Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
Bab 31 (Merasa)


__ADS_3

Karena tak ada pilihan lain Fi memutuskan untuk ke rumah ibu sambungnya.


“Ke rumah ibu ku pak.” setelah mengatakan alamat rumah Yuri. Darman pun mengantarkan Fi ke tujuan.


Sesampainya mereka, Darman membantu Fi untuk turun dari motor, selanjutnya Darman membawa Fi menuju rumah.


Yuri yang sedang menyapu di teras melihat Kedatangan Fi bersama lelaki asing.


“Fi, kau datang dengan siapa nak?” tanya Yuri.


“Nanti aku jelaskan bu. Pak tolong bantu bawa aku untuk masuk sampai ke kamar.”


Darman pun memenuhi permintaan Fi. Yuri yang tak tahu apapun mengikuti keduanya.


Sesampainya dalam kamar, Darman perlahan membaringkan tubuh Fi di atas ranjang.


“Maaf bu, aku harus pergi sekarang, karena aku masih punya urusan lain, dan maaf juga, aku tak bisa memberi ibu apapun, karena aku juga tak punya apa-apa untuk di berilan pada ibu,” terang Darman.


Lalu Fi, merogoh uang yang ada dalam saku celananya.


“Ini untuk mu.” Fi memberi uang sebanyak 20.000 rupiah pada Darman.


“Enggak usah bu, sebaiknya ibu simpan saja. ” Darman menolak pemberian Fi. Karena ia tahu, kalau Fi juga tak punya uang.


“Ambil saja pak, lumayan buat beli bensin, maaf karena tak bisa memberi banyak.” Fi menundukkan kepalanya.


Darman yang tak memiliki uang di dompetnya pun menerima uang pemberian Fi.


“Terimakasih banyak bu, semoga ibu lekas sembuh.” setelah itu, Darman meninggalkan rumah Fi.


“Siapa laki-laki tadi?” tanya Yuri dengan penuh selidik.


“Supir Asir yang baru di pecat hari ini bu,” terang Fi.


“Darimana kau tahu? Dan kenapa kalian bisa bertemu?” Yuri yang tak tahu apapun jadi tambah penasaran.

__ADS_1


“Kemarin aku di suruh ke rumah Asir, kalau aku tak mau, Dewi mengancam akan mencelakai anak-anak ku bu. Setelah aku disana, aku di perlakukan dengan kasar, ya... ibu pasti sudah bisa menebak itu semua.” Fi menceritakan apa saja yang ia alami selama di rumah Asir.


“Dan yang paling parahnya, kaki ku di bakar bu.” Fi menyingkap celana panjangnya.


Melihat kondisi kaki Fi, Yuri bergidik ngeri, “Ya Tuhan, ibu rasa dua-duanya sudah gila, sebaiknya kita lapor polisi, merek enggak bisa di biarkan begitu saja, keterlaluan!” Yuri memukul punggung ranjang putrinya.


“Bu, aku juga ingin, tapi itu percuma, mereka bisa mengurus segalanya. Membuat masalah baru, hanya akan menambah luka, kalau yang berwajib tak berpihak pada kita, bisa-bisa kita di tuntut balik, sedangkan laporan tante Alisyah yang punya banyak uang saja di tolak, apalagi kita yang tak punya apapun.” Fi yang lemah fisik dan ekonomi, memilih untuk tak menciptakan sesuatu yang dapat merugikan dirinya.


“Kalau menurut mu itu yang terbaik apa boleh buat, ibu hanya ikut apa yang kau katakan. Tapi Fi, kenapa kau memanggil ibu mertua dan suami mu dengan sebutan tante dan Asir?”


“Karena, aku dan Asir sudah bercerai bu.”


“Alhamdulillah, akhirnya Allah membukakan jalan untuk mu dan Asir berpisah, ibu senang sekali nak, tapi bagaimana dengan Emir dan Andri? Apa mereka akan baik-baik saja? Ibu takut, kalau Dewi dan Asir tak mengurus mereka dengan baik. Mengingat, saat terakhir ibu melihat Asir begitu kasar pada anak-anak mu Fi.” Yuri sangat khawatir dengan nasib kedua cucu sambungnya.


“Apa boleh buat bu, aku sudah berusaha. Hasil dari keinginan ku, malah membuat masalah menjadi semakin rumit.” Fi yang ingin menangis menahan air matanya.


