
Fi yang mendapat lamaran dadakan merasa campur aduk.
Namun meski begitu, ia cukup kagum dengan sikap serius Yudi.
“Bagaimana Fi?” Yuri mencolek dengkul putri sambungnya.
“Saya bersedia.” sesuai janji, Fi menerima lamaran dari Yudi.
“Alhamdilillah!” Yudi yang tak sabar mengeluarkan cincin berlian sebagai pengikat untuk Fi.
Fi yang melihat jelas rona bahagia di wajah Yudi merasa senang, karena itu pertama kalinya ia merasa di cintai dengan begitu tulus.
Fi pun mengulurkan tangan kirinya, kemudian Yudi menyematkan cincin indah yang ia beli di jari manis Fi.
“Ahahaha... maaf kalau kami hanya datang bertiga, karena kebanyakan keluarga kami di luar negeri, yang ada disini juga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sebenarnya mereka mau ikut, kalau Yudi mau bersabar sampai bulan depan, tapi... Yudi tak bisa menunda lagi katanya, makanya kami hanya datang bertiga,” terang Rani.
“Tidak apa-apa bu, mau ramai atau tidak, yang penting itu niatnya.” ucap Yuri dengan tersenyum hangat.
“Jadi, apa kau sudah siap untuk menikah bulan depan Fi?” tanya Yudi.
“Bulan depan tuan?” Fi tak menyangka kalau Yudi seburu-buru itu.
“Bukannya itu terlalu cepat tuan?” ucap Fi, karena menurutnya tak baik kalau acara sakral di lakukan buru-buru.
“Apa 5 tahun waktu yang cepat untuk mu?” pernyataan dari Yudi membuat Fi bungkam.
Benar juga sih apa kata tuan, batin Fi.
“Pikirkan baik-baik nak, ini demi masa depan mu.” Yuri menggenggam tangan putrinya.
“Kalau minggu depan bagaimana?” Fi menawar waktu.
Yudi yang memang ingin segera bersama dengan Fi, tentu tak menolak.
“Baiklah, kami bersedia, serahkan saja semuanya pada ku, kau tinggal terima beres saja.” dada Yudi rasanya ingin meledak, saat yang ia cinta sebentar lagi jadi miliknya.
Setelah itu Fi dan Yuri mengajak Yudi dan keluarganya untuk makan malam bersama.
🏵️
Dewi yang baru pulang jalan-jalan dari pusat kota Meksiko melihat, kalau pintu apartemennya terbuka.
“Kok bisa?” Dewi yang ingin masuk menjadi ragu, pasalnya ia takut maling yang memasuki apartemennya masih disana.
Lingkungan apartemen yang sepi serta penghuninya yang selalu sibuk bekerja setiap hari, membuat antar penghuni tak mengenal satu sama lain.
Dewi yang ingin memastikan apartemennya aman, mengambil sapu ijuk yang ada di samping pintu apartemennya.
Dengan hati-hati Dewi memasuk. “Astaga!” Dewi merasa lemas, saat semua barang-barangnya telah ludes tak tersisa.
Ia pun segera ke kamarnya dan melihat isi lemarinya.
Draakkk!!
__ADS_1
Bruk!
Ia pun terduduk lemag, saat seluruh uang dan perhiasan yang Dewi simpan ikut raib.
“Hiks!!! Sialan! Pencuri mana yang berani masuk kesini??!”
Dewi pun segera menuju keamanan apartemen.
“Bagaimana bisa pencuri bisa masuk ke dalam kamar ku, apa kau tak berjaga dengan benar?!” ucap Dewi dengan berbahasa Inggris.
Sang satpam apartemen ternyata hanya bisa bahasa Meksiko.
“Tunggu, bukan ini satpam yang biasa menjaga pos ini,” gumam Dewi.
Saat ia masih dalam kebingungannya, salah seorang penyewa pun datang.
“Dia sudah di pecat tadi pagi, karena ketahuan mencuri.” ucap sang penghuni lain dalam bahasa Inggris.
“Astaga, bagaimana ini? Dia juga mencuri uang dan perhiasan ku?!” Dewi mengatakan keluhannya.
“Ikhlaskan saja, karena pihak apartemen takkan bertanggung jawab, sebab itukan, harga sewa apartemen disini murah.” terang sang penghuni lain.
Seketika Dewi merasa tak bertenaga, seperti hilang raga.
Ia yang tak memiliki apapun terpaksa meminta bantuan dubes republik Indonesia, untuk mendanai kepulangannya ke Indonesia.
