
Yudi memanggil Artnya dengan suara melengking. Lalu Reni datang menghadap tuannya.
“Kau sengaja ya?” tanya Yudi dengan wajah dingin.
“Ti-tidak tuan,” sahut Reni dengan suara bergetar.
“Kalau begitu, coba cicipi!” Yudi memberikan nasi asin dan sup tak bisa di makan itu pada Artnya.
“Ba-baik tuan.” kemudian Reni menyantap makanan hasil racikannya sendiri.
Monyet! Ini sih enggak bisa di makan! batin Reni.
Wajah Reni yang menjadi merah membuat Yudi geleng-geleng kepala.
“Bagaimana rasanya?” tanya Yudi.
“Mantap tuan!” Reni mengangkat kedua jempolnya.
Yudi dan Fi melihat satu sama lain, pasalnya Reni merasa nikmat dengan makanan yang tak bisa di konsumsi.
“Kalau begitu habiskan! Ku lihat kau suka,” ucap Yudi.
“Nanti pasti akan saya habiskan!” Reni berkilah, agar dapat membuang nasi dan sup yang ia makan.
“Tidak, makan disini, sekarang, silahkan duduk.” Yudi kesal akan kebohongan Reni, ia pun berniat memantau artnya sampai selesai makan.
“Apa tuan?” Reni menatap wajah majikannya dengan mata berkaca-kaca dan hidung berair.
“Harus habis.” ucap Yudi seraya bersedekap.
Ya Tuhan, tolong aku, hiks... batin Reni.
“Siap tuan.” dengan hati meraung sedih, Reni harus tetap menghabiskan makanan yang ia buat sendiri.
Saking pedasnya, tenggorokan Reni jadi kering, ia juga menjadi batuk-batuk.
Fi sebenarnya kasihan pada Reni, tapi di sisi lain dirinya merasa terhibur akan tingkah konyol Reni.
“Xixixi...” Fi tak sengaja melepas tawanya.
Reni yang melihat dirinya di remehkan, semakin naik pitam, ia tak sadar jika itu adalah hasil perbuatannya sendiri.
Reni yang termakan senjata makan tuan, merasa terbakar berkali-kali, pertama api cemburu, kedua api amarah, ketiga bara di lidah.
Namun apa boleh buat, dari pada ia di pecat, lebih baik ia menderita.
Setelah nasi yang ada di piring habis, Yudi menahan tawanya.
Ia merasa lucu akan tingkah Reni. Sudah jelas-jelas bohong, harusnya minta maaf sudah bereskan?! batin Yudi.
“Ayo Fi, perjalanan kita masih panjang.” Yudi bangkit dari duduknya. “Nanti kau makan di luar saja.” ucap Yudi.
“Baik tuan.” Fi bangkit dari duduknya seraya senyum-senyum pada Reni, seolah ia sedang memanas-manasi rekan kerjanya.
__ADS_1
“Kita pergi dulu ya Ren.” Fi melambaikan tangannya.
Reni yang menerima perlakuan demikian dari Fi semakin terbakar.
Sialan!!! Reni berteriak dalam hatinya, ingin rasanya ia mencabik-cabik tubuh Fi.
Kemudian Fi dan Yudi segera menuju rumah Yuri.
Hari itu Yudi sengaja menyetir sendiri. Karena ia ingin berdua dengan Fi.
Selama perjalanan, keduanya hanya diam, namun Fi yang penasaran akan kebenaran gosip mengenai dirinya yang menjadi pemecah hubungan tuan dan sang nyonya memutuskan untuk bertanya.
“Tuan.”
“Iya?” sahut Yudi.
“Ehm... maaf tuan, kalau pertanyaan saya menyakiti hati tuan,” ucap Fi.
“Tanyakan saja, tidak apa-apa kok.” ujar Yudi seraya menyetir mobilnya.
“Begini tuan, saya hanya ingin meluruskan, apa benar... tuan dan nyonya sudah bercerai?” tanya Fi dengan hati-hati.
Yudi menelan salivanya, ia tak suka karena masa lalunya di ungkit “Iya, betul.” jawab Yudi.
Oh ternyata benar, batin Fi.
“Apa penyebabnya aku tuan?”
Seketika Yudi melihat ke arah Fi, tatapan tajam dari sang majikan membuat Fi gugup.
