Kau Pasti Menyesal!

Kau Pasti Menyesal!
44 (Penggoda)


__ADS_3

“Tolonglah bu, ibu tahu sendirikan, mencari pekerjaan sekarang sangat sulit, apa lagi usia ku sudah menginjak 40 tahun, dan istri ku juga sedang hamil.” Ikhwan terus memohon kebaikan hati Rila.


“Sstt... jangan pegang-pegang tangan ku!” Rila menepis tangan Ikhwan.


Ikhwan yang melihat Fi masuk ke ruang makan, langsung berlari mendatangi wanita yang baru saja ia hina.


“Bu Fi, tolong maafkan aku, ku akui perbuatan ku salah, tolong kasihanilah aku bu, kalau aku di pecat, bagaimana aku menghidupi ke 4 anak ku, mereka ada yang sekolah, ada juga yang masih dalam kandungan.” Ikhwan menggenggam tangan Fi meski merasa jijik.


Fi yang juga memiliki anak, tahu betul bagaimana perasaan Ikhwan.


“Baiklah, aku memaafkan mu pak, ku harap kau tak mengulanginya lagi.” meski luka di hatinya belum sembuh, namun Fi tak ingin menaruh dendam pada Ikhwan.


“Terimaksih banyak bu.” Ikhwan menjabat tangan Fi.


“Sama-sama.” kemudian Fi melepaskan tangannya dari Ikhwan. Selanjutnya ia menuju wastafel untuk menaruh piringnya yang kotor.


Semua orang yang ada dalam ruangan pun menatap aneh pada Fi, mereka semua satu pendapat, yaitu Fi menggunakan ilmu sihir untuk menarik simpati Yudi.


Meski begitu, Fi tak perduli, ia dengan pura-pura tegar keluar dari dalam ruangan yang membuat ia merasa terganggu.


Setelah Fi pergi, para Art dan satpam yang tadinya diam perlahan mulai berisik.


“Aku yakin, dia pasti punya susuk, masa iya sih, orang sejelek dia bisa bekerja disini.” ucap Art A.


“Betul, ku dengar yang meng-interview dia, pak Yudi langsung, bukankah itu aneh? Pada hal kita semua yang mewawancarakan bu Rila,” sambung Art B.


“Diam kalian semua! Kau!” Rila menunjuk tajam wajah Ikhwan.


“Meskipun si pincang memaafkan mu, itu tidak akan menjamin, kalau kau akan di pertahankan, karena keputusan akhir ada di tangan tuan!” setelah itu Rila pergi menemui Yudi di ruang office.


Sesampainya Rila, ia pun melaporkan apa yang terjadi pada Yudi.


“Tapi, bu Fi sudah memaafkan pak Ikhwan, bagaimana tuan, apa pak Ikhwan masih bisa bekerja disini?” tanya Rila.


Yudi yang tak sependapat dengan Fi memutuskan dengan cepat.


“Pecat! Lain kali kalau ada kasus yang sama, tendang juga si tukang rundungan, bu Rila.”


“Ya tuan?” sahut Rila dengan perasaan gemetaran.


“Kalau aku melihat dan mendengar kasus yang sama terjadi lagi, ingat! Tiada ampun bagi mu!” ancaman Yudi membuat mata Rila membelalak sempurna.


“Siap tuan!”


“Keluarlah.” Yudi yang telah selesai dengan Rila, meninggalkan ruang office menuju kamarnya.


Benar kata yang lain, si pincang pakai ilmu sihir, bisa bahaya kalau aku macam-macam padanya, sebaiknya aku pesan juga pegangan agar di kirim dari kampung, aku tak mau, kalau nantinya menjadi salah satu korban si pincang, batin Rila.

__ADS_1


_______________________________________


Asir yang telah pulang dari kantor langsung masuk ke dalam kamarnya.


Ceklek!


Krieet!!


Baru saja ia membuka pintu, ia telah di suguhkan dengan pemandangan menggairahkan dari Artnya.


Wina yang sedang mengambil baju kotor tuannya yang terjatuh ke lantai, tanpa sengaja memperlihatkan belahan dadanya yang sangat padat berisi.


Gluk!


Asir si mata keranjang, penikmat surga dunia langsung menelan salivanya.


Di tambah rambut wina yang basah menjadi kesan seksi di mata seorang Asir.


“Eh, tuan sudah pulang?” ucap Winda dengan tersenyum manis.


“Sedang apa kau malam-malam disini? Bukankah biasanya kau ambil baju kotor siang hari?” Asir mendekat ke Wina yang kini berdiri tegap.


