
Dewi menggertakkan giginya karena marah, “Kau akan menyesal tante! Karena aku takkan memaafkan mu, begitu juga dengan mas Asir, jadi siap-siap jadi gembel setelah ini.” kali itu Dewi bertekad dalam hatinya, untuk membuat mertua kakaknya menderita.
“Kita lihat saja! Allah tak tidur sialan! Allah pasti akan membantu ku, untuk menyingkirkan mu dari dunia ini!” mata Alisyah berapi-api, ia benar-benar tak sabar untuk memberi pelajaran pada dua orang yang membuat batinnya terluka.
“Allah juga tahu tante, siapa yang harus ia bantu, manusia tak bersyukur seperti tante pasti akan terus menderita selama tante masih tinggal di dunia ini, lebih baik ya... tante perbanyak ibadah. Orang tua seperti tante yang tidak punya tanggungan lagi, harusnya pergi suluk, perdekat diri pada sang pencipta, dan yang paling penting, tutup aurat, sudah bau tanah, tak ada sadarnya sama sekali, persis seperti anak mu!” Dewi menasehati mertua kakaknya.
“Dewi! Jangan berkata kasar pada mama, kau ini tak ada puasnya dalam hal apapun! Seperti yang ku bilang, kembalikan Andri dan Emir, sudah bagus tak ada yang mengusik mu!” Fi memarahi adiknya yang bersikap keterlaluan.
“Kak, mereka harus tetap di rumah, dan kau wajib ikut, kalau menolak, anak-anak mu akan jadi korban dari ketidak bertanggung jawaban mu sebagai orang tua!” Dewi mengancam kakaknya. Fi jadi berpikir apa ia harus ikut atau tidak.
“Awas saja, kalau sampai cucu ku kau sakiti!” Alisyah menunjuk tajam ke wajah Dewi.
Dewi yang geram, menghela nafas panjang, setelah itu ia mendekat pada Alisyah yang jauh lebih pendek darinya.
Tek!
Dewi yang memiliki tenaga kuat, mendoring telunjuk Alisyah dengan kasar ke arah belakang
“Akkhh!!” Alisyah berteriak ke sakitan. Fi yang ingin menampar Dewi berpikir dua kali, sebab Andri ada di tangan adiknya.
“Dewi, lepaskan tangan mama! Kau tak boleh menyakiti orang tua! Mama selama ini baik pada mu, tapi kenapa kau! Selalu tak menghormati mama!”
“Kau ini! Dari kemarin selalu membela wanita ini! Kau itu kakak ku atau bukan sih?!” Dewi yang marah mencekek leher Andri yang sedang tidur karena efek obat.
“Hiks... huah!! Mama!!” sontak Andri menangis sesungukan.
Fi yang ingin menyelamatkan putranya mendapat ancaman dari Dewi.
“Ikut aku, atau anak mu akan mati disini!”
“Uhuk uhuk! Mama...!!!” Andri menangis karena Dewi masih mencekik lehernya.
“Iya-iya, aku ikut!” Fi terpaksa menurut dengan kemauan adiknya.
Alisyah sendiri bungkam, tak berani lagi membuka mulut besarnya pada Dewi.
“Heh, kau!” Dewi memelototi Alisyah. “Kau akan ku beri pelajaran, hingga kau ingin segera pergi dari dunia ini! Tunggu saja! Ku pastikan saat kau meregang nyawa pun, wajah ku yang kau ingat!” Dewi yang memiliki sifat dendam aku, merencakan balas dendam terbaiknya pada Alisyah.
__ADS_1
“Sudah-sudah! Ayo kita berangkat.” Fi memilih untuk meninggalkan rumah mertuanya, sebab ia kasihan jika sang mertua mendapat tindakan kasar dari adiknya lagi.
“Harusnya kau setuju dari tadi bangsat!” Dewi memarahi sang kakak yang telah membuang waktunya.
“Ma, kami pergi dulu, mama jaga kesehatan ya.” Meski Fi selalu di remehkan mertuanya, namun ibu dua anak itu tak pernah membalas perbuatan mertuanya.
“Untuk apa kau izin padanya! Ayo!” Dewi pun melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah itu, begitu pula dengan Fi.
Saat akan naik ke mobil, Fi membuka pintu bangku kedua, namun Dewi melarangnya.
“Kakak duduk di depan saja!” Dewi yang jijik, tak ingin duduk bersebelahan dengan Fi.
