Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
84 (Beruntun)


__ADS_3

Tepat pada jam 10:00 pagi, Dewi di bawa masuk ke ruang operasi.


Ia yang di tangani oleh para dokter dan perawat terus menitihkan air matanya.


Ia merasa sedih dengan kisah hidupnya, ia juga menyesal telah menggugurkan anaknya.


“Bu, jangan banyak pikiran ya, agar operasinya berjalan dengan lancar.” ucap sang dokter.


Dewi pun menganggukkan kepalanya. Sebisanya Dewi mencoba memikirkan hal-hal yang membuat ia senang.


🏵️


Asir yang berada dalam rumah terus menunggu kehadiran Yudi. Namun sang mantan rekan kerjanya tak kunjung datang.


“Nanti kalau pak Yudi datang. Kau harus menyapanya ya. Harus ramah tamah, kalau tidak, papa akan mencubit mu!” Asir memelototi anaknya.


“Iya pa.” Andri menutup rapat mulutnya, karena ia begitu takut pada sang ayah.


Wina yang melihat Asir ingin sekali mendekat, tapi ia takut jika kena abaikan.


Asir yang tak sengaja menoleh ke arah Wina memutar mata malas.


“Kenapa sih, Dewi tak mengizinkan ku untuk segera mengusirnya?” Asir geleng-geleng kepala.


Ia yang lapar pun bangkit dari jongkoknya. “Kau tunggu disini, aku mau makan dulu.” kemudian Asir beranjak ke dapur tanpa mengajak putra satu-satunya makan.


Asir yang melintasi Wina, tak menyapa apa lagi melihatnya. Asir seolah tak melihat ke hadiran Wina.


“Mas, apa kau mau makan?” Wina mengikuti langkah Asir.


Namun Asir tak menggubris pertanyaan Wina. Ia terus melangkah, tanpa menoleh ke arah Wina yang terus mengajaknya bicara.


“Mas, sudah lama kita enggak begituan, kapan mas... kapan kita bercinta lagi?” tanya Wina dengan mata berbinar.


“Bicara apa sih kau? Hah?! Dari tadi aku diam kau tak mengerti juga! Menjauh kau dariku!” Asir hampir menampar wajah Wina. Dan Wina di marahi oleh Asir di hadapan 3 orang art.


Wina seketika menjadi malu, ia juga tak dapat menegakkan kepalanya.


“Baik, aku akan pergi mas.” Wina kembali ke kamarnya.


Asir yang di tinggal pergi oleh Wina merasa lega. Ia pun menghela nafas panjang.


“Huff... bangsat banget jadi cewek! Tahu diri banyak kenapa sih! Aku kan selalu membayar jasa mereka tepat waktu.” Asir begitu muak pada para gadis yang pernah singgah di hatinya.


“Selalu nuntut nikah, sendirinya minta sesuatu juga berlebihan! Jadi kalau aku mau melepas atau tidak, harusnya mereka tak protes!” Asir tertawa getir.


Kemudian ia pun sarapan di pagi menjelang siang itu.


Para art yang tadinya menyaksikan Wina di bentak Asir merasa senang.


Mereka juga berharap kalau Wina segera di buang oleh majikan mereka.

__ADS_1


Teri yang tahu gosip itu tertawa seraya memandang layar handphonenya.


Ia yang tak fokus melihat jalannya tanpa sengaja menabrak Wina yang sedang kurang sehat.


Bruk!


Wina yang terhuyung jatuh ke lantai. “Maaf Win, eh nyonya aku tak sengaja.” Teri meledek Wina.


“Kau sengaja ya?” Wina menatap tajam ke arah Teri.


“Tadikan aku susah minta maaf nyonya.” Teri semakin berani, terlebih mereka sudah bisa memprediksi, jika masa kejayaan Wina akan segera berakhir.


Kemudian Wina bangkit dari lantai dan berniat ingin menampar Teri.


Saat Wina melayangkan pukulannya, Teri memegang erat tangan Wina.


“Aku bukan tuan Andri atau pun Emir, yang bisa kau perdaya, jangan macam-macam Wina! Aku juga bisa menggigit kalau kau cari penyakit! Lagi pula semua orang juga tahu, kalau kau sudah tak menarik lagi” kemudian Teri menghempaskan tangan Wina.


