
Rasa melilit dan nyeri di perut Dewi kian lama semakin parah.
“Akh! Sakit!!” Dewi yang kesakitan memeluk perutnya dengan kedua tangannya, ia pun meringkuk, ia pun merasa kalau pinggangnya mau patah.
“Sakit! Ibu... sakit...” keringat Dewi bercucuran dengan deras, ia yang keras kepala pantang terlihat lemah, kali itu meraung-raung dalam sakit yang luar biasa.
Tubuhnya pun berguling ke kiri dan ke kanan, nafas Dewi memburu tak beraturan.
“Hiks... tolong, sakit... Ya Tuhan... ampun...” ia yang tak sekamar dengan Clara tak bisa meminta tolong.
“Aku mau ke rumah sakit saja kalau begini, bangsat ini terlalu sakit, hiks...!! Sudah... hentikan Tuhan, sakit banget!” dalam penderitaannya, tiba-tiba ia ingin buang air besar.
“Clara...” suaranya yang redup tak bisa membangunkan Clara yang tidur di sebelah kamarnya.
Saat ia ingin menelepon, sayangnya handphonenya tertinggal di ruang tamu.
Mau tak mau, Dewi berusaha sendiri untuk ke kamar mandi.
Ia pun perlahan turun dari ranjangnya, dengan tubuh yang membungkuk, seraya tangan menekan perutnya yang terasa sakit.
Dewi yang menderita, merasa kamar mandi yang ada di hadapannya begitu jauh.
Ceklek!
Dewi pun membuka handle pintu, lalu duduk di toilet duduk dengan cepat.
Sruuuttt!!!
Tiba-tiba ia mengeluarkan darah yang banyak dari alat vitalnya.
“Hoek!” seketika Dewi muntah, saat ia mencium aroma busuk darahnya sendiri.
“Akhhhh!!” perut Dewi yang terasa mulas membuat ia semakin tersiksa.
4 jam kemudian, Dewi yang sudah merasa lebih baik, menekan flus pada kloset duduk yang ia pakai.
Ia yang ingin ke ranjang pun tak mampu bangkit, sebab tubuhnya terasa lemas dan tak berdaya.
“Aku sudah melalui hal mengerikan ini, kalau aku tak bisa mendapatkan hartanya, akan ku bunuh dia!” akhirnya malam itu Dewi tidur di kamar mandi.
🏵️
Fi yang telah berada di depan kamar Yudi mengutuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.
Tok tok!
“Masuk!” sahut Yudi dari dalam kamarnya.
Krieettt...
Fi membuka pintu kamar tuannya dengan pelan.
“Sudah mau kerja ya?” sapa Yudi.
“Iya tuan. Oh ya... nyonya mana tuan?” tanya Fi, sebab ia tak melihat Suli dimana pun.
__ADS_1
“Dia sudah kembali tadi malam,” ucap Yudi dengan raut wajah sedih.
“Apa?” Fi merasa tertipu akan semua janji manis sang nyonya.
”Jangann takut, dia sudah menyerahkan segalanya pada ku, Jumat sore, kita akan ke Korea untuk mengoperasi total wajah dan tubuh mu,” terang Yudi.
“Huff...” Fi menghela nafas panjang, sebab ia pikir sang nyonya akan ingkar janji padanya.
“Dia selalu tepat janji orangnya,” ujar Yudi.
Meski tidak untuk ku, batin Yudi.
“Terimakasih banyak tuan.” Fi sangat senang, sebab sebentar lagi ia akan seperti dulu lagi.
“Ya sudah, lanjutkan kerja mu, aku ingin pergi bekerja dulu,” ucap Yudi.
“Baik tuan,” sahut Fi.
Setelah berpamitan pada Fi, Yudi pun berangkat menuju kantor.
🏵️
“Wi, Dewi!”
Tok tok tok!
Clara mengetuk pintu kamar Dewi. “Apa dia baik-baik saja?”
Seketika Clara menjadi khawatir, ia takut kalau Dewi meninggal dunia.
Setelah ia mendapatkannya, ia pun membuka pintu kamar tersebut.
Ceklek!
“Wi!!!” Clara mencari Dewi ke semua tempat termasuk kamar mandi.
“Dewi!!!”
Matanya membelalak sempurna, saat melihat sahabatnya duduk di atas toilet duduk tak berdaya.
“Wi!! Hiks!!” Clara menepuk-nepuk wajah Dewi yang pucat pasif.
