
Sesampainya ia di kamarnya, Yudi pun masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan serangkaian ajian agar terlihat tampan dan menawan di hadapan yang tersayang.
15 kemudian Yudi keluar, kemudian memakai pakaian terbaiknya.
Setelah merasa tampan, Yudi berangkat menuju rumah sang calon istri.
Saat ia akan pergi, ia pun hampir lupa untuk membawa oleh-oleh untuk yang terkasih.
“Pasti dia akan suka.” setelah membawa dua kantong hadiah di tangan kiri dan kanannya Yudi pun berangkat ke rumah Fi menggunakan sepeda gunungnya.
Sesampainya di depan rumah sang calon istri, Yudi bercermin dahulu di kaca spion sepedanya.
“Rambut oke, gigi bersih, nafas wangi! Mantap!” setelah yakin semua telah sempurna, Yudi meluncur mulus sampai ke depan pintu utama rumah Fi.
Fi yang ingin membuang sampah tiba-tiba melihat Yudi sedang turun dari sepeda.
“Haaahh?!” Fi syok berat, saat calon suami datang berkunjung, sedang dirinya belum mandi.
Alhasil, ia yang ingin membuang sampah pun balik kanan dengan langkah terburu-buru.
“Kenapa sih tuan harus datang setiap hari?!” Fi cukup jengkel, karena ia merasa repot kalau harus merias wajahnya setiap kali majikannya melakukan absen rutin.
Ia yang kembali ke dapur bertemu dengan Yuri.
“Loh, kenapa sampahnya enggak di buang Fi.” Yuri merasa heran dengan sikap putrinya yang terlihat aneh.
“Ada tuan bu.” ucap Fi dengan mimik wajah tak suka.
“Terus?”
“Akukan belum mandi, paling kesalnya, aku harus pake make up lagi,” terang Fi.
“Kenapa kau harus heboh begitu? Bukankah selama ini kau sering bertemu tuan dengan wajah polos? Bahkan sebelum kau operasi, dia sudah mengenali kau siapa,” ujar Yuri.
Kata-kata dari ibu sambungnya membuat Fi menggaruk kepalanya.
“Oh iya, ibu benar juga, kenapa aku harus pakai make up.” tanpa Fi sadari ia mulai menyukai Yudi, terlihat saat ia ingin tampil cantik di hadapan calon suaminya.
Dirinya pun kembali menenteng plastik sampah menuju tong sampah besar yang ada di samping pagar rumahnya.
Fi yang akan melintas dari ruang tamu melihat Yudi telah bermain dengan Andri.
Fi tak dapat melihat wajah Yudi seperti sebelumnya.
Aku kenapa sih, batin Fi.
Yudi yang melihat calon istrinya langsung melepas pelukannya dari Andri.
“Mau kemana Fi?” suara maskulin yang keluar dari bibir indah Yudi membuat Fi merinding.
“Sa-saya mau buang sampah tuan.” jawab Fi seraya kakinya terus melangkah.
Mendapat tanggapan dingin dari Fi, Yudi jadi khawatir pada hubungan mereka.
Ada apa dengannya? batin Yudi.
Kemudian ia pun duduk kembali di sebelah Andri.
__ADS_1
“Mama mu kenapa?” Yudi bertanya pada calon anak sambungnya.
“Kurang tidur pa.” sahut Andri dengan asal.
🏵️
Dewi yang ada di dalam selnya tiba-tiba merasa perutnya sakit luar biasa.
Saat Dewi ingin meminta tolong pada sipir penjara, ia pun bangkit dari duduknya.
“Kau haid ya?!” pekik Leli.
Sontak Dewi melihat ke bekas ia duduk. ”Astaga... aku pendarahan lagi.” Dewi makin khawatir dengan kondisinya.
“Aku tidak datang bulan,” jawab Dewi.
“Kalau enggak haid mana mungkin lantai yang kau duduki berdarah bodoh!” pekik Leli.
Dewi yang merasa kalau perutnya semakin sakit tak dapat menahannya lebih lama lagi.
Bruk!
Dewi yang lemah ambruk ke lantai. Leli dan teman-temanya pun hanya diam, tak ada yang mau membantu, mereka pikir Dewi hanya nyeri haid biasa.
🏵️
Asir yang tidur di atas tikar kembali menyesal tiada henti akan kebodohannya selama ini.
