
Kemudian Fi memakan sup iga pemberian tuannya.
Wah! Luar biasa, rasanya enak sekali, batin Fi.
Ia pun langsung melirik Yudi yang makan di sebelahnya, namun sungguh aneh, sang tuan makan dengan wajah yang sangat murung.
“Tuan, apa tuan sedang ada masalah?” tanya Fi.
“Iya.” sahut singkat Yudi.
“Jangan sedih tuan, semua pasti ada solusinya, jangan terlalu di pikirkan, biarkan semua berjalan seperti yang telah di takdirkan Tuhan.” ucap Fi dengan tersenyum manis pada majikannya.
“Sayangnya aku tak bisa seperti mu, karena hal ini sudah berangsur lama.” perkataan Yudi tak dapat di mengerti oleh Fi.
“Memangnya ada apa tuan? Kalau tuan bersedia, tuan boleh cerita pada ku, aku janji takkan menyebarkan pada siapapun.” Fi merasa harus melakukan sesuatu untuk tuannya.
“Aku sudah menikah selama 5 tahun dengan Suli, tapi kami tak kunjung di karuniai anak.” wajah Yudi kembali murung saat mengatakannya.
“Jangan putus asa tuan, pasti belum waktunya saja, teruslah berusaha.” Fi menyemangati majikannya.
“Ini bukan salah Tuhan, tapi Suli. Dia tak mau kalau kami memiliki anak, ya... aku tahu alasannya karena karirnya, namun yang membuat ku tambah sedih, aku dan dia juga jarang bertemu, aku sudah memintanya untuk berhenti dari dunia hiburan, tapi... dia tak mau, karena katanya, itu adalah masa depan dan hidupnya, aku tak habis pikir, ada wanita sepertinya, maaf bukan maksud ku ingin menjatuhkan martabat istri ku di hadapan mu, tapi... dia memang tak perduli pada ku, ck!” Yudi tertawa getir.
Fi sangat mengerti apa yang di rasakan majikannya, karena suaminya juga tak menyukai anak-anak.
“Sabar tuan, bagi sebagian orang, memiliki anak itu merupakan tanggung jawab besar, mungkin nyonya berpikir begitu, dan kalau dia sudah siap, pasti nyonya akan bertanggung jawab penuh pada anaknya. Banyak kok tuan, yang buru-buru punya anak, malah menelantarkan anaknya karena tak sanggup mengurusnya.” terang Fi yang ingin tuannya tetap berpikir positif pada sang nyonya.
“Entahlah, Dia begitu malah membuat ku terluka, aku menikah tujuannya untuk ada yang menangani ku tidur, berdiskusi dan tukar pikiran, ini sih, namanya hanya pernikahan di atas kertas, apa lagi status kami tak di ketahui publik, katanya dia takut kalau pergerakan ku di pantau wartawan, ya... bisa jadi, tapi... aku kecewa Fi, jujur, aku tak bisa menyembunyikan amarah ku lebih lama lagi, terlebih istri ku lebih dekat dengan managernya.”
Mendengar curahan hati tuannya, Fi tak dapat berkomentar banyak.
“Kalau begitu, tuan harus tegas.” hanya itu yang bisa Fi katakan pada majikannya yang patah hati.
Setelah selesai makan, Fi membereskan piringnya dan sang tuan.
“Tuan, saya istirahat dulu ya.” Fi berpamitan terlebih dahulu.
“Baiklah.” sahut Yudi dengan wajah muram.
Pasti hatinya sakit sekali, batin Fi.
🏵️
__ADS_1
Dewi yang sedang berbaring di atas ranjang, tiba-tiba merasa jijik dengan sprei yang ia tiduri.
“Sialan!” ia selalu terbayang-bayang akan pengkhianatan Asir dan Wina padanya.
Saat ia masih di dera rasa emosi, tiba-tiba Alisyah mengetuk pintu kamar kekasihnya.
Tok tok tok!
“Masuk!” ucap Dewi dengan suara menggelegar.
Ceklek!
Kemudian Alisyah membuka pintu kamar putranya.
“Ada apa menyuruh ku kemari?” tanya Alisyah.
“Ganti sprei ranjang ini!” Dewi yang emosi nampak jelas di wajahnya.
“Baiklah.” Alisyah yang tak ingin berdebat langsung mengerjakan titah dari Dewi. Sedang Dewi mengambil seprei yang baru.
