
“Oh ya?” Fi yang ingin turun di cegat oleh Yuri.
“Kau istirahat dulu, nanti saja ketemu Andrinya.” Yuri melarang Fi pergi.
“Baiklah bu.” Fi pun sabar menunggu anaknya kembali.
Mirna yang masih syok keluar dari kamar Fi. “Astaga, beruntung sekali nasibnya.” Mirna mengelus dadanya.
🏵️
Asir yang mendapat tamu keluar dari selnya. Ternyata yang datang adalah pengacaranya.
“Pokoknya urus dengan benar, aku tak mau mendekam disini lebih lama, lobi hakim dan juga para polisi, aku bersedia membayar berapapun.” baru beberapa jam di dalam tahanan, Asir sudah merasa bosan.
Belum lagi ia meninggalkan pekerjaan kantornya yang begitu banyak.
“Tolong hubungi Dewi, suruh mengunjungi ku kemari.” Asir berniat menitip rumahnya pada Dewi.
“Baik pak, bapak tenang saja, saya akan mengurus masalah ini sampai beres, siapa juga yang tak mau uang.” Hendry merasa kalau ia dapat menyelamatkan Asir dari jeratan hukum.
🏵️
Dewi yang baru selesai minum obat mencoba mendial nomor Asir kembali.
“Ya ampun, kok masih enggak aktif sih?” Dewi merasa resah, karena ia berpikir Asir berubah pikiran untuk bersamanya.
Ia yang di jadwalkan pulang esok hari, tak sabar untuk menunggu hari itu tiba.
“Semoga saja semua berjalan dengan lancar.”
🏵️
Malam harinya, Fi yang baru selesai mandi di jenguk oleh Yudi.
Pintu kamar yang terbuka membuat Yudi dapat melihat Fi yang sedang bersisir.
“Cantik.” gumamnya tanpa sadar. Andri yang ada di gendongannya mendengar hal itu.
“Iya pa. Mama cantik.” kemudian Andri memeluk Yudi.
Tok tok tok!
Yudi mengetuk pintu kamar Fi. “Boleh aku masuk?”
Fi yang melihat kedatangan tuannya pun tersenyum.
“Silahkan tuan.” Fi yang telah selesai berpakaian rapi duduk di atas sofa.
Begitu pula dengan Yudi. Fi yang melihat anaknya begitu lengket dengan Yudi merasa tak enak hati.
“Sayang, sini sama mama.” Fi membuka lebar kedua tangannya.
__ADS_1
“Maunya sama papa.” Andri terus memeluk Yudi yang membuatnya nyaman.
“Eh... bukan papa, maaf ya tuan, Andri memang selalu salah bicara.” Fi tersenyum kaku.
“Tidak apa-apa, aku ikhlas kalau harus jadi ayahnya.” Yudi mencium pipi Andri.
Fi yang mendengar pernyataan tuannya merasa canggung.
“Tuan, aku sudah sembuh, apa aku boleh kembali ke kamar ku?” meski kamar itu sangat nyaman, namun Fi merasa sungkan, apa lagi dirinya hanya seorang Art.
“Tidak, kau disini saja, lagi pula kamar di rumah ini banyak.” penolakan dari Yudi membuat Fi serba salah.
Saat keduanya masih dalam keadaan canggung, Yuri datang membawa sup ikan gurame panas untuk putrinya.
“Permisi tuan.” Yuri masuk ke dalam kamar. “Nak, kau makan dulu ya.” Yuri berniat ingin menyuap putri sambungnya.
“Apa ibu sudah makan?” tanya Yudi.
“Belum tuan, nanti saya akan makan bersama Andri.” Yuri pun duduk di sebelah Fi.
“Ini sudah malam, makanlah dulu bu, Andri juga sudah sangat lapar.” Yudi berniat ingin menggantikan tugas Yuri untuk menyuap Fi.
“Tidak apa-apa tuan.” Yuri menolak makan saat itu.
“Iya, tapi... Andri yang kelaparan bu.” Yudi tetap memaksa Yuri untuk pergi.
“Benar bu, aku bisa makan sendiri kok.” karena Fi mendukung perkataan Yudi, akhirnya Yuri pergi makan bersama cucunya.
“Belum.” kemudian Yudi mengambil mangkok sup gurame milik Fi. “Ayo makan.” Yudi mengarahkan sendok berisi ikannya pada Fi.
“Jangan tuan, saya bisa sendiri.” Fi merasa tak nyaman karena perhatian lebih yang Yudi berikan padanya.
