Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
99 (Putus Asa)


__ADS_3

Asir memijat pelipisnya yang terasa sakit, ia juga merasa sesak dalam dadanya.


“Kalau bertemu Fi, akan ku buat dia menyesal! Siapa suruh dia melalukan hal ini pada ku!” Asir yang geram kembali memukul tembok.


Ia yang tak bisa tidur di dinginnya sel tahanannya membuatnya jadi mudah emosi, belum lagi nyamuk-nyamuk banyak menggigit tubuhnya yang mulus.


“Lama-lama disini tubuh ku bisa penuh luka!” rasanya Asir ingin menghabisi siapa saja yang ada di hadapannya.


Ia yang hampir putus asa duduk di lantai, seraya menatap ke arah luar sel.


“Pada hal aku tak sepenuhnya bersalah, itu semua karena kekurangan Fi, hal itu memicu ku untuk berbuat kasar padanya, andai adiknya yang gatal itu tak mendekati ku, pasti kemalangan tidak akan menimpa ku.” lagi-lagi Asir menyalahkan Fi dan Dewi atas kesalahan yang telah ia perbuat.


“Andaikan masalah kali ini juga bisa selesai dengan cepat, uhuk uhuk uhuk!” tiba-tiba Asir batuk. Dan perutnya terasa kembung.


“Astaga... apa lagi ini. Sialan!” Asir makin tertekan dengan keadaannya.


Ternyata Wina sama dengan Asir, ia juga merasa putus asa.


Walau dirinya hanya seorang art, tapi ia sudah terbiasa makan enak.


Penjara yang menyediakan santapan seadanya, membuat Wina seketika jadi kurus, wajahnya pun semakin tirus, pada hal dirinya belum sampai seminggu disana.


🏵️


Pada pukul 04:00 pagi, saat Yudi bangun terlebih dahulu dari Fi, ia terkejut bukan main, sebab Fi Saeadat, orang yang ia cintai sedang tidur di sebelahnya.


“Astaga! Apa yang terjadi?” Yudi tak tahu harus berbuat apa, karena syok.


Dirinya juga tak ingat apa yang terjadi tadi malam.


“Bangunin enggak ya? Tapi... kalau aku membangunkannya, apa dia akan tenang, atau justru teriak? Tapi... kenapa Fi tidur di ranjang ku?!” Yudi jadi sibuk sendiri memikirkan alasannya.


Ia juga merasa serba salah, tak tahu harus berbuat apa. Ketika Yudi masih bingung, tiba-tiba Fivmenggeliat ke kiri dan kanan.


Yudi yang takut akan dapat tudingan macam-macam, memilih untuk pura-pura tidur.


“Um...!!” Fi meregangkan tubuhnya untuk meluruskan otot-ototnya yang terasa kaku.


Saat ia membuka mata, ia heran karena ia merasa tak tidur di kamarnya.


Sontak ia melihat ke sebelahnya. “Haaahh!!” Fi menutup rapat mulutnya. Sebab ia tak tahu kenapa dirinya tidur di ranjang sang tuan besar.

__ADS_1


“Ada apa ini? Kok bisa aku tidur disini? ” kemudian Fi melihat ke seluruh tubuhnya.


“Masih utuh, kancing baju tak ada yang lepas satu pun.” ia yang takut, langsung turun dari ranjang, dan keluar dari kamar Yudi.


“Kok bisa aku ada disana? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku sendiri yang jalan ke ranjang, atau aku di gendong tuan kesana?”


Fi menjadi takut, andai dirinya yang berinisiatif sendiri.


Tapi tiba-tiba ia teringat dengan perkataan cinta majikannya.


“Untuk apa dia menyukai ku? Pada hal tak ada yang istimewa dariku, astaga... apa tuan sadar dengan apa yang dia katakan? Mengingat diakan berkata sambil mabuk, huffftt!!” Fi menghela napas panjang.


“Gimana kalau tuan sudah lihat aku duluan?” Fi menjadi sangat khawatir. “Apa aku harus keluar dari rumah ini? Ya... sepertinya begitu, tak ada alasan lagi untuk ku tinggal disini, jadi art pun aku sudah di pecat, lagi pula aku tak tahu, benar atau tidaknya, tuan akan mempekerjakan ku di kantornya.”


