Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
38 (Apes)


__ADS_3

Fi yang masih anak baru tak ingin membuat masalah pada seniornya, apa lagi itu adalah kepala Art. Jika salah sedikit dirinya bisa di pecat.


“Maafkan saya kak, saya salah.” Fi menundukkan kepalanya.


Karena Fi telah meminta maaf padanya, Rila merasa hatinya sedikit terobati.


“Baiklah, aku akan memeriksa hasil kinerja mu, kalau masih ada yang kotor, jangan sakit hati ya, kalau aku suruh bersihkan ulang,” ucap Rila.


“Baik kak. Tapi kak, apa saya boleh untuk makan siang selagi kakak memeriksa kamar tuan?” Fi tak dapat lagi menahan rasa keroncongan di perutnya.


“Nanti saja makannya, setelah aku periksa.” Rila tak mengizinkan Fi untuk meniggalkan tempat karena ia malas untuk memanggil wanita malang itu bulak balik.


“Baiklah kak.” Fi yang tak ingin jadi musuh kepala Art hanya menurut dengan apa yang seniornya perintahkan.


Setelah itu, Rila masuk ke dalam kamar tuannya, mencek satu persatu apa yang ada dalam kamar majikannya. Hal itu pun memakan waktu hingga 1 jam lamanya.


Fi yang merasa lelah, haus dan lapar, duduk di atas lantai granit koridor kamar tuannya.


Hingga 15 menit kemudian, Rila keluar dari dalam kamar.


“Hei, kenapa kau duduk di lantai?” Rila menegur Fi yang menurutnya salah.


Sontak Fi bangkit dari duduknya dengan tubuh yang lemas.


“Maaf kak, habis saya lapar sekali,” ucap Fi.


“Aku tahu kau lapar, tapi tugas tetap nomor satu dong, gaji mu kan besar, jadi harus sesuai juga dengan kinerja mu,” ucap Rila.


“Iya, kakak benar.” sikap patuh Fi malah di salah artikan oleh Rila.


Ehm, dasar wanita tua bodoh, dia iya-iya saja dengan apa yang ku katakan, batin Rila.


“Ruang office juga sudah selesaikan?”


“Apa kak?” Fi tak tahu jika ruangan itu juga harus sudah selesai pada siang hari.


”Wah-wah! Apa ini? Bukankah sudah ku katakan tenggang waktunya? Kau masih bersyukur loh, ku periksa yang paling akhir.”


“Saya pikir hanya kamar kak yang sampai siang,” ucap Fi.


“Oke, karena kau anak baru, maka aku maafkan, tapi besok-besok, sebelum jam 13:00 siang, kau harus sudah selesai kamar dan office, apa kau mengerti?” Rila memberi kelonggaran pada Fi.

__ADS_1


“Baik kak, saya mengerti.” ucap Fi.


“Oke, sekarang lanjutkan ke ruang office dulu, setelah itu baru makan.”


Fi yang sangat lapar mencoba untuk bernegosiasi.


“Kak, apa aku tak bisa makan dulu? Aku benar-benar lapar kak.” Fi sangat berharap kebaikan hati Rila.


”Tidak bisa, jangan sampai aku memberi mu kartu kuning, apa kau tahu, tuan besar Yudi mempercayakan seluruh isi rumah dan karyawan pada ku? Untuk memecat mu, itu sangat mudah bagi ku, jadi jangan buat aku marah karena ulah mu, lagi pula, kau itu tak layak kerja disini sebenarnya, aku heran kenapa tuan menerima mu, pada hal kau juga lihat pakai mata mu, semua Art dan satpam penampilannya good looking, no bopeng, no burik!” ternyata Rila sama dengan orang lain yang tak menyukai Fi. Yaitu merasa jijik itulah yang Rila rasakan.


Fi hanya diam menerima hinaan dari seniornya, sebab apa di kata, kalau ia mengikuti emosinya, semua cita-cita yang ia impikan akan sirna dalam sekejap.


Dan dunia tak seindah yang di katakan orang lain padanya, sebab meski ia memiliki bakat dan kecerdasan otak, namun semua itu tak berguna, karena fisiknya yang tak menjual.


