
Perlahan bibir Emir bergetar, “Hiks... huah!!” Emir yang mencoba kuat dari tadi tak dapat membendung air matanya lagi.
“Mama! Mama! Hiks...” Emir menangis kencang, hatinya sungguh hancur, karena dalam sekejap, hidupnya jadi menakutkan untuk di lalui.
Wina yang takut jika Dewi mendengar suara isak tangis majikan kecilnya menjadi panik.
“Diam kau!” pekik Wina.
Emir yang semakin takut tak hentinya menangis. “Mama!! Tolong Emir! Jemput Emir, hiks...” karena sang majikan tak mau di ajak kerja sama, Wina mengambil cabai giling dari dalam kulkas sebanyak satu sendok makan.
Gap!
Wina memasukkan cabai giling ekstra pedas itu ke mulut Emir saat mulut Emir terbuka lebar.
“Pedas!!” Emir yang ingin memuntahkan isi mulutnya di cegah oleh Wina.
“Tahan!” Wina menekan rahang atas bawah Emir. Sensasi pedas yang ada di mulut Emir membuat wajahnya dan telinganya merah, air juga keluar dari hidung mancungnya.
“Kalau kau berani bergerak atau mengeluarkan air mata mu setetes saja! Ku tambahi cabai ke mulut mu! Hingga kau merasa kenyang!” ancaman dari Wina berhasil mengeringkan air mata Emir.
“Sebelum kau menelan habis semua yang ada di mulut mu, aku akan tetap mengunci rapat mulut lancang mu ini!” dengan terpaksa, Emir menuruti apa yang di katakan Art-nya.
Gluk!
Ia pun menelan habis cabai pedas yang berhasil membakar lidah dan juga lambungnya.
“Bagus!” Wina mengusap puncak kepala Emir. Setelah itu, Wina memberi Emir air minum.
“Makanya, jangan nakal, aku masih baik pada mu tuan muda, jadi jangan pancing aku untuk melakukan hal nista lagi kepada mu!”
Emir mengangguk paham, kemudian Wina menuntun Emir untuk duduk di kursi meja makan, setelah itu Wina menaruh nasi yang banyak ke atas piring serta memberi lauk ikan tuna balado pada Emir.
“Harus habis, jika tuan muda berani menyisakan 1 biji nasi di piring atau meja, maka aku akan memasukkan cabai ke mulut mu.” Wina mengancam Emir.
“Baik bi.” Emir yang malang melahap apa yang ada di hadapannya, meski pedas ia tetap lanjutkan. Walau perutnya tak bisa menampung sisa makanan yang ada di piringnya, ia tetap memaksakan diri.
Dewi yang baru datang ke dapur melihat keponakannya memakan nasi di balut cabai.
“Katanya enggak bisa makan pedas, nyatanya piring mu merah semua Mir.” Dewi mencubit pipi Emir yang sangat merah.
Emir hanya diam, tak berani mengatakan hal yang sebenarnya.
__ADS_1
“Wina, siapkan aku makan.” titah Dewi.
“Baik nyonya.” Wina melaksanakan perintah Dewi dengan cekatan. Emir menatap lekat wajah Wina.
Pada tante dia baik, sedang pada ku, sangat galak, batin Emir.
Setelah Emir selesai makan, ia pun buru-buru menuju toilet, sebab perutnya terasa sakit dan melilit.
Ia yang masuk ke dalam kamar melihat sejenak sang adik yag tak kunjung bangun. Kemudian Emir masuk ke dalam kamar mandi.
Satu jam kemudian, Dewi yang telah selesai makan datang ke kamar keponakannya.
Matanya mencari Emir kesana kemari, “Kemana anak nakal itu?” kemudian Dewi duduk di atas ranjang, dan memegang kening Andri yang masih terasa panas.
“Ck! Gimana ini?” meski Dewi tahu solusinya pergi ke rumah sakit, namun ia yang kikir tak mau membawa keponakannya untuk berobat
“Emir! Kau dimana?!” Dewi memanggil-manggil nama keponakannya berulang kali.
Sampai ia mendengar sahutan dari kamar mandi. “Ya tante? Tunggu sebentar.” ternyata Emir mengalami diare, perutnya terus merasa sakit.
