Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
Bab 23 (Racun)


__ADS_3

Kata-kata yang Fi utarakan ternyata untuk memancing minat Wina agar menggoda Asir.


Sebab Fi sangat yakin, jika Wina tak suka pada Dewi yang begitu semena-mena. Fi berharap Wina dapat membalaskan dendamnya.


Setelah Fi pergi, Wina menggigit jarinya, “Ehm, pasti yang di katakan si jelek benar, baiklah... apa salahnya mencoba.” Wina yang masuk perangkap, berniat untuk merebut sang majikan dari Dewi.


_________________________________________


Dewi yang berada dalam kamar mengambil hati Asir yang terlihat pucat.


“Mas, apa ada masalah?” Dewi menyenderkan kepalanya di atas pundak Asir yang sedang bersandar ke punggung ranjang.


“Aku lagi pusing sayang.” Asir memijat pelipisnya.


“Loh, memangnya kenapa mas?” Dewi makin di buat penasaran, ia berharap, pusingnya Asir bukan karena harta.


“Aku takut tak dapat memenangkan tender besar yang di amatkan papa sebelum ia meninggal, ini adalah kontrak kerja baru antara perusahaan kita dan POE (Products Of Electronic Corp.” terang Asir.


Syukurlah, ku pikir perusahaan sedang di ambang jurang, batin Dewi.


“Kau harus percaya diri mas, pelajari materi mu dengan baik, aku akan menemani di sebelah mu, apabila kau membutuhkan bantuan ku.” Dewi mengecup pipi Asir, sebab ia merasa senang, karena jika Asir berhasil maka ia akan untung besar.


“Terimaksih sayang, semua yang akan ku presentasikan sudah ada dalam kepala ku, hanya saja, aku grogi, sebab klien ku ini, memiliki perusahaan raksasa, cabangnya juga banyak di luar negeri, dulu dia di tempatkan di California, tapi karena ayahnya sakit parah, dia pun kembali ke Indonesia, namanya Yudistira Hirarki, CEO muda, yang isi hatinya tak dapat di tebak siapapun.” Asir menjelaskan keresahan hatinya pada Dewi.


“Begitu ya mas, tapi kalau sudah tahu apa yang ingin kau katakan, ku yakin pasti semua baik-baik saja.” Dewi memberi respon positif pada Asir.


“Semoga saja, oh ya... tolong rapikan rumah ini, karena pak Yudistira akan berkunjung besok siang kemari, sebelumnya, ayahnya selalu datang ke rumah, tapi karena sekarang aku yang mengelola perusahaan, dia ingin datang kemari, siapkan makanan enak, oh ya... pak Yudistira tak suka makanan cepat saji, ku dengar, dia pecinta masakan rumah, apa lagi menu tradisional, ku rasa kalau kita berhasil memuaskan perutnya, masalah tender akan mudah untuk di atasi,” terang Asir.


“Baik mas, serahkan saja pada ku.” Dewi yang cerdik tahu apa yang harus ia lakukan.


Keesokan harinya, di minggu pagi yang tenang. Dewi telah berada di depan kamar para Art sebelum mata hari terbit.


Ia pun mengetuk satu satu persatu kamar yang di isi oleh 10 Art tanpa ada yang terlewatkan.

__ADS_1


Tok tok tok!!


“Bangun kalian semua, sudah pagi!!” Dewi berteriak menggunakan toa.


Sontak para Art bangun dan membuka pintu kamar mereka masing-masing


“Masih pagi nyonya.” ucap Wina seraya menguap.


“Diam kau! Hari ini akan datang tamu penting, jadi kalian semua Harus membersihkan rumah ini, jangan ada noda sedikitpun! Kalian bagi tugas sendiri, pokoknya semua harus beres sebelum jam 10 pagi, satu lagi, ganti gorden seluruh rumah ini!” titah Dewi.


“Siap nyonya!” jawab serempak oleh para Art.


“Khusus kak Fi, kau ku tugaskan untuk membuat kue pisang kukus, serambi, rendang daging dan juga urab.”


Fi yang ikut berdiri di depan pintu kamar paling sudut, merasa tugas yang di berikan padanya terlalu banyak.


“Tapi, aku masih harus mengurus anak-anak Wi.” Fi ingin menolak titah yang Dewi berikan.