2 hari kemudian, Dewi yang sampai ke depan rumah lamanya berniat untuk masuk.
Namun tetangga yang melihat kedatangannya pun menyapa.
“Apa? Di jual kata ibu? Lalu, ibu ku sekarang tinggal dimana?” tanya Dewi penasaran.
Kemudian sang tetangga pun memberi alamat terbaru Wina.
Dewi yang tak punya tempat tinggal terpaksa mencari Yuri sebagai tempat sandarannya.
Sesampainya Dewi ke alamat yang di tuju, ia pun mengernyitkan dahinya, pasalnya rumah itu terlalu mewah dan tidak mungkin bagi akal sehat Dewi, kalau sang ibu sambung tinggal disana.
“Kalau bercanda kira-kira dong!” saat Dewi akan pergi ia melihat Andri sedang bermain di dekat gerbang.
“Oh, ternyata benar.” ia pun menyebarang jalan untuk mencapai rumah kakaknya.
Rumah baru yang belum memiliki satpam, memudahkan Dewi untuk masuk.
Drkkkk!!
Ia membuka pagar rumah kakaknya dengan mulus.
Andri yang tanpa sengaja melihat kedatangan Dewi langsung berlari sekuat tenaga menuju rumah.
“Mama! Tante Dewi datang?!!” Andri berteriak sekuat-kuatnya.
Fi yang mendengar suara takut anaknya langsung mencari sang buah hati.
__ADS_1
Hingga ibu dan anak itu bertemu di pintu mengarah ke dapur.
“Ada apa nak?” Fi menggendong Andri yang gemetaran.
“A-ada tante Dewi ma.” ucap Andri dengan suara kikuk.
“Mana?” Fi yang tak ingin anaknya trauma menitipkannya pada Reni.
“Jaga Andri dulu Ren.” kemudian Fi pergi menemui adik yang telah merusak masa depannya.
Fi yang telah tiba di ruang tamu, melihat Dewi sedang duduk di sofa.
“Bangsat!!!” Fi yang kesal berjalan cepat ke arah Dewi.
Sedang Dewi yang melihat kehadiran kakaknya pangling bukan kepalang.
Pasalnya, wajah cantik Fi yang mirip anak SMA membuat Dewi tertawa getir.
“I-ini kau kak?” Dewi merasa iri dengan penampilan baru kakaknya.
“Iya, untuk apa kau kesini?!” Fi sungguh muak melihat wajah adiknya.
“Apa ini rumah mu kak?” Dewi seenaknya mengalihkan topik.
“Iya.” jawab Fi singkat.
Deg!
Seketika Dewi tersentak, ia benar-benar tak mengira kalau pada akhirnya kakaknya jadi tajir melintir.
“Dapat uang dari mana kau kak? Mencuri? Menjual organ atau diri?”
Plak!
Mulut tak beretika Dewi mendapat salam hangat dari tangan Fi.
Reni yang melihat hal itu menjadi takut pada sosok Fi.
Ternyata Fi bisa bertengkar juga, batin Reni.
“Aku tak seperti dirimu Dewi! Dan aku tak perlu memberitahu mu, darimana aku mendapatkan segalanya. Yang jelas kau tak ku izinkan menginjakkan kaki di rumah ku!” kemudian Fi mendorong tubuh Dewi untuk keluar dari rumahnya.
“Kak, aku tahu aku salah, ku mohon maafkan aku, aku begitu karena suami mu yang menggoda ku, dan yang paling penting, aku tak punya uang dan juga tempat tinggal, dan saat ini, hiks... aku mengidap kangker serviks stadium 4, tolonglah kak, berikan aku tempat tinggal, dan biayai pengobatan ku.” Dewi menangis pilu.
“Aku enggak akan tertipu kau berkali-kali lagi Dewi, mulai dari kuliah hingga ke mantan suami ku, kau mempermainkan kepercayaan, sekarang pergilah, urus dirimu sendiri!” Fi mendorong kembali tubuh Dewi agar keluar dari rumahnya.
Yuri yang baru pulang dari pasar bersama Lia, melihat Fi ribut dengan Dewi.
Dengan sigap, Yuri menelepon polisi, untuk memberitahu keberadaan Dewi. Setelah itu mereka pun mendekat ke teras.
“Dewi! Sungguh tak tahu malu! Masih berani kau memperlihatkan wajah mu pada kami?” ucap Yuri dengan mata Yuri membulat sempurna.
Plak!
__ADS_1
...Bersambung......