Dewi pun menunggu keponakannya selesai, namun sampai satu jam berlalu, Emir tak kunjung keluar.
“Hei! Sedang apa kau di kamar mandi? Keluar sekarang?!”
Dewi memukul pintu kamar mandi, setelah itu, Emir keluar dengan mata yang basah seraya tangannya memegang perutnya yang masih terasa sakit, karena ingin buang air besar.
“Kau diare?” tanya Dewi.
“Iya tante.” Emir menganggukkan kepalanya.
“Astaga Tuhan!! Kalau tak bisa makan cabai, kenapa malah makan?” Dewi sangat kesal pada keponakannya yang membuat pekerjaan baru padanya.
“Sialan kau! Sama seperti ibu mu!!” suara teriakan Dewi mengembalikan kesadaran Andri.
Andri kecil menatap sendu ke arah sang tante yang terus mencubit dan menunjuk-nunjuk abangnya.
“Abang... hiks..” Andri menangis, ia yang terlalu lama menutup mata merasa rindu pada abangnya.
“Ssttt!” Emir menekan kedua bibirnya dengan telunjuknya, seolah memberi kode untuk diam.
Namun Andri yang tak paham malah menangis semakin kencang.
__ADS_1
“Bangsat!!! Aku pusing!!!” Dewi menutup kedua telinganya.
“Kalau tante pusing, kenapa tidak membawa mama kemari?”
Perkataan Emir membuat Dewi makin gila. Ia yang takut kecantikannya berkurang karena marah-marah terus, memilih untuk meninggalkan kamar keponakannya.
Setelah Dewi pergi, Emir kembali lagi ke kamar mandi.
Malam harinya, Dewi yang berada di atas ranjang bersama iparnya, mulai menceritakan kesulitan yang ia lalui hari itu.
“Sabar sayang, aku belum mendapatkan pengasuh.” Asir memeluk tubuh iparnya.
“Tapi aku sudah tak tahan, anak-anak mu nakal dan banyak maunya.” Dewi yang tak ingin merawat Andri dan Emir, berusaha agar iparnya mau membebaskannya dari segala tugas yang harus ia lakukan esok, jika pengasuh untuk Emir dan Andri belum ada.
Dewi juga menceritakan masalah Emir dan Andri yang mengalami sakit.
“Besok akan ku kirim dokter kemari.” setelah itu, mereka berdua pun tidur.
Keesokan harinya, sesuai yang di katakan Asir, seorang dokter pria pun datang ke rumah mereka.
Setelah melakukan pemeriksaan, sang dokter memberi obat pada dua anak lucu itu.
Pada saat ingin meminum obat, baik Emir mau pun Andri tak ada yang mau membuka mulut.
“Kalian mau apa sih sebenarnya?”
“Mama, kalau mama enggak disini, aku enggak mau minum obat.” Emir yang rindu ibunya berusaha agar sang ibu datang menjenguk mereka.
Kalau bukan karena pewaris tahta, aku sudah mencincang halus tubuh kalian yang lunak, batin Dewi.
Malam harinya, saat Dewi dan Asir berada di kolam berenang, Dewi mengutarakan rencananya.
“Mas, apa kau sudah dapat pengasuhnya?” tanya Dewi yang memakai bikini seksi.
“Belum sayang,” ucap Asir.
Sialan, kau niat cari enggak sih bangsat! batin Dewi.
“Oh, tapi mas, bagaimana kalau kita meminta kak Fi saja untuk merawat mereka?”
“Kau bicara apa sih? Kehadirannya hanya akan membuat rumah ini kotor.” Asir menolak keras rencana Dewi.
__ADS_1
“Kau juga bekum dapatkan mas? Lagi pula kita tak perlu menggajinya, karena Emir dan Andri adalah anaknya, dan apa kau tahu mas? Anak-anak mu tak mau minum obat dan makan kalau tak ada kak Fi, kalau mereka mati, siapa yang akan tanggung jawab? Yang paling penting, kita bisa mengawasi kak Fi agar tak bertemu pengacara laknat itu, dan juga kita dapat mengendalikan kak Fi, kalau pengacara itu datang, memangnya kalau kak Fi mengadu, kau bisa apa mas? Bahaya, kau tahu arti bahayakan mas?”
...Bersambung......