Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
65 (Tertangkap Basah)


__ADS_3

Yuri yang malang pun sibuk mendatangi rumah tetangganya untuk meminjam uang.


Beruntung ada orang yang berbaik hati dan memberikan uang padanya.


“Alhamdulillah.” Yuri merasa sangat bersyukur, uang 20 ribu yang ia dapatkan langsung ia bawa menuju penjual ayam goreng yang mangkal di depan gang rumah mereka.


Setelah selesai membeli, Yuri kembali ke rumah.


Sesampainya Yuri di rumah, ia melihat Dewi sibuk kesana kemari.


“Kau cari apa?” tanya Yuri penuh selidik.


“Mana handphone mu?! Sini, aku mau pakai dulu!” Dewi membutuhkannya untuk menelepon Clara.


“Memangnya handphone mu ada dimana?” Yuri merasa keberatan dengan permintaan Dewi.


“Tinggal di rumah Asir, Yuri!” pekik Dewi.


Astaga, jadi benar dia telah di buang? seketika Yuri merasa lemas. Karena itu artinya ia kembali tinggal bersama dengan anak yang selalu menyakiti hatinya.


“Hei! Jangan bengong! Cepat ambil! Akh... lama banget sih kau!” Dewi sangat butuh bicara pada Clara, itu semua demi masa depannya.


“Baiklah, tunggu sebentar.” lalu Yuri mengambil handphonenya yang ada di dalam tumpukan baju bersihnya. “Ini.” Yuri menyerahkan handphonenya pada Dewi.


”Dari tadi dong! Lelet banget sih jadi orang!” setelah mendapatkan apa yang ia perlukan, Dewi mengambil kasar ayam goreng yang ada di tangan Yuri.


“Bagus, malam ini kau sudah berhasil jadi ibu yang baik, meski pun kau takkan pernah jadi wanita sempurna.” setelah mencaci Yuri, Dewi pergi menuju dapur untuk makan.


“Astaghfirullah, ngidam apa sih kak Hanna waktu hamil Dewi?” Yuri yang lelah memilih untuk tidur, apa lagi besok ia masih ingin bekerja.


Dewi yang ada di dapur kembali tak bersyukur dengan apa yang di berikan oleh Yuri.


“Beli ayam dimana sih dia? Kenapa rasanya enggak enak begini? Hah!” namun meksipun begitu, ia tetap memakannya, karena hanya itu lauk yang ada.


Setelah selesai makan, ia pun kembali mendial Clara melalui aplikasi si hijau. Namun sangat di sayangkan, nomor Clara sedang tidak aktif.


Dewi yang tak punya tenaga lagi untuk marah memutuskan untuk istirahat.


“Semoga besok dia bisa di hubungi.”


🏵️


Wina yang kini tidur bebas di kamar Asir merasa bangga.


“Akhirnya aku berhasil, satu langkah lagi, tujuan ku akan tercapai, semua yang ada di rumah ini, akan memberi hormat pada ku.” dirinya yang baru di angkat jadi kekasih seorang Asir seketika lupa diri.


“Hum... ibu ku pernah bilang, kalau ingin mendapatkan hati pria, maka harus mendekati orang tuanya terlebih dahulu. Baiklah, itu sangat mudah!” Lalu Wina menuju kamar Emir dan Asir dengan membawa obat dan vitamin untuk Alisyah

__ADS_1


Kriett...


“Permisi... saya masuk ya ma.” dari nyonya, kini Wina berani memanggil Alisyah dengan sebutan mama.


Sontak telinga Alisyah merasa panas mendengarnya. Ia sungguh tak menyukai Wina yang perangainya sama.


“Ada apa kau kemari?” tanya Alisyah yang sedang berbaring di ranjang.


“Aku datang untuk memberi ini ma.” Dewi menunjukkan apa yang ia bawa.


“Oh, letakkan saja di meja.” ucap Alisyah dengan tatapan mata malas.


“Setelah meminumnya, mama pindah ke kamar tamu ya ma, bukankah sempit tidur bertiga dengan mereka?” Wina melirik ke arah kedua cucu Alisyah.


Setidaknya dia lebih baik, walau hanya sekedar pencitraan, batin Alisyah.


“Terimakasih, nanti aku akan ke kamar ku.” Alisyah yang tak ingin melihat wajah Wina memejamkan matanya.


