
“Aku lebih baik tinggal di jalanan dari pada berada dalam satu tempat dengan manusia penghuni neraka seperti kalian!” Alisyah yang biasa tegar, kali itu tak dapat menahan air mata kesedihannya .
Dewi yang sudah mentok butuh pengasuh saat itu juga tak bisa bersabar lagi.
“Akh! Ayo! Banyak drama banget kau! Bikin kesal saja!” Dewi menarik paksa tangan Alisyah.
“Lepaskan aku! Lepaskan!” Alisyah berteriak karena tak ingin di bawa oleh Dewi.
Para Art yang ingin membantu malah di ancam oleh Dewi.
“Jangan berani ikut campur! Atau ku pecat kalian semua, kalau kalian diam, maka aku akan mengatakan ke pemilik baru rumah ini, agar kalian tetap di pekerjakan!” para art yang masih ingin bekerja menjadi bungkam.
Tak ada satupun dari mereka yang mau menolong Alisyah.
Dewi yang unggul tenaga, dengan mudah menarik wanita tua itu keluar dari dalam rumah. “Jangan susah di atur kau tante!” pekik Dewi.
“Tolong aku... tolong!!” Alisyah meminta tolong pada orang-orang yang ada di rumahnya.
Namun sungguh di sayangkan, tak ada satu orang pun yang bersedia membantunya.
“Kalau sudah tua, harusnya nurut sama yang muda tan!” Dewi yang tak sabar menghadapi Alisyah menjambak sanggul ibu sang kekasih.
“Akh! Lepaskan aku wanita jahat!” pekik Alisyah.
Namun Dewi yang buru-buru tak menggubris perkataan Alisyah.
Sesampainya di pintu utama Dewi berteriak pada supir barunya. “Suparman! Buka pintunya!”
“Baik nyonya!” Suparman pun membuka pintu mobil dengan lebar, kemudian membantu Dewi memasukkan tubuh Alisyah ke dalam mobil, setelah itu Dewi duduk di sebelah Alisyah.
“Parman, ambilkan lambat yang ada di laci!” titah Dewi.
“Baik nyonya,” ucap Suparman yang langsung mengambil lakban permintaan Dewi.
Setelah itu, Dewi yang tak ingin mendengar kebisingan apapun mengikat kedua tangan Alisyah, selanjutnya menutup mulutnya juga.
“Kalau masih berani macam-macam setelah ini, ku lempar kau dari mobil, jalan Parman!” titah Dewi.
____________________________________
Malam harinya, Fi yang tahu jadwal makan malam telah tiba, segera menuju ruang makan para Art.
Orang-orang yang melihatnya mulai berbisik satu sama lain.
“Hei, kemarilah!” Mirna melambaikan tangannya pada Fi.
Sontak Fi menjadi percaya diri, sebab ada orang lain yang mau bicara padanya.
__ADS_1
“Ngapain sih kau panggil dia kemari?” ucap Reni yang merasa risih dengan kehadiran Fi.
“Tak apa, kasihan dia, kau jangan sinis begitu,” ucap Mirna.
Kemudian Fi yang datang ke dekat Mirna bingung harus duduk di sebelah mana, sebab tak ada lagi bangku kosong untuknya.
Meski ada satu yang tersisa, tapi itu untuk tas seorang satpam yang ingin pulang ke rumahnya setelah makan malam.
Fi yang ingin bergabung dengan yang lain, berinisiatif untuk meminta bangku tersebut.
“Mir, aku minta bangku itu dulu ya, tolong sisa kan nasi dan lauk untuk ku,” pinta Fi.
“Oke.” Mirna menyanggupi permintaan Fi.
Selanjutnya Fi pergi menuju satpam tersebut, sesampainya ia, sang satpam melihatnya dengan tatapan aneh.
”Pak, apa saya boleh minta bangkunya satu?” ucap Fi dengan sopan
“Tidak bisa, itu tempat tas ku.” satpam tersebut tak mau memberikan bangku lebih itu pada Fi.
“Tapi saya tak punya tempat duduk pak, bapak kan bisa letakkan tas bapak di lantai.” Fi memberi masukan pada sang satpam.
“Kenapa tidak kau saja yang di lantai? Lagi pula sebelum kau datang kesini, tas ku memang selalu ku taruh di bangku.” terang sang satpam dengan angkuhnya.
