
Fi terus mengelus hidungnya karena grogi, sebab Yudi yang memakai jas warna netral nampak awet muda di mata Fi.
“Hem! Hem...” Fi mengelus tengkuknya, ia benar-benar tak bisa menatap mata Yudi yang begitu indah.
“Bagaimana?” tanya Yudi seraya merapikan dasinya.
”Bagus.” jawab Fi dengan menatap ke arah yang tak jelas.
“Apa aku harus pilih ini?” ucap Yudi yang kini berdiri di hadapan Fi.
“Iya, aku suka jasnya, cocok untuk abang.” Fi menatap sekilas wajah Yudi. kemudian itu Yudi menggenggam tangan Fi.
Deg!
Jantung Fi berdetak dengan kencang, saat tangannya di tuntun oleh Yudi menuju tempat pemotretan.
“Siap ya.” tukang photo toko memberi aba-aba pada keduanya.
Cekrek!
Cekrek!
Dalam sesi photo keduanya 2 kali mengganti baju.
Yudi dan Fi membuat beberapa pose, pertama berdiri tegap seraya berpegangan tangan, kedua tanpa berpegangan tangan, ketiga menutup kedua wajah mereka dengan bunga.
Setelah selesai, Fi dan Yudi sama-sama keringat dingin.
Keduanya pun masuk ke ruang ganti tanpa sepatah kata pun.
5 menit kemudian Fi dan Yudi bertemu di kasir.
Wajah merona keduanya nampak jelas di lihat oleh siapa saja.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Fi dan Yudi keluar dari toko kemudian masuk ke dalam mobil.
“Kita makan dulu yuk sebelum pulang.” Yudi mengajak calon istrinya untuk mengisi perut terlebih dahulu.
“Boleh Bang.” jawab Fi dengan napas tak beraturan.
“Kau kenapa?” tanya Yudi dengan terus menatap wajah Fi.
“Bang, jangan di lihat terus dong, aku malu tahu!” Fi yang salah tingkah menutup wajahnya.
Yudi yang gemas langsung mengusap puncak kepala Fi.
“Astaga... kau makin cantik kalau begini.” Yudi yang tak tahu harus melakukan apa pada Fi langsung menarik rambut kuncir calon istrinya.
“Aaa!! Abang!” Fi memelototi calon suaminya.
“Habis di cium enggak boleh, apa lagi di peluk!” Yudi mencubit kedua pipi calon istrinya.
“Tunggu beberapa hari lagikan bang.” ucap Fi.
“Oke-oke, baiklah.” setelah interaksi manis itu, Fi dan Yudi pun pulang ke rumah.
2 hari kemudian, pelaksanaan pernikahan antara Yudi Hirarki dan Fi Saeadat pun akan di laksanakan akad nikah pada pukul 10:00 di stadion internasional ibu kota
Meski itu pernikahan kedua bagi mereka, namun tak mengurangi kemeriahan yang ada.
Banyak tamu undangan dari berbagai kalangan yang datang.
Dan pernikahan kedua insan yang di tinggal pasangan masing-masing di masa lalu itu mendapat restu dari orang yang menghadiri acara pernikahan mereka.
Fi yang telah cantik di balut gaun indah menjadikan aura mahalnya terpancar.
Ia yang duduk di kursi pengantin di dampingi oleh Yudi dengan setelan serba hitam.
Fi yang tak memiliki sosok seorang ayah, di nikahkan oleh wali hakim.
“Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan engkau Yudistira Hirarki bin Philip Hirarki dengan Fi Saeadat binti Husein dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 50.000 di bayar tunai.
“Saya terima nikah dan kawinnya Fi Saeadat binti Husein dengan maskawin tersebut tunai.” Yudi yang lancar mengucapkan ijab kabul membuat Fi menoleh ke arahnya.
“Bagaiman saksi, sah?!!” ucap wali hakim.
“Sah!!!” sahut seluruh tamu undangan.
Selanjutnya pak ustad yang duduk di sebelah pak wali hakim memimpin do'a untuk kelanggengan rumah tangga Fi dan Yudi.
Setelah itu, Fi mencium punggung tangan suaminya. Kemudian Yudi mengecup kening Fi, namun sebelum itu, ia mengucap Basmalah.
“Bismillahirrahmanirrahim.”
Cup!