Setelah mengetahui harus berbuat apa, Fi pun mandi, berniat ingin meminta izin pada Yudi untuk kembali ke rumah orang tuanya.


Pukul 06:30 pagi. Fi datang ke dapur dengan memakai pakaian santai.


Mirna dan Reni melihat satu sama lain. Karena harusnya, Fi memakai seragam lengkap pagi itu.


“Hei, kau tak kerja Fi?” sapa Mirna.


“Loh, kenapa?" tanya Mirna penasaran.


“Karena aku sudah berhenti kerja dari sini.” Fi tersenyum pada Mirna.


“Kau resign?” Mirna tak tahu harus senang atau tidak dengan keputusan Fi. Sebab peluang untuk mendapatkan Yudi akan lebih besar.


“Tidak, tapi di pecat.” jawab Fi dengan jujur.


“Apa?!” Reni tersenyum puas. Sebab orang yang ia benci akan pergi. “Semoga kau betah di tempat baru ya Fi,” ucap Reni.


“Aamiin,” sahut Fi.


“Kau beneran udah dapat yang baru?” tanya Mirna penasaran.


“Iya.”


“Dimana?” tanya Mirna penuh selidik.


“Di kantor tuan.” sahut Fi. Kemudian ia pun duduk di atas kursi.

__ADS_1


Reni yang mendengar kabar baik itu malah tak senang, karena otomatis ia tak bisa seenaknya pada Fi lagi.


“Kau akan kerja disana? Memang kau bisa? Itu pasti sulit Fi.” ujar Mirna, karena ia pikir rekannya sama dengannya kapasitas otaknya.


“Ya... di coba dululah. Semoga bisa, semoga semua berjalan dengan lancar.”


saat mereka masih berbincang, Yudi datang ke meja makan.


“Loh, kau sudah disini? Tumben cepat.” ucap Yudi berbasa-basi. Meski ia merasa janggal untuk melihat wajah Fi.


Namun kehadiran wanita cantik itu di hadapannya tak bisa ia hindari lagi.


Yudi dan Fi sama-sama canggung di hati mereka, namun dari luar keduanya mencoba biasa saja, seolah tak terjadi apapun.


“Iya tuan, berhubung saya sudah tak kerja disini lagi, saya bermaksud ingin pulang ke rumah orang tua saya tuan,” ucap Fi.


Sontak Yudi yang mendengar merasa tak terima, sebab dirinya tak ingin Fi jauh darinya.


“Kau disini saja, dan niatnya tadi aku ingin mengajak mu untuk Ziarah ke makam Emir, nanti sore.” pengalihan topik yang Yudi katakan berhasil memecah fokus Fi.


“Memang makamnya di mana tuan?” tanya Fi dengan mata berkaca-kaca.


“Di TPU Bunga Kamboja, Fi, meski pun kau sudah tak kerja disini, aku meminta agar kau mau tetap tinggal disini.” permintaan langsung dari Yudi membuat Fi serba salah.


Ia pun kembali mengingat pernyataan cinta Yudi padanya.


Mirna dan Reni yang mendengar percakapan itu semakin yakin, kalau sang majikan menyukai rekan kerja mereka.


Sial, kalau dia beneran jadi nyonya, pasti dia balas dendam pada ku, aduh... semoga saja aku gak di pecat, batin Reni.


Enak banget jadi Fi, dari pembantu menjadi nyonya, mirip kisah Cinderella kalau begini, aku juga mau, tuan. Meski hanya jadi kekasih gelap mu, batin Mirna.


“Aku tak nyaman dan juga tak enak kalau tinggal disini tuan, jadi... tolong hargai keputusan saya tuan.” karena Fi tetap meminta akhirnya Yudi mengikhlaskan wanitanya keluar dari rumahnya.


“Baiklah, tapi kau pindah ke rumah yang ada di sebelah, karena itu sudah ku beli, Suli yang minta, itu juga termasuk royalti.” Yudi berbohong, ia takut, jika ia katakan darinya Fi tak mau menerima.


“Yang benar tuan? Tapi rumah itukan besar sekali, sementara aku hanya tinggal dengan ibu dan juga anak ku.” Fi merasa rumah itu kurang cocok untuknya dan keluarganya.


“Itu kecil Fi.” namun Yudi yang terbiasa melihat rumah besar. merasa rumah yang akan di tempati calonnya kecil.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2