
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Sania pun datang menemui Dewi.
Plak! Dewi yang menunggu lama menampar wajah Sania.
“Lama banget sih dirimu! Apa saja yang kau lakukan?! Kau sengaja ya!” Dewi yang tak percaya siapapun merasa semua orang tak baik di matanya.
“Maaf nyonya, saya tadi lagi di halaman belakang.” ucap Sania seraya memegang bekas tamparan Dewi.
“Bohong! Jangan bersilat lidah kau pada ku!” Dewi yang merasa tak di hormati menjadi gila sendiri.
“Maaf nyonya kalau saya salah.” Sania yang tak berdaya hanya menundukkan kepalanya.
“Cepat, panggilkan nenek peot itu, aku mau kasih perhitungan padanya!” Dewi yang merasa di permainkan berniat menghajar Alisyah.
“Baik nyonya.” Sania dengan cepat mencari Alisyah.
Setelah menunggu 10 menit, Alisyah datang menghadap Dewi.
Plak!!! Dewi menampar keras pipi Alisyah, hingga wanita tua itu merasa pusing.
“Perempuan laknat! Sudah tua, masih berani berbohong! Kau ingin melihat ku kesakitan lebih lama ya! Bisa-bisanya kau mengerjai ku! Dasar busuk!” ucap Dewi dengan nata membelalak.
“Aku tak melalukan apa yang kau bilang!” Alisyah membela dirinya.
“Jangan bohong kau nenek tua, kau dan anak mu 11 12, takkan jauh beda, sifat buruknyakan menurun dari mu!” Dewi yang tak terima di permainkan menarik tangan Alisyah menuju gudang.
“Lepaskan aku! Apa yang mau kau lakukan?!" pekik Alisyah.
“Menghajar mu, kau terlalu jahat jadi manusia!” Dewi yang masih memiliki tenaga menuntun Alisyah menuju gudang.
Sesampainya mereka, Dewi membuka pintu gudang.
Kriett!!
Bruk!!
Dewi mendorong tubuh Alisyah hingga terjatuh ke lantai.
“Aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi, jadi kalau kau tak mengakui kesalahan mu, membusuk saja disini!”
Bam!
Dewi mengunci pintu dengan keras. Alisyah yang takut akan tempat gelap dan panas meminta untuk di keluarkan.
Bam! bam! Alisyah menggebrak pintu gudang.
“Dewi! Keluarkan aku Wi! Jangan kunci aku disini!” Alisyah terus meminta untuk di keluarkan.
“Akui dulu kesalahan mu, baru kau boleh keluar!” pekik Dewi.
“Baiklah, kau benar, aku menyembunyikan obat mu!! Ayo cepat buka?!” pinta Alisyah.
“Sialan, beraninya dia macam-macam dengan ku!” Dewi yang tak terima begitu saja membuka pintu gudang seraya membawa besi panjang, ia lalu ia berdiri tepat di hadapan Alisyah
“Kau beneran mau keluar?” ucap Dewi.
“Iya.” sahut Alisyah.
“Boleh, asal kau cium dulu telapak kaki ku!” Dewi yang telah di luar batas memperlakukan Alisyah layaknya hewan.
“Maaf, aku tak bisa melakukan itu.” Alisyah menolak karena merasa di rendahkan.
__ADS_1
“Ya sudah, menetap saja di sini!” Dewi yang keras kepala mengunci kembali pintu gudang.
Bam!
Retek!
“Enak saja kau! Memangnya kau siapa?” Dewi meninggalkan Alisyah yang mulai menangis di dalam gudang.
🏵️
Fi dan Yudi yang telah dalam pesawat duduk bersebelahan.
“Tidurlah Fi, masih banyak waktu untuk istirahat,” ujar Yudi.
“Baik tuan, apa tuan tak tidur juga?” tanya Fi, karena menurutnya majikannya juga lelah.
“Sebenatar lagi. Ayo tutup mata mu.” atas titah dari sang tuan, Fi pun memejamkan matanya.
Fi yang kecapeam dengan mudah terlelap. Kemudian Yudi yang ada di sebelahnya menatap lekat wajah Fi.
“Nanti, aku akan bertemu dengan mu yang dulu.” Yudi pun melihat photo Fi yang sempat ia ambil 5 tahun yang lalu.
Aku ingin mengulang masa-masa yang ku lalui tanpa mu, batin Yudi.
Yudi berencana mengubah wajah Fi, seperti saat pertama kali mereka bertemu, yaitu Fi Saeadat yang berusia 20 tahun.
Ia tak perduli berapapun biaya yang akan ia keluarkan, yang jelas, misi Yudi mengembalikan Fi seperti semula.
Untungnya trip bisnis ku perwakilkan pada pak Asir, tak apalah, batin Yudi.
