
Dewi benar-benar merasa rugi total karena perbuatan Surti.
“Hufff!!” Dewi pun menghela nafas panjang, sebab ia yang tiba-tiba emosi merasa sesak nafas.
“Dasar pembantu enggak tahu diri!” Dewi yang masih ingin marah kembali teringat akan perjalanannya menuju rumah Alisyah.
“Aku harus cepat kesana, jangan sampai pulang kemalaman.” Dewi pun menunda pelampiasan amarahnya pada seluruh Artnya.
Kemudian ia berangkat dengan segera menuju rumah orang tua kekasihnya.
__________________________________________
Fi yang telah selesai membersihkan office berdiri dengan lurus di dekat pintu, sebab ia menunggu Rila selesai mencek hasil kinerjanya.
Setelah 20 menit menanti, akhirnya Rila mendatangi Fi.
“Bagus, kau bisa juga ya bersih-bersih, sekarang pergilah ke dapur, kau boleh makan,” ucap Rila.
Karena telah mendapat izin, Fi pun merasa gembira.
“Terimakasih banyak kak.”
“Sama-sama, cepatlah, karena setelah ini kau harus mencuci baju tuan,” ujar Rila.
“Apa? Saya juga kak yang melakukannya?” Fi tak menyangka tugasnya sebanyak itu.
“Iya, kau baru boleh istirahat setelah tuan tidur.” informasi yang diberikan oleh Rila membuat Fi tercengang.
“Baikalah kak, kalau begitu saya permisi dulu.” Kissky yang sangat lapar tak dapat memikirkan hal lain selain perutnya yang terasa keroncongan.
Sesampainya Fi ke dapur, ia melihat Mirna dan Reni sedang mengupas bawang seraya mengobrol di atas kuris.
Mirna yang melihat kehadiran Fi langsung menyapa wanita malang itu.
“Fi, kenapa baru datang?”
”Aku baru selesai, tak ku sangka kamar tuan sebesar itu, dan yang mengerjakannya hanya aku seorang diri,” terang Fi.
“Oh, kasihan sekali kau, tapi apa boleh buat, itukan permintaan nyonya besar secara khsuz, biasalah untuk menghindari pelakor.” tanpa sengaja Mirna menyakiti perasaan Fi.
Karena aku jelek, itukan maksudnya? batin Fi.
“Iya, kau benar, oh ya, aku ingin makan, apa aku boleh ambil sendiri?” tanya Fi, karena ia sangat tahu diri akan kondisinya.
__ADS_1
“Ambil saja, kenapa harus tanya?” ujar Mirna.
Lalu Reni memelototi Mirna, “Kau tak lihat dia sangat kotor? Sans! Kau saja yang ambil.” suara Reni yang kuat di dengar jelas oleh Fi.
“Iya, benar kata dia, kau saja yang ambil Mir,” ucap Fi.
Lalu Mirna bangkit dari duduknya, “Tapi Fi, lauk sudah habis, yang ada hanya sisa cabai dari ikan balado yang sudah di makan para Art, habis kau terlambat, aku juga tak ingat kalau kau ada disini, karena kau baru bekerja hari ini,” terang Mirna.
Fi yang biasa makan tanpa lauk, merasa itu bukan masalah besar.
“Tak apa, itu juga enak kok, tapi... sebagai gantinya, apa boleh aku minta nasinya lebih banyak?” Fi yang lapar merasa bisa menghabiskan nasi sepiring penuh.
“Baiklah, maafkan aku ya, besok pasti ku pisahkan khusus untuk mu.” ucap Mirna dengan perasaan bersalah, sebab ia sangat kasihan pada Fi yang makan di temani cabai.
“Oke, terimakasih banyak.” Fi tersenyum, meskipun Mirna lupa, Fi takkan marah, karena di ajak bicara saja ia sudah cukup senang.
Setelah piring terisi penuh dengan nasi, Mirna memberikannya pada Fi.
Fi pun menerima dengan baik, kemudian ia menuju tudung nasi besar yang terbuat dari rotan asli.
Saat ia membuka tudung nasi rotan itu, Fi menelan salivanya, sebab bukan cabai yang tersisa, melainkan tirisan minyak dari ikan balado yang merah menyala.