Satu kecupan mendarat di umbun-umbun Fi.
__ADS_1
Cup!
Kecupan kedua mendarat di kening Fi yang kini jadi istrinya.
Orang-orang yang pernah berbuat jahat pada Fi langsung kena mental, mereka tak mampu melihat mata indah si cantik yang begitu menyilaukan bagi mereka.
Suli yang masih mengikuti Instakram Yudi pun melihat, jika mantan suaminya menikah dengan mantan artnya.
“Selamat berbahagia.” Suli memberi ucapan seraya meneguk kembali minuman keras favoritnya.
Ia yang kini sakit liver serta penyakit komplikasi lainnya di tinggalkan oleh sang kekasih.
Uang yang ia cari selama ini juga terkuras untuk biaya pengobatannya.
“Aku menyesal karena meninggalkan mu Yudis, andai waktu bisa di putar, aku pasti menjaga cinta kita.” Suli menyesal atas keputusannya yang salah selama ini.
🏵️
Pada malam harinya, Fi yang sekarang tinggal di rumah Yudi merasa deg degan.
Sebab mereka kini telah berada dalam satu kamar yang sama.
Ranjang yang di hiasi penuh dengan bunga mawar merah membuat Fi makin sesak napas.
Krieett...!!
Yudi yang baru selesai mandi keluar dengan memakai handuk di pinggangnya.
Fi yang baru pertama kali melihat secara langsung tubuh atletis mantan majikannya merasa ingin pingsan.
“Ada apa?” tanya Yudi, sebab istrinya terlihat tegang dan syok, mirip orang yang baru melihat hantu.
“Enggak apa-apa bang, hehehe...” Fi tertawa canggung.
Pada hal aku sudah pernah melakukan yang beginian, kenapa dengan bang Yudi deg degannya parah banget, batin Fi.
Yudi yang membuka lemari merasa bingung, harus memakai baju atau tidak.
Nanti jugakan bajunya akan di buka, batin Yudi.
Deg deg deg!
Yudi yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jadi salah tingkah.
Tangannya yang sibuk memegang baju, tak tahu harus mengambil yang mana. Sampai ia memutar tubuhnya secara tiba-tiba.
“Fi!”
“Aku harus pakai baju atau tidak?” tanya Yudi.
Astaga, aku bilang apa sih?! Aku kan pemimpin keluarga, harusnya kalau mau, ya tinggal main, batin Yudi.
Mendapat pertanyaan tak wajar dari suaminya Fi tak tahu harus jawab apa.
“Ya-ya terserah abang,” jawab Fi dengan kikuk.
“Ya sudah kalau begitu.” Yudi pun mendekat ke Fi yang berdiri di sebelah ranjang tanpa memakai baju.
Ya Tuhan, aku harus apa dulu ya? Batin Yudi.
Yudi yang bingung harus berbuat apa, dengan deg degan penuh menyentuh tangan Fi.
“Aku cium ya istri ku.” Yudi meminta izin pada Fi.
“Iya bang.” sahut Fi.
Kemudian Yudi pun mengecup kening istrinya yang jelita.
Fi yang menerima ciuman dari suaminya senyum-senyum tak menentu. Ia merasa bahagia, setelah sekian lama di abaikan mantan suaminya, kini di ganti dengan seorang yang baik hatinya.
“Kenapa? Apa ada yang lucu?” Yudi menggenggam kedua tangan istrinya.
“Tidak, abang terlalu manis, aku jadi suka bang.” Fi memeluk tubuh suaminya.
“Kalau suka, cium dong!” Yudi menunjuk ke arah bibirnya.
Fi yang ingin memberi apresiasi untuk suaminya pun langsung berjinjit.
Cup!
“Aku cinta abang.” Fi mengatakan isi hatinya.
“Aku juga.” kemudian Yudi pun menggendong Fi ala bridal style menuju ranjang.
“Kita mau ngapain bang?” Fi mengajak suaminya bercanda.
“Perkenalan lahir batin,” ucap Yudi.
Setelah sampai di atas ranjang. Yudi mengecup setiap inci wajah istrinya.
__ADS_1
Hasrat Yudi yang makin membara membuatnya ingin segera melahap istrinya.
Dengan segera jemarinya yang lentik melucuti pakaian yang membalut tubuh langsing istrinya.