“Mereka bisa di urus belakangan, kalau soal susu, aku juga bisa kasih, ini tamu penting kak, pokoknya semua harus kau kerjakan, dan... rasanya harus enak! Kalau tidak, ku potong tangan Emir!” Dewi yang tahu kelemahan Fi adalah para keponakannya, semakin candu untuk memberi ancaman.


Setelah itu Fi dan semua Art mengerjakan apa yang telah di suruh Dewi.


Fi yang biasa memasak, mengolah bahan-bahan yang telah di siapkan di dapur.


Dewi yang takut Fi berbuat curang, mengawasi Fi yang sedang sibuk bekerja.


“Awas kalau kakak sampai membuat masakan ini hancur.” Dewi memperingati Fi.


“Kalau kau takut, kenapa tak ikut membantu ku? Kau kan bisa sekalian belajar. Nanti kalau kau bisa memasak, bukankah pacar mu akan semakin sayang pada mu? Jangan sampai masakan orang lain memanjakan lidah dan hatinya, nanti malah tertikung lagi, kalau sampai itu terjadi, bukankah sakitnya minta ampun? Jatuh miskin lagi deh.” Fi mencoba merusak mental Dewi dengan cara menghilangkan rasa percaya Dewi pada semua orang.


“Apa maksud mu kak?” tanya Dewi.


“Pikirkan saja sendiri, lelaki model pacar mu, takkan puas sampai kau saja, dia pasti mencari yang lebih menantang, dan yang membuatnya penasaran, wanita sabar multi talenta seperti ku saja di buang, apa lagi kau, yang tak bisa apa-apa selain meminta uang dan goyang ranjang, Dewi.. hati-hati, jangan sampai lecet atau pun hamil, nanti kau di buang, sama seperti ku, di tendang baik-baik masih enak, kalau bonyok dulu enggak lucukan?” Fi yang ingin balas dendam, menggunakan sang adik yang licik untuk menghancurkan suaminya.

__ADS_1


Jika Asir jatuh miskin, maka adiknya akan jadi target amarah suaminya.


Dewi yang termakan omongan Fi merasa khawatir, terlebih ia sudah terlambat datang bulan selama dua minggu.


Namun Dewi yang tak ingin terlihat lemah, berlagak tegar di hadapan kakaknya.


“Aku takkan kecolongan seperti mu, karena mata ku jeli memperhitungkan situasi.”


Fi yang kenal sang adik sejak kecil, tahu betul jika sang adik sedang panik.


“Ya, aku tahu kau sangat pintar, tapi ku yakin, kau tahu, pacar mu seperti apa, dan perhatikan juga sekitar mu, tampang Art sini, hanya beda tipis dengan mu, ku kasih kau 1 saran, percantik dirimu, lakukan operasi plastik pada wajah dan bawah mu agar tetap sempit.” Fi terus mempengaruhi Dewi agar terobsesi dengan kecantikan yang sempurna. Dengan begitu Dewi akan menghabiskan uang Asir dengan cepat.


Dewi yang menjadi kepikiran meninggalkan kakaknya tanpa berkata apapun.


Kepalanya menjadi pusing, ia yang telah berada di kamar iparnya, berkaca di meja rias kakaknya.


Dewi melihat dengan seksama setiap bagian wajahnya, untuk mencari apa ada kerutan yang bisa saja menggangu pandangan kekasihnya.


“Astaga, apa ini?” Dewi merasa resah, saat melihat garis halus di sudut matanya.


“Tidak, tidak, aku harus segera mengobatinya.” Dewi mengambil handphonenya, kemudian membuka aplikasi belanja online.


Setelah menemukan krim mata dengan harga puluhan juta rupiah, Dewi tanpa ragu membelinya.


Demi kecantikan, ia rela mengeluarkan uang berapapun.


Setelah itu, Dewi mengintip barang yang ada di bungkusan kain berbentuk segitiganya.


“Astaga, pada hal baru ku babat, tapi sudah tumbuh lagi?”


Karena omongan Fi, Dewi merasa selalu ada yang kurang dan salah di dirinya.


...Bersambung......

__ADS_1


Author mau rekomendasikan novel bagus nih buat readers sekalian, jangan lupa mampir ya.



__ADS_2