
Yudi yang kini berada di hadapan Fi menyapa dengan lembut.
“Selamat sore Fi, apa kau sudah mandi?” senyum lebar Yudi membuat Fi hampir tertawa.
Namun ia pura-pura cuek, ia tak ingin memberi hatinya dengan mudah, sebagaimana Asir dulu mendapatkannya.
“Sudah tuan.” Sahut Fi seraya merapikan sofa ke tempat semula.
Kalau memang jodoh, pasti takkan kemana, batin Fi.
Yudi yang merasa di abaikan tak habis akal, sebisanya ia mencari ide untuk membuat topik baru pada Fi.
“Besok adalah hari sidang Asir dan Wina, apa kau sudah mempersiapkan mental mu?” pertanyaan Yudi berhasil menarik perhatian Fi.
Fi pun melihat ke arahnya Yudi. “Apa tuan sudah minum kopi?” Fi berniat untuk mengobrol dengan Yudi.
“Belum.” sahut Yudi dengan mata yang berbinar.
“Tunggu disini tuan, akan ku buatkan kopi untuk tuan.” Fi pun beranjak ke dapur.
Sedang Yudi yang di tinggal sebentar merasa senang luar biasa.
Yes! Yes! Yes! Akhirnya, dia mau bicara pada ku! batin Yudi.
Yudi si pria tampan tak kurang uang dan harta, bertingkah layaknya tak ada yang suka padanya di dunia ini.
Pada hal jika ia mau wanita, hanya tinggal di tunjuk saja
Untuk terlihat gagah dan berwibawa, Yudi pun duduk dengan tenang di atas sofa.
Tak lama wanita cantik yang membuatnya seperti pengemis cinta datang dari arah dapur.
“Ini tuan.” Fi meletakkan kopi hitam pekat dalam gelas putih di hadapan Yudi.
“Terimaksih banyak Fi.” kemudian Yudi menyeruput kopi buatan Fi.
“Hik!!?” seketika wajah Yudi jadi sepat, saat kopi hitam rasa resochin masuk ke tenggorokannya.
Pahit banget! batin Yudi.
Namun karena itu buatan tangan dari yang ia cinta, Yudi rela menyeruputnya sekali lagi.
Sssrrppp
Fi yang menyaksikan Yudi meminum apa yang ia sajikan tanpa komen dapat menyimpulkan, kalau sang majikan adalah orang yang penyabar.
Tuan, lulus tahap pertama, batin Fi.
“Ehem! Ehem!” Yudi mendehem untuk membersihkan tenggorokannya yang tak nyaman.
__ADS_1
“Apa tuan butuh sesuatu?” tanya Fi, sebab ia kasihan juga melihat majikan baik hatinya menderita ringan.
“Tidak, oh ya... apa kita sudah bisa lanjut bicara?” tanya Yudi.
“Tentu saja tuan,” sahut Fi.
“Aku tadi teleponan pada pak Marteen, kemungkinan memenangkan kasus mu 90%, jadi kau harus kuatkan mental, cerita yang jelas, katakan juga pada Andri untuk mengatakan apapun yang ia alami selama ini, yakinkan dia, takkan ada yang memarahinya, kalau dia mau mengatakan apapun.” terang Yudi dengan wajah menyakinkan.
Fi yang mendapat semangat dukungan dari Yudi merasa lebih percaya diri dalam menghadapi sidang esok hari.
“Terimakasih banyak tuan, saya pasti melakukan seperti yang tuan katakan.” Fi tersenyum pada Yudi yang ada di hadapannya.
“Bagus Fi, semoga besok semua berjalan dengan lancar.” Yudi yang bahagia meminum kopi pahit yang mencekik lehernya sekali lagi.
Meski ia merasa menderita, namun itu tak masalah, asal dirinya bisa mengobrol lama dengan Fi Saeadat.
Apa tuan memang suka kopi tanpa gula?” batin Fi.
Ia yang merasa bersalah telah membuat susah orang yang telah berbuat baik padanya bangkit dari duduknya.
“Tunggu sebentar tua,” ucap Fi.
“Kau mau kemana?” tanya Yudi dengan mendongak.
“Ke dapur.” setelah itu Fi menuju dapur untuk mengambil air minum beserta cemilan kering untuk majikannya.