Hingga akhirnya ia melihat benda-benda berharga milik istrinya yang indah.
Ketika Yudi ingin menancapkan tanda cintanya pada Fi.
Fi yang jahil pun berkata dengan wajah serius.
“Bang, aku lagi datang bulan loh!”
Sontak tangan Yudi yang ingin menurunkan kacamata segitiga istrinya berhenti.
“Yah, enggak jadi dong.” wajah Yudi nampak lemas mengatakannya.
”Tapi bohong, ehehehe...” Fi yang biasa berduka kini selalu ceria.
“Awas kau ya!” Yudi yang bersemangat mencampuri istirnya dengan penuh kelembutan.
“Jadilah teman hidup ku sampai tua bang.” ucap Fi seraya memeluk suaminya.
“Iya, akan ku lakukan, meski kau tak minta,” ucap Yudi.
🏵️
15 tahun kemudian. Yudi dan Fi telah memiliki 2 anak, di tambah Andri menjadi 3, kehidupan mereka begitu bahagia.
Andri sebagai abang tertua selalu menjaga dan menyayangi adik-adiknya dengan baik.
“Ma, aku pergi dulu ya.” Andri pamit untuk berangkat kuliah.
“Iya, hati-hati nak.” ucap Fi.
Setelah menjabat tangan ibunya, Andri berangkat menuju kampus menggunakan motor.
Sesampainya ia di gerbang kampus, Andri melihat seorang bapak tua yang sedang duduk di sebelah gerbang kampusnya seraya memegang gelas plastik air mineral.
Andri yang iba pun turun dari motornya, dan mendatangi bapak pengemis itu.
“Ini untuk mu pak.” Andri memberi uang senilai 200.000 rupiah.
“Terimakasih banyak nak.” saat pengemis itu menoleh. Andri tersentak, sebab ia tahu, pengemis itu adalah ayahnya.
“Pak Asir?” tanya Andri memastikan.
“Darimana kau tahu nama ku?” Asir tak tahu jika Andri putranya yang ia buat bibirnya mencong ke kiri dulu.
“Aku Andri pa,” ucap Andri.
“Andri?” melihat putranya yang kini tinggi besar, membuat Asir menangis histeris.
Sekarang ia tahu, gunanya anak untuk apa jika ia telah tua.
“Maafkan papa nak.” Asir yang malu, akan dirinya yang sekarang dan juga masa lalu yang ia lalukan dulu pun Asir bangkit dari duduknya.
“Maaf kalau papa ada disini, papa akan pergi.” Asir yang sadar diri tak ingin membuat anaknya terbebani.
Sebenarnya Andri terluka melihat kondisi ayahnya yang sekarang, namun apa boleh buat, ia tak dapat menerima ayahnya di kehidupannya lagi.
Asir yang kini jalannya bungkuk dan bertubuh kurus di kejar oleh Andri.
“Papa!”
“Maaf, maaf, maaf, saya salah, saya salah.” Asir yang kini lemah takut pada putranya sendiri.
“Ini.” Andri memberi kartu debitnya pada Asir.
“Di dalam ada 150 juta, gunakan dengan baik.” setelah itu Andri pergi tanpa mendengar kata terimakasih dari ayahnya.
Asir yang mendapat balasan baik dari anak yang ia sakiti menangis histeris.
“Aku menyesal, ku akui, aku menyesal, hiks...” Asir pun meninggalkan universitas putranya.
Asir yang ingin bebas lebih cepat menyogok para petinggi yang berkuasa.
Hingga seluruh hartanya habis tak tersisa, Alisyah yang kini tinggal di panti jompo, tak bisa di temukan oleh Asir.
Sebab ia tak tahu, ibunya ada di panti jompo yang mana.
Saat ia sedang berhenti di lampu merah, tanpa sengaja ia melihat Fi, Yudi beserta dua anak perempuan yang cantik dalam mobil yang kacanya terbuka.
Mantan istrinya masih cantik dan juga segar membuatnya makin bersedih karena telah meninggalkannya.
Fi yang dulu selalu bersedih dan menangis, kini penuh tawa di bibirnya.
Asir pun menundukkan kepalanya karena takut di lihat oleh mantan istrinya.
Aku hanya bisa berandai-andai untuk waktu yang telah berlalu, batin Asir.
__ADS_1
...TAMAT....