
“Teri, aku tak ingin kalau Asir bebas, sudah jelas aku akan tersiksa lagi olehnya.” Alisyah mengatakan semua isi hatinya pada Teri.
“Iya bu, saya mengerti, saya mendukung apapun keputusan ibu.” Teri menganggukkan kepalanya.
🏵️
Yudi yang ada di ruangannya menatap photo Fi yang ada di handphonenya.
“Cantik banget,” gumamnya.
Lalu ia pun mengingat momen saat ia tidur bersama Fi tadi malam.
“Untung dia tak marah pada ku, Akh! Benar-benar parah si Al, apa pergaulannya sudah sejauh itu di luar negeri? Pada hal dia di didik keras oleh om.” Yudi tak mengerti kenapa adiknya anak seorang yang agamis malah bisa salah jalan.
“Tapi kira-kira, Fi menerima ku enggak ya sebagai suaminya?” Yudi merasa ragu, sebab makin hari Fi semakin jutek.
Pria sepertinya tak tahu, janda seperti Fi sangat rentan kena gosip apabila ada orang lain yang mendekatinya.
Yudi juga tak mengerti, Fi hanya ingin menjaga harkat martabatnya. Karena di mata pria nakal, dirinya adalah gampangan apabila bersikap ramah.
“Kalau dia setuju, akan ku bawa papa dan mama untuk melamarnya.” Yudi yang ingin lepas dari dosa zina mata, ingin segera mengakhiri masa lajangnya.
Saat ia masih di lema, Denise datang ke ruangannya.
“Ini, divisi marketing meminta tanda tangan mu.” Denise meletakkan map coklat di meja Yudi.
“Oke. Ngomong-ngomong, apa kau sudah makan?” Yudi yang ingin curhat mengajak Denise makan siang.
“Apa sudah siang?” tanya Denise kembali.
“Sebentar lagi Denise.” kemudian Yudi menatap wajah Denise. “Kenapa akhir-akhir ini wajah mu pucat, dan mata mu juga sembab? Apa kau nonton drama Korea sampai pagi?” perhatian Yudi membuat Denise berbunga-bunga.
Ia lupa jika sapaan itu hanya ucapan biasa untuk Yudi.
“Tidak, aku hanya larut membaca novel.” Denise memilih berbohong, sebab jujur belum tentu bisa menyatukan mereka.
“Kau baca novel?” seorang Denise yang tak suka membaca buku sejak mereka sekolah membuat Yudi tersenyum geli.
“Iya, dan harusnya kau baca novel keren itu.” terang Denise dengan menyelipkan senyum di bibirnya.
“Apa yang membuat mu suka pada novel itu?” tanya Yudi dengan asal.
“Aku suka bagian Mei, yang melepas Riski demi Yalisa, dan berjuang untuk mendapat pengakuan Leo, yang mencintai Yalisa.” terang Denise dengan tersenyum penuh makna.
“Lalu? Apa Mei mendapatkan Leo seutuhnya?” tanya Yudi lebih lanjut.
__ADS_1
“Kalau kau penasaran, baca saja novel Save Yalisa, meski tokoh utamanya adalah Yalisa, namun yang paling membuat ku terkesan adalah Mei, cintanya yang tulus tidak ada duanya.”
Denise berharap, novel itu bisa menyampaikan perasaannya secara tak langsung pada Yudi.
“Baiklah, akan ku baca kalau aku senggang, tapi kau perlu baca novel Jangan Salahkan Takdir, karena...”
“Aku suka bagian Arinda di bab akhirnya, ternyata cintanya tulus pada Andri, meski cara memilikinya salah.” jawaban Denise membuat Yudi bungkam.
“Hah? Kau pecinta tokoh antagonis juga ya?!” ucap Yudi.
“Ya, itu hanya kebetulan. Baiklah, aku pergi dulu.” Denise pun keluar dari ruangan Yudi.
“Apa cintanya bertepuk sebelah tangan?” yang Yudi tak ketahui, dirinyalah tokoh pria yang di maksud oleh Denise.
Denise yang ada di luar ruangan menatap lekat photonya dengan Yudi.
“Tugas ku adalah mencintai mu, jika kau tak ada hati pada ku, itu urusan mu.” kemudian Denise menutup layar handphonenya, selanjutnya ia pun mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai.
🏵️
Yuri yang baru turun dari ojek online berdiri tepat di gerbang rumah Yudi.
Saat ia akan meminta di bukakan pagar, Fi memanggil dengan keras.
“Ibu! Sini!!!” Fi melambaikan tangannya.
