
Selama perjalanan ke kantor, Yudi terus memikirkan wajah jutek Fi.
“Apa dia marah pada ku?” gumam Yudi. Ia merasa tak percaya diri jika bertemu Fi lagi.
“Makin hari dia membuat ku terus deg degan.” Yudi yang terus mengoceh sendiri membuat Rian yang sedang menyetir mengernyitkan dahinya.
“Apa tuan baik-baik saja?” tanya Rian penuh selidik, sebab ia takut majikannya gila karena pekerjaan.
“Tidak apa-apa pak, aku hanya... akh! Tidak jadi.” Yudi memutuskan untuk tak cerita pada Rian.
“Apa itu soal Fi tuan?” tebak Rian dengan sembarang.
“Hei, perhatikan ucapan mu, kau tak pantas memanggilnya dengan nama!” Yudi tak suka jika ada pria lain yang memanggil calon istrinya dengan sebutan nama karena menurutnya itu terlalu romantis.
“Lalu saya harus panggil apa tuan?” Rian bingung dengan tingkah tuannya yang berlebihan.
“Panggil ibu, dia cocok dengan tutur itu.” ujar Yudi. Karena ibu lebih sopan di telinganya.
“Apa itu tidak terlalu tua tuan? Mana ada wanita yang mau di panggil dengan sebutan itu tuan, para wanita, meski pun sudah berumur lebih senang di panggil nama, atau kakak.” terang Rian, sebab ia tak tahu kalau tuannya cemburu jika ada lelaki lain memanggil nama indah calon istrinya.
“Tidak bisa, panggil dia ibu, katakan pada semua orang, wajib pakai itu!” sikap ngotot Yudi membuat Rian tersenyum tipis.
“Kalau cinta, katakan saja tuan, nanti di tikung si Parman lagi.” Rian menakut-nakuti majikannya.
“Apa maksud mu?!” tanya Yudi.
“Sejak bu Fi cantik, semua satpam mengidolakannya, bahkan ada yang sudah bersiap untuk melamar.” Rian makin memperparah cerita yang kenyataannya tak seperti yang ia katakan.
“Ka-kau serius?” tanya Yudi dengan napas terengah-engah, ia tak mengira jika saingannya sebanyak itu.
“Tentu tuan, jadi harus ektra cepat, kalau Fi sudah terima salah satu dari mereka, tuan bisa apa?” Ucap Rian seraya menahan tawanya.
“Ehm... kau benar juga.” Yudi menganggukkan kepalanya.
Rian benar juga, batin Yudi.
Ia pun berniat untuk segera menyatakan cintanya pada Fi.
🏵️
Fi yang berada di kamarnya di jumpai oleh Reni.
“Ada yang ingin bertemu dengan mu di ruang tamu.” ucap Reni dengan wajah judes, sebab ia masih ingat betul, bagaimana wajah menyebalkan Fi padanya kemarin.
“Terimakasih banyak.” sahut Fi tanpa melihat wajah Reni.
Fi pun melintas dari sebelah Reni yang berdiri di pintu. Wajah cantik Fi membuat Reni makin iri.
Astaga, apa aku harus operasi plastik juga? batin Reni.
__ADS_1
Setelah sampai di ruang tamu, Fi melihat seorang pria paru baya telah duduk di ruang tamu.
“Selamat pagi pak.” suara Fi membuat Marteen bangkit dari duduknya.
“Selamat pagi juga bu. Perkenalkan saya Marteen, pengacara yang di percaya pak Yudi untuk menangani kasus yang sedang bu Fi hadapi saat ini.” Marteen mengulurkan tangannya.
“Oh, iya pak. Maaf saya tidak tahu tadi, saya Fi Saeadat.” Fi pun menerima uluran tangan Marteen, dan keduanya saling bersalaman.
“Silahkan duduk pak.” ujar Fi.
“Terimakasih banyak bu.” kemudian keduanya pun duduk saling berhadapan.
“Saya kesini untuk mengetahui masalah yang sedang ibu hadapi, dengan mantan suami ibu dan juga bu, Dewi dan bu Wina,” terang Marteen.
“Alhamdulillah pak, akhirnya bapak datang juga.” kemudian Fi menceritakan seluruh kronologi penyiksaan yang ia terima dan kedua anaknya dari Asir, Wina, dan Dewi.
Fi pun memberi bukti digital berupa photo ia sebelum di operasi, tak lupa Fi memperlihatkan resep obat yang di beri rumah sakit pada, saat ia ingin mengobati kakinya yang pincang dulu.
