Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
58 (Karmakah?)


__ADS_3

Setelah Asir membelakangi Dewi, wajahnya berubah jadi masam.


Harusnya kau tak usah kembali, batin Asir.


Ia yang terlanjur nyaman dengan pelayanan ekstra surga art-nya tiba-tiba tak ingin melihat wajah Dewi.


“Aku mandi dulu, kau tidurlah duluan.” Asir yang tak selera pada Dewi, kali itu tak mengajak kekasihnya untuk mandi bersama.


“Iya, mandilah yang bersih.” Dewi tahu, jika Asir tak ingin di dekatnya saat itu.


Baiklah, kita lihat, sampai dimana permainan mu dengannya, batin Dewi.


Dewi yang tak dapat tidur menunggu Asir


selesai mandi.


15 menit kemudian, Asir keluar dengan tubuh yang wangi.


Lelaki pecinta daun muda itu pun memakai piyama abu-abunya.


“Kenapa kau belum tidur?” Asir berharap kalau kekasihnya segera terlelap.


“Aku rindu pada mu, kemarilah, peluk aku mas.” Dewi merentangkan kedua tangannya.


“Maaf, aku banyak kerjaan Wi, malam ini aku mau kerja larut, kau bisa tidur duluan, jangan tunggu aku.” Asir yang lebih tergoda akan barang baru, mulai mengabaikan Dewi.


“Benarkah?” Dewi tertawa getir.


“Iya, dan pekerjaan ini harus segera beres.” setelah selesai bersisir Asir mulai beranjak. “Sebaiknya kau istirahat.”


Asir pun mengunci pintu kamarnya. Ia yang sudah janjian dengan Wina, segera menuju ruang kerjanya.


Kalau kau tak suka, kau bisa pergi Wi, batin Asir.


Dewi yang di tinggal begitu saja bangkit dari tidurnya.


“Sialan! Apa dia sebegitu sukanya pada pembantu itu?!” hati Dewi sungguh sakit, apa lagi semalam ia baru memperjuangkan nyawanya demi bisa bersama kekasih mata keranjangnya itu.


“Pada hal aku lebih cantik dari si Wina! Tapi bisa-bisanya, wanita bongsor itu menggeser posisi ku!” Dewi mengepal tangannya, ia yang emosi pergi menuju kamar keponakannya.


Brak!


Alisyah dan kedua cucunya terkejut melihat kehadiran Dewi yang begitu tiba-tiba.


Bam!


Dewi menutup kembali pintu kamar keponakannya.


Wajahnya yang memerah, serta matanya yang berkaca-kaca membuat tiga orang dalam kamar itu ketakutan.


“Ada perlu apa kesini?” tanya Alisyah.


“Pasti kaukan! Yang mengajari anak mu untuk meninggalkan ku?!” Dewi malah curiga jika Alisyah yang mempengaruhi Asir agar memilih Wina.

__ADS_1


“Apa maksud mu? Aku tak mengerti.” Alisyah yang tak tahu apapun menjadi bingung.


“Alah, enggak usah bersilat lidah nenek tua! Aku tahu apa yang ada dalam hatimu!” Dewi yang emosi mengambil sapu lidi pembersih ranjang yang ada di balik pintu kamar keponakannya.


“Kemari kau!” Dewi menarik kasar tangan Alisyah yang sedang duduk di ranjang.


“Kau pikir yang kau lakukan sudah benar?! Hum?!”


Plak! Plak!


Dewi memukul sembarang tubuh Alisyah. Ia yang benci pada Asir malah melampiaskan kekesalannya pada.oranv yang tak bersalah.


“Apa kau senang sekarang?!”


Plak!


Pukulan Dewi semakin kencang saat


mengingat wajah Asir dan Wina.


“Hentikan Wi! Aku tak punya salah apapun pada mu!” Alisyah merasa sakit di sekujur tubuhnya.


Emir dan Andri hanya saling berpelukan saat sang nenek di pukul oleh tante mereka.


Plak Plak!


“Jelas kau salah, selain telah mencuci otaknya, kau juga salah karena telah melahirkannya ke dunia ini, kau juga berdosa karena tak mendidiknya dengan benar, sehingga dia bisa menyakiti banyak hati perempuan!” Dewi sangat Murka, karena dirinya di permainkan


“Aku tak melakukan apapun! Aku bahkan tak bicara padanya.” Alisyah membela dirinya yang tak bersalah.


Ia yang takut makin kalap membuang sapu yang ada di tangannya.


“Kesalahan yang ia perbuat saat ini adalah bukti kegagalan mu sebagai orang tua!” Dewi yang tak dapat mengontrol diri keluar dari kamar keponakannya.