“Akh, ia tuan, tapi besok sayakan libur, jadi saya rencananya ingin keluar bersama teman sekampung, jadi saya pikir mencuci baju tuan dan nyonya sekarang adalah ide yang bagus, biar tak menumpuk tuan.” Wina yang memang berniat menggoda Asir terus saja tersenyum.


“Benarkah?” Asir yang telah tergoda ingin segera menerkam Wina. Namun ia ragu untuk melakukannya.


“Saya permisi dulu tuan.”


Namun Asir yang telah hidup Joninya, menggenggam tangan Wina.


“Punggung ku sakit, apa kau mau memijat ku sebentar? Nanti ku beri upah.” Asir menggunakan alasan klasik tersebut pada Wina.


“Aku juga bisa kerok, saya yakin tuan akan merasa nyaman.” Wina sungguh senang, saat tujuannya tercapai.


Pokoknya, aku harus mengandung anaknya tuan Asir, batin Wina.


“Baiklah, lakukan apa saja, agar rasa pegal ku bilang.” kemudian Asir meletakkan tas kerjanya di atas meja, selanjutnya ia naik ke atas ranjang.


“Mau pakai minyak apa tuan?” tanya Wina dengan lembut.


“Ada minyak Zaitun di atas meja rias Dewi, ambil itu saja,” titah Asir.


“Baik tuan.” setelah Wina mengambil minyak pijit untuk tuannya, ia pun naik ke atas ranjang.


“Tuan, tolong buka bajunya, biar saya lebih leluasa untuk memijat tuan,” ucap Wina.


“Baiklah.” dengan cepat Asir membuka bajunya.

__ADS_1


“Tuan, apa bagian kaki juga di pijit?” Wina memberi lampu hijau pada Majikannya.


“Seluruh tubuh bisa?" Asir yang telah terpancing mulai tergoda.


“Bisa tuan, saya juga bisa mengatasi benjolan karena turun berok, apa tuan mau coba?” Wina yang semakin menjadi-jadi membuat Asir semakin tergoda.


Ia pun dengan cepat membuka seluruh pakaian bagian bawahnya.


“Kalau yang ini, kau bisa tidak?” Asir mengarahkan tangan Wina untuk menggenggam Joninya.


“Jangan tuan, nanti kalau nyonya tahu bagaimana?” Wina berlagak jual mahal dahulu pada Asir.


“Kita selesaikan saja sebelum dia datang.” tangan Asir yang liar, langsung menangkap puncak bukit milik Wina.


“Akh!” Wina yang belum merasakan apapun malah mengerang, seolah merasa nikmat.


“Apa rasanya gatal?” Asir pun menyusupkan tangannya dari bagian bawah daster Wina.


“I-iya tuan.” suara Wina mulai bergetar, saat jemari Asir menggelitik kacang buncis miliknya.


Saat Asir ingin mencicipi kacang legit milik Art-nya, tiba-tiba suara melengking dari Dewi terdengar dari luar kamar.


“Kau tak usah menangis, suara mu berisik tan!” Dewi berteriak pada Alisyah.


Seketika Asir dan Dewi merasa panik. “Sembunyi kau di bawah ranjang!” ranjang Asir yang memiliki kolong besar, memungkin Wina untuk sembunyi di bawahnya.


Brak!!


Dewi membuka pintu dengan kasar. “Ibu mu susah banget di atur mas! Bikin aku pusing!” Dewi mengatakan keluhannya tentang Alisyah pada Asir yang memungut pakaiannya dengan santai.


“Kenapa kau telanjang begitu mas?” tanya Dewi. Sebab Asir tak biasanya membuka baju di dalam kamar, terlebih Asir tak memakai handuk, yang paling tidak masuk akan bagi Dewi, Asir memungut pakiannya yang tercecer di lantai dan ranjang


“Aku ingin mandi,” ucap Asir.


“Ya sudah! Sana mandi! Setelah itu bicara baik-baik pada ibu mu, agar dia berhenti menangis, telinga ku benar-benar sakit karenanya.” Dewi yang kegerahan berniat ingin mandi juga.


Ia pun menguncu pintu kamar dengan cepat.


Retek!


“Tumben kau kunci.” ujar Asir, karena tak biasanya Dewi berbuat demikian.


“Aku takut ibu mu menerobos masuk kesini, kau juga mau mandikan mas?” tanya Dewi.


“Iya.” jawan Asir.


“Ayo mandi bersama.” Dewi menuntun tangan Asir ke dalam kamar mandi, tak lupa ia membawa kunci kamar di tangannya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2