“Sabarlah nak, ini semua sudah takdir Ilahi, kita do'akan semoga mereka baik-baik saja.” Yuri mengusap rambut Fi.


“Tapi aku enggak tega, dan juga tak dapat melupakan perlakuan mereka bu, terutama mereka menyiksaku di hadapan anak- anak, pasti psikis mereka terganggu bu, hiks... aku juga kasihan pada Andri, bibirnya belum sembuh juga bu, kasihan dia, nanti setelah besar bisa di ledek orang-orang usil, hiks...” Fi menangis sesungukan, kesedihan dalam hatinya tak sebanding dengan luka di kakinya.


Fi terus menangis di pelukan sang ibu sambung sampai ia merasa lega. Setelah itu Fi meminta tolong pada ibunya.


“Baik nak, tunggu sebentar.” Yuri beranjak dari atas ranjang menuju dapur.


kemudian, ia kembali dengan membawa air mineral untuk putri sambungnya.


Fi pun meminum obat pereda nyeri, antibiotik dan juga krim yang berfungsi untuk mengeringkan luka bakar.


Fi yang tak bisa apapun saat itu mengandalkan Yuri untuk mencari nafkah.


Yuri yang berprofesi sebagai buruh harian lepas di konveksi baju, sebagai buang benang, harus kerja ekstra cepat, agar mendapat uang lebih banyak. Sebab 1 lusin baju, ia hanya memperoleh 1000 rupiah.


Yuri yang tak memiliki pendidikan di tambah serta usianya yang telah senja, Membuat ia tak bisa pilih-pilih pekerjaan.


Meski hanya menerim upah 20.000 sehari, Yuri sangat bersyukur. Sebab uang itu dapat ia pergunakan untuk membeli beras dan juga lauk seadanya.

__ADS_1


Yuri juga sering mengambil kerja lembur, uangnya ia buat membeli obat untuk Fi.


1 bulan berlalu, Dewi yang sedang berada di kamar mandi merasa mual.


“Hoek!” ia pun muntah berulang kali hingga ia merasa lemas.


“Aku kenapa ya? Tapi... kalau di ingat sudah lama aku tak datang bulan.” Dewi yang di dera rasa bimbang keluar dari kamar mandi setelah merasa baikan.


Asir yang ingin berangkat kerja melihat wajah pucat Dewi.


“Wajah mu pucat sekali, sebaiknya kau pergi ke rumah sakit, takutnya kau mengidap penyakit berbahaya lagi, jangan sampai karena kau malas berobat, aku malah tertular.” Asir yang anti orang sakit menyarankan Dewi untuk berobat.


“Aku baik-baik saja kok mas, mungkin hanya masuk angin,” ucap Dewi sebagai alasan.


“Terserah kau mau kenapa, yang jelas kau harus urus dirimu dengan baik,” ucap Asir dengan tegas.


Ketika Dewi akan mencium kekasihnya, ia malah mendapat penolakan.


“Aku mau kerja Wi, nanti kalau aku sakit bagaimana? Hari ini ada meeting penting, aku tak mau pekerjaan ku terhambat hanya karena penyakit darimu.” terang Asir.


Deg!


Hati Dewi sungguh sakit mendapat perlakuan tak enak dari Asir.


Kurang ajar! batin Dewi.


Meski marah, Dewi harus meredam apa yang ada dalam benaknya. Demi satu tujuan, yaitu mendapatkan harta Asir.


“Baik mas, aku akan segera periksa ke dokter.” Dewi dengan terseyum meski hatinya ingin merobek-robek mulut Asir.


“Uang yang ku beri kemarin jadi kau gunakan untuk mengangkat rahim mu kan?” tanya Asir penuh selidik.


“Iya mas, tentu saja.” Dewi yang tak melakukan permintaan Asir memilih berbohong.


“Aku curiga kau hamil, tapi itu tidak mungkin, kalau kau benar-benar mengangkatnya, oke kalau begitu, aku berangkat dulu, sebaiknya kau sudah bugar saat aku pulang. Kalau kondisi mu masih tak stabil, sebaiknya kau tidur di kamar lain.”

__ADS_1


Duar!! Seketika Dewi merasa di buang oleh Asir.


...Bersambung......


__ADS_2