Meski begitu Fi tak ingin protes, karena ia saja yang apes hari itu.
Selanjutnya Fi mengaduk-aduk nasinya ke dalam baskom kaca tersebut sampai merahnya merata ke seluruh nasinya.
Setelah itu ia pindahkan kembali ke piringnya, Fi yang ingin duduk di atas kursi, di larang oleh Reni.
“Jangan duduk di atas, kursinya tinggi, nanti kau jatuh saat mau turun, duduk saja disana!” Reni menunjuk ke arah sudut dinding dapur yang mengarah langsung ke pintu.
“Tak masalah Ren, kalau Fi duduk di kursi, kasihan dia,” Mirna membela Fi.
“Kau tak dengar ya apa kata yang lain? Dia itu dekil dan kotor.” ucap Reni dengan santai.
“Enggak apa-apa Mir, aku duduk di bawah saja, lagi pula aku merasa kepanasan,” ujar Fi.
Fi yang ingin segera mengobati rasa laparnya menuju tempat yang di suruh oleh Reni.
Ia pun duduk bersila, kemudian mulai melahap nasinya menggunakan sendok.
Lalu Reni berkata pada Mirna, “Karena kau tak jijik padanya, nanti kau yang memisahkan piringnya ya, aku tak mau peralatan makannya tercampur dengan yang lain, bisa-bisa aku kena marah massal lagi.” ucap Reni.
”Baiklah, tapi kau tak usah mengatakannya keras-keraskan? Kasihan dia,” bisik Mirna.
__ADS_1
Fi yang mendengar segalanya memilih pura-pura bodoh.
Sedang Yudi yang baru pulang kerja sore itu menuju dapur karena haus.
“Segelas jus segar sepertinya cocok.” sesampainya Yudi ke dapur, ia melihat si cantik sedang duduk di lantai sambil makan.
Dia banyak banget makannya, batin Yudi
Ia pun mendekat pada Fi yang pandangannya fokus ke piring. Saat ia telah berdiri di hadapan si cantik pada masanya, ia pun mengernyitkan dahinya, sebab wanita malang itu makan tanpa lauk.
Mirna dan Reni yang melihat kehadiran tuannya langsung bangkit dari kursi.
“Selamat sore tuan.” sapaan kedua rekan Fi, yang membuat Fi mendongak.
“Eh, tuan.” saat Fi akan bangkit, Yudi menghentikannya.
“Jangan, lanjutkan saja makan mu.” ucap Yudi
Lalu sang Lelaki tampan itu menuju kulkas khusus untuknya seorang.
Mirna dan Reni saling melihat satu sama lain, karena wajah tuannya nampak tegang, seperti marah.
Kemudian Yudi mengambil lauk yang di siapkan untuknya dalam pintu kulkas dengan suhu panas, bukan dingin.
Setelah itu ia kembali pada Fi. dan berjongkok di hadapan wanita yang pernah ia sukai itu. “Makanlah dengan ini, Fi Saeadat.” mulai saat itu, Yudi memanggil art buruk rupanya dengan sebutan nama.
Lalu Fi menatap lekat ke arah majikannya, “Bukankah ini untuk tuan?” ucap Fi.
“Ya, kau benar, tapi ini sisa makan pagi ku tadi, maaf tak bisa kasih yang baru,” ucap Yudi.
Lalu Fi mengalihkan pandangannya pada kedua rekan kerjanya. Seolah meminta pendapat.
Kemudian Mirna yang peka, menganggukkan kepalanya.
“Terimakasih banyak tuan.” Fi pun menerima satu ekor ikan mas bakar yang masih utuh tanpa di sentuh.
“Nanti kalau kau makan malam, duduklah di meja, jangan di lantai, dan kalau sulit bagimu berjalan jauh menuju ruang makan art, makan saja disini.” perkataan Yudi membuat Mirna dan Reni tercengang.
Sebab ruang makan itu hanya untuk tuan dan nyonya mereka.
Reni dan Mirna bisa masuk kesana, karena dapur dan ruang makan berada dalam satu tempat yang sama.
“Tidak tuan, saya akan makan bersama yang lain saja.” Fi menolak niat baik Yudi, karena ia sangat paham jika semua orang akan memusuhinya bila menerima tawaran Yudi.
__ADS_1
...Bersambung... ...