Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
64 (Malu)


__ADS_3

“Sudah, tak usah di pikirkan, ehm... tapi... kalau aku sekarang, tak apa-apakan? Karena aku ingin ke Amerika dulu sebelum ke Indonesia,” ucap Yudi.


“Iya tuan, tidak apa-apa, tuan membantu ku sampai tahap ini saja saya sudah sangat bersyukur,” Fi merasa senang akan kebaikan Yudi.


“Baiklah kalau begitu, sebaiknya kau istirahat, karena kalau begadang penyembuhan luka mu akan lebih lama,” ujar Yudi.


“Iya tuan, terimakasih banyak sudah mengingatkan saya,” ucap Fi.


“Aku pamit, setelah kau sembuh, aku akan menjemput mu, katakan saja pada ku, apa saja yang kau butuhkan disini, jangan sungkan-sungkan.” Yudi ingin Fi merasa nyaman selama di negara ginseng tersebut.


“Saya mengerti tuan.” Fi tersenyum tipis dari balik perbannya.


Setelah itu Yudi kembali ke hotel meninggalkan Fi sendirian di rumah sakit.


”Aku pasti kembali.” Yudi tersenyum, hatinya sungguh tak sabar ingin melihat Fi dengan wajah yang lama.


🏵️


Dewi yang mengemis seharian berhasil mengumpul uang sebanyak 150 ribu, dan itu sudah cukup untuk ongkosnya menuju apartemen Clara.


Dewi dengan cepat menyetop taksi yang lalu lalang di jalan.


Setelah 30 menit dalam perjalanan, Dewi pun sampai ke apartemen Clara.


Namun saat ia berada di lobby apartemen, Dewi yang tak memiliki handphone meminta tolong pada sang satpam untuk menelepon Clara sahabatnya.


Satpam yang berjaga pun bersedia membantu Dewi.


Setelah tersambung Dewi meminta untuk bicara langsung dengan sahabatnya.


Halo Clara, kau dimana? 📲 Dewi.


Aku lagi di Paris sama om Toni, ada apa Wi? 📲 Clara.


Apa aku boleh tinggal di apartemen mu untuk sementara? 📲 Dewi.


Boleh sih, tapi aku bawa kunci apartemen ku Wi, aduh... gimana ya? 📲 Clara.


Ya Tuhan, kapan kau kembali? 📲 Dewi.


Mungkin 2 minggu lagi, karena aku dan om Toni mau bulan madu kedua. 📲 Clara.


Clara, aku ingin...📲 Dewi.

__ADS_1


Tiba-tiba sambungan telepon terputus. “Kok mati?” Dewi mengernyitkan dahinya.


“Mungkin kuotanya habis kak.” ucap sang satpam.


“Ya ampun, enggak modal banget sih kau! Ini!” Dewi mengembalikan handphone satpam tersebut.


Ia yang tak punya tujuan lain terpaksa kembali ke rumah minimalis ibu sambungnya.


“Sial, tapi apa boleh buat, dari pada aku tidur di jalanan.” akhirnya Dewi kembali ke habitatnya semula.


Ia pun pulang menggunakan angkot. “pengap, bau banget disini!” Dewi mengeluh akan situasi angkutan yang padat dan juga panas.


Ocehannya itu pun di dengar para penumpang lain.


“Naik taksi saja kalau mau sejuk!” sindir sang penumpang lain.


“Betul, berasa orang kaya banget dianya.” ucap penumpang wanita dengan wajah yang judes.


Dewi yang sombong pun mendapat cibiran dari orang-orang yang ada di dalam angkot.


Sial, kenapa jadi begini? Hah! Emang enggak banget berada di lingkungan orang-orang miskin.” meski Dewi tak memiliki apapun, namun ia tetap merasa sebagai wanita sosialita.


1 jam kemudian, Dewi sampai di depan rumah sang ibu sambung.


Tok tok tok!


“Assalamu'alaikum, buka pintunya!” suara keras Dewi di dengar jelas oleh Yuri.


”Bukankah itu Dewi?!” hatinya merasa takut untuk bertemu anak sambungnya.


“Akukan tak melakukan kesalahan apapun, kenapa dia datang kemari?” Yuri ragu untuk membuka pintu.


Tok tok!


