
Asir terkejut saat melihat adik iparnya ada di hadapannya.
“Ternyata mas Asir jago berenang ya.” tawa Dewi yang begitu cantik membuat Asir merasa terhibur.
“Hanya kau yang bilang begitu.” kemudian Asir keluar dari kolam.
“Mas, ajari aku berenang dong, aku tak bisa berenang soalnya.” karena Dewi adalah adik istrinya, Asir jadi sulit untuk menolak.
“Baiklah, tapi sebentar saja ya, nanti kalau kau mau, aku akan daftarkan kau les berenang.” Asir pun bersedia menemani adik istrinya untuk berenang.
“Oke mas, tapi aku enggak punya baju renang mas, pasti susah belajar pakai celana jeans dan juga baju kaos.” Dewi melihat ke arah celananya.
“Tak apa, lagi pula kita hanya belajar sebentar,” ucap Asir.
“Bagaimana kalau aku buka baju ku saja mas? Enggak apa-apakan?” Dewi tersenyum penuh makna.
“Terserah kau saja ” Asir tak perduli dengan yang adiknya katakan.
“Baiklah.” setelah itu Dewi membuka baju kaos putih yang menutup tubuh bagian atasnya.
Seketika Asir terperangah saat melihat aset berharga Dewi yang begitu besar, padat dan juga kencang. Berbeda dengan punya istrinya yang kini kendor karena menyusui.
Dan topeng penopang benda indah yang di sukai kaum Adam itu pun begitu mengundang gairah.
Bagaimana tidak, bahan transparan berwarna merah tua yang bertengger di tubuh Dewi semakin menambah kesan seksi di hati Asir.
Dewi yang sungguh-sungguh ingin belajar berenang, selanjutnya menurunkan celana jeansnya.
Deg deg deg!
Rasanya jantung Asir mau pecah, saat melihat kaca mata segi tiga berbahan seperti kelambu dengan warna merah tua berada di tempat yang sangat menggairahkan.
Glek!
Asir pun menelan salivanya, nafasnya ikut memburu kala benda-benda yang membuat berdenyut itu menyita perhatiannya.
“Ayo mas, bagaimana caranya?” tanya Dewi dengan nada manja.
“Ya tinggal masuk ke kolam.” ucap Asir, selanjutnya ia masuk ke dalam air.
“Ayo, kemarilah!” Asir melambaikan tangannya.
“Ah, aku takut mas, nanti aku tenggelam.” Dewi malah melompat-lompat kecil di pinggir kolam.
Hingga balon-balon yang harganya tak terkira naik turun seperti Lift mall.
“Tidak apa, aku akan menangkap mu, tidak akan tenggelam,” ujar Asir.
“Baiklah, tapi siap ya mas.” kemudian Dewi melompat ke dalam air kolam.
Zrrrrss!!!
Dewi yang tak dapat berenang hanya bisa menggunakan gaya batu.
Kemudian Asir langsung datang menangkap tubuh Dewi.
“Haaaaahh!!!” Dewi menghirup udara dengan buru-buru setelah di selamatkan Asir.
__ADS_1
“Kau tak apa-apa?” tanya Asir sebab ia lihat Dewi kesakitan.
“Aku takut mas.” kemudian Dewi memeluk Asir. Sontak si Joni sahabat Asir sedari kecil bangun.
Dewi yang merasakan hentakan si Joni langsung melepas pelukannya.
“Mas, sepertinya ada yang masuk ke dalam celana ku.” Dewi yang tak membuang waktu langsung memberi kode pada suami kakaknya.
Asir si buaya kolam tentu tak menolak untuk memeriksa.
Asir pun menyelam ke dalam air, Dewi yang memiliki niat busuk langsung mengarahkan lupis legitnya pada sang abang ipar.
Asir yang tahu jika itu undangan masuk langsung memberikan serangan.
Setelah 1 jam melakukan pemanasan di dalam kolam dengan berbagai macam gaya.
Sahabat kecil Asir bersiap kenalan dengan adik Dewi yang ia tuntun kemana pun.
Saat kedua pasangan licik itu akan menyatu, tiba-tiba ada art yang masuk ke dalam area kolam berenang.
Sontak keduanya berhenti melakukan aksi tercela mereka.
Malam harinya, Asir yang ada di atas ranjang mengeluh pada istrinya.
“Badan ku sakit-sakit semua Fi. Rasanya enggak nyaman.” Asir memijat bahunya yang terasa pegal.
