
Yudi sempat berpikir jika Fi membohongi dirinya, ia juga berniat tak menerima perempuan malang itu.
Namun ia mengingat kembali, betapa menyedihkannya wanita yang ada di hadapannya itu. Di tambah ia yang baru pindah juga masih membutuhkan banyak tenaga pekerja Art.
Fi yang ada di hadapan Yudi hanya menundukkan kepala, sebab Yudi sedari tadi hanya melihatnya dengan seksama, seperti sedang menilai dirinya.
Terima enggak ya? Tapi... kasihan juga dia, batin Yudi.
“Bagian apa yang mau ibu lamar? Slot yang kosong ada 3, yang pertama untuk mengurus dapur, termasuk masak dan cuci piring, yang kedua bersih-bersih lantai satu dan dua, dimana perlantai akan di tangani oleh 2 orang, yang ketiga mengurus taman depan dan belakang, masing-masing slot, saya butuh 4 orang pekerja,” terang Yudi.
Sebenarnya Fi lebih suka memasak, namun karena kondisi tubuhnya bisa membuat orang mual, Fi memilih bagian yang lain.
“Saya, bersih-bersih saja pak.”
“Baik, ibu membersihkan area lantai 1 ya. Dan ibu sudah bisa bekerja besok hari,” terang Yudi.
Seketika Fi menjadi sangat bersemangat, ia pun menyatukan 10 jarinya.
“Terimakasih pak, terimakasih banyak!” Fi yang terharu menangis bahagia.
Harapan untuk memberi makanan enak psda sang ibu perlahan akan terwujud, yang paling penting dan utama, jika ia bekerja lama disana, Fi bisa menyewa pengacara hebat, tujuannya, untuk merebut kembali anak-anaknya.
Yudi sendiri tak menyangka, ada orang yang menangis hanya karena di terima bekerja.
Rugg...
Di tengah kebahagiaan Fi, tiba-tiba perutnya yang lapar berbunyi, dan itu di dengar langsung oleh Yudi.
Yudi yang dermawan mengambil dompet dari sakunya.
Fi yang tahu ia akan di beri uang menolak dengan cepat.
“Tolong jangan beri saya apapun tuan, karena saya belum melakukan tugas saya sebagai Art tuan.”
“Tidak apa-apa bu, lagi pula ibu laparkan?”
“Tidak tuan, terimakasih banyak, kalau tidak ada yang perlu lagi, saya ingin pulang sekarang.” ucap Fi.
Yudi yang ingat ada nasi dan lauk di dapur meminta pada Art-nya untuk membungkus pada Fi.
5 menit kemudian, sang Art yang bernama Mirna datang.
“Ini tuan.” ucap Mirna, sang Art berparas cantik bagai artis.
__ADS_1
“Terimakasih banyak Mir.” lalu Yudi memberikannya pada Fi. “Yang ini jangan di tolak ya bu.”
Karena telah repot menyiapkan untuknya, Fi pun menerima pemberian Yudi.
“Terimakasih banyak pak.” Fi tersenyum lepas.
“Sama-sama bu.”
“Kalau tidak ada lagi yang mau di bicarakan, apa boleh saya undur diri pak?” tanya Fi dengan sopan, karena ia sudah tak sabar untuk memberitahu kabar bahagia itu pada ibu sambungnya.
“Baik, ibu boleh pulang sekarang, tapi besok, ibu sudah disini sebelum jam 7 pagi,” ujar Yudi.
“Siap pak. Terimakasih banyak sekali lagi.” Fi berdiri dari duduknya. Kemudian Yudi mengulurkan tangannya pada Art barunya.
“Apa saya boleh menjabat tangan tuan?” Fi yang selalu mendapat hinaan dari mantan suami, adik dan orang-orang yang mencibir dirinya. Perlahan merasa bahwa dirinya sangat kotor dan juga jelek. Untuk itu ia heran saat ada orang yang begitu baik padanya.
“Ya, tentu saja,” ucap Yudi.
Fi yang tak ingin tangan tuannya kotor karenanya, memasukkan tangannya ke dalam tangan bajunya yang sangat panjang, lalu ia menerima uluran tangan Yudi.
“Terimakasih tuan, dan saya permisi dulu.”
Sikap Fi membuat Yudi merasa sangat iba, ia terus memantau langkah Fi yang tak seimbang berjalan sampai wanita malang itu luput dari matanya.
