinya memiliki anak dengan Asir tak ingin para calon anak sambungnya menjadi pewaris kekayaan calon suaminya.


“Wina! jangan begitu pada tuan! Kau kenapa sih?!” Rena menegur sifat buruk temannya.


“Ehm... kalian pasti sudah tahukan, kalau aku adalah kekasih mas Asir?” Rena dan Teri pun menganggukkan kepala.


“Jadi, kenapa kalian tak panggil aku nyonya! Hah?!” mata Dewi membelalak sempurna.


“Memangnya harus ya?” Teri merasa geli melihat tingkah sombong temannya.


“Ya wajib! Kalau tak mau ku pecat!” pekik Wina.


Baik Teri maupun Rena melihat satu sama lain.


Mereka yang masih butuh kerja hanya menganggukkan kepalanya.


“Bagus, coba kita tes ya. Katakan nyonya!” Wina memperlakukan dua wanita yang lebih tua darinya bagai anak kecil.


“Bagus, untuk itu kalian cepat bawa kedua anak sialan ini ke kamar mereka.” Wina begitu anti pada anak-anak malang Fi. Bahkan tangannya pun tak sudi bersentuhan dengan Emir dan Andri.


”Tanggung nyonya, biarkan tuan Andri dan Emir habiskan nasinya dulu,” ujar Rena.


“Tidak bisa! Cepat, cepat!” Wina mengusir anak Asir dan juga 2 art tersebut dari ruang makan.


Setelah hanya ia sendiri yang ada disana Wina tersenyum lebar.


“Hum... untuk pertama kalinya aku di panggil nyonya, hehehe!” Wina sangat bangga pada pencapaiannya.


🏵️


Pagi hari waktu Wasington , Yudi yang tak tidur dari semalam menatap layar handphonenya.


Tididing! Ia pun mendapat pesan baru dari Suli.


Datanglah ke apartemen, aku sudah tahu harus jawab apa. ✉️ Suli.


Setelah membaca pesan itu, Yudi bergegas mandi, lalu berangkat menuju apartemen istrinya.


Sesampainya Yudi, ia tak membuka pintu apartemen istrinya, sebab ia takut jika melihat pemandangan tak enak lagi.

__ADS_1


Tindong! Untuk itu Yudi menekan bel yang ada di sebelah pintu.


Ceklek!


Suli membuka pintu dengan mata yang bengkak. Melihay kondisi istrinya, Yudi yakin jika Suli menyesal akan perbuatannya selama ini.


”Masuklah.” ujar Suli.


Kemudian Yudi mengikuti arahan istrinya. Ia pun masuk lebih dalam menuju ruang tamu.


Namun saat ia ingin menanyakan kabar istrinya, mulutnya seketika terkunci, karena matanya menangkap Daniel yang duduk santai di atas sofa.


Daniel yang melihat kehadiran Yudi langsung bangkit dari duduknya.


“Apa kabar pak Yudi?” sapa Daniel seraya menjabat tangan suami kekasihnya.


“Aku baik.” sahut Yudi tanpa bertanya kabar Danie kembali.


“Silahkan duduk.” Daniel mempersilahkan Yudi untuk duduk.


Seketika emosi Yudi meradang, ia yang seorang suami malah menjadi tamu di rumah istrinya.


“Terimaksih banyak.” namun Yudi yang tak ingin membuang tenaga, ia pun menahan segala emosi yang bersarang di dadanya.


Suli yang juga ada disana, duduk di sebelah suaminya.


Untuk sejenak ketiganya diam satu sama lain, seolah berat untuk mengatakan isi hati mereka, sampai Daniel mendehem.


“Ehm, maaf sebelumnya aku ada disini pagi-pagi, karena Suli meminta ku datang untuk menemaninya.” terang Danie, ia tak memikirkan bagaimana perasaan Yudi.


”Iya, terimaksih sudah menemaninya, untuk itu, kau bisa terus bersamanya.” ucap Yudi seraya mengepal tangannya yang terasa gatal ingin segera memukul orang.


Suli yang tahu jika suaminya marah, menggenggam tangan Yudi.


“Apa keputusan mu?” Yudi menoleh ke arah Suli yang ada di sebelahnya.


“Hiks... maafkan aku sebelumnya yang telah berbuat salah, aku juga sadar belum bisa membahagiakan mu dan jadi istri yang baik untuk mu baby, aku juga mau berkata jujur, sebenarnya aku dan Daniel sudah 2 tahun menjalin hubungan, hiks... maafkan aku...” Suli menangisi segala perbuatannya.


“Terimakasih atas kejujuran mu, jadi... apa kau ingin kita berpisah?” tanya Yudi.


“Hiks... kita cerai saja, maaf kalau aku sudah berulang kali menyakiti hatimu, tapi ini adalah yang terbaik, karena... aku dan kau tak satu visi dan misi. Jalan pikiran kita juga sangat jauh berbeda, baby, maaf karena aku sudah membuang waktu mu yang berharga, andai kau menikah dengan orang lain, pasti kau sudah bisa mewujudkan mimpi mu, yaitu memiliki anak.” Suli tak hentinya memohon maaf pada suaminya.


“Baiklah, aku terima keputusan mu, ku harap kau bahagia dengan pilihan mu, raihlah segala mimpi mu. Selamat untuk mu.” Yudi menjabat tangan Daniel. “Karena sudah bisa membahagiakan dia.” setelah itu, Yudi menjabat tangan Suli.


“Aku pergi, jaga kesehatan, karena kalau kau sakit, apa yang kau cari akan habis untuk berobat, dan orang lain, belum tentu mau merawat dan mendampingi mu saat kau teepuruk.” usai mengatakan nasehat pada istrinya, Yudi keluar dari apartemen Suli dengan memendam sejuta sakit yang tiada tara.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2