Selanjutnya, ia yang penasaran mendatangi Asir di ruang kerja.


Ia cukup terkejut, saat pintu ruang kerja itu tak di tutup sepenuhnya.


Jadi kalian sengaja? batin Dewi.


Ia yang ingin tahu apa saja yang di kerjakan 2 manusia yang membuatnya naik darah.


Dewi yang akan mencapai pintu pun mendengar suara gaib yang biasa ia keluarkan dari mulutnya saat bersama Asir.


Dewi menelan salivanya, Ia pun tertawa getir, Dewi yang merasa percuma jika menggangu keduanya, memutuskan kembali ke kamarnya.


Malam itu pun ia tak dapat tidur, karena Dewi benar-benar takut posisinya tersisih.


🏵️


Yudi yang sedang membuka aplikasi si hijaunya tiba-tiba iseng melihat status. Tak disangka Suli hari itu memperbaharui status 24 jamnya.


Photo pertama yang berlatar di studio masih membuat Yudi tersenyum. Namun saat di photo ke dua, wajah Yudi berubah kecut, karena Suli photo berdua dengan menagernya.

__ADS_1


Yang membuat Yudi makin sakit hati, Suli dan Daniel saling berpelukan.


“Apa dia lupa untuk memprivasinya? Atau menurutnya ini hal biasa?” Yudi memutar nata malas.


Ia pun mematikan layar handphonenya, “Apa aku salah, bila mencintai orang lain kalau situasinya begini?” Yudi yang merasa tak nyaman dengan Suli mulai membuat ancang-ancang untuk berpisah.


“Setelah dia pulang, akan ku tanyakan dengan serius, dia mau atau tidak mengandung anak ku, jika menolak, dan lebih memilih karir, maka akan ku lepaskan dia.” kali itu Yudi mengikuti saran Fi untuk bersikap tegas.


Aku adalah suami, harusnya istri ikut apapun keputusan imamnya, kalau begini terus, lebih baik pisah, batin Yudi.


Saat ia masih di lema, orang yang ia pikirkan pun menelepon.


“Suli?” ia yang merasa tak di hargai oleh istrinya lebih memilih mengabaikan panggilan video tersebut.


Keesokan harinya, tepatnya di Jumat pagi yang cerah, Yudi telah berpakaian rapi menuju kantor.


Fi yang ingin bekerja pun mengetuk kamar majikannya.


Tok tok tok!


“Masuk!” ucap Yudi.


“Selamat pagi tuan,” sapa Fi.


“Pagi juga, oh ya Fi, hari ini tak usah kerja, kau akan di antar ridho untuk mengurus paspor serta KTP baru,” terang Yudi.


“Tapi tuan, bagaimana dengan kerjaan saya?” Fi yang bertanggung jawab tak ingin meninggalkan tugasnya begitu saja.


“Aku sudah menyuruh Rila untuk menggantikan mu, bersiaplah.” setelah itu Yudi mengambil tas kerjanya.


“Nanti aku akan cepat pulang, saat itu kau harus sudah siap ya.” tutur kata Yudi yang lembut membuat Fi merasa nyaman.


Ternyata begini rasanya kalau punya saudara yang baik, batin Fi.


“Baik tuan.” Fi tersenyum hangat pada Yudi.


“Aku berangkat dulu.” setelah berpamitan, Yudi buru-buru pergi ke kantor.


Saat Fi ingin keluar, ia hampir saja menabrak Rila, sang kepala Art.


“Maaf kak, saya tidak lihat.” Fi menundukkan kepalanya, selain merasa bersalah, ia juga tak enak, karena Rila selalu membantunya untuk membereskan pekerjaannya.


“Enak ya, mentang-mentang dekat dengan majikan, jadi sesuka hati melempar tanggung jawab, ini sih makan gaji buta namanya.” Ria mengoceh karena kesal.


“Maaf kak, lain kali tidak akan terulang lagi, nanti saya akan bayar perharinya, kalau kakak bantu saya,” ucap Fi.


“Pada hal gaji ku lebih besar darimu, tapi kau mau membayar jasa ku, hah! Omong kosong! Sebaiknya kau pergi sekarang juga! Sebelum aku naik darah melihat mu!” pekik Rila.


...Bersambung......


Halo readers yang manis, Author mohon bantuannya ya, untuk kasih rate 5 pada novel ini, jika ada yang tak suka pada alur yang author sajikan, bisa tinggalkan, dan tolong jangan kasih rate buruk pada novel ini, karena pada dasarnya ini hanya karya fiksi. Terimakasih banyak. ❤️


__ADS_1



__ADS_2