
”Apa aku harus sholat dulu ya? Kalau di pikir-pikir aku sudah 7 tahun tak menyembah Tuhan.” saat Dewi ingin sholat tiba-tiba ia ingat kalau dirinya tak punya mukenah.
“Astaga... bahkan mukena saja aku tak punya... apa aku ini bisa disebut manusia?” seketika Dewi sadar diri.
“Ya Tuhan, tolong kirimkan seseorang yang kayanya berlipat ganda, hingga aku pusing untuk menghabiskan uangnya. Tolonglah ya Tuhan.” Dewi meminta pada sang maha pencipta.
🏵️
Keesokan harinya, Fi yang ada di kamar hotelnya sibuk menyusun oleh-olehnya ke dalam koper.
Setelah selesai, Fi berbaring di atas ranjang untuk meluruskan otot-ototnya yang terasa kaku.
Ia yang rindu Yuri ingin sekali menelepon ibu sambungnya tersebut, tapi Fi kembali mengurungkan niatnya, sebab ia ingin memberikan kejutan.
Fi yang sedang melamun tiba-tiba mendapat pesan singkat dari sang majikan.
Besok kita akan pulang, bagaimana kalau malam ini kita pergi nonton konser Secret Number, ku dengar salah satu Idolnya dari Indonesia, tiketnya akan segera habis, kalau kau mau, aku akan memesan tiketnya sekarang. ✉️ Yudi.
“Kok malah nonton konser suh? Bukankah janjinya kami pulang sore ini?” meski merasa malas, namun Fi tak dapat menolak, sebab ia sangat berhutang budi pada tuannya.
Memangnya group idol itu konser dimana tuan? ✉️ Fi.
Di KSPO Dome, ayolah, lagi pula kita takkan bisa sering-sering melihat hal yang meriah. ✉️ Yudi.
Baiklah tuan, nanti kita berangkat jam berapa tuan? ✉️ Fi.
Jam 16:00 saja. ✉️ Yudi.
Oke tuan, siap. ✉️ Fi.
“Yes! Akhirnya aku bisa jalan lagi dengannya.” Yudi terpaksa melakukannya sebab ia melihat Fi begitu murung.
Ia berpikir, konser musik adalah pilihan yang baik, untuk menghibur wanita kesayangannya itu.
Sedangkan Fi dalam kamarnya menghela napas panjang.
“Hufffftt, rencana untuk memberi kejutan terpaksa di undur lagi, ehm, ya sudahlah, kan hanya 1 hari saja.” Fi yang lelah memutuskan untuk tidur.
Malam harinya sesuai janji, Yudi datang menjemput Fi ke kamarnya.
Aku sudah di depan pintu. ✉️ Yudi.
Baik tuan, tunggu sebentar. ✉️ Fi.
__ADS_1
Tak lama Fi membuka pintu kamar hotelnya. Ceklek!
Deg!
Jantung Yudi berdetak sangat kencang, pasalnya Fi yang ada di hadapannya begitu cantik bagai gadis yang belum menikah. Mata pria maskulin itu tak berkedip sekalipun.
Bagaimana tidak, Fi yang memiliki lingkar pinggang 27, tinggi 165 cm, memakai gaun berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga kecil berwarna putih, dada lebar Fi yang mulus tak luput dari pandangan Yudi.
“Tuan, kita jadi berangkatkan sekarang?” Fi menyadarkan Yudi dari lamunannya.
“I-iya, tentu saja, ayo!” Yudi mendadak kikuk. Ia pun menggaruk kepalanya karena grogi.
Tuan kenapa sih? Tatapannya pada ku seperti baru melihat setan saja, batin Fi.
”Ayo tuan.” kemudian Fi mengikuti langkah Yudi yang berjalan terlebih dahulu di depannya.
Mereka berdua pun berangkat menuju KSPO Dome dengan menaiki taksi.
Selama di perjalanan, Yudi tak banyak bicara, sebab ia tak percaya diri di dekat Fi yang kini kecantikannya bagai artis.
Kenapa aku jadi salah tingkah begini ya, bodoh! batin Yudi
Ia pun diam-diam curi pandang pada gadis cantik yang ada di sebelahnya.
