Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
Bab 105 (Demi Anak)


__ADS_3

“Astaga, tidak ada yang bisa di pakai,” Yudi menggerutu.


Pada hal koleksi baju yang ada dalam kemari menggunung.


“Aku harus pakai yang mana ya?” Yudi yang bingung bertanya pada Rian.


Menurut mu, kalau mau kencan bagusnya pakai baju apa, biar keren? ✉️ Yudi.


Rian yang ada di kamarnya tertawa cekikikan.


“Xixixi... memangnya tuan tak pernah kencan apa? Hal begini saja di tanya pada ku yang seorang supir.” Rian geleng-geleng kepala.


Sebab majikannya seperti kena budak cinta ala remaja yang baru puber.


Pakai yang menurut tuan bagus saja. ✉️ Rian.


Membaca balasan dari sang supir yang kurang memuaskan membuat Yudi mengirim pesan pada Denise.


Kalau kencan cocoknya pakai baju apa? ✉️ Yudi.


Pakai saja apa yang ada, baju robek juga terlihat mahal kalau kau yang kenakan. ✉️ Denise.


Okelah kalau begitu, terimaksih banyak. ✉️ Yudi


Berkat kata-kata positif dari sahabatnya, akhirnya Yudi memakai baju kaus oblong abu-abu dan juga celana training berwarna senada.


Setelah selesai ia pakai, Yudi pun menatap dirinya di kaca lemarinya.


“Hum... apa iya sudah keren? Tapi... kalau aku pakai baju kemeja, rasanya seperti mau melamar kerja.” Yudi tersenyum geli.


Setelah itu ia pun berangakat ke rumah Fi dengan menaiki sepeda.


Orang-orang yang melihatnya pun dapat menebak, kalau sang majikan ingin bertemu Fi, mantan art beruntung dari yang beruntung di dunia ini.


Dan gosip tentang Fi yang di beri rumah oleh Suli telah tersebar di kalangan art dan satpam.


Tidak ada satu pun yang tak merasa iri dan cemburu, dan yang paling penting, dalam hati mereka timbul rasa was-was akan mendapat ganjaran akan apa yang mereka perbuat selama ini.


Sesampainya Yudi di depan rumah Fi, ia pun melihat keadaan rumah indah itu begitu menyeramkan.


Sebab lampu hanya menyala di bagian teras saja.


“Gila sih, bisa jadi sarang hantu betulan ini.” tiba-tiba Yudi merasa merinding.


Ia yang tak mau calon istrinya di ganggu oleh lelembut, dengan cepat mengambil tindakan.


Hal pertama yang ia lakukan adalah menghubungi yayasan tempat ia mengambil jasa art.


Tolong, berikan aku kandidat terbaik kalian 15 orang, kirim secepatnya ke rumah ku. 📲 Yudi.


Setelah itu, Yudi mencari meteran listrik Fi, untuk mengisi token listrik calon istrinya yang irit.

__ADS_1


“Astaga... ini sih gelap banget.” Yudi berkeliling rumah di temani senter handphonenya.


Setelah bersusah payah, akhirnya ia menemukan meteran tersebut di area teras samping kanan rumah, tepatnya di dekat lahan yang banyak di tumbuhi oleh pohon pisang.


Yudi yang sedikit takut menelan salivanya yang teras berat.


Ia pun melihat nomor token yang di tulis di meteran listrik itu.


Yudi pun buru-buru mengisi token rumah calon istrinya sebanyak 5 juta dalam 5 kali pengisian melalui mbaking-nya.


Selesai memasukkan kode, dan sukses terisi, Yudi berlari dengan kencang, hingga ia yang tak hati-hati menabrak seseorang.


Bruk!!


“Akhh!!” Yudi berteriak kencang.


Namun tiba-tiba mulutnya terkunci, saat tahu yang ia tabrak adalah Fi.


“Tuan, apa yang terjadi?” tanya Fi seraya berdiri dari lantai.


“Um... tadi aku...” Yudi merasa gengsi kalau harus jujur. Apa lagi dirinya yang seorang pria berotot ketahuan takut dengan hantu.


“Tidak ada apa-apa.” hanya itu yang keluar dari mulut Yudi.


“Terus, kenapa tuan teriak?” tanya Fi lebih lanjut.


“Karena dada ku sakit saat bertabrakan dengan mu.” terang Yudi dengan penuh dusta.


