Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
71 (Emir)


__ADS_3

⚠️Warning! Bab ini akan membuat anda emosi, mohon bijak membaca⚠️


“Dasar sok kaya, jadi simpanan saja kok bangga, cih!” Dewi merasa jijik dengan mantan Artnya.


Dewi yang kini berdamai dengan keadaan lebih memilih melanjutkan pekerjaannya dari pada memikirkan hinaan Wina yang baru saja ia dengar.


🏵️


Emir yang ada di dapur melihat pisau pemotong ikan terjatuh ke lantai.


Ia yang tak di awasi siapapun mengambil pisau tersebut.


“Aku rindu mama.” Fi yang selalu ia nanti untuk datang menjemput mereka tak kunjung menampakkan diri.


“Apa aku saja yang harus menemui mama?” Emir yang rindu ibunya telah demam selama 2 minggu, tubuhnya pun kini kurus tak terawat, sebab Wina selalu menghalangi jalan Alisyah untuk merawat cucunya.


Kemudian Emir membawa pisau yang kini di tangannya menuju kamarnya.


Andri yang melihat abangnya membawa barang tajam pun bertanya.


“Tutu tuat ata bang? (Itu buat apa?)” tanya Andri kecil.


“Buat memotong lengan dek, kau mau ikut abang enggak buat ketemu mama?” Emir yang belum paham bahaya yang akan ia hadapi malah mengajak sang adik untuk bunuh diri.


“Itut (ikut)” Andri yang juga rindu setuju dengan ajakan abangnya.


“Aban duluan ya dek.”


Kemudian Emir yang polos pun menyayat tepat di tempat yang di ajarkan Wina, yaitu bagian nadi.


Sreettt!!


Zarrr!!


Darah merah Emir mengucur deras. “Sakit... sakit... hiks... sakit!! Mama!! Tolong!!!” Emir menangis seraya berteriak, tubuhnya pun menggeliat ke kiri dan kanan.


“Abang... tatit? (sakit) Abang...hiks...” Andri memeluk abangnya yang kini bersimbah darah.


Saat Andri ingin mengambil pisau yang ada di lantai Emir melarangnya.


“Jangan! Sakit dek! Panggil nenek hiks...” Emir yang tahu betapa sakit yang ia rasakan menyesal telah mengikuti saran Wina.


Andri pun dengan sigap turun dari ranjang, kemudian berlari mencari neneknya.


Art yang melihat wajah si kecil Andri berdarah sontak histeris.


“Ada apa tuan?!” tanya Bunga dengan gemetaran.


“Abang tatit, abang nanis! (Abang sakit, abang menangis)” Andri memberitahu kondisi abangnya.

__ADS_1


Sontak Bunga berlari ke kamar tuan mudanya. ”Allahu Akbar! Tuan...!!!” Bunga pun melihat majikan kecilnya terbaring di ranjang dengan mata membelalak ke langit-langit plafon.


“Emir!!!” Alisyah yang datang berlari lalu memeluk cucunya di atas ranjang.


Emir menatap nanar wajah neneknya, air matanya pun menetes.


“Nenek, Emir rindu mama.” hingga di penghujung napas terakhirnya Emir tak dapat bertemu sang ibu yang melahirkannya ke dunia.


Andai anak tak berdosa itu sabar, pasti dirinya dapat bertemu Fi yang akan segera kembali menjemput mereka.


“Emir... hiks... cucu ku...!” Alisyah menangis sesungukan. “Bawa ke rumah sakit!!!” Alisyah dan para art pun membawa Emir menuju mobil yang terparkir di garasi.


Namun saat mereka sampai, Alisyah melihat putra dan wanita simpannya pulang.


“Ada apa ini?” tanya Asir, matanya pun membelalak saat melihat putra sulungnya tak berdaya karena lengannya tersayat.


“Emir!” Asir berlari menuju putranya.


“Ini kenapa ma?” tanya Asir.


“Enggak tahu, Andri datang ke kamar untuk mengatakan kondisi Emir, hiks... bawa ke rumah sakit Asir! mama mohon!” atas permintaan Alisyah, Asir pun bersedia.


Sedang Wina yang melihat hasil perbuatannya merasa gemetaran.


Mati aku, kalau sampai perbuatan ku ketahuan, batin Wina.


”Emir... nak!!!” Ia pun mengambil Emir dari gendongan Alisyah. Kemudian membawa masuk ke dalam mobil.