Setelah melalui perjalanan kurang lebih 7 jam 20 menit, Fi dan Yudi tiba di bandara Internasional Incheon.
“Um... kita sudah sampai ya tuan?” tanya Fi dengan mata yang masih sepat.
“Iya, ayo kita turun.” ujar Yudi seraya bangkit dari duduknya.
Fi dengan nyawa yang masih melayang-layang mengikuti langkah majikannya keluar dari pesawat.
Mereka yang telah di lobby bandara, ternyata sudah di tunggu oleh taksi.
“Sejak kapan tuan memesannya?” Fi tak menyangka, jika majikannya serba cepat.
“Aku tadi download aplikasi transportasi online, setelah kita keluar dari pesawat,” ujar Yudi.
”Wah! Canggih!” Fi tersenyum pada tuannya.
Kemudian Fi dan Yudi naik ke dalam taksi, menuju hotel bintang 5 yang berada di Gangnam.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, keduanya pun sampai di tujuan.
Yudi dan Fi pun keluar dari dalam taksi menuju hotel.
Setelah Yudi melakukan reservasi, mereka pun menuju kamar mereka yang letaknya bersebelahan.
“Sampai besok,” ucap Yudi.
“Iya tuan, terimakasih banyak.” baik Fi maupun Yudi masuk ke kamar mereka masing-masing.
Keesokan harinya, Fi dan Yudi yang telah rapi menuju rumah sakit terkemuka soal bedah plastik di negara itu.
Setelah melalui serangkaian prosedur, seperti skrining, sedot lemak dan lainnya selama 2 hari, akhirnya Fi mulai untuk di operasi.
__ADS_1
Ia yang telah berbaring di ranjang pasien meminta restu pada majikannya.
“Do'akan agar berjalan dengan lancar tuan,” pinta Fi penuh harap.
“Tentu saja, semoga semuanya baik-baik saja.” Yudi tersenyum pada Fi yang mulai di dorong para suster masuk ke dalam ruang operasi.
Dalam bahasa Inggris
“Saya percayakan nyonya Fi pada mu dokter, tolong lakukan yang terbaik.” Yudi berharap operasi Fi berjalan sukses.
“Tenang saja pak, kami akan melakukan yabg terbaik,” ujar sang dokter.
Karena waktu operasi plastik Fi memakan banyak waktu. Yudi memutuskan untuk pulang ke hotel untuk istirahat.
Sesampainya Yudi di kamarnya, ia pun mendial nomor istrinya.
Halo, kau dimana? 📲 Yudi.
Di studio, lagi istirahat, bagaimana perjalanan mu dengan Fi? 📲 Suli.
Alhamdulillah lancar, sekarang aku lagi di hotel, dan dia rumah sakit, 📲 Yudi.
Oh, sampaikan salam ku padanya, katakan berapa biayanya, nanti akan ku transfer. 📲 Suli.
Tidak perlu, aku juga bisa membayarnya, royalti atas karya Fi, berikan saja padanya langsung, itu pasti berguna untuk masa depannya. 📲 Yudi.
Begitu ya? Baiklah kalau sayang, aku mengerti. 📲 Suli.
Iya, dan...kapan kau akan pulang? 📲 Yudi.
Um... aku belum tahu, eh sudah dulu ya, karena aku mau rekaman lagi sayang, soalnya sudah waktu istirahat ku sudah habis. 📲 Suli.
Yudi yang belum selesai bicara kembali merasa kecewa pada istrinya, terlebih Suli langsung mematikan teleponnya.
“Kenapa kau tak pernah memikirkan perasaan ku?” Yudi semakin terluka akan sikap istrinya yang tak pernah berubah.
“Setelah dari sini, aku akan ke America menemui mu.”
Yudi berencana akan membahas masalah pernikahannya bersama sang istri.
Yudi yang merasa lelah memutuskan untuk tidur, sebab Fi yang di operasi membutuhkan waktu paling cepat 14 jam.
🏵️
Ceklek!
Dewi membuka pintu gudang setelah mengurung Alisyah selama 2 hari di sana tanpa makan dan minum.
”Bagaimana? Masih belum mau mencium telapak kaki ku?” Dewi meletakkan kakinya di wajah Alisyah yang duduk lemas di lantai seraya bersandar ke dinding.
“Ini, aku bawa air, kalau mau minum, cium dulu dong tante, Hehehe...” Dewi tertawa menyeringai melihat penderitaan ibu kekasihnya.
Alisyah yang tak berdaya dan tak punya pilihan, akhirnya mencium telapak kaki Dewi yang ada bertengger di pipinya.
“Hahaha!!! Lucu sekali! Aku suka!” Dewi sangat bahagia atas penderitaan Alisyah.
...Bersambung......
Mampir ke karya author lainnya, karena kamu akan menemukan kisah cinta yang membuat mu menangis haru.
__ADS_1