Lalu Fi mendatangi ibunya, dan menggandeng tangan ibunya.
“Ini memang rumah tuan, tapi yang itu.” Fi menunjuk ke arah rumah baru mereka.
“Adalah rumah kita!!” ucap Fi dengan antusias.
“Yang benar Fi??!!!” Yuri menggenggam kedua tangan putrinya.
“Iya bu! Itu dari nyonya Suli, hasil royalti karya ku!!!” Fi berteriak karena senang.
“Alhamdulillah Fi, ibu senang!” kemudian keduanya menuju rumah mewah yang di berikan oleh Yudi.
Yuri yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di granit teras anaknya gemetaran.
“Fi, rumah mu bagus nak!” suara bergetar Yuri terdengar jelas oleh Fi.
“Ini rumah kita bu. Alhamdulillah, aku beruntung sekali bu bertemu dengan tuan dan nyonya, andai aku tak kenal mereka, mungkin kita masih hidup susah bu.” Fi dan Yuri sama-sama menangis haru.
Andri yang melihat hal itu geleng-geleng kepala.
__ADS_1
“Untung tante Dewi dan Wina enggak tinggal disini, bisa-bisa kena pukul mama dan nenek.” Andri mengelus dada.
“Tapi Fi, itu artinya pengeluaran lagi dong.” Yuri menggaruk kepalanya.
“Ibu benar juga, tapi pak Yudi memaksa ku untuk menempati rumah ini.” ucap Fi dengan menggaruk kepalanya.
“Berarti kita harus kerja ekstra untuk membersihkan rumah ini, Fi.” Yuri melihat dari sudut ke sudut rumah mewah itu.
“Listriknya pasti boros bu, tapi kalau lampu tak di nyalakan, pasti rumah ini terlihat seram, hufff...” Fi menghela napas panjang.
“Ternyata sesuatu yang berlebihan itu tak baik.” Yuri memijat pelipisnya yang terasa sakit.
“Apa kita jual saja ya bu? Terus kita pindah ke rumah yang lebih kecil, agar tak perlu repot menggaji art banyak-banyak.” Fi mengatakan idenya.
“Ibu sih setuju saja, tapi tuan Yudi kira-kira marah enggak?” Yuri takut jika orang baik itu tersinggung pada mereka.
“Ibu benar juga, tadi saja pas ku tolak, dia ngotot untuk aku terima, hufff... tuan benar-benar tak berpikir kalau kita tak cocok dengan rumah megah ini, apa lagi hanya ada kita bertiga.” Fi menatap nanar rumah indah itu.
“Ya sudahlah, coba nanti kita bicarakan pada tuan Yudi," ujar Yuri.
“Iya aku setuju. Tapi... andaikan ada Emir, pasti lebih seru ya bu.” Fi membayangkan putra sulungnya sedang bersama dengan mereka.
“Fi, jangan di ingat-ingat lagi, ikhlaskan nak.” Yuri memeluk Fi yang akan menangis.
“Maaf bu, aku selalu lemah kalau ingat Emir bu.” suara Fi bergetar karena menahan tangis.
“Ibu mengerti nak, tapi berlarut-larut pun tak baik, semua yang telah terjadi adalah kehendak Ilahi.” kemudian Yuri melepas pelukannya.
“Tegarkan dirimu Fi, kau masih punya Andri, dia sangat butuh kasih sayang mu, untuk Emir, dia hanya butuh do'a dari kita, semoga segala kesalahan yang ia perbuat mendapat maaf dari sang pencipta.” Yuri memberi pengertian pada putri sambungnya.
“Ibu benar. Oh ya bu, nanti setelah tuan pulang kerja, kita mau ke makam Emir bu.” Fi memberitahu rencananya dan Yudi.
“Iya nak, nanti kita kesana.” setelah itu, mereka bertiga mulai berkeliling area rumah.
🏵️
Asir yang di temui oleh Hitman harus menelan pil pahit.
Saat ibu dan para Artnya tak mau membantunya.
“Ibu ku juga tak bersedia?” mata Asir memerah menahan emosinya yang akan meledak.
“Iya, pada hal saya sudah memohon, tapi mereka angkat tangan, maaf pak Asir, tepaksa kita hadapi sendiri masalah ini, saya dan tim akan berjuang untuk menyelamatkan bapak dari jerat hukum yang bisa saja mengurung bapak seumur hidup di penjara.”
Penuturan Hitman membuat Asir ingin gila. “Andai ini bukan penjara, pasti sudah ku habisi siapapun yang ada di hadapan ku!” Asir mendengus kesal.
__ADS_1
...Bersambung......