
Ceklek!
Asir yang baru masuk ke kamar melihat wajah Dewi begitu resah.
“Ada apa sayang? Kenapa wajah mu kusut begitu?” suara Asir mengagetkan Dewi yang sedang duduk di atas kursi.
“Enggak ada mas, aku hanya kesal pada kak Fi.” Dewi kembali melimpahkan kesalahan pada kakaknya.
“Sudahlah, sabar saja, kau sendirikan yang minta untuk dia kembali?” Asir mengecup mata Dewi yang memiliki garis halus. Sontak Dewi merasa khawatir jika Asir melihatnya.
“Mas, aku keluar dulu ya, aku ingin mengawasi mereka yang sedang bekerja.” Dewi menggunakan alasan tersebut untuk menghindari Asir.
“Tunggu dulu.” Asir menggenggam tangan Dewi.
“Apa apa mas?” tanya Dewi penasaran.
“Main sekali yuk.” Asir mengajak Dewi bercinta di pagi yang masih gelap gulita.
Sialan! Pada hal aku baru mandi! Dewi merasa sangat kesal pada iparnya yang gila ranjang.
“Baiklah mas.” namun apa daya, ia yang belum mencapai tujuannya harus ekstra sabar menghadapi Asir.
Saat keduanya akan bergumul, Dewi yang tak percaya diri berkata pada Asir.
“Mas, kita matikan lampu ya.”
“Tak usah, aku suka melihat balon mu melompat kesana kemari,” terang Asir.
“Coba dulu, pasti seru, yakinlah pada ku.” Dewi terus membujuk iparnya.
“Baiklah, tapi kalau tak nikmat, kita nyalakan lampu kembali ya,” ucap Asir.
“Siap mas.” setelah sepakat, keduanya mulai kegiatan mantap-mantap mereka.
Pukul 10:00 pagi, semua pekerja dalam rumah telah menyelesaikan tugasnya masing-masing. Kecuali Fi, ibu dua anak itu masih sibuk membuat urab serta mengukus pisang yang di balut daun pisang.
Dewi yang baru selesai bercinta, masuk ke dapur dengan rambut yang masih basah.
“Ya ampun, apa saja yang kau kerjakan kak? Kenapa masih belum selesai? Pada hal aku sudah bilang, jam 10:00 harus selesai, kau gimana sih kak?” Dewi mengajukan komplein pada Fi.
“Apa mata mu sakit? Tangan ku hanya dua, dan kau sendiri tak melakukan apa-apa dari tadi, kau juga pergi tanpa permisi, jadi jangan salahkan aku, jika semua belum beres.” Fi melawan Dewi yang bisanya hanya memberi perintah.
__ADS_1
“Apa boleh buat, mas Asir menahan ku di kamar, dia meminta ku untuk melayaninya, ya.. aku bisa apa, saat dia sudah meminta? Lagi pula ku bantu pun pasti mas Asir tak mengizinkan, karena nanti tangan ku akan bau bawang dan lainnya.” Dewi memanas-manasi kakaknya.
“Ck! Kasihan sekali ibu dan ayah, karena perbuatan mu, mereka di siksa habis oleh malaikat. Dewi, sebaiknya kau menikah dengannya, agar orang tua kita lepas dari jerat dosa mu! Lagi pula aku heran, kalau memang cinta, kenapa pacar mu tak menikahi mu ya? Apa mungkin, dia ada simpanan lain?” Fi menakut-nakuti Dewi.
“Itu tidak mungkin terjadi.” meski Dewi sendiri ragu, namun ia harus tetap percaya diri di hadapan kakaknya.
“Semoga saja Wi, takutnya kau hanya korban selanjutnya,” ucap Fi.
Dewi yang kesal pada kakaknya memilih pergi dari dapur.
“Hufftt...”
Fi menghela nafas panjang. Matanya juga berkaca-kaca menahan tangis.
Fi memang membenci Asir, namun di hati kecilnya masih tersisa rasa cinta dan cemburu. Terlebih melihat rambut sang adik yang basah, hatinya menjadi panas dingin.
Walau tangannya terus bekerja, namun pikirannya tak pernah berhenti membayangkan suami dan adiknya bersenag-senang di ranjang.