“Hei sialan! Kenapa kau menangis? Aku masih hidup tahu!”
“Syukurlah.” Clara memeluk Dewi.
“Apa ini sudah pagi?” tanya Dewi dengan suara redup.
“Iya, kenapa kau tak bangunkan aku tadi malam? Akukan bisa menemani mu Wi,” tanya Clara.
“Aku tak sanggup kalau harus berteriak, dan handphone ku ada di ruang tamu,” ucap Dewi.
“Ya sudah kalau begitu, sekarang kita ke rumah sakit ya.” Clara ingin Dewi cepat pulih, sebab om Toninya akan pulang hari itu.
“Tidak, aku takut Cla, tadi malam saja ku pikir aku akan mati saking sakitnya.” Dewi pun menceritakan apa yang ia rasakan.
__ADS_1
“Tak bisa begitu, kau harus di kuret, mana tahu di dalam belum bersih, ini demi kesehatan mu loh! Jangan sampai kau kena penyakit karena ini, nanti bukannya dapat harta si Asir, kau malah jadi gelandangan lagi.” Clara memberitahu Dewi bahaya kedepannya bila tak membersihkan dengan cepat.
“Aku tak mau ke rumah sakit, ke klinik saja.” Dewi yang pelit takut kalau uangnya akan habis banyak jika pergi ke rumah sakit.
“Hei, biayanya takkan mahal, kau ini pelit sekali untuk dirimu sendiri, apa gunanya menimbun uang kalau ujung-ujungnya harus habis buat berobat, kau harus pintar merawat diri Dewi! Lihat aku, om selalu sayang pada ku, bahkan soal uang pun lebih banyak mengalir untuk di banding istri sahnya.” Clara menasehati Dewi.
“Tidak, aku mau ke klinik saja, aku punya kenalan, kita kesana saja, yang lain aku tak percaya.” karena Dewi tetap menolak, Clara akhirnya tak bisa berbuat apapun.
🏵️
Pukul 17:30 sore, Yudi yang baru pulang kerja melihat ruang pintu ruang officenya terbuka separuh.
Dia masih kerja? batin Yudi.
Ia yang penasaran mendekat ke pintu. “Kasihan sekali dia.”
Yudi merasa iba pada Fi, karena wanita malang itu membersihkan ruang kerjanya yang luas sendirian.
Kemudian Yudi melihat ke kantong kresek makanan yang ada di tangannya.
“Pasti dia lapar.” Yudi yang baik hati, berniat makan bersama dengan Fi.
Krieett...
Suara pintu yang terbuka mengalihkan fokus Fi yang sedang bekerja.
Seketika wanita malang itu tersenyak saat melihat Yudi telah berdiri di sebelah meja kerjanya.
“Istirahat dulu Fi, ayo! Kita makan dulu, ku yakin kau pasti lapar,” ujar Yudi.
“Maaf tuan, saya sudah makan tadi siang.” Fi menolak tawaran majikannya.
“Kemarilah, tak baik menolak rezeki, lagi pula aku beli 2 bungkus nasi Padang dari rumah makan favorit ku semasa kuliah,” ucap Yudi.
Karena sang tuan tetap memaksa, akhirnya Fi pun bersedia istirahat sejenak dari pekerjaannya.
Tuan Memang pecinta masakan tradisional, batin Fi.
“Baik tuan.” lalu Fi pun meletakkan tisu basah anti septiknya di antara rak buku.
Kemudian Fi mendekat ke meja kerja tuannya, saat Fi melihat merek pembungkus nasi Padang yang di beli tuannya, ia pun tertawa kecil.
“Apa tuan juga kuliah di kampus PS?” Fi dapat menebak, karena hanya kampus itu sajalah yang ada di dekat rumah makan tersebut.
“Iya. Kau jugakan?”
“Kok tuan bisa tahu? Apa tuan mengenali ku?” senyum Fi yang telah lama hilang kini kembali lagi.
“Iya, tapi tidak begitu kenal.” Yudi berkata demikian karena ia hanya penggemar rahasia Fi.
”Ya Tuhan, saya tidak tahu kalau tuan kuliah disana,” ujar Fi.
“Wajarlah, kaukan idola kampus,” Yudi tersenyum tipis. Sebab ia mengingat bagaimana cantik dan manisnya Fi di masa lalu.
“Masa sih tuan? Saya tak pernah tahu soal itu.” Fi pura-pura tak tahu apa yang di katakan tuannya.
__ADS_1
...Bersambung......