
“Aku tahu bu,” Fi meneteskan air matanya.
“Ku tahu Fi, kau tak suka pada ku, karena di mata mu, aku hanya mertua yang suka mengoceh, pada hal aku begitu, karena sudah melihat apa yang akan terjadi ke depan, kau itu benar-benar menantu luar biasa!”
“Maafkan aku bu, aku menyesal,” ucap Fi.
“Sebenarnya, sejak awal aku tak ingin kau jadi menantu ku, tapi karena Asir terus memaksa, aku terpaksa mengizinkannya, jujur aku menyesal mengenal kalian, terlebih anak ku berubah dan berulah karena mu dan adik jalangg mu itu! Kau juga bodoh!” Alisyah memukul perut Yuri. “Mendidik Dewi tak becus! Ini karena cara pengajaran kalian yang salah, makanya sikapnya seperti pelacurr! Huh!” Alisyah meluapkannya seluruh amarahnya pada Fi dan Yuri.
Saat Alisyah ingin memarahi Fi kembali, Yuri pun membela putrinya.
“Sudah bu, jangan marahi Fi lagi, kasihan dia, dia juga tak ingin semua ini terjadi, maafkan saya yang tak berguna ini.” Yuri menundukkan kepalanya.
Yuri yang seorang besan malah terlihat seperti Art di mata Fi.
Fi jelas sakit hati ibunya di perlakukan demikian. Pasalnya, Alisyah sering kali memarahi dan mengolok Yuri bak anak kecil di hadapan Fi.
“Ibu ku sudah melakukan yang terbaik, jika kami sebagai anak-anaknya melakukan kesalahan, jangan katakan ia gagal, karena kamilah yang bebal, tak pernah mendengar apa kata orang tua kami,” Fi kali itu membela ibunya.
“Benarkah?” Alisyah menatap tajam ke arah Fi yang sedang berbaring.
“Ya, tolong ibu hargai ibu ku, karena dia adalah wanita terbaik dalam hidup ku.” pembelaan Fi pada ibunya membuat Alisyah malu, sebab selama ini perkataannya tak pernah di bantah oleh siapapun.
“Baiklah, aku mengerti,” ucap Alisyah.
“Bagaimana dengan Emir dan Andri, apa mereka baik-baik saja bu?” Fi sangat merindukan kedua putranya. Ia juga kepikiran pada Emir dan Andri yang sempat melihat dirinya terluka.
“Mereka menangis terus, ingin bertemu kau! Tapi aku tak mengizinkan, karena mereka akan semakin sedih melihat kondisi sekarang,” terang Alisyah.
“Bu, katakan pada mereka kalau aku baik-baik saja,” ucap Fi.
“Baiklah, aku juga tak bisa lama-lama disini, semoga kau cepat sembuh, soal anak-anak tak usah pikirkan, aku akan mengurusnya.”
“Terimakasih banyak bu.” Fi sangat bersyukur sang ibu mertua bersedia merawat anak-anaknya.
Setelah itu, Alisyah pulang ke rumahnya. Kemudian Yuri duduk kembali ke kursi yang ada di sebelah ranjang Fi.
“Mertua mu memang cerewet, tapi hatinya baik Fi, kau harus memakluminya, karena semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan, jangan kau bantah perkataannya juga, karena dia yang akan membantu mu untuk merawat anak-anak mu, jangan sampai bu Alisyah menelantarkan mereka, anak-anak mu terbiasa hidup enak, ibu tak tega kalau mereka merasakan apa yang kita lalui selama ini.” penjelasan dari sang ibu membuat Fi berpikir keras.
Pagi harinya, Fi yang ingin buang air kecil bangkit dari ranjang. Saat ia berjalan 2 langkah dari tempat ia berdiri, ia tersentak, sebab kakinya berjalan tak seimbang, Fi juga merasakan sakit pada pahanya.
“Ada apa ini?” seketika ia khawatir dengan kondisinya.
”Permisi bu.” ucap sang dokter wanita yang datang melakukan kontrol pagi itu.
__ADS_1
“Silahkan masuk dok,” ucap Fi.
“Bagaimana perasaannya pagi ini bu? Apa sudah lebih baik?” tanya sang dokter dengan sangat ramah.
“Sudah lumayan dok, tapi paha saya terasa nyeri dan kaki saya kenapa jadi pincang ya dok?” tanya Fi dengan perasaan khawatir.