“Tidak, karena tiba-tiba saja, maksud ku aku hanya terkejut.” Yudi bingung harus menjawab apa.


Aku bicara apa sih? batin Yudi.


“Ya sudah, ayo kita masuk tuan, aku punya balsam di dalam, nanti tuan oles saja dengan itu,” ucap Fi.


“Tidak usah, karena aku sudah baikan, kalau nanti masih sakit, pasti aku akam ke rumah sakit untuk ronsen.” Yudi tersenyum pada Fi yang wajahnya terlihat bingung.


Itu sih berlebihan, memangnya aku mobil kontainer apa? Baru ke senggol dikit langsung masuk rumah sakit, batin Fi.


“Ayo tuan, kita masuk ke dalam.” kemudian Fi dan Yudi pun masuk ke dalam rumah.


“Bu, Andri dimana?” tanya Fi, sebab sebelum ia keluar anaknya masih bermain.


“Sudah tidur, tadi ibu pindahkan ke kamar, oh ya... ibu juga sudah ngantuk.” Yuri menutup mulutnya yang menguap.


“Ta-tapi bu, ada tuan Yudi, masa ibu mau ke kamar.” Fi menjadi salah tingkah, karena ia yang telah tahu perasaan majikannya malu untuk di tinggal berdua.


“Maaf tuan, saya sudah ngantuk karena kecapean, apa tidak apa-apa kalau saya tinggal bersama Fi saja?” tanya Yuri.


“Tidak apa-apa bu, silahkan tidur saja.” Yudi merasa semangat karena di beri waktu untuk berdua saja dengan Fi.


“Itu, tuan saja tidak masalah kok.” kemudian Yuri beranjak ke kamarnya.

__ADS_1


Fi yang tak punya pilihan lain terpaksa menemani majikannya malam itu.


“Mau minum apa tuan?” sapa Fi dengan tersenyum kaku.”


“Teh manis hangat,” ucap Yudi.


“Baiklah, silahkan duduk dulu tuan, saya ke dapur dulu sebentar.”


“Iya, santai saja,” ucap Yudi.


Kemudian Fi menuju dapur. Sedangkan dirinya mencari stop kontak lampu.


Fi yang di dapur pun mengoceh sendiri. “Aku tahu tuan baik banget pada ku, tapi harus banget ya, mendekati ku seintens itu? Tuan tidak tahu apa? Kalau aku butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku yang masih terluka, ya... itu juga kalau dia memang mau terus dekat pada ku.”


Setelah meluapkan isi hatinya, Fi menyesal dengan apa yang ia ucapkan.


“Aku jahat banget sih, pada hal dia sudah menyayangi anak ku, sejak pertama kali bertemu, dan Andri juga nyaman dengannya, apa yang ku pikirkan sebenarnya? Bukankah Andri adalah prioritas ku?!”


Fi merasa dirinya benar-benar jahat pada Yudi yang telah baik pada keluarganya


“Jika tuan mampu mengisi tempat kosong yang ada di dalam hati Andri, kenapa aku harus menolaknya kalau ingin dekat dengan ku?” Fi menundukkan kepalanya.


“Yang ganteng banyak, yang tulus baru susah di temukan.” Fi yang telah selesai membuat teh manis hangat membawa kue kering sebagai temannya.


Ia yang baru keluar dari dapur, melihat seluruh ruangan terang benderang.


“Tuan yang nyalakan?” suara lembut Fi membuat Yudi menoleh ke sumber suara yang ada di belakangnya.


“Iya, lebih indah begini,” ujar Yudi.


“Ya, tuan benar.” Fi mengangguk setuju.


Kemudian Fi dan Yudi di atas sofa, dengan berhadapan.


“Fi, aku sudah mengatur jadwal kau kerja.”


“Kapan tuan?” tanya Fi penasaran.


“Setelah kasus Emir selesai,” jawab Yudi.


“Baik tuan terimakasih banyak.” kebaikan Yudi membuat Fi makin kuat untuk menerima pria itu, jika dirinya di lamar.


Kalau menikah aku mau, kalau tuan maunya pacaran, maaf saja, aku menolak, batin Fi.


“Ayo di makan tuan.” ujar Fi dengan senyuman yang bersahabat.


“Terimaksih banyak,” ucap Yudi.


Lalu Fi pun menatap lekat wajah Yudi saat menyeruput teh buatannya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2