Wina tak bisa menjawab perkataan Teri lagi, seketika ia merasa gentar dan takut pada Teri.


“Kalau kau jadi art lagi lihat saja ya! Kau akan menyesal karena pernah menghina ku!” Setelah itu Teri melenggang pergi dari hadapan Wina dengan bersenandung.


Meski kesal dan merasa marah, namun seorang Wina tak bisa berbuat apapun. Sementara Asir yang telah selesai makan kembali menuju ruang tamu.


Ia juga melintasi Wina. Namun seperti biasa, dia acuh, dan menganggap Wina tak ada.


Wina sendiri merasa deg degan sekarang kalau melihat Asir. Mentalnya juga kembali seperti saat mereka bertemu. Kini ia hanya dapat melihat Asir dari jauh.


“Anak pintar.” Asir memuji putranya. Tanpa ia tahu, kalau putranya sangat lapar.


Asir pun menuntun anaknya ke sofa dan mereka duduk berdua. Suara perut Andri pun berbunyi berulang kali.


Rugh...


Namun Asir yang fokus ke pintu tak mendengar suara perut anaknya yang lapar.


Hingga 1 jam menunggu Yudi tak kunjung datang.


“Mungkin Enggak jadi kali ya. Akh! Sial, bisa rugi total aku kalau begini. “Hei Andri.” Andri pun menoleh pada ayahnya.


“Semua tergantung kinerja mu, kalau kau tak berhasil awas saja!” Asir menunjukkan tinju besarnya.


“Iya pa.” jawab Andri dengan mata memerah. Bibir bergetar layaknya orang yang ingin menangis.


Lama menunggu tak ada hasil. Asir bangkit dari duduknya.


“Wajar sih kalau pak Yudi ingkar janji, diakan orang yang sibuk.” Asir yang bosan di rumah, memilih pergi jalan-jalan.


5 menit setelah Asir meninggalkan rumah, Wina yang marah mendekat ke Andri.


Plak!

__ADS_1


Tangannya yang gatal menampar Andri. “Biadap! Papa mu kurang ajar!” Wina melampiaskan amarahnya pada anak tak berdosa itu, sebab ia berpikir jika Andri dan Asir adalah orang yang sama.


Saat Wina akan memberi tamparan lagi, Fi dan Yudi tiba di rumah Asir.


“Berhenti kau Wina!” mendengar suara familiar Fi membuat Wina tertawa getir.


Ngapain si jelek kesini! batin Wina.


Saat ia menoleh ke arah pintu. Ia pun mengernyitkan dahinya.


Pasalnya ia tak mengenali wanita cantik yang mulai mendatanginya dengan mata berapi-api.


Yudi yang tahu Fi marah tak bisa menenangkannya. Karena ia sendiri melihat kalau Wina mengangkat tangannya pada Andri.


Andri yang melihat ibunya sempat ragu kalau itu Fi. Namun karena ada kemiripan dengan sang ibu, ia pun yakin kalau itu adalah ibunya.


“Mama!” Andri lari pada Fi yang kini hanya berjarak 30 meter di hadapannya.


Wina yang mendengar Andri berkata mama mengernyitkan dahinya. Pasalnya Fi yang kini di hadapannya hanya seorang gadis berusia 17 tahun di matanya.


“Anda siapa?” tanya Wina dengan wajah bingung.


“Siapa kau bilang?! Masih berani tanya lagi!”


Plak!!


Plak!!!


Plak!!


Fi menampar berulang pipi Wina beruang-ulang kiri dan kanan.


“Akh! Apa yang kau lakukan?!” tanya Wina dengan suara meninggi.


Plak! Plak!


Namun Fi yang kesal hanya memberi tamparan sebagai jawaban.


Wina yang mendapat serangan beruntuntun menjadi gelagapan.


Yudi yang menyaksikan kegarangan Fi menelan salivanya.


Ia jadi tak berani melerai, sebab ia takut kebagian jatah amarah Fi.


Aku juga pasti akan ngamuk kalau kucing ku di tendang, batin Yudi.


Ia yang tak memiliki anak, mengumpamakan pada hewan kesayangannya.


Andri yang melihat kekejaman ibunya justru senang.


Sebab ia berpikir, lebih garang, lebih oke, karena ia butuh seseorang yang dapat mengimbangi kekuatan Wina yang super luar biasa di matanya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2