Bruk!
Ia pun melempar sprei itu ke kepala Alisyah yang masih sibuk membuka seprei ranjang.
“Aku tak ada pengalaman memijat Wi,” ucap Alisyah dengan jujur.
“Aku tak perduli tante, yang jelas aku mau di pijat sekarang!” karena Dewi tetap ngotot akhirnya Alisyah memenuhi keinginan Dewi.
Selesai mengganti sprei, Dewi naik ke atas ranjang seraya membawa minyak zaitun di tangannya.
“Cepat naik, badan ku terasa sakit semua.” desak Dewi seraya membuka bajunya, kemudian tengkurap di atas ranjang.
Setelah itu, Alisyah pun naik juga ke atas ranjang, kemudian Dewi memberi minyak Zaitunnya kepada Alisyah.
Alisyah pun mulai memijat punggung Dewi. Dewi yang tak punya teman curhat mulai mengatakan perangi Asir pada Alisyah.
“Tante tahu enggak, kenapa aku menyuruh tante untuk mengganti spreinya?” ucap Dewi.
“Aku tak perduli apapun alasan mu.” Alisyah tak ingin tahu mengenai urusan Dewi.
“Sombong sekali gaya mu tante, pada hal aku sudah mengizinkan mu tinggal disini. Aku juga ingin damai dengan mu, cape tahu bertengkar dengan mu terus.” Dewi merasa tersinggung akan sikap acuh dari Alisyah.
__ADS_1
“Aku tak tertarik dengan urusan mu Wi, dan jika kau ingin damai, lepaskan aku dan cucu ku.” Alisyah masih meminta kebebasan pada Dewi.
“Enak saja, kau itu sama enggak tahu dirinya dengan anak mu yang durhaka itu! Kau tahu, aku sudah setia padanya, tapi dia malah berkhianat pada ku, itu sebabnya ku minta kau ganti spreinya!” Dewi yang butuh teman malah curhat pada musuhnya.
Mampus, semoga sebentar lagi kau tersingkir! batin Alisyah.
“Harusnya dia tak pantas melakukan itu pada ku tante, pada hal setia dan cinta ku murni, tapi dia... ah! Sudahlah!” Dewi mendengus kesal.
“Tinggalkan saja kalau tak suka,” ucap Alisyah.
“Aku belum dapat hartanya tante.” meski Alisyah adalah ibunya Asir, namun Dewi tak takut mengatakan niat jahatnya pada Alisyah, sebab ia yakin, Asir takkan percaya pada ibunya sendiri.
“Kalau aku jadi kau, aku lebih baik mencari yang lain, dari pada bertahan tapi masih banyak selingan di belakang ku, apa lagi kau tak di nikahinya sampai sekarang, wah! Kasihan ya... berarti kapan saja bisa di tendang tuh.” Alisyah sungguh senang, karena anaknya mau mendua.
Dewi yang kesal karena di panas-panasi oleh Alisyah Kemudian ia pun memutar tubuhnya menjadi telentang.
Tab!
Dewi meletakkan telapak kakinya ke bahu Alisyah.
“Kau pikir aku sebodoh itu?” ucap Dewi dengan mata membelalak.
“Kalau kau pintar, kau pasti cari yang lebih baik. Untuk apa bertahan dengan yang tak pasti,” ujar Alisyah.
Dewi memijat pelipisnya yang terasa sakit, perkataan Alisyah membuatnya tambah pusing.
“Keluar kau!” Dewi yang masih kurang sehat tambah drop melihat wajah Alisyah.
“Baik. Pikirkan saja apa yang ku bilang.” setelah itu Alisyah keluar dari kamar anaknya.
Dewi yang kalut menggigit kuku ibu jarinya, kali itu ia benar-benar dendam pada Asir.
“Akan ku hancurkan kau! Aku tak rela bila kau bertindak seenak mu terus.” Dewi berencana akan membuat Asir jatuh miskin.
Saat ia masih dalam kondisi hati yang tak tenang, Asir tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
“Kau sudah pulang?” sapa Asir dengan raut wajah tak enak.
“Iya, apa kau berharap kalau aku akan lama di luar?” Dewi tertawa getir pada kekasihnya.
“Tidak, bukan begitu, ku pikir kau masih ingin bermain dengan teman mu.” Asir tersenyum tipis pada kekasihnya.
__ADS_1
...Bersambung......