“Harusnya kau sadar diri dan lebih bekerja keras, dan kalau aku jadi kau, aku pasti melapisi tangan ku dengan sarung tangan karet, karena apa? Sudah jelas, karena tangan mu kotor sekali, tolonglah, jangan sebar bakteri di sekitar mu yang telah higenis. Sekarang masuk ke office, setelah itu baru boleh makan.” titah yang di beri Rila tak di bantah lagi oleh Fi.


Ia dengan perut meraung-raung karena lapar masuk ke dalam ruang office majikannya.


“Dasar orang tua, harusnya sadar diri itu di perbanyak!” Rila mengoceh seraya meninggalkan area kamar tuannya.


_______________________________________


Apa benar, dia suaminya bu Fi? hati Yudi tak hentinya bertanya-tanya.


Kalau itu benar, berarti bu Fi selama ini mendapat tindak kekerasan dari pak Asir, batin Yudi.


”Sekian presentasi dari saya, semoga dapat di pahami, kalau masih ada yang kurang jelas, silahkan bertanya.” ucap Asir yang telah selesai menerangkan isi kerja sama mereka melalui power points.


Karena tak ada yang bertanya, meeting hari itu pun di selesai.


Kemudian satu persatu karyawan membubarkan diri, Yudi yang penasaran akan Fi bertanya pada Asir langsung.


“Pak Asir, bagaimana kabar istri mu sekarang?”


Pertanyaan tanpa basa-basi dari Yudi membuat Asir merasa aneh.


“Mantan istri ku, bersama suami barunya pak, untuk apa bapak menanyakannya?” tanya Asir kembali.


“Tidak apa-apa, oh ya... apa boleh saya berkunjung ke rumah bapak? Karena saya ingin bertemu si kecil Emir dan Andri.” Yudi yang suka pada kedua anak Asir merasa rindu untuk bertemu.


“Boleh saja pak, silahkan datang ke rumah saya, kapan pun bapak mau.” Asir yang ingin makin dekat dengan Yudi, menggunakan anak-anaknya sebagai jembatan menuju kesuksesan perusahaannya.

__ADS_1


“Baiklah, kalau aku senggang, aku akan datang ke rumah mu pak,” ujar Yudi.


“Saya tunggu.” setelah saling bersalaman, Asir meninggalkan perusahaan Yudi.


Yudi yang lelah pun kembali ke ruangannya. “Apa kabar Suli hari ini? Kenapa dia tak menelepon ku?”


Ia yang gundah tiba-tiba mendapat pemberitahuan pesan dari aplikasi si hijau.


Tididing!!


Dengan cepat Yudi membuka pola handphonenya. “Pak Doha?” gumam Yudi.


“Ini pasti soal si cantik.” Yudi pun membuka pesan dari dosennya tersebut.


Maksud mu, si cantik Fi Saeadat? ✉️ Doha.


Deg!


Jantung Yudi berdetak kencang, ia tak percaya, gadis super cantik yang pernah ia impikan jadi kekasih ada di rumahnya dengan keadaan buruk rupa.


“Kalau benar itu dirimu, sungguh malang nasib mu.” Yudi melihat kembali photo profile si hijau milik Fi.


_____________________________________________


Pukul 16:00 sore, Dewi yang ingin pergi ke rumah Alisyah berniat memakai kalung berlian indah milik kakaknya.


Drakkk!!


Ia pun membuka laci meja rias milik Fi yang kini jadi miliknya.


“Hem?? Dimana kalung ku?” Dewi sibuk menggeledah seluruh kotak perhiasan dan juga isi laci, namun ia tak menemukan kalung indah itu dimana pun.


“Sialan! Kok bisa hilang?” Dewi yang ingin segera menangkap pelakunya langsung melihat rekaman cctv pada hari itu di mulai pada pukul 00:00 lewat handphonenya.


“Awas saja, ku gorok leher orang yang berani mencuri kalung berharga ku.” Dewi terus melihat isi rekaman cctv dengan sangat fokus, hingga ia mendapati, Surti sang pengasuh keponakannya, masuk ke dalam kamarnya setelah ia pergi perawatan.


“Setan! Beraninya wanita tua itu mencuri kalung ku!” sang Dewi pun murka, sebab kalung berlian yang di bawa oleh Surti harganya mencapai 300 juta.


“Enak banget dia! Gajinya hanya 4 juta, tapi berani mencuri berlian yang harganya ratusan juta, kurang ajar!


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2