Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
76 (Derita)


__ADS_3

Mata Wina membelalak sempurna. Ia sungguh tak menyangka kalau kekasih yang ia cintai tak menginginkan anak yang ia kandung.


“Mas! Bukankah ini yang kau tunggu, makanya kau belum menikahi aku?” Wina menggenggam tangan Asir.


Lalu Asir melepaskan tangannya dari Wina. “Siapa bilang? Aku memang tak ingin menikah lagi, karena aku tak suka ada ikatan dengan wanita manapun.” penuturan dari Asir membuat hati Wina panas dingin.


“Tapi... aku... aku tak bisa menghilangkan anak ini. Mas, ini buah hati kita, darah daging mu dan aku.” Wina berharap Asir mau berubah pikiran, karena ia sungguh ingin membesarkan anaknya.


“Tidak, gugurkan, atau kau keluar dari rumah ini.” Asir yang ingin mandi berjalan menuju kamar mandi.


“Mas, kau tak bisa melakukan itu pada anak kita, aku sungguh sayang padanya, tolonglah mas, biarkan anak ini tetap hidup.” Wina terus membujuk Asir, agar mau menerima kehadiran anak mereka.


“Silahkan besarkan, tapi jangan minta tanggung jawab pada ku, apa lagi menetap di rumah ini, aku tak sudi menambah anak lagi, 2 saja membuat aku emosi, apa lagi bertambah 1, mungkin aku akan gila. Oh ya... ini salah ku, karena tak memberitahu mu sebelumnya.”


“Maksud mu apa mas?” mata Wina berkaca-kaca karena menahan air matanya.


“Aku tak suka anak-anak, dan aku tak suka gadis jelek, apa lagi ada luka atau kerutan di bagian tubuhnya manapun, aku juga mau, lubang wanita yang aku pakai tetap menggigit.” Asir yang selektif dalam memilih wanita membuat Wina ketakutan.


“Mas...” Wina meneteskan air matanya.


“Terserah kau, lagi pula banyak wanita di muka bumi ini untuk menggantikan mu, kalau masih mau disini, buang anak itu, setelah itu aku akan mengetes punya mu, masih layak pakai atau tidak, kalau sudah tak hangat, maaf saja, kau harus pergi dari sini!” ungkapan Asir benar-benar membuat hati Wina tercabik-cabik.


“Tega sekali kau pada ku mas! Pada hal semua telah ku lakukan untuk mu, Hiks!” ujar Wina dengan menangis sesungukan.


“Aku juga, ku beri apa yang kau mau, uang, perhiasan, mobil, bahkan aku membeli rumah untuk ibu mu yang ada di kampung, memangnya kalau sudah begini kau layak menuntut pada ku? Kau hanya gadis bayaran ku, jadi kalau kau di ganti, kau harus tahu diri, kaukan hanya mau uang ku saja, ck!”


Asir berdecak, kemudian ia pun masuk ke dalam kamar mandi. Wina yang tertimpa masalah besar itu merasa sedih.


Kini dirinya menjadi bingung, harus membesarkan anaknya atau tidak.


“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku tak ingin menanggung dosa, karena harus membunuh anak kandung ku sendiri, hiks... apa yang harus hamba lakukan ya Allah, anak ini tak berdosa ya Ilahi.” Wina mengadu pada sang pencipta tentang apa yang ia rasakan.


🏵️

__ADS_1


Yuri yang sudah mandi memakai baju pemberian putrinya dengan penuh senyuman.


“Bajunya bagus.” Yuri mengangkat kedua jempolnya.


Fi tertawa seraya menoleh ke arah Yudi yang masih setia di rumahnya.


Begitu saja sudah senang, mudah sekali membuat keluarga ini bahagia, batin Yudi.


“Ibu akan mengangkat nasi, hari ini kita akan makan bersama.” ujar Yuri. Karena ia ingin sekali menjamu anak dan tamu mereka.