“Tidak apa-apa, buka mulut mu.” Yudi terus memaksa Fi.
Ya Tuhan, tuan kenapa sih, batin Fi.
“Tuan, saya tidak nyaman kalau tuan seperti ini, nanti orang lain bisa salah faham, apa lagi saya hanya pembantu disini. Jujur saya bisa berpikir aneh-aneh kalau tuan terus berbuat seperti ini pada ku, ” Fi berterus terang pada Yudi.
“Memangnya kau berpikir apa kalau aku perhatian pada mu.” pertanyaan Yudi membungkam mulut Fi.
“Um... itu...” Fi tak sanggup melanjutkan barisan kata yang ingin ia ucapkan.
“Apa?” tatapan lekat yang Yudi berikan membuat Fi salah tingkah. Tengkuknya terasa panas, hingga Fi mengelusnya berulang kali.
“Tidak tuan, bukan apa-apa.” Fi yang salah tingkah tak dapat melihat wajah Yudi.
Ia pun menjadi bingung, harus melihat ke arah mana.
“Santai saja, aku baik pada mu, karena kau memang pantas mendapatkannya.” Yudi mengarahkan lagi sendok yang berisi gurame pada Fi.
“Memangnya aku melakukan apa tuan, sehingga aku pantas mendapatkan banyak bantuan dari tuan?” tanya Fi dengan penasaran penuh.
__ADS_1
Yudi ragu untuk mengatakan isi hatinya, sebab ia masih dalam keadaan berduka.
“Kau tidak suka cari masalah dengan orang lain.” Yudi menunda pernyataan cintanya, sebab ia takut jika Fi menolaknya bila ia katakan dengan buru-buru.
“Begitukah?” Fi menganggukkan kepalanya.
“Iya. Apa kau mau ku suap? Atau aku yang kau suap?” tanya Yudi dengan tatapan penuh makna.
“Apa tuan?” Fi tersentak dengan sikap transparan majikannya.
“Aku juga lapar, kau mau menyuap ku tidak?”
Astaga tuan, apa yang kau sukai dariku sih!? Walau tuan tak jujur, tapi aku bukan sebodoh itu tuan, batin Fi.
“Aku saja tuan yang di suap.” Fi memilih dirinya, karena takut gemetaran menyuap sang tuan besar yang begitu berkarisma dan berwibawa.
“Harusnya kau bilang dari tadi.” kemudian Yudi mulai menyuap Fi.
Meski rasa gurame itu nikmat, namun karena sang majikan yang melayaninya, rasanya jadi mengerikan.
Terlebih mata Fi mengawasi pintu yang terbuka lebar, ia takut jika ada yang lewat. dan menyaksikan kebaikan majikannya padanya.
Setelah selesai makan, Yudi mengelap setiap sudut bibir Fi.
Deg!
Jantung Fi jadi deg degan karena itu. “Te-terimakasih tuan.” ucap Fi dengan kikuk.
“Jaga kesehatan, tenangkan pikiran mu, kasus ini masih panjang urusannya, besok pengacara ku akan datang kemari, tadi dia tak jadi datang karena kau sakit, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang, saran ku, tegarkan diri mu, karena menangis hanya akan membuang energi mu, bagaimana pun, yang kau butuhkan dan anak-anak mu sekarang adalah keadilan.”
Setelah mengatakan hal itu, Yudi bangkit dari sofa dengan membawa bekas mangkuk gurame Fi.
“Baik tuan, saya mengerti.” Fi tersenyum pada majikannya.
Yudi yang ingin pergi meletakkan tangannya di kepala Fi.
“Tenang saja, aku akan membantu mu.” sapuan telapak tangan Yudi membuat Fi terperangah.
Ia pun mendongak pada sang majikan. Dan ia pun dapat melihat senyum tulus dan tatapan penuh makna dari Yudi.
“Aku pergi, kau tidurlah, jangan terjaga terlalu lama, karena kata pak haji, jangan begadang kalau tak ada artinya.” setelah itu, Yudi beranjak dari kamar Fi.
“Ba-baik tuan.” jawab Fi dengan kaku.
Apa benar tuan menyukai ku? batin Fi.
Sementara Yudi yang ada di luar kamar Fi menghela napas panjang.
“Apa dia tahu kalau aku menyukainya?” Yudi menggaruk kepalanya yang terasa gatal.
...Bersambung......
__ADS_1