Ia yang selalu mengabaikan Fi, tiba-tiba merindukan mantan istrinya.
“Apa kalau aku menyerahkan seluruh harta ku, dja akan mau kembali lagi pada ku? Aku rela kehilangan apapun, asal aku bersamanya lagi, aku janji, akan memperlakukannya baik.”
🏵️
Fi yang baru kembali membuang sampah, lagi-lagi mendapat senyuman dari sang calon suami.
Fi yang merasa malu karena masih bau asem tak mau mendekat pada Yudi.
Namun Yudi yang selalu merasa Fi cantik dan harum, tak merasa ada kekurangan pada calon istrinya itu.
Yudi yang tak ingin kelewat mengobrol dengan Fi bangki dari duduknya seraya membawa 2 kantong belanjanya yang ia bawa tadi.
“Ini.” senyum lebar Yudi membuat Fi salah tingkah.
“I-ini apa tuan?” tanya Fi dengan suara kikuk.
“Buka saja,” ucap Yudi.
“Ya sudah, kalau begitu saya buka di kamar saja tuan.” Fi yang ingin mandi ingin segera ke kamarnya.
“Bukanya nanti saja kalau begitu, apa kau sudah memasak?” Yudi yang punya segalanya, malah keasyikan menumpang makan di rumah Fi.
“Tentu saja tuan, apa tuan mau makan?” tanya Fi.
“Iya. Andri ayo ke dapur papa lapar banget dari tadi.” Yudi yang sudah merasa akrab, langsung menuju dapur.
“Apa Mirna tak memasak sore ini?” gumam Fi.
__ADS_1
Fi yang merasa punya waktu, menyempatkan diri untuk mandi, sebelum kencan yang sebenarnya di mulai.
Yudi yang telah di dapur bertemu dengan Yuri.
“Eh tuan, mau makan ya?” Yuri selalu senang apabila Yudi datang ke rumah mereka.
“Iya bu. Oh ya bu... jangan panggil aku tuan lagi, rasanya tak pantas, karena sebentar lagi aku akan menikah dengan Fi,” ucap Yudi.
“Baiklah nak. Loh ngomong-ngomong Fi dimana?” Yuri melihat ke arah pintu masuk dapur.
“Mungkin mandi nek,” sahut Andri.
“Oh iya, kau benar juga Ndri.”
🏵️
Fi yang baru selesai mandi melihat hadiah yang di beri oleh calon suaminya.
“Tuan perhatian banget sih pada ku.” Fi yang merasa senang membuka tas belanja pemberian Yudi.
“Apa ini?” seketika Fi tertawa geli, saat ia melihat, isi pemberian Yudi semuanya adalah mainan untuk Andri.
Meski sedikit berharap dirinya di beri sesuatu, namun Fi sungguh merasa bahagia, karena Yudi lebih mengutamakan anaknya di banding dirinya.
Untuk menghargai kasih sayang sang calon suami pada anaknya, Fi berniat memberi Yudi hadiah juga.
Ia yang telah memakai cream malam, dan minyak bibir multivitamin, beranjak ke dapur.
Sesampainya ia, semua orang telah selesai makan.
“Kau dari mana saja?” tanya Yuri.
“Dari kamar bu, baru siap mandi.” sahut Fi seraya mengambil air hangat dari dispenser.
“Ayo, makan dulu Fi,” ujar Yudi.
“Nanti saja tuan.” meski lapar, Fi menahannya, sebab dirinya takut kalau giginya kotor lagi.
“Tuan sudah selesai?” Fi berniat mengajak calon suaminya mengobrol ringan.
Paham kalau itu kode untuk berdua, Yudi langsung bangkit dari duduknya.
“Andri ikut pa.” Andri kecil ingin mengekor pada calon ayahnya.
“ Andri, ini sudah malam, itu artinya, Andri harus tidur ya.” Yuri pun menuntun tangan cucunya menuju kamar.
Setelah anak dan ibunya pergi, Fi menoleh ke arah Yudi.
“Mau biacara di sini atau di teras tuan?” Fi meminta pendapat Yudi.
“Dimana saja tidak masalah untuk ku, asal lawan bicaranya kau,” ucap Yudi.
...Bersambung......
Jangan lupa baca karya author di bawah ini ya readers ❤️
__ADS_1