Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
49 (Terharu)


__ADS_3

Atas kesepakatan yang sama-sama di setujui, Fi pun mulai menceritakan kisahnya dari awal hingga akhir.


Suli yang menjadi pendengar tak hentinya menangis.


“Jahat sekali mereka pada mu, betul-betul manusia jadi-jadian! Aku khawatir sekali dengan anak-anak mu Fi, hiks... kalau sampai aku bertemu dengan si Dewi itu, aku botak rambutnya sampai habis, ku pukul, setelah itu ku buang ke Kalimalang!” Suli mengeluarkan kekesalan yang ada dalam hatinya


“Terimakasih nyonya, karena telah berbaik hati pada ku, ku harap nyonya tepat janji, membantu ku untuk mendapatkan anak-anak ku, dan juga mengoperasi wajah dan anggota tubuh ku yang lainnya,” ucap Fi.


“Separah apa sih luka mu, apa aku boleh melihatnya, Fi?” Suli sangat penasaran akan kebenaran cerita Artnya, yang mengatakan bekas operasi sesarnya di tendang oleh Asir.


“Baiklah nyonya.” Demi uang, Fi pun menunjukkan bekas perbuatan mantan suaminya padanya.


Setelah Fi menyingkap baju putih seragam kerjanya, mata Suli membelalak sempurna.


Sebab di bekas sayatan dan area sekitarnya Fi membiru dan ada beberapa bagian perutnya yang masih bengkak, Suli juga melihat banyak Stretch mark di tempat yang sama.


Ia pun bergidik ngeri. “Tutup, tutup!” Suli tak mampu melihat pemandangan burik yang sangat ia takuti itu.


Itu sebabnya aku tak mau punya anak, selain menyita kebebasan ku, keindahan wajah dan tubuh ku pun akan berkurang, batin Suli.


“Maaf, kalau nyonya merasa tak nyaman,” ucap Fi.


“Tidak apa-apa, lagi pula aku yang salah, ehm bagaimana dengan lagu mu? Apa kau bisa menyayikannya sekarang?” Suli berniat menyegarkan perasaannya dengan mendengar suara emas Fi.


“Saya juga punya kunci lagunya nyonya, di rumah mantan suami saya ada beberapa alat musik, jadi saya bernyanyi seraya bermain piano,” terang Fi.


“Benarkah?!” Suli senang bukan main, karena ia tak perlu repot-repot menggarap lagu itu lagi.


Aku tak pernah menyangka


Kalau kau akan mendua


Pada hal aku mencintai mu


Sepenuh hati ku


Dulu, saat ku tak ingin bersama mu


Tapi kau, malah memaksa aku...


Karena rasa sayang ku

__ADS_1


Ku pun mau menjadi pasangan hidup mu


Ooh... cinta yang ku beri


Malah kau sia-siakan begitu saja


Kini kau pergi bersama yang lain


Tinggallah aku dalam sepi


Tiada lagi yang tersisa dalam hatimu


Tentang ku, dan masa lalu kita


Baiklah, aku pergi yang terkasih


Tapi jangan pernah sesali jika suatu hari


Kau meminta kembali, aku takkan memberi hati lagi.


(Ini puisi author ya)


“Hiks... sedih banget liriknya! Bisa-bisanya kau buat lagu sebelum masalah suami mu terbongkar.” Suli yang terharu menghabiskan banyak tisu untuk menyeka air mata dan air ingusnya.


“Besok saja ya, karena aku masih lelah, tapi apa setelah kau jadi cantik dan punya uang akan berhenti jadi Art di rumah ini?” Suli yang masih ingin memanfaatkan bakat Fi mulai bermain ilmu antik.


“Apa aku harus tetap jadi Art setelah punya uang dan juga berkumpul dengan keluarga ku?” tanya Fi kembali.


“Ya... tidak masalahkan? Memangnya kau akan rugi?” ucap Suli.


“Aku tak bersedia nyonya, kalau masih ada peluang lain, aku ingin mencari pekerjaan yang lebih baik,” ujar Fi.


“Apa yang salah dengan profesi Art? Yang penting halal.” Suli yang ramah tamah tak takut jika suaminya akan main gila jika Fi jadi cantik lagi.


“Aku ingin lanjutkan kuliah ku nyonya, dan... aku ingin mengejar mimpi ku.” terang Fi, ia dari dulu sangat ingin bekerja di sebuah perusahaan besar.