“Bukan apa-apa, hahaha... operasi mu bagus, tidak terlihat bekas jahitan atau apapun itu,” terang Yudi, ia merasa malu karena tertangkap basah oleh Fi.
“Iya tuan, saya saja sampai ragu, kalau ini adalah saya sendiri tuan, terimakasih banyak tuan, sudah membantu saya untuk memperbaiki masa depan saya.” Kissky tersenyum manis pada majikannya.
“Itu bukan apa-apa, dan kau pantas mendapatkannya.” Yudi membalas senyuman wanita cantik itu.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya mereka tiba di tujuan.
KSPO Dome atau yang biasa di sebut dengan Olympic Gymnastics Arena. Tempat itu ternyata telah ramai oleh orang yang berbaris untuk masuk ke gedung konser.
“Ini!” Yudi memberi Kissky lightstick dan juga topi berwarna putih dengan logo bintang yang sama persis seperti di handphone.
”Sejak kapan tuan menyiapkan ini?” tanya Fi, sebab ia tak melihat tuannya membeli barang-barang tersebut.
“Kaukan tadi lihat sendiri, kalau aku bawa tas.” Yudi menunjuk ke arah tas ransel warna hitamnya.
“Oh iya, tuan benar, hehehe...” Fi yang memikirkan ibu dan anak-anaknya jadi tak fokus pada apa saja yang di bawa oleh Yudi.
“Ayo, pasang dulu topinya,” ujar Yudi.
__ADS_1
“Baik tuan.” kemudian Fi dan Yudi memakai atribut idol yang akan mereka tonton.
Semoga hatimu terhibur Fi, batin Yudi.
Setelah itu mereka masuk ke dalam gedung Olympic Gymnastics Arena.
Fi yang tak pernah melihat konser musik sebelumnya merasa senang, sebab ia banyak melihat orang luar berkumpul jadi satu disana.
Sang Idol yang mereka saksikan tampil membawakan lagu terbaru mereka yang berjudul DOOMCHITA. Fi dan Yudi hanya berdiri kaku di tengah orang-orang yamg mengikuti koreografi tarian dari Secret Number tersebut.
Musiknya bagus banget, tariannya juga menari, batin Fi.
Ia yang ingin ikut mengikuti gerakan semua orang yang ada disana merasa malu, sebab Yudi yang ada di sebelahnya saja hanya duduk kaku di bangkunya.
“Yang itu.” Yudi menunjuk personil Dita.
”Dia yang dari Indonesia.” terang Yudi dengan merasa bangga, sebab ia sangat mendukung anak bangsa yang berkarya di kaca internasional.
”Oh, cantik ya tuan.” Fi turut senang, karena warga tanah airnya bisa bersaing di negeri orang.
“Kenapa kau tak ikut menari seperti mereka?" Yudi menunjuk ke arah orang-orang yang berdiri di depan mereka.
“Hahaha... saya tidak bisa menari tuan.” Fi berbohong karena merasa tak pantas bila berjoget ria di hadapan majikannya.
Namun Yudi yang ingin melakukan pendekatan pada Fi malah memegang kedua tangan wanita cantik itu.
“Aku juga tak bisa, tapi sepertinya seru.” Yudi mengajak Fi untuk berdiri. Kemudian Yudi mengayun-ayun kedua tangan Fi yang ia genggam.
“Tuan, saya tak bisa tuan.” wajah Fi terlihat malu dengan apa yang mereka lakukan.
Tapi Yudi yang tak mau menyerah tetap mengajak Fi untuk menari. Hingga akhirnya wanita cantik itu bersedia.
🏵️
“Hoek... astaga... perut ku mual sekali.” Wina tiba-tiba merasa tak enak badan.
“Astaga masih ada pengajian Emir lagi, boleh enggak sih aku tak ikut? Benar-benar bikin malas, hidupnya saja nyusahin, matinya juga malah makin parah!” Wina yang jahat tak merasa bersalah sama sekali, bahkan ia yang taknketahuan kejahatannya berencana menargetkan Andri untuk korban yang selanjutnya.
Ia yang harus segera bergabung dengan para ibu-ibu pengajian wirid Yasin, segera memakai jilbabnya.
Saat di hadapan orang-orang, Wina kembali berakting, menangis sesungukan seolah merasa kehilangan.
...Bersambung......
__ADS_1