Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
40 (Kena Batunya)


__ADS_3

Penolakan yang di beri oleh Fi tak di bantah sedikitpun oleh Yudi, sebab ia sangat menghargai pendapat orang lain, meski ia tak suka.


“Baiklah kalau begitu, oh ya... kemarin waktu kau interview aku belum melihat KTP mu, tolong 1 jam lagi, antar keruangan ku, karena aku perlu mempotocopy-nya.” alasan Yudi sebenarnya adalah untuk memastikan nama asli Fi.


“Maaf tuan, saya hanya punya photo dalam handphone, karena kartu fisiknya tinggal di rumah mantan suami saya,” terang Fi.


“Tidak apa-apa, itu juga boleh.” setelah melakukan percakapan singkat itu, Yudi berdiri kembali, kemudian ia menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Bisa-bisanya kemarin aku menerima orang kerja tanpa melihat kartu tanda pengenalnya, batin Yudi.


Fi merasa cukup senang atas keramahan majikannya, sebab selain Mirna, masih ada yang mau berbaik hati padanya.


Reni yang mengagumi Yudi datang menghampiri Fi.


“Pelet apa yang kau gunakan, sehingga tuan besar menaruh perhatian pada mu!” Reni yang jarang di ajak bicara oleh Yudi merasa cemburu.


“Maaf, aku tidak pernah memakai barang seperti itu,” ucap Fi dengan jujur.


“Ya Tuhan, jangan bohong deh burik! Kita yang sekelas Art saja enggan bicara pada mu, apa kabar dengan tuan yang konglomerat? Kau bercanda ya? Hah?!” mata Reni membelalak pada Fi.


“Reni, hentikan! Apa-apaan sih kau?! Jangan mengganggunya, kau lihatkan, nasinya masih banyak? Ocehan mu hanya membuat selera makannya hilang, sebaiknya kau lanjutkan pekerjaan mu.” Mirna menegur Reni yang tak sopan pada Fi.


“Iya-iya!” Reni yang tak dapat menghina Fi lebih lama mengambil ikan bakar pemberian Yudi pada Fi.


“Jangan ambil semua Ren, kalau kau mau kita bisa bagi dua.” ucap Fi, sebab ia juga selera dengan ikan bakar tersebut


“Enak saja, ini aku yang masak dengan Mirna!” pekik Reni.


“Reni, kembalikan itu pada Fi, kau usil banget padanya, kau tak boleh begitu Ren, pada hal Fi tak mengganggu mu sama sekali loh!” Mirna memarahi Reni yang bersikap keterlaluan.


“Kau kenapa sih selalu membelanya? Apa kalian punya hubungan darah?” tanya Reni.


“Tidak, hanya hubungan kemanusiaan saja,” ujar Mirna.


“Oh, hanya itu.”


Puk!

__ADS_1


Reni membuang ikan bakar milik Fi ke lantai. Setelah itu Reni menuju Mirna.


Mirna yang melihat hal tersebut geleng-geleng kepala.


“Susah banget kau di kasih tahu ya, jangan Zalim Ren, taubat!.” Mirna menasehati Reni.


Sedang Fi menatap ikan bakar yang ada di lantai, meski ia sangat ingin, namun ia menahan seleranya, sebab ia tak mau memungut ikan tersebut.


Sebatas perkataan aku masih terima, tapi kalau sampai ke makanan juga aku tak mau, bahkan kucing masih lebih layak cara memberi makannya di bandingkan aku, batin Fi.


Ia pun melanjutkan makannya, Reni yang melihat ikan bakar tersebut tak di ambil oleh Fi malah makin marah.


“Hei, apa maksud mu? Tadi kau minta ikan itu, setelah ku beri utuh kau malah tak ambil, apa mau mu sebenarnya? Jangan susah di atur, kau itu masih anak baru disini!” pekik Reni, ia sungguh merasa Fi adalah manusia bodoh.


“Maaf, tapi aku tak selera lagi pada ikan itu,” ucap Fi.


“Kenapa? Pada hal aku menaruhnya di lantai, dan lantai yang kau duduki itu bersih, bahkan lebih higenis dari dirimu, jadi kalau aku menaruh makanan disitu, sebenarnya itu masih wajar kalau itu untuk mu,” Reni kali itu benar-benar menghina Fi.