Meski sakit, dan ingin membunuh keduanya, namun ia harus meredam amarahnya, karena yang harus ia pikirkan bukan hanya dirinya, tapi juga anak-anaknya.
Karena jika gegabah dan salah langkah, bisa-bisa anak-anaknya akan jadi korban.
Saat Fi memutar handle pintu, ia merasa heran, sebab pintu tak bisa di buka.
“Di kunci ya?” lalu Fi pun sibuk mencari kunci kamar di sekitar pintu
Dewi yang melihat kakaknya layaknya orang bodoh di matanya berdecak.
“Ck, cari ini?” Dewi memperlihatkan kunci yang ada di tangannya pada kakaknya.
“Kau mengunci mereka?” Fi yang marah merampas kunci kamar tersebut dari tangan Dewi.
“Iya, aku takut mereka mengotori lantai yang sudah di bersihkan,” terang Dewi.
“Terlalu! Kaukan bisa bilang pada mereka untuk tak ke ruang tamu, memangnya tamu istimewa itu akan melintas di depan kamar mereka apa?” Fi memarahi adiknya.
“Ya Tuhan, aku hanya mengurung mereka sebentar, bukan membunuh! Jangan berlebihan kak! Mentang-mentang aku diam dari tadi, kau malah makin berani pada ku!” Dewi yang naik pitam meremas bibir kakaknya.
“Minggir kau!” Fi yang emosi mendorong tubuh Dewi dari hadapannya, meski tenaganya tak seberapa, namun ia tetap berusaha membela dirinya.
Retek!
__ADS_1
Fi membuka pintu kamar anaknya. Ternyata Emir dan Andri telah menunggu di depan pintu, saat mendengar suara ibu mereka.
“Mama!!” Keduanya pun memeluk lutut Fi.
Dewi yang masih marah memukul kepala kakaknya di hadapan kedua keponakannya.
“Sekali lagi kau berani menyentuh ku dengan tangan kotor mu, ku bunuh kau!” pekik Dewi.
Fi yang tak ingin terlihat lemah di mata Emir membentak adiknya.
“Pergi kau! Jangan dekat-dekat dengan kami!” pekik Fi.
Dewi yang akan memberi pelajaran pada Fi, agar tak berani melawannya di lain waktu harus gagal, karena Asir datang bersama seorang pria berparas tampan, dengan tinggi 185 senti meter, berkulit putih bersih, dan juga menawan.
Dewi yang baru pertama kali melihat pria dengan wajah setampan itu merasa beruntung. Ia pun langsung jatuh hati pada pandangan pertama.
Apakah dia Yudistira Hirarki? batin Dewi.
Asir yang melihat Fi dan anak-anaknya ada di hadapan mereka merasa gusar, sebab wajah Fi yang buruk, serta anak-anaknya yang masih dekil, akan membuat ia malu di hadapan Yudistira. Namun apa daya, ia tak bisa menghajar anak dan istrinya saat itu.
Setelah Asir dan pria tampan itu berdiri di hadapan keempatnya, Asir pun memperkenalkan anggota keluarganya pada Yudistira.
“Ini adalah keluarga ku pak, perkenalkan, yang ini Dewi, calon istri ku.”
Mendengar pengakuan Asir, membuat hati Fi sangat sakit, namun ia yang tak boleh menunjukkan wajahnya, hanya menundukkan kepalanya.
“Selamat siang bu Dewi, perkenalkan, saya Yudistira Hirarki, panggil saja Yudi.” suara maskulin, dan aura Yudistira yang begitu berwibawa hampir membuat jantung Dewi meledak.
“Halo pak, saya Dewi.” sebisa mungkin Dewi bersikap tenang, karena jika tidak, Asir bisa murka padanya. Setelah itu, Asir memperkenalkan kedua anak-anaknya.
“Dan ini, Emir dan Andri, anak-anak ku.”
Yudi yang menyukai anak kecil mengusap puncak kepala kedua putra Asir.
“Kenapa belum mandi adik kecil?” Yudi mencubit lembut pipi Emir.
“Karena tak ada yang memandikan om,” jawab Emir dengan jujur.
Sontak Asir memelototi anaknya, Emir yang melihat ancaman dari sang ayah menundukkan kepalanya.
...Bersambung......
__ADS_1