Setelah keluar dari rumah Yudi, Fi berjalan di pinggir jalan.
Dan keberuntungan yang baik saat itu memihaknya, Karena Fi melihat pohon besar tak jauh di hadapannya.
Fi pun menuju tempat itu, kemudian ia duduk di bawah pohon rindang yang di bawahnya ada batu besar.
Alhamdulillah, aku makan disini saja, batin Fi.
Fi mendaratkan bokongnya di atas batu besar itu, selanjutnya ia membuka plastik yang di berikan oleh Yudi. Selanjutnya Fi mengeluarkan kotak nasi besar dari dalamnya. Ternyata Mirna sang Art memberi ia air mineral juga.
Tuk!
Fi membuka tutup nasi anti tiris yang di beri padanya, seketika air liurnya mau menetes, sebab lauk yang ada di tempat nasinya begitu lezat.
Yaitu daging sapi rendang ukuran jumbo dengan bumbu yang sangat pekat dan harum, tak hanya itu, Mirna juga membungkus ikan panggang, sayur kukus dan juga sambal telur balado.
Gluk! Fi menelan salivanya. Ia pun dengan cepat mencuci tangannya dengan air yang ada dalam kemasan botolnya.
Fi yang ingin melahap daging rendang kesukaannya berpikir 2 kali, sebab sang ibu sambung begitu menyukai lauk yang ia sukai itu.
__ADS_1
Alhasil, Fi memakan telur balado, dan mengambil sedikit bumbu rendang daging tersebut.
Ikan panggang ia tak sentuh sama sekali, sebab ia berencana untuk menjadikan itu lauk makan malam.
Walau hanya bumbu rendang yang ia makan, tapi Fi merasa serasa melahap dagingnya juga.
Rona bahagia mendapat makan gratis terpancar di wajah Fi.
Yudi yang saat itu melintas untuk kembali ke kantor melihat Fi yang makan di pinggir jalan dengan raut wajah tanpa beban, berbeda dari saat Yudi mewawancarai dirinya.
Enak banget jadi dia, bisa makan di pinggir jalan tanpa memikirkan gengsi, kalau aku, mana bisa melakukan itu, batin Yudi.
______________________________________
Dewi yang takut ke rumah sakit, memutar haluan mobil yang ia kendarai menuju apotik.
Sesampainya Dewi di sebuah apotik, ia pun membeli 3 tespek dengan merek berbeda-beda. Ia juga membeli vitamin kebugaran tubuh
Selanjutnya ia kembali masuk ke dalam mobilnya.
“Apa bedanya rumah sakit dan apotik, pasti di kasih obat yang sama, bedanya, kalau kesana aku harus membayar lebih mahal, maaf saja ya!” Dewi yang pelit mengeluarkan uang untuk kesehatannya memilih jalan yang lebih efektif.
Setelah sampai ke rumah, Dewi mencoba ketiga tespek yang ia beli.
Jreettt!!! perlahan tespek itu menunjukkan 2 garis biru yang pudar, tak lama menjadi terang.
“Apa? Aku hamil??” Dewi yang tak percaya dengan hasil tespek tersebut kembali mencoba kedua merek lain yang ia beli.
Dan... jreng jreng jreng!
Deg!
Hasilnya juga sama, dua garis biru titipan Ilahi membuat Dewi ingin gila, ia tak menyangka, jika ia saat itu sedang hamil.
“Enggak mungkin! Ini enggak mungkin terjadi, bukankah aku selalu minum pil KB tepat waktu? Aku juga selalu menepuk pinggang belakang dan juga berjongkok lama di toilet setelah kami berhubungan, tidak... pasti hasilnya keliru!” Dewi yang resah menjadi stres.
Ia yang tak ingin mengandung memukul-mukul perut ratanya dengan kencang.
Dug dug dug?
“Gugur kau benih sialan! Aku tak sudi kau tumbuh di rahim ku! Aku juga tak mau, mengandung anak laki-laki gila itu! Akhh!!” mata Dewi membelalak, rasanya ia ingin menangis darah.
Namun ia yang harus tetap cantik tak bisa melakukan itu.
__ADS_1
“Bagaimana pun caranya, aku harus menggugurkan kandungan ini, dan aku harus segera membujuknya untuk menikah dengan ku!” Dewi yang belum mendapat maunya memutar otak, agar Asir mau menikahinya.
...Bersambung.......