Sikap acuh tak acuh Alisyah malah membuat Wina tersinggung.


Pantas Dewi menghajarnya, orangnya sombong begini, batin Wina.


“Oke ma. Kalau begitu aku keluar sekarang. Jangan lupa untuk pindah ranjang ya ma.” sebisa mungkin Wina mengambil hati Alisyah meski tak tulus.


Setelah itu, ia pun keluar dengan wajah yang kecut.


Alisyah yang berada dalam kamar bertanya pada Emir.


“Art itukan, yang menaruh cabai giling ke mulut mu?”


“Iya nek, tapi jangan marahi dia nek, nanti nenek di kasih cabai juga.” di mata seorang Emir, Wina adalah wanita paling tangguh dan berbahaya setelah Dewi.


“Awas saja dia.” Alisyah yang pantang di bawah berencana untuk melempar Dewi dari rumah anaknya.


“Enak saja, Upik abu mau jadi Cinderella, tidak bisa!” karena Dewi, Alisyah selalu berpikir, jika seorang yang datang dari ekonomi tengkurap keluarga akhlaknya tidak baik.


🏵️


Fi yang masih berbaring di ranjang rumah sakit terbayang-bayang akan kedua anaknya.


“Semoga kalian baik-baik saja, tunggu mama ya nak. Ya Allah, sehatkan anak-anak ku, peliharaan mereka ya Tuhan.” Fi berdo'a pada sang pencipta.


“Somoga luka ku cepat pulih, aku sudah tak sabar ingin berjumpa mereka, pasti ibu dan anak-anak ku senang melihat wajah ku yang dulu.” seketika Fi mendapat motivasi untuk melanjutkan hidupnya.


“Aku masih tak menyangka, kalau tuan mengenal ku dulunya, semoga saja, nyonya dan tuan hidup bahagia dan segera mempunyai keturunan, aamiin.” Fi mendo'akan kedua majikannya yang baik hati.


🏵️

__ADS_1


Pukul 21:00 malam waktu New York. Suli yang selesai bersolek keluar dari apartemennya.


Ia yang buru-buru malah mendapat telepon dari Art yang menyaksikan Fi dan Yudi pergi bersama.


Kenapa kau menelepon Lia? 📲 Suli.


Maaf kalau sudah menggangu waktu nyonya, tapi saya hanya ingin mengatakan, kalau tuan dan Fi jalan bersama, sampai saat ini belum juga kembali nyonya. 📲 Lia


Ya Tuhan, jadi kau menelepon ku hanya untuk mengatakan itu? 📲 Suli.


Betul nyonya, maaf atas ke lancangan saya, tapi menurut saya, nyonya perlu tahu, karena Fi telah berani menggoda tuan. 📲 Lia.


Hei, Lia. Kalau suami ku pergi dengan mu, baru aku akan darang untuk mengkebiri mu. 📲 Suli.


Suli memutus sambungan teleponnya, karena ia merasa Artnya hanya membuang waktunya saja.


“Orang sini dan sana enggak ada bedanya, curiga sedikit langsung buat gosip, tanya langsungkan bisa.” Suli kembali melanjutkan langkahnya. Ia yang ada janji bertemu dengan managernya segera meluncur ke tempat tujuan.


Keesokan harinya, saat matahari telah menyingsing tinggi, Suli pulang dengan kondisi mabuk di antar oleh Daniel.


Tit tit tit!


Daniel yang masih memiliki kesadaran penuh menekan sandi apartemen Suli.


Tididing!


Setelah pintu terbuka, Daniel memapah Suli untuk masuk.


“I love you sayang.” Suli mengecup bibir manis Daniel yang ia sukai selama 2 tahun terakhir.


Daniel yang memiliki perasaan yang sama membalas kecupan itu hingga keduanya hanyut dalam permainan panas yang tiada ujungnya.


Di tengah pergumulan yang sangat indah keduanya tak sadar, jika Yudi telah berada di antara mereka.


Yudi yang menyaksikan perselingkuhan istrinya di depan matanya hanya diam.


Ternyata ini alasan kenapa kau jarang pulang dan tak ingin mengandung anak ku? batin Yudi.


Ia pun mencoba memahami apa yang di pikirkan istrinya.


Suli yang tak sengaja menoleh ke arah Yudi seketika berteriak.


...Bersambung......



__ADS_1


__ADS_2