“Oh ya? Coba jalan bu, saya mau lihat,” pinta sang dokter.
Lalu Fi pun berjalan beberapa langkah di hadapan sang dokter.
“Oh, itu hanya cedera ringan, nanti saya akan beri obat pereda nyeri ya bu.” ucap sang dokter dengan santai, seolah rasa sakit yang Fi rasakan bukankah masalah besar.
Fi yang tak memiliki ilmu pengetahuan seputar kesehatan, percaya penuh dengan apa yang di katakan sang dokter.
“Tolong, tambahkan juga dok, krim penghilang bekas luka,” pinta Fi.
Kemudian sang dokter pun melihat wajah Fi yang penuh lecet. Kepala Fi yang pecah juga mendapat 7 jahitan.
Dokter itu pun geleng-geleng kepala, “Kalau saya jadi ibu, pasti sudah saya laporkan pelaku yang telah membuat saya babak belur.”
Fi menelan salivanya, meski ia sangat ingin melakukannya, tapi ia ragu, sebab suaminya memilikki banyak koneksi pada polisi dan juga jaksa.
“Hari ini sudah bisa pulang ya bu, dan ibu bisa tebus obat ke farmasi. Oh ya, pikirkan baik-baik apa yang saya katakan.” sang dokter pun memberi Fi resep obat, setelah itu sang dokter keluar dari ruangan Fi.
“Ibu darimana saja?” tanya Fi, sebab saat ia terbangun, Yuri tidak ada di sebelahnya.
“Ibu beli sarapan nak.” sahut Yuri.
“Kata dokter, hari ini aku sudah bisa pulang bu.” Fi memberi tahu ibunya kabar baik itu.
“Alhamdulillah.” Yuri tersenyum bahagia.
Fi yang ingin buang air kecil kembali berjalan. Yuri yang melihat kaki putrinya tak seimbang melangkah pun bertanya.
“Fi, kaki mu kenapa nak? Kenapa jadi pincang?” Yuri sungguh mengkhawatirkan kondisi putrinya.
“Ini karena nyeri bu, kata dokter nanti juga sembuh kalau sudah minum obat, tak masalah bu,” terang Fi.
Hati Yuri jadi lebih tenang setelah mendengar penjelasannya putrinya.
Pukul 10:00 pagi, Fi dan Yuri menuju Farmasi untuk mengambil obat.
Setelah Fi mendapatkan obat, ia pun menuju kasir untuk melakukan pembayar.
__ADS_1
“Total 15 juta ya bu.” ucap petugas kasir.
“Baik bu.” Fi mengambil kartu kredit dari dompetnya, dan menyerahkan pada sang petugas.
Ketika si petugas kasir memasukkan total uang yang harus di bayar, si petugas pun meminta Fi untuk menekan pin.
*****!
“Dicline bu, apa ada kartu lain?” tanya si petugas kasir.
“Punya, tapi tinggal di rumah bu.” ucap Fi. Sebab saat ia keluar dari rumah suaminya. Ia hanya membawa dompet, yang menyimpan 1 kartu kredit.
“Kalau begitu, ibu bisa pakai uang tunai.” sang petugas memberi tahu cara pembayaran lainnya.
Fi melirik ke arah ibunya, Yuri tertawa canggung sebab dirinya tak memiliki uang.
Karena tak ada pilihan lain, Fi pun berniat mendial nomor mertuanya.
“Sebentar ya bu, saya telepon keluarga saya dulu,” ucap Fi.
“Baik bu.” sahut sang petugas.
Fi pun dengan segera mendial nomor Alisyah.
Assalamu'alaikum bu. 📲 Fi.
Walaikumsalam, ada apa kau menelepon? 📲 Alisyah.
Bu, aku boleh tidak, pinjam uang ibu untuk menebus obat? 📲 Fi.
Enggak bisa, kau kan punya uang, bayar saja sendiri. 📲 Alisyah.
Kartu kredit ku tak bisa di gunakan bu, aku juga tak punya uang tunai 📲 Fi.
Kemana saja uang yang Asir berikan pada mu selama ini? Itu sebabnya ku bilang kau bodoh, menyimpan uang saja kau tak bisa!📲 Alisyah.
Tut..tut.. tut..
Alisyah memutus sambungan teleponnya, sebelum mendengar penjelasan menantunya.
“Apa kata bu Alisyah?” tanya Yuri, sebab ia melihat raut sedih di wajah putrinya.
...Bersambung......
__ADS_1