“Siapa bilang? Aku bercerai dengannya karena masalah pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan mu.” Yudi tak mau mengatakan alasan kenapa ia berpisah dengan Suli, karena menurutnya itu adalah urusan pribadi.
“Dengar dari orang-orang tuan, maaf banget kalau saya salah bicara tuan.” kemudian Fi menutup rapat mulutnya.
“Bagus sih kalau kau tanya langsung pada ku, dari pada diam-diam, malah bikin salah paham lagi,” ujar Yudi.
Kalau soal pesan itu, tuan enggak ya? batin Fi.
Fi yang ingin bertanya mengurungkan niatnya, sebab ia merasa itu tak terlalu penting
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, Fi dan Yudi pun tiba di rumah Yuri.
Yuri yang telah pensiun melihat kehadiran putrinya bersama Yudi.
Ia yang duduk di depan rumah tetangga merasa bangga, karena putrinya yang cantik turun dari mobil mewah.
“Wah, sekarang Fi punya pacar baru ya bu,” ucap ibu A
“Benar, ganteng banget lagi,” ujar ibu B.
“Bukan ibu-ibu, itu hanya majikan putri ku, ya sudah ya bu, saya pergi dulu.” Yuri yang kini memakai baju-baju bagus membuat para tetangganya iri.
“Alah, paling si Fi jual diri, kalau tidak, mana mungkin di dapat memberi ibunya baju bagus dan handphone baru, ih, dasar nakal!” ibu A memfitnah Fi setelah Yuri pergi jauh.
__ADS_1
“Iya benar, mana mungkin si Fi dapat uang banyak dalam sekejab, kalau bukan main gila dengan pria tampan itu.” ibu B mengutarakan pendapatnya.
“Betul,” sahut ibu A.
Begitulah ibu-ibu zaman sekarang, setelah menggosip orang lain, maka akan membicarakan teman mereka yang baru pergi.
“Eh... tuan Yudi, datang lagi ya...” Yuri menyambut kedatangan Yudi, ia yang fokus pada sang tuan muda lupa jika putrinya ada di sebelah Yudi.
“Bu, kami datang untuk mengambil oleh-oleh.” ucap Fi.
“Eh Fi, kau datang juga?” Yuri memeluk putrinya.
“Dari tadi kan aku disini bu.” Fi menunjuk dirinya sendiri.
“Aduh maaf, ibu tak lihat tadi.” ucap Yuri dengan bercanda. “Ayo-ayo masuk dulu tuan.” Yuri mempersilahkan Yudi masuk.
Ibu semangat banget sih, batin Fi.
“Baik bu.” kemudian Yudi masuk ke dalam rumah Fi.
Ia yang pernah tabrakan dengan kusen pintu, kali itu lebih berhati-hati, agar tak kena jebakan yang sama.
“Kita cuma sebentar disini bu, tak usah repot ambil minum.” Fi yang tak sabar ingin bertemu anaknya ingin segera berangkat ke rumah Asir.
“Jangan gitu Fi, tamu datang sebentar di jamu minum, kalau lama di kasih makan,” terang Yuri.
“Tidak usah bu.” entah mengapa Fi ingin sekali bertemu anak-anaknya.
“Tapi aku haus.” Yudi yang ingin dekat dengan calon mertuanya pura-pura mau minum, meskipun ia baru melepas dahaganya.
Persetujuan dari Yudi membuat Fi ingin menangis.
Kok malah makin lama sih? batin Fi.
Namun Yudi tak mengerti, malah pencitraan panjang lebar pada Yuri.
🏵️
Di rumah sakit, Dewi telah berbaring di ranjang pasien.
Ia yang di jadwalkan operasi jam 10:00 pagi telah bersiap-siap tanpa di temani oleh orang yang ia kenal.
Dewi menitihkan air matanya, ia merasa sedih dengan takdir Tuhan yang begitu membuat ia menderita.
Drrrttt...
Perlahan ranjang pasien yang ia tempati di dorong oleh 2 perawat pria menuju ruang operasi.
“Mas, operasinya sakit enggak ya?” tanya Dewi, sebab ia masih trauma saat melalui pengguguran bayinya.
“Enggak bu, tidak akan terasa sama sekali.” terang sang perawat pria.
Tiba-tiba tubuh Dewi gemetaran dan juga dingin.
__ADS_1
Ia sangat takut dengan apa yang ia hadapi. Kalau aku sehat kembali, Asir dan Wina akan ku buat menyesal! batin Dewi.
...Bersambung......