“Pak Ikhwan benar, sudahlah bu, duduk dimana saja itu sama saja, poin utamanyakan perut, bukan bokong.” Ikhwan mendapat pembelaan dari rekan seprofesinya.
“Pergilah kau! Sebelum ku lempar pakai air kobokan!” Ikhwan mengangkat kobokan kaca yang telah keruh.
Fi yang tak mendapatkan apa maunya kembali lagi pada Mirna.
“Bapak itu memang galak, aku juga takut padanya,” bisik Mirna.
“Hei Mir, dia teman mu?!” tanya Selia, art yang memiliki paras cantik nomor satu di rumah Yudi.
”Iya, tentu saja,” jawab Mirna.
“Suruh dia makan di sudut. wajahnya bikin aku mual, apa kau tak lihat kerak bekas luka di wajahnya? Ck! Bikin jijik!” Selia yang tidak suka orang jelek tak ingin melihat wajah Fi.
Mirna yang serba salah tak tahu harus bagaimana, jika ia membela Fi, sudah pasti, dirinya akan di kucilkan juga. Alhasil Mirna pun bungkam dan melanjutkan makannya.
Sedang Fi yang mengerti posisi temannya tak meminta pembelaan, ia pun mengambil nasi yang telah Mirna siapkan untuknya.
Selanjutnya Fi makan di luar, tepatnya di dekat pintu masuk ruang makan para Art dan satpam.
Sabar... tujuan ku untuk mencari uang, demi ibu dan anak-anak ku, batin Fi.
Meski ia telah menyemangati dirinya sendiri, namun ia yang seorang manusia biasa tak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
Fi pun menangis seraya menyuap nasi ke mulutnya. Ia sungguh merasa malang dengan semua hal buruk yang menimpanya.
“Hiks... ya Tuhan, jika kau telah mengambil keluarga dan juga fisik ku, tolong... jangan ambil juga pekerjaan ku, hiks...” Fi menangis sesungukan tanpa suara. Fi juga merasa takut, jika suatu saat keluar dari pekerjaannya hanya karena tak tahan akan perilaku buruk rekan kerjanya.
Yudi yang baru selesai bekerja di ruang office teringat akan handphone Fi.
Ia pun melihat jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul 19:15 menit.
“Pasti dia sedang makan.” ia yang memiliki waktu luang memutuskan untuk mengembalikan langsung handphone Fi.
“Aku saja tak bisa hidup tanpa handphone ku, apa lagi dia.” Yudi yang baik hati pun memutuskan untuk mengantar langsung handphone Fi. Kemudian ia pun menuju ruang makan para pekerjanya.
Saat ia masih jauh dari pintu ruang makan, ia menangkap pemandangan tak seda0.
“Bukannya itu Fi?” Yudi yang ragu mendekat agar melihat dengan jelas, siapa wanita yang makan sendirian di atas lantai tanpa alas apapun.
“Fi?” gumamnya.
Yudi sungguh tak tega melihat wanita impian masa lalunya menangis seraya makan di dekat pintu.
Apa yang terjadi? batin Yudi.
Ia yang ingin tahu kebenarannya pun segera menuju ruang makan.
Saat Yudi akan melintas, di Fi melihat kehadirannya. Fi yang malu karena sudah tua masih menangis menyeka air matanya.
“Selamat malam tuan.” Fi masih sempat menyapa. Namun Yudi yang marah tak mendengar jika Fi bicara padanya.
Yudi yang telah masuk ke ruang makan, melihat suasana yang begitu ceria, para pekerja di rumahnya bercengkrama satu sama lain, seolah tak ada apapun yang terjadi.
Kemudian salah satu art melihat kehadiran majikan mereka.
“Selamat malam tuan.” ucap sang Art.
Sontak semua mata tertuju pada Yudi yang berdiri di hadapan mereka semua.
Rila, sang kepala Art bangkit dari duduknya, dan berjalan ke tempat Yudi berdiri.
“Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya Rila.
“Iya, tolong kau dan rekan-rekan mu, membuang seluruh kursi dan meja makan ke tong sampah.” suara tenang namun mencekam dari Yudi membuat mereka semua takut.
“Kenapa begitu tuan?” tanya Rila yang tak mengerti apapun, sebab ia terlambatnya masuk ke ruang makan.
“Kau tanya kenapa?!” suara Yudi meninggi, terlebih ia mengingat wajah menyedihkan Fi saat menangis.
...Bersambung......
__ADS_1