Fi mengikuti kemauan adiknya, ia pun membuka pintu bagian depan, dan duduk di sebelah Marno, supir baru yang menggantikan Dimas.
“Ayo jalan!” titah Dewi.
Marno pun melajukan mobil membelah jalan raya. Selama di perjalanan Andri terus menangis, Fi yang iba meminta Andri pada Dewi.
“Wi, biar aku saja yang menggendong Andri, kasihan dia menangis terus.”
“Nanti, di rumah saja kau gendong dia, sekarang biarkan dia menangis sepuasnya, nanti kalau di bujuk, dia enggak sadar lagi, kalau perbuatannya salah,” terang Dewi.
Setelah 2 jam dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di tujuan.
Fi, Dewi dan Andri keluar dala mobil. Kemudian Dewi menyerahkan Andri pada Fi.
“Ini, tolong rawat dengan baik, ingat kak, jangan pernah perlihatkan wajah mu pada ku dan mas Asir mulai detik ini, kalau sempat itu terjadi, aku tak bisa menjamin keselamatan mu!”
“Baiklah, aku mengerti.”
“Dan jangan bermimpi untuk kabar kak, karena kau takkan bisa melakukannya.” Dewi memperingatkan Fi, agar tak melakukan hal sia-sia.
“Iya Wi.”
“Marno, tolong cuci mobil ke doorsmeer.”
“Tapi mobil baru di cuci tadi pagi nyonya." ucap Marno.
__ADS_1
“Pergi saja bodoh!” setelah itu Dewi masuk ke dalam rumah.
Fi mengerti, jika adiknya ingin mencuci mobil karena dirinya. Meski sakit hati, Fibyang tak punya kuasa tak bisa berbuat apa-apa. Ia yang tak ingin larut dalam kesedihan memilih untuk masuk ke dalam rumah.
Wina yang melihat kehadiran Fi kembali, menutup mulutnya.
“Kau kenapa Win?” tanya Dewi, sebab Dewi melihat tingkah aneh yang di tunjukkan Wina.
“Saya mual melihat wanita ini nyah, untuk apa manusia buruk rupa sepertinya menginjakkan kaki di rumah ini nyonya?” Wina yang pernah melihat Dewi menyiksa Fi mengira, kalau dirinya dapat melakukan hal yang sama.
“Apa kau bilang?” Dewi melangkah pada Wina yang sedang memegang kemoceng.
“Kenapa dia menginjakkan kaki di rumah ini nyonya?” Wina mengulangi apa yang ia katakan.
Plak! Dewi menampar wajah Art barunya. “Jaga sikap mu ya! Kau tak berhak untuk menghinanya. Hanya karena kau melihat ku menganiayanya, kau juga mau ikut-ikutan?” meski Dewi membenci kakaknya yang memiliki rezeki mujur, namun ia tak terima bila orang lain memperlakukan kakaknya buruk.
“Ma-maaf nyonya.” Wina memegang bekas tamparan Dewi.
“Hanya aku yang boleh berbuat apapun padanya, sekali lagi kau kurang ajar! Ku potong lidah mu!”
Fi yang lelah akan pertengkaran dan suara bising memilih diam, ketika melihat sang adik memarahi pada Wina. Prioritasnya saat itu adalah anak-anaknya.
“Wi, apa aku boleh ke kamar anak-anak sekarang?” Fi yang rindu Emir ingin segera bertemu.
“Iya, silahkan.” Dewi mengizinkan sang kakak untuk meninggalkan tempat.
“Ingat ya, hormati dia, kalau sampai dia mengeluh pada ku, aku akan memotong gaji mu!”
“Ba-baik nyonya.” Wina sungguh takut akan amarah Dewi.
“Bagus.” Dewi yang merasa cukup menasehati Art-nya memutuskan untuk istirahat ke kamar iparnya.
Awas kau Wi, setelah aku berhasil mengandung benih tuan, akan ku balas semua perlakuan mu, kau akan ku buat menjilat kaki ku! Wina yang sakit hati, akan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan Dewi dari sisi Asir.
Sementara Fi, yang kini berada di kamar kedua putranya melihat Emir yang tidur pulas.
Andri yang tangisnya mulai mereda memeluk Fi. “Tutu ma, Andli aus!” (susu ma, Andri haus)
__ADS_1
Fi pun mengecup kening putranya, “Iya sayang.” Fi yang sudah lama tak memberi putranya Asi, segera menyusui Andri.
...Bersambung......