Setelah beberapa saat menunggu, Fi datang dengan sajian 3 jenis kue di atas nampan.
“Harusnya tak usah repot-repot Fi.” ucap Yudi sebagai basa-basi.
“Apa perlu ku angkat lagi tuan?” ucap Fi bercanda.
“Jangan dong, sayangkan makanannya belum di sentuh.” Yudi langsung meminum air tawar pemberian Fi.
Fi yang melihat hal tersebut menutup rapat mulutnya yang ingin tertawa.
“Apa tuan suka?”
“Iya, apa lagi kau sajikan setiap hari.” kode keras yang di berikan oleh Yudi langsung dapat di mengerti oleh Fi.
“Kalau ada rezekinya tuan.” kali itu Fi menangapi apa yang di katakan oleh Yudi.
Mengerti kalau Fi memberi lampu hijau padanya, Yudi menjadi punya keberanian untuk menyatakan perasaannya.
“Fi...”
“Ya tuan?” sahut Fi.
“Maaf kalau aku lancang mengatakan hal ini pada mu, aku tak ada niat buruk pada mu, Fi...” saat Yudi akan bersiap mengatakan perasaannya.
__ADS_1
Tamu tak di undang datang merusak saat tepat yang telah ia tunggu lama.
“Bang!” suara menjengkelkan menusuk telinga datang dari arah belakangnya.
Dengan perasaan campur aduk, Yudi menoleh ke arah Al.
“Kenapa kau datang kemari?” suara tenang, namun tatapan mengintimidasi terpancar di wajah Yudi.
Al yang tak begitu takut malah duduk di sofa tanpa di suruh.
“Aku mencari mu kemana pun, kata art kau sedang berkunjung kemari. Hehehe...” Al yang usil malah menertawai Yudi.
“Lantas, itu alasan mu mendatangi ku kemari?” Yudi yang marah di lihat langsung oleh Fi.
Apa mereka ada masalah? batin Fi.
“Tentu saja, dan aku juga baru tahu, ternyata kau punya rumah cantik.” Al mengedipkan matanya pada Fi.
Seketika Fi menjadi kesal dengan sikap tak sopan Al.
Begitu pula dengan Yudi, andai itu di rumahnya ia pasti sudah merobek-robek mulut adiknya.
“Apa ini?” mata Al menatap ke arah kue kering yang ada di atas meja
“Sepetinya enak!” saat Al akan mengambil nastar cinta milik Yudi.
Yudi yang gusar sedari tadi memegang tangan Al.
“Jangan sentuh, itu milik ku!” suara tegas Yudi membuat Al makin terpancing untuk membuat abang sepupunya marah.
Apa tuan memang semarah itu hanya karena makanan biasa? batin Fi.
“Astaga, kau pelit sekali bang, ya sudah kalau begitu.” Al menarik tangannya dari genggaman Yudi. “Fi, aku juga mau kue, apa kau mau mengambilnya untuk ku?”
Permintaan Al membuat Yudi cemburu berat. “Tak usah kau layani dia Fi.” Yudi melarang Fi untuk mengambil apa yang Al minta.
“Kenapa kau keberatan bang, kau kan bukan pacar atau ...”
“Tapi aku calon suaminya.” ucap Yudi dengan tegas.
Sontak mata Fi membelalak sempurna saat mendengar pernyataan tuannya.
“Apa?!” Al mendekatkan telinganya ke arah Yudi.
Yudi yang keceplosan tak dapat mundur lagi dari apa yang ia katakan.
“Huffff...” ia pun menghela napas panjang. Kemudian Yudi melirik wajah Fi yang nampak syok.
“Maaf, aku tahu takkan mudah untuk mu mendengar apa yang aku katakan, aku sadar aku egois, menyatakan cinta saat kau dalam keadaan berduka, namun meski begitu aku sangat berharap kau menerima ku, maaf kalau aku tetap bersikap egois, namun aku telah mencintai mu, jauh sebelum aku menikahi Suli.” akhirnya Yudi mengatakan isi hatinya pada Fi.
__ADS_1
Tanpa ia tahu, semua orang mendengar apa yang ia katakan, termasuk Yuri, Andri, dan ketiga Artnya.
...Bersambung......