“Mau ku pijat mas?” tanya Fi. Karena ia berpikir suaminya masuk angin karena sering lembur bekerja dan mandi malam.
“Boleh, pijatan mu kan lumayan enak,” ungkap Asir.
Kemudian Fi yang tak tahu apapun mengurut seluruh tubuh suaminya yang baru bermain mantap-mantap dengan adik kandungnya sendiri.
Hingga Asir, si suami tak punya hati dan nurani tertidur pulas.
Sejak saat itu, Dewi dan Asir lebih sering bertemu bahkan berhubungan lebih intens, Asir yang jahat menggunakan Fi sebagai tempat pengaduannya kalau kurang sehat karena bertengkar di atas ranjang bersama Dewi.
...Flash Back Off...
Asir sungguh menyesal atas kesalahannya selama ini.
Beban bersalah pada orang-orang yang pernah ia sakit kian mencuat, terlebih ia mengingat kalau Wina mengandung anaknya.
“Maafkan papa nak.” Asir merasa lemah akan keadaan yang saat ini menimpanya.
Suhu badan Asir yang kian meninggi membuat ia berhalusinasi.
Perlahan-lahan ia melihat putranya yang telah tiada datang menembus dinding dengan pakaian terakhir yang di kenalan Emir saat meninggal.
“Emir...” Asir memanggil nama putranya.
“Papa... jangan sakit dong, jangan nangis, papakan laki-laki, laki-laki enggak boleh nangis.” Emir mengelus puncak kepala ayahnya.
“Bahkan setelah tiada pun kau masih baik pada papa, hiks...” Asir menangis parau.
“Tentu saja pa, karena papa adalah orang tua ku, dan karena aku... sudah bahagia di alam sana, hahahaha...” Emir tertawa menyeringai pada Asir.
“Nak... maafkan papa...”
__ADS_1
“Hahahaha... aku lebih bahagia disana dari pada disisi mu pa, hiks...” dari tertawa tiba-tiba Emir menangis.
Mengerikannya air mata yang di keluarkan oleh Emir adalah darah.
“Emir, kau baik-baik saja nak??” Saat Asir ingin bangkit Emir mundur dari hadapan Asir.
“Papa jahat, hiks...” perlahan lengan tangan Emir mengeluarkan darah, aku sakit pa.”
“Emir... Emir...” Asir memanggil-manggil nama putranya.
Puk!
“Hah?” Asir tiba-tiba membuka matanya, ternyata ia tadi hanya bermimpi.
Kemudian ia memegang keningnya yang basah.
“Apa?” ia pun terkejut saat mengetahui keningnya berdarah.
“Apa kau keberatan?” ucap Jon dengan tatapan mengerikan.
“Apa-apaan kau?” tanya Asir yang masih berbaring di kasur lantai yang ia pakai.
“Kau berisik, suara mu yang bising tidak hanya di dengar oleh kami, tapi juga tahanan di sel lain, brengsek!” pekik Jon.
“Maaf, aku tak tahu, tapi haruskah kau sampai melukai ku?!” Asir yang panas badannya telah turun merasa tak terima dengan tindakan kasar yang ia terima.
“Hahaha... kenapa jadi melawan?”
Tak!
Jon meletakkan kakinya yang penuh kutu air di wajah Asir.
“Singkirkan kaki mu!” sorot mata Asir yang menantang membuat Jon terpancing.
Buk!
Jon, tahanan 1 bulan menginjak-injak wajah kanan Asir hingga berlumuran darah.
Kejamnya dunia terkurung yang Asir dapatkan, membuat dirinya yang dianiaya tak dapat menyelamatkan dirinya.
Asir yang kesakitan tak dapat bangkit karena dirinya telah sekarat.
🏵️
“Papa!” teriak Andri seraya membuka matanya yang tadinya tertutup.
“Kau kenapa nak?” tanya Fi yang terbangun karena suara teriakan anaknya.
“Hiks... papa... papa ma, papa sakit!” meski Andri tak di anggap, namun ikatan batin antara dirinya dan sang ayah kandung sangat kuat.
“Papa baik-baik saja, papakan tidur di sebelah.” Fi berpikir jika yang di maksud putranya adalah Yudi.
“Enggak ma, papa di kurung, di pukul orang, hiks...” ternyata Emir memimpikan penderitaan Asir.
“Papa Asir?” tanya Fi.
“Iya, papa. Tolong papa ma, hiks...” meski Andri telah menerima kekerasan dari ayahnya, namun Andri tak bisa melihat ayahnya menderita.
__ADS_1
...Bersambung......