“Aku tahu kau ada di dalam! Cepat buka pintunya sialan!”


Karena Dewi terus memaksa, di tambah Yuri malu kalau teriakan Dewi di dengar para tetangga, akhirnya Yuri membuka pintu untuk tamu yang tak ia undang.


Ceklek!


Baru saja Yuri membuka gagang pintu, tiba-tiba Dewi mendorong dari depan.


Bruk!

__ADS_1


Yuri yang kurang pertahanan untuk berdiri menjadi ambruk ke lantai.


“Lama banget sih buka pintunya? Kalau rumah ini gedung besar, baru aku maklum, kalau kau tak dengar!” Dewi yang terus mengoceh tak di respon oleh Yuri, sebab ia merasa heran dengan penampilan Dewi yang begitu kacau.


Mata sembab, baju kotor, rambut acak-acakan, ada apa dengannya? batin Yuri.


“Kau dengar tidak?! Jangan melamun dong!” Dewi yang lapar segera menuju dapur tanpa membantu Yuri berdiri.


“Astaga, jangan-jangan dia di buang oleh Asir?!” Yuri sungguh tak ikhlas bila itu benar, karena ia betul-betul tak ingin tinggal dengan anak sambungnya yang begitu kejam dan tak punya hati.


Diam-diam Yuri mengikuti langkah Dewi ke dapur. Ia pun melihat Dewi membuka tudung saji.


“Ck! Kenapa tak ada apapun disini? Kau benar-benar tak pernah berubah ya?! Selalu pelit, irit uang buat beli lauk!” Dewi yang lapar tak bisa hanya menakan nasi putih saja.


“Maaf, ibu tak tahu kalau kau akan datang,” ucap Yuri.


Dewi pun mendekat pada Yuri yang berdiri di pintu masuk dapur.


“Sekarang kau sudah lihat aku disini! Cepat belikan aku ayam keefsi!” pinta Dewi dengan nada memaksa.


“Itukan mahal, ibu tak punya uang kalau segitu Wi.” ucap Yuri. Sebab ia sudah tak kerja selama 2 hari.


“Enggak mau tahu, pokoknya aku mau ayam goreng! Cepat keluar! Bawa untuk ku, kalau tidak, ku jual rumah ini!” Dewi yang baru datang telah membuat huru hara, itu sangat mengganggu ketentraman jiwa dan raga Yuri.


“Ibu enggak punya uang Wi, bagaimana ibu mau memberi mu ayam goreng?” ujar Yuri.


“Aku enggak mau tahu, lagi pula kaukan bisa berhutang di warung, sudah sana! Aku lapar banget tahu!” Dewi mendorong-dorong tubuh ibu sambungnya hingga keluar dari rumah.


“Ya Allah Dewi, ibu malu kalau harus ngutang Wi, ibu takut enggak bisa bayar tepat waktu.” Yuri berusaha menolak keinginan Dewi.


“Enggak perduli, lagi pula aku sudah lama tak menyusahkan mu, harusnya kau bersyukur, kau bisa bernapas lega selama aku tak disini! Sekarang keluar, kalau tak bawa makanan enak jangan pulang, besok aku akan jual rumah ini, lumayan juga kalau ku pikir-pikir.” Dewi yang seenaknya tak perduli Yuri setuju atau tidak.


“Jangan Wi, nanti ibu tinggal dimana?” ucap Yuri dengan perasaan khawatir.


”Bukan urusan ku, kalau mau tetap disini, bawa apa yang aku minta!” pinta Dewi dengan wajah tengilnya.


Bam!


Dewi menutup pintu dengan keras. Yuri yang tahu Dewi tak bercanda terpaksa mengikuti kemauan putrinya.


“Ya Allah, aku harus cari uang kemana buat beli ayam? Ya Tuhan, kenapa kau bawa Dewi ke rumah ini lagi? Aku sungguh tak sanggup Tuhan bila hidup berdampingan dengannya.” rasanya Yuri ingin menangis, karena ia sangat trauma dengan perbuatan Dewi yang selama ini ia terima.


“Tolong beri anak itu petunjuk agar kembali ke jalan yang benar ya Allah.” meski ia tak suka pada Dewi, namun Yuri tetap mendo'akan agar putrinya bertaubat.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2