“Ah, enggak usah bu.” Fi menolak, karena ia takut jika tuannya yang selalu makan di tempat bersih tak nyaman makan di rumah mereka yang sempit dan penuh barang-barang.


“Kenapa tidak? Aku lapar loh dari tadi.” Yudi yang ingin pendekatan pada Fi, bersedia makan di rumah calon istrinya.


“Tuan Yudi saja setuju Fi.” Yuri memukul lutut putrinya.


“Tuan Yakin?” tanya Fi memastikan.


“Kapan kalian memasak ini semua?” Yudi yang tidur selama 4 jam tak tahu, jika Fi dan Yuri telah melakukan banyak hal.


“Tadi tuan.” jawab Fi seraya meletakkan gulai ikan mas panggang serta daun ubi kukus di hadapan Yudi. Tak lupa Fi dan ibunya juga membuat cabai giling di campur dengan jeruk nipis dan juga bawang merah iris mentah.


Rugg...


Wangi dari masakan khas tradisional itu membuat perut Yudi keroncongan. Beruntung Fi dan ibunya tak dengar karena pergi ke dapur.


Ia yang ingin segera menyantap hidangan lezat itu harus menunggu tuan. Fi yang keluar dari dapur menuang air minum ke dalam gelas.


Saat Yudi berpikir waktu makan telah tiba, Yuri malah mengajak Fi bicara.


“Hei, ajak pak supir bergabung, kasihan dia seharian menunggu di luar,” ucap Yuri.


“Biar saya yang panggil.” Yudi yang takut ada intro lain sebelum makan memutuskan untuk keluar rumah memanggil supir pribadinya.

__ADS_1


“Hei, cepat masuk ke dalam!” titah Yudi dengan tergesah-gesah.


”Baik tuan.” Rian pun turun dari mobil, kemudian masuk ke dalam rumah Fi.


Setelah itu mereka semua makan bersama penuh canda dan tawa.


🏵️


Dewi yang demam tak punya uang untuk berobat. Lagi-lagi ia mengandalkan obat analgesik bebas untuk di minum.


Keuangannya yang menipis membuat ia hanya makan mie cepat saji malam itu.


“Astaga... sudah 2 hari aku makan racun ini, pagi, siang malam!” lama-lama aku gendut tanpa nutrisi lagi, hah... skincare ku juga mau habis, tapi malangnya aku tak punya uang buat beli lagi.” Dewi merasa stres dengan keadaan yang ia hadapi.


“Apa aku pulang ke rumah si Yuri saja ya? Lagi pula jarak dari mall ke rumah itu hanya 1 jam, dan aku bisa naik subway, yang ongkosnya hanya 3.500, kan lumayan, dari pada aku kos, bayar 1000.000 perbulan, kecil, sempit, menang Ac doang, kalau aku di rumah, akukan bisa pakai Ac juga, tinggal ku isi saja token listriknya banyak-banyak.”


Kesulitan uang yang Dewi alami membuat ia ia jadi pintar matematika. Ia pun berencana, setelah sewa kosnya habis bulan depan, ia akan tinggal bersama Yuri.


“Aku jugakan bisa minta uang si jelek! Untuk makan, akan ku gunakan gaji kak Fi, enak saja, dia punya adik kandung tapi tak di urus! Kecuali aku sudah menikah, akh! Dasar kakak tak tahu diri, sama seperti si Yuri!” Dewi menjadi emosi sendiri.


Penderitaan tiada akhir yang ia alami membuat ia ingin gila.


🏵️


Asir yang baru selesai makan malam kembali ke kamarnya. Dan ia pun melihat Wina memakai piyama seraya menangis di atas ranjang.


“Kenapa kau masih disini?” ucap Asir dengan memutar mata malas.


“Apa maksud mu mas? Bukankah ini kamar ku juga?” Wina menghapus air matanya yang mengalir tiada hentinya.


...Bersambung......


Bantu kasih rate 5 untuk novel Kau Pasti Menyesal! Ya readers. Terimakasih banyak. ❤️

__ADS_1


__ADS_2