“Kalau kau tak mau jadi Art, kerja saja di perusahaan suami ku, ambil bagian yang kau bisa, nanti aku bicara padanya, kau bisa juga menitipkan anak-anak mu disini, atau kau bisa tinggal disini juga boleh, aku ingin kau mengawasi para Art ku yang centil-centil itu, karena ku yakin pasti mereka menaruh hati pada suami ku.” niat Suli sebenarnya adalah, agar Fi merasa berhutang budi padanya. Dengan begitu ia bebas meminta apapun yang membuat karirnya semakin melejit.


“Tapi nyonya...” Fi yang tak ingin berada di antara orang-orang yang menyakitinya berpikir dua kali untuk menetap disana.


“Kalau kau tak mau, kau hanya dapat yang 1 milyar, tapi kalau kau bersedia, nama mu akan ku cantumkan di lagu mu yang akan ku bawakan, bagaimana?” tawaran menggiurkan dari Suli, membuat Fi tertarik.

__ADS_1


“Baiklah kalau nyonya memaksa, aku pun siap memberi lagu lainnya, jika harganya cocok.” Fi memanfaatkan Suli yang butuh padanya.


”Oke, kita lihat saja, lagu-lagu yang kau buat kualitasnya seperti apa, dan... kau tak boleh bernyanyi, dan hanya aku yang boleh membawa dan mempopulerkan lagu-lagu yang kau ciptakan.” Suli yang tak kalah cerdas, mencegat jalan Fi, jika ingin menjadi artis suatu saat.


“Baiklah, saya setuju nyonya.” keduanya pun saling bersalaman, dengan begitu kerja sama antara keduanya pun telah terjalin.


_________________________________________


Brak!!


Dewi membuka kasar pintu kamar keponakannya.


“Sedang apa kalian bertiga?” ucap Dewi seraya bersedekap.


“Nenek demam tante.” Emir memberitahu Dewi tentang neneknya yang sakit.


“Akh! Alasan saja.” kemudian Dewi mendekat ke ranjang. Ia pun melihat Alisyah yang sedang menggigil.


“Hei! Bangun kau orang tua, jangan malas! Enak saja, sudah di kasih numpang gratis, malah enak-enakan tidur! Dan anak-anak dari kemarin belum mandi, cepat bangun!” meski tahu Alisyah tak berdaya, namun Dewi tak perduli, karena itu bukan urusannya.


“Aku tak bisa berdiri, tubuh ku kedinginan dan juga gemetaran, tolong beri aku obat.” pinta Alisyah, ia sungguh tak bisa beranjak dari ranjang.


“Enggak ada alasan! Ngomong banyak kau bisa, tapi berdiri tidak, ayo cepat!” Dewi menarik tangan Alisyah untuk turun dari ranjang.


“Tante, jangan, kasihan nenek...” Emir memegang tangan Dewi.


“Apa sih kau! Jangan bikin rusuh, aku tak meminta mu untuk ikut campur!” Dewi memarahi Emir.


“Pelankam suara mu Dewi!” Alisyah tak terima bila cucunya di perlakukan kasar oleh Dewi.


“Akh! Nenek dan cucu sama saja Ya! Heh tante, hari ini aku mau keluar, mandikan mereka dan juga kasih makan, kalau sempat aku pulang dan mereka masih lusuh dan bau asem! Ku hajar kau!” Dewi yang tak sungkan lagi, kini menunjukkan taringnya.


“Aku tak mengurung kalian, jadi bersyukurlah, jangan ada yang coba-coba kabur tak jelas? Ku siram air panas baru tahu rasa!” setelah mengancam nenek dan cucu itu. Dewi pun berangkat menuju dukun aborsi yang ia dapat dari temannya.


Dewi yang telah berada di dalam mobil mendial temannya.


Halo Clara, kau sudah siap belum? 📲 Dewi.


Sudah, datang saja langsung ke alamat yang telah ku kirim tadi. 📲 Clara.


Oke, aku segera meluncur. 📲 Dewi.

__ADS_1


Setelah sambungan telepon terputus, Dewi pun melajutkan mobilnya menuju dukun aborsi yang akan membantunya menggugurkan kandungannya.


...Bersambung......


__ADS_2