Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
82 (Dengki)


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan?” Alisyah memegang bekas tamparan Wina.


“Dasar tak tahu diri! Pada hal aku sudah baik pada mu, tapi kau malah jahat pada ku ma!” Wina yang bosan pencitraan mulai menunjukkan taringnya.


“Ternyata ini jati dirimu? Hum! Segera pergi, karena kau akan menyesal bila menetap disini!” Alisyah sangat senang dengan ke tumbangan Wina.


“Dasar orang tua tak tahu diri, sudah bau tanah, tapi tak punya sopan santun, harusnya orang tak berguna seperti mu, mengambil hati pada yang muda bodoh!” Wina yang tenaganya sangat kuat, memukul kepala Alisyah, hingga Alisyah merasa pusing.


“Berani menghasut ku lagi, ku cekik leher mu! Aku tak main-main jangan buat aku emisi!” Wina yang lelah memutuskan untuk pergi.


“Dasar! Ibu dan anak sama saja, brengsek!" pekik Wina.


🏵️


Yudi yang baru sampai ke rumah, mengirim pesan pada Fi.


Datang ke ruang makan, aku tak ada teman untuk makan, ✉️ Yudi.


Fi yang sudah tidur tak mendengar suara pemberitahuan pesan masuknya.


Sedang Yudi yang ada di ruang makan terus saja menunggu kedatangan Fi.


Tapi 10 menit telah berlalu, Fi yang ia nanti tak kunjung datang menjumpai.


“Apa dia sudah tidur ya?” Yudi yang ingin mendial nomor Fi merasa tak enak.


“Baiklah, aku akan makan sendiri.” harapan untuk duduk berdua di meja makan menyantap sate Padang yang cita rasanya lezat gagal total.


Keesokan harinya. Fi bangun pagi-pagi sekali. Lalu ia pun melihat jam yang ada di handphonenya yang telah menunjukkan pukul 05:00 subuh.


Kemudian Fi melihat pesan dari Yudi. Dan dia pun membacanya.


“Astaga... apa tuan akan marah pada ku kalau begini?” Fi merasa khawatir.


Maaf tuan, tadi malam saya sudah tidur, jadi tidak bisa balas pesan dari tuan. ✉️ Fi.


Yudi yang tak tidur semalaman langsung membaca pesan dari Fi.


“Oh... pantas saja.” Yudi yang sigap langsung membalas pesan dari artnya.


Tidak apa-apa, kau mandilah, karena kita akan ke rumah pak Asir setelah mengambil oleh-oleh dari rumah orang tua mu. ✉️ Yudi.


“Eh, apa aku terlalu cepat membalasnya?” gumam Yudi.


“Hum... tuan balasnya cepat banget... tapi wajar sih... kan dia selalu cepat bangun.”


Baik tuan, selesai sarapan pagi, saya akan langsung menunggu di pintu utama. ✉️ Fi.


Baik, tapi sarapan pagi ini dengan ku saja, karena ada yang ingin ku katakan pada mu, ✉️ Yudi.

__ADS_1


“Aduh, kenapa harus dengan tuan sih, gimana kalau orang-orang melihat ku nanti?” Fi sungguh tak nyaman dengan permintaan majikannya.


Baiklah tuan. ✉️ Fi.


“Tak apa, untuk kali ini saja, sekalian aku tanyakan, alasan tuan bercerai dengan nyonya.” kemudian Fi bangkit dari kasurnya dan menuju kamar mandi yang ada dalam kamarnya.


30 menit kemudian, Fi yang telah selesai berpakaian rapi keluar dari kamarnya.


Ia yang tak mengenakan seragam dapat teguran dari Rila.


“Inikan bukan jadwal mu libur, kenapa kau tak pakai seragam?” Rila mendatangi Fi.


“Saya ada keperluan di luar kak,” ucap Fi.


“Tidak bisa, masuk lagi! Ganti baju mu, enak banget mau bolos, maksud mu aku lagi yang mengerjakan pekerjaan mu? Jahat banget kau ya jadi art!” Rila tak ingin menggantikan tugas Fi lagi.


Oh iya akukan belum kasih kak Rila upah dan oleh-oleh yang ku janjikan, batin Fi.


“Tunggu sebentar kak.” Fi masuk kembali ke dalam kamarnya.