Fi bercerita dengan penuh derai air mata. “Tolong bantu saya pak. Saya dan anak-anak saya butuh keadilan, hiks...” Fi tak hentinya menangis, sebab ia tak dapat membayangkan penderitaan kedua putranya.
“Baik bu, saya mengerti, saya akan berusaha semaksimal mungkin, Insya Allah kita akan memenangkan kasus ini.” Marteen menyakinkan Fi, kalau mereka dapat mengalahkan ke 3 lawan mereka.
🏵️
Dewi yang sudah bisa pulang, langsung menuju rumah Asir.
Sesampainya ke rumah mantan kekasihnya, ia pun bertemu dengan satpam yang pernah menghinanya.
“Untuk apa kau datang kemari?” tanya sang satpam dengan tatapan tak suka.
“Tentu saja untuk menetap, karena aku dan Asir telah kembali bersama.” ucap Dewi dengan bangga.
“Jangan bohong, pasti kau berani kesini karena tuan sedang di penjarakan?” ucap sang satpam.
“Apa? Asir di penjara? Akh! Pantas saja dia tak angkat telepon ku, ck!” Dewi berdecak kesal.
“Sudah, pergi sana!” Sang satpam mengusir Dewi.
“Enak saja kau!” Dewi membentak sang satpam yang jauh lebih tua darinya.
“Pergi, atau ku tendang kau!” ancam sang satpam.
“Bangsat!” umpat Dewi.
Saat Dewi akan pergi, tiba-tiba sebuah mobil Lamborghini berhenti tepat di belakang Dewi.
Sontak Dewi dan sang satpam menoleh ke arah mobil mewah itu.
Treeett!!
__ADS_1
Sang pengacara kondang membuka kaca mobil mewahnya.
“Dengan bu Dewi?” ucap Hitman, ia mengenal kliennya, karena Asir memperlihatkan photo Dewi.
“Saya?” Dewi menunjuk dirinya sendiri. “Ah iya benar.” Dewi pun menyingkir dari hadapan mobil Hitman.
“Tolong buka pintunya pak, saya Hitman, pengacara pak Asir.” Hitman memperkenalkan dirinya pada sang satpam.
“Siap pak.”
Kemudian sang satpam dengan cepat membuka gerbang rumah.
“Ayo bu Dewi.” Hitman mengajak Dewi untuk naik ke dalam mobilnya.
“Baik pak.” kemudian Dewi masuk ke dalam mobil seraya memberi tatapan mengintimidasi pada sang satpam.
“Awas kau!” ucap Dewi dengan hanya menggerakkan bibirnya.
Sontak sang satpam menyesal dengan kesombongannya pada Dewi di masa lalu.
“Aduh, bisa gawat ini,” gumam sang satpam.
Dewi dan Hitman masuk ke dalam rumah dengan mulus.
Aura Dewi yang dulu padam, kini merah menyala, kepercayaan dirinya yang kuat membuat para Art merasa takut.
“Silahkan duduk pak.” Dewi mempersilahkan Hitman untuk duduk.
“Baik bu.” Hitman pun duduk di hadapan Dewi.
“Kira-kira apa tujuan bapak mencari saya?” tanya Dewi.
“Pak Asir meminta saya untuk menemui ibu, untuk mengatakan kalau pak Asir menitip rumahnya pada bu Dewi selama ia tak ada disini, dan pak Asir juga meminta ibu untuk jadi saksinya melawan bu Fi di persidangan nanti.” terang sang Pengacara.
“Apa? Fi melaporkan Asir?!” Dewi tak menyangka, jika dalang pelapor Asir adalah kakaknya.
“Betul, bu Fi melapor tentang penganiayaan yang ia dapatkan selama ini, dari pak Asir dan juga Wina.”
Seketika Dewi menelan salivanya. Kenapa dia tak melaporkan ku juga? batin Dewi.
“Dan, bu Fi juga melapor atas kasus kematian Emir, yang di duga bunuh diri karena pengaruh dari bu wina.” mendengar penuturan dari sang pengacara mata Dewi membelalak sempurna.
“Apa? E-Emir meninggal bunuh diri?!” Dewi syok mendengar kabar itu.
“Benar, untuk itu, mohon kesediaan ibu jadi saksi pak Asir,” ucap Hitman.
Meski Dewi sering menyiksa dua keponakannya, namun ia tak terima jika orang lain memperlakukan buruk, Emir dan Andri.
Hanya aku yang boleh menyentuh mereka, batin Dewi.
__ADS_1
“Tidak, aku menolak!” ucap Dewi dengan tegas.
...Bersambung......