Fi yang telah selesai makan bangkit dari duduknya kemudian menuju wastafel.


dariku, kau saja yang makan.” selesai mencuci tangannya, Fi pergi meninggalkan dapur.


Reni pun tertawa getir, ia tak menyangka, jika Fi akan melawannya.


”Dasar perempuan sinting! Tak tahu caranya rasa bersyukur!” Reni geleng-geleng kepala.


“Sebanarnya kau yang kurang bersyukur, sudah di kasih wajah cantik, harusnya sesuaikan juga dengan akhlak mu, ini malah kau menghina orang yang lebih jelek darimu.” Mirna tertawa geli melihat Reni.


__________________________________________


Fi yang memiliki waktu 30 menit untuk meluruskan otot-ototnya, memilih bersantai di bawah pohon Kamboja yang ada di pinggir kolam berenang.


“Kenyang banget, rasanya jadi ngantuk!” Fi menutup mulutnya yang saat itu menguap.


Ia yang baru duduk di atas batu hitam besar d lihat oleh kepala Art Rila. “Untuk apa dia duduk disana? Bukankah sudah ku bilang tadi, selesai makan, mencuci baju tuan?!” Rila yang disiplin mendatangi Fi.


“Hei, jelek! Kenapa malah duduk disini? Kau pikir ini rumah mu? Sehingga kau bebas mendaratkan bokong mu dimana pun kau mau?!”

__ADS_1


Teguran dari Rila membuat Fi bangkit dari duduknya.


”Maaf kak, saya hanya cari angin sebentar,” ucap Fi.


“Cari angin! Cari angin, alasan saja kau! Asal kau tahu saja ya jelek! Di larang duduk santai di seluruh area rumah, kecuali kamar mu yang kau tempati.”


“Maaf kak, saya tidak tahu sebelumnya.” Fi menjadi serba salah di hari pertama kali ia kerja.


“Makanya kau bertanya, apa saja jobdesk mu, jangan datang dan minta orang lain yang mengarahkan mu, inisiatif bu!! Kau ini sudah tua loh, harusnya pengalaman kerja mu sudah banyak, usia mu 40 berapa?” tanya Rila, ia berpikir jika umur Fi di atas 40 tahun.


“Saya masih 25 tahun kak, dan ini pengalaman kerja pertama saya jadi Art,” terang Fi.


Lalu mata Rila menyipit, menatap Fi dengan seksama. “Sok muda sekali kau! Pada hal sudah bau tanah!”


”Ada apa ini?” suara maskulin Yudi menghentikan mulut Rila yang sedang marah-marah.


“Maaf tuan, telah menggangu kenyamanan mata dan telinga tuan, tapi Art baru ini tidak tahu apa tugasnya, pada hal sudah saya katakan, setelah makan siang, dia langsung mencuci baju tuan yang kotor,” terang Rila.


Lalu Yudi melihat jam tangan Bulgari tipe DG35BSPD Diagono Automatic Premium miliknya yang telah menunjukkan pukul 17:30.


“Kau bilang makan siang?” Yudi mengernyitkan dahinya.


”Betul tuan, dia kerjanya sangat lambat, makanya tadi baru makan siang, pada hal aku sudah memberitahu seluruh Art termasuk dirinya, segala tugas yang di berikan harus sudah selesai pukul 13:00 siang, tapi kenyataannya dia baru meyelesaikan kamar tuan, sedang ruang office tidak sama sekali.” Rila menceritakan kekurangan Fi pada Yudi.


Dengan begitu Rila berharap, kalau Yudi akan memecat Fi dari rumah itu.


“Oh, jadi begitu...” setelah mendengar dengan baik penjelasan kepala Artnya, Yudi jadi mengerti alasan seorang Fi makan tanpa lauk.


“Benar tuan!” sahut Rila dengan percaya diri.


“Ehm, bu Rila, mulai besok, kau bagi tugas dengan Fi, kalau ku pikir-pikir pekerjaan mu hanya mencek hasil akhir apa yang di kerjakan para Art, dan sebelum mereka selesai bekerja kau hanya menganggur, untuk itu, kau ambil alih ruang office, apa kau paham?” Yudi yang marah karena Fi mendapat ketidak adilan serta tindakan tidak menyenangkan memberi tanggung jawab baru pada Rila.


“Tapi tuan, itu tak ada di jobdesk kerja ku,” Rila mencoba menolak perintah majikannya.


“Tambahkan saja daftarnya, bereskan?” ucap Yudi


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2