“Mau apa sih dia?!” Rila merasa jengkel pada bawahannya.


Tak lama Fi keluar dengan membawa 2 tas belanjaan pada Rila.


“Apa ini? Kau mau menyogok ku ya!” mulut Rila mengoceh, sedang hatinya merasa girang.


“Dan ini, sesuai janji ku ya kak. Terimakasih banyak sudah membantu ku kak.” Fi tersenyum manis.


Seketika hati Rila bersorak gembira dalam hatinya. Mimpi apa aku semalam? Ketiban rezeki, tuan juga memberi ku 2 kali gaji, dan sekarang si bodoh ini juga, hahahha!!! batin Rila.


“Baguslah kalau kau sadar diri, lagi pula aku sangat lelah mengerjakan 2 tugas sekaligus!” Rila yang tak ingin di pandang remeh oleh bawahannya memberi tatapan mengintimidasi pada Fi.


“Sudah, sana! Besok-besok tak ada izin untuk keluar! Paham kau!” pekik Rila.


“Terimakasih banyak kak.” setelah Fi pergi Rila menari bahagia. Beruntung tak ada yang melihatnya.


“Aku kaya... haha...” Rila pun menuju kamarnya untuk mencoba semua baju-baju yang di beli oleh Fi.


Fi yang telah sampai di ruang makan majikannya, melihat Yudi sudah duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan.


Reni yang melayani sang tuan melihat kehadiran Fi disana.


Untuk apa ulat bulu itu kesini? batin Reni.


Kemudian Yudi melihat Fi yang telah berdiri di pintu.


“Kemari, makanan sudah siap.” Yudi yang begitu perhatian pada Fi membuat Reni gusar dan naik pitam.


“Baik tuan.” Fi pun mendekat dan duduk dengan jarak 3 kursi dari majikannya.

__ADS_1


“Reni, ambilkan nasi untuk Fi juga.” titah dari sang tuan membuat Reni mengamuk dalam hatinya.


Apa-apaan tuan?! Kenapa dia menjadi lebih perhatian pada si oplas? batin Reni.


Fi yang pernah mendapat perlakuan tak menyenangkan dari Reni, hanya melempar senyum.


Reni yang memiliki hati yang gelap, makin kalap dalam amarahnya.


Ia pun mengambil nasi untuk Fi , kemudian ia menambahkan banyak garam di antara tumpukan nasi itu.


Memangnya dia majikan apa? Kenapa aku harus melayaninya? Sialan! batin Reni.


Reni yang tak puas hati, menambahkan merica dan lada bubuk ekstra tajam ke dalam kuah sup daging yang telah Reni tuan ke mangkuk Fi.


Semoga kau jadi diare! Rasa dengki Reni membuatnya lupa, kalau dia telah mendapat kartu kuning dari Rila.


“Ini Fi.” Reni meletakkan nasi yang sudah dia siapkan di hadapan Fi.


“Terimakasih banyak.” Fi pun mulai menyantap sarapan pagi yang di beri Reni untuknya.


Seketika ia merasa lidah dan tenggorokannya terbakar.


“Pedas banget!” Fi mengipas-ngipas lidahnya.


Ia yang tak bisa makan pedas merasa resah.


“Pedas dari mana? Enggak ada rasanya juga.” Yudi terus saja memakan sup daging kambing miliknya.


“Benarkah? Tapi punya ku benar-benar pedas tuan.” mata Fi yang memerah dan berkaca-kaca membuat Yudi percaya.


“Coba aku cicipi.” ucap Yudi


Seketika Reni menjadi panik. Fi yang biasa diam saja kini malah berani buka suara.


Sialan! Dia pasti akan balas dendam pada ku! Reni benar-benar tak terima. Menurutnya Fi adalah manusia tak beradab dan suka mengadu.


“Cuih!! Apa ini?!” Yudi memuntahkan sup milik Fi.


“Nasinya juga Asin banget tuan.” Fi mendorong jauh nasi garam itu dari hadapannya.


“Reni!!” pekik Yudi.


...Bersambung......


Kok kalian gak mau mampir ke karya othor yang 1 ini sih? Beneran, bikin baper dan nangis tahu! 😔



__ADS_1


__ADS_2