“Ya Tuhan, kok bisa begini ma?!” Wina bertingkah sok sibuk untuk terlihat tak ada sangkut paut akan tindakan Emir.


“Enggak tahu Win, hiks...” Alisyah yang tak tahu apa penyebab cucunya berbuat demikian hanya menangis.


Asir, Wina dan Alisyah berangkat menuju rumah sakit, sedangkan Andri tinggal di rumah.


Para Art yang menerima kabar duka itu menangis, mereka begitu kasihan pada dua tuan yang selalu tersiksa.


🏵️


Prang... kaca yang ada di tangan Fi terjatuh begitu saja saat ia pegang.


”Kau baik-baik saja?” tanya Yudi


“Iya tuan.” Fi merasa hatinya tak tenang, meski ia tak tahu apa penyebabnya.


Ia yang resah menjadi tak fokus untuk belanja. “Tuan, ayo kita pindah ke baju anak-anak.” setelah membayar kaca yang ia pecahkan, Fi dan Yudi menuju pusat perbelanjaan baju anak-anak.


Untuk dua buah hatinya, Fi membeli bahu di atas 1 juta persetelnya.


Ia yang lama tak bertemu dua jagoannya sangat bersemangat membeli banyak baju.

__ADS_1


Yudi yang suka kedua anak Fi pun mengambil semua baju yang ada di gantungan toko itu.


“Tuan ini terlalu banyak,” ucap Fi.


“Tak apa, biar mereka pakai baju baru tiap hari," terang Yudi.


“Lihat-lihat ukurannya juga tuan, kalau begini beli rugi namanya, kalau kekecilan kan sayang.” Fi menyusun kembali baju yang Yudi ambil.


”Untuk anak ku nantikan bisa, kalau memang tak buat Emir atau Andri,” Yudi memberikan kode pada Fi.


“Memangnya nyonya lagi hamil tuan?” Fi yang tak tahu jika status majikannya kini duda malah mengira Suli sedang mengandung.


“Tidak,” jawab Yudi singkat.


“Maaf, kalau saya lancang bertanya tuan.” Fi jadi merasa bersalah, karena ia telah menyinggung perasaan tuannya.


“Tidak masalah, sudahlah ayo lanjut!” Yudi menjinjing semua belanjaan Fi.


“Tuan, saya saja.” Fi merasa sungkan karena telah banyak menyusahkan tuannya.


“Ayo jalan, kaukan baru sembuh, nanti tangan mu robek lagi.” untuk pertama kalinya, Yudi menemani seorang wanita belanja seharian, meski lelah, ia sangat senang, karena ia merasa kalau dirinya sedang kencan dengan Fi.


🏵️


Di rumah sakit, sang dokter menutup wajah Emir dengan kain putih.


“Mohon maaf pak, bu, pasien tidak tertolong, karena sebelumnya sudah meninggal di jalan,” terang sang dokter.


Wina sebagai pelaku tak langsung menangis histeris, ia seolah sangat berduka karena kepergian Emir.


“Maafkan tante karena tak bisa menjaga mu dengan baik sayang.” Wina memeluk jasad Emir, meski ia merinding takut, tapi terpaksa ia lakukan untuk menghilangkan jejak.


Asir selaku sang ayah hanya diam seribu bahasa, meski ia tak merasakan apapun atas kepergian anaknya, namun dirinya cukup syok, sebab sang anak bisa melakukan hal berbahaya, karena menurutnya hanya orang dewasa saja yang tahu cara bunuh diri ke arah sana.


Pada akhirnya keluarga Asir kembali ke rumah membawa Emir yang kini telah berpulang pada sang pencipta.


Andri yang melihat abangnya terbujur kaku tidur di atas ranjang kecil, serta di kelilingi banyak orang mulai menangis.


“Abang... abang...” ia terus memanggil Emir, namun Emir tak kunjung menyahut.


Semua orang berduka atas kepergian tuan kecil ituq, kecuali Wina dan Asir, mereka merasa biasa saja.


🏵️


Dewi yang baru selesai bekerja pulang ke kosannya.


“Kapan sih, aku dapat suami kaya? Sudah 3 bulan aku jadi Spg, tapi tak satu pun laki-laki yang mau memberi nomornya pada ku, pada hal aku sangat butuh.” Dewi mengoceh sendiri, ia merasa tak adil